Top Social

Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Self-Criticism

|
Penduduk Indonesia sangat menyukai kritik. Tidak percaya? Sejak kecil anak-anak kecil di Indonesia sering dikritik jika membuat kesalahan. Anak-anak Indonesia sudah tidak asing dengan kalimat-kalimat seperti “Bodoh! Apa yang sedang kau lakukan?”, “Payah banget! Cuma kayak gitu aja ngga bisa.”, “Kau selalu menghancurkan segalanya!” dan “Kenapa kau melakukan hal tersebut? Kau seharusnya ... ”. Sayangnya hobi mengkritik tersebut tidak diimbangi dengan pujian. Anak-anak di Indonesia jarang dipuji ketika memperoleh prestasi, seolah berprestasi adalah hal yang biasa. Kegemaran mengkritik tersebut dapat berdampak buruk jika diterapkan dalam pola pengasuhan anak karena perilaku orang tua memiliki pengaruh yang mendalam dalam pembentukan self-concept─kepercayaan atau gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya dan self-esteem─bagaimana seseorang melihat dirinya secara keseluruhan. Pola asuh orang tua yang buruk seperti suka mengkritik sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan self-criticism pada diri seseorang yang memiliki dampak rendahnya harga diri seseorang dan juga depresi. Pola asuh orang tua merupakan faktor yang lebih berpengaruh membentuk self-criticism dibanding sifat perfeksionis.

Self-criticism memiliki dua definisi dalam Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005), yaitu (1) kemampuan untuk mengenali kelemahan dan keterbatasan diri, (2) pengenalan dan pengakuan bahwa prestasi sendiri itu tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendaki oleh standar sosial atau seperti yang diharapkan atau ditentukan oleh diri sendiri. Definisi self-criticism yang digunakan dalam studi literatur yang saya lakukan adalah definisi kedua dari Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005).

Mengapa pola asuh sangat berperan dalam membentuk self-criticism? Hal ini dikarenakan anak-anak tidak mengetahui tentang self mereka ketika lahir. Mereka belajar mengenai diri mereka melalui penilaian orang lain. Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran sosial yang dikemukakan Bandura (1977, dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991) bahwa anak-anak memperoleh standar penguatan diri dari observasi terhadap lingkungannya. Orang tua merupakan lingkungan pertama dan terdekat bagi anak sehingga orang tua menjadi cermin dan sumber seorang anak dalam menilai dirinya sendiri. Hasil penelitian yang mendukung teori pola asuh orang tua adalah faktor penyebab self-criticism, seperti yang dikemukan Hertz dan Gullone (1999, seperti dikutip dalam Cheng dan Furnham, 2004). Mereka berpendapat bahwa kualitas hubungan orang tua-anak memiliki peran yang signifikan dalam percaya diri jangka panjang, ketahanan dan kesejahteraan dari seorang individu.

Pola asuh yang menyebabkan self-criticism adalah perilaku orang tua terhadap anaknya yang negatif, seperti orang tua sering memarahi, mengkritik, tidak memasang batas-batas sehat atas perilaku anak-anaknya dan memukul setiap kali anak-anaknya melakukan kesalahan kecil. Dalam formulasi dari perkembangan self-criticism menurut Blatt (1974, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991), dia mengusulkan kecenderungan self-critics untuk mengkritik dirinya sendiri didorong oleh keprihatinan atas kehilangan penerimaan dari orang tua, dan orang tua yang memiliki sikap dingin, kasar, menuntut, dan menghakimi. Menurut Blatt, orang tua adalah sebab yang paling krusial dari self-criticism. Bahkan investigasi yang dilakukan Firth-Cozens (1992, seperti dikutip dalam Brewin, dkk., 1992) menunjukkan level self-criticism yang lebih tinggi diasosiasikan dengan laporan hubungan anak dengan kedua orang tuanya, ayah dan ibu yang kurang memuaskan.

Dari studi literatur, saya menemukan perfeksionisme memiliki keterkaitan dengan self-criticism. Blatt (1995, seperti dikutip dalam Grzegorek dkk., 2004) mencatat, "perfeksionis individu yang mengalami depresi difokuskan terutama pada isu-isu harga diri dan self-critics, mereka mencaci, mengkritik, dan menyerang diri mereka sendiri, dan pengalaman intens perasaan bersalah, malu, kegagalan, dan tidak berharga". Hasil penelitian Grzegorek, Slaney, Franze, dan Rice (2004) mendukung penelitian yang sebelumnya dilakukan Rice dan Slaney (2002) menunjukkan kelompok yang bukan perfeksionis memiliki skor self-critics yang lebih rendah dibanding kelompok yang perfeksionis. Penelitian tersebut menunjukkan semakin perfeksionis seseorang maka orang tersebut menjadi semakin self-critics. Namun jika dibanding pola asuh orang tua, perfeksionis merupakan penyebab tidak langsung self-criticism karena biasanya orang menjadi perfeksionis karena orang tuanya juga perfeksionis. Jika perfeksionis yang merupakan penyebab self-criticism, sementara sifat perfeksionis tersebut disebabkan oleh pengaruh pola asuh orang tua maka hal ini berarti pola asuh orang tua adalah penyebab self-criticism. Hal ini membuktikan pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam dibanding perfeksionis.

Dari beberapa buku dan jurnal yang saya baca (Koestner, Zuroff & Power, 1991; Brewin dkk., 1992; McKay & Fanning, 2000; Hakes, 2001; Cheng & Furham, 2004; Grzegorek dkk., 2004), saya mengambil kesimpulan bahwa pola asuh orang tua adalah faktor yang menyebabkan self-criticism. Studi literatur yang saya lakukan membuktikan pola asuh orang tua merupakan faktor yang lebih berpengaruh membentuk self-criticism dibanding sifat perfeksionis. Hal ini dikarenakan sifat perfeksionis yang merupakan penyebab self-criticism, sementara sifat perfeksionis tersebut disebabkan oleh pengaruh pola asuh orang tua maka hal ini berarti pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang lebih kuat dibanding perfeksionis.

Daftar Pustaka

Brewin, C. R. dkk. (1992). Self-criticism in adulthood and recalled childhood experience. Journal of Abnormal Psychology 101, 561-566.

Cheng, H., & Furham, A. (2004). Perceived parental rearing style,self-esteem and self-criticism as predictors of happiness. Journal of Happiness Studies 5, 1-21.

Chaplin, J.P. (2006). Dictionary of psychology. (Terj. Dr. Kartini Kartono). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Grzegorek, J. L., dkk. (2004). Self-criticism, dependency, self-esteem, and grade point average satisfaction among clusters of perfectionists and nonperfectionists. Journal of Counseling Psychology 51, 192-200.

Hakes, R. (2001). Self-criticism as experienced by performing artists: A phenomenological study. Kalamazoo : Western Michigan University,

Koestner, R., Zuroff, D.C., & Power, T. A. (1991). Family origins of adolescent self-criticism and its continuity into adulthood. Journal of Abnormal Psychology 100, 191─197.

Mckay, M., & Fanning, P. (2000). Self esteem : A proven program of cognitive techniques for assessing, improving, & maintaining your self-esteem. (Ed. ke-3). Oakland : New Harbinger Publications, Inc.

Michener, H. A., DeLamater, J.D.& Myers, D.J. (2004). Social psychology. (Ed. ke-5). Belmon: Wadsworth/Thomson Learning.

Zurrof, D. C., dan Duncan, N. (1999). Self-criticism and Conflict Resolution in Romantic Couples. Canadian Journal of Behavioural Science 31:3, 137─149.
2 komentar on "Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Self-Criticism"
  1. mbk, sya mw mnta tolong gmn cranya dpetin literatur ni ... Grzegorek, J. L., dkk. (2004). Self-criticism, dependency, self-esteem, and grade point average satisfaction among clusters of perfectionists and nonperfectionists. Journal of Counseling Psychology 51, 192-200.

    BalasHapus
  2. hana download dari APA klo ga salah inget.. waktu maba, UI langgan jurnal online APA :D

    maaf bgt ya baru bales.. hana baru cek comment soalnya :D
    klo masih berminat, hub hana di jejehana@gmail.com ya :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature