Top Social

Self-Criticism : Penyebab, Dampak dan Cara Menanganinya

|
ni esai uts logika penulisan ilmiah Hana, kalau dibaca lagi, banyak banget kesalahannya.. bentuk nya frase, terjemahannya ngga enak... hehehe.. tapi pas ngerjain esai ini dengan topik yang ditentukan dengan undian, Hana jadi tahu kalau Hana tuh self-criticism dan bealajar untuk memperbaiki diri Hana. I hope you guys can enjoy it and can learn from this:


Hampir setiap saat seseorang melakukan self-talk, berbicara dengan diri sendiri. Salah satu bentuk self-talk yang sering dilakukan adalah pathological critic. Pathological critic adalah istilah yang diciptakan oleh psikolog Eugene Sagan untuk mendeskripsikan suara hati yang menyerang dan menghakimi diri. Setiap orang memiliki suara hati yang mengkritik dirinya. Orang-orang yang mengkritik dirinya lebih kejam cenderung memilki harga diri yang rendah. Contoh kritikan yang kejam adalah seperti “Kau tidak pernah menyelesaikan apa pun tepat waktu!” , “Kau selalu menghancurkan segalanya!” dan “Kenapa kau melakukan hal tersebut? Kau seharusnya ...  ”.  Pathological critic berkaitan erat dengan self-criticism. Self-criticism memiliki dua definisi dalam Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005), yaitu  (1) kemampuan untuk mengenali kelemahan dan keterbatasan diri, (2) pengenalan dan pengakuan bahwa prestasi sendiri itu tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendaki oleh standar sosial atau seperti yang diharapkan atau ditentukan oleh diri sendiri. Definisi self-criticism yang digunakan dalam studi literatur yang saya lakukan adalah definisi kedua dari Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005). Setelah mengetahui definisi self-criticism, timbul pertanyaan apakah yang menyebabkan self-criticism? Apa saja dampak dari self-criticism? Bagaimana cara menanganinya? Saya pun mencari tahu penyebab, dampak, dan cara menangani self-criticism dengan melakukan studi literatur.

Dari beberapa buku dan jurnal yang saya baca (Koestner, Zuroff & Power, 1991; Brewin dkk., 1992; McKay, 2000; Cheng dan Furham, 2004; Grzegorek, 2004; Engel, 2006), saya mengambil kesimpulan bahwa pola asuh orang tua adalah faktor yang menyebabkan self-criticism. Perilaku orang tua memiliki pengaruh yang mendalam dalam pembentukan self-concept─kepercayaan atau gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya dan self-esteem─bagaimana seseorang melihat dirinya secara keseluruhan. Penelitian dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang saya baca menunjukkan bahwa faktor paling penting dalam menentukan tingkat harga diri seorang anak dimulai dari pola asuh pada kehidupan anak-anak. Beberapa hasil penelitian yang mendukung teori gaya asuh orang tua adalah faktor penyebab self-criticism, seperti yang dikemukan Hertz dan Gullone (1999, seperti dikutip dalam Cheng, 2004). Mereka berpendapat bahwa kualitas hubungan orang tua-anak memiliki peran yang signifikan dalam percaya diri jangka panjang, ketahanan dan kesejahteraan dari seorang individu. Dalam formulasi dari perkembangan self-criticism menurut Blatt (1974, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991), dia mengusulkan kecenderungan self-critics untuk mengkritik dirinya sendiri didorong oleh keprihatinan atas kehilangan penerimaan dari orang tua, dan orang tua yang memiliki sikap dingin, kasar, menuntut, dan menghakimi. Menurut Blatt, orang tua adalah sebab yang paling krusial dari self-criticism. Bahkan investigasi yang dilakukan Firth-Cozens (1992, seperti dikutip dalam Brewin, dkk., 1992) menunjukkan level self-criticism yang lebih tinggi diasosiasikan dengan laporan hubungan anak dengan kedua orang tuanya, ayah dan ibu yang kurang memuaskan.

Teori pembelajaran sosial yang dikemukakan Bandura (1977, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991) mengusulkan bahwa anak-anak memperoleh standar penguatan diri dari observasi terhadap lingkungannya. Orang tua merupakan lingkungan pertama dan terdekat. Orang tua menjadi cermin dan sumber seorang anak dalam menilai dirinya sendiri. Kalau orang tua mengasihi, mendorong, dan memberikan disiplin dengan batasan yang benar dan konsisten, anak-anak mereka akhirnya menjadi percaya diri. Tetapi orang tua yang lalai, kritis, dan tidak adil, dan memberikan disiplin kasar dan tidak sesuai batas, membuat anak-anak mereka merasa tidak aman, self-critics, dan mereka pun memiliki harga diri rendah.

Anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering memarahi, mengkritik, tidak memasang batas-batas sehat atas perilaku anak-anaknya dan memukul setiap kali anak-anaknya melakukan kesalahan kecil, anak-anak tersebut biasanya menyalahkan diri mereka sendiri atas perlakuan orang tua mereka. Hal ini disebabkan karena anak-anak itu egocentric─mereka berasumsi bahwa segala sesuatu berpusat di sekitar mereka sehingga mereka sendirilah yang menyebabkan reaksi orang lain kepada mereka. Beberapa dari mereka kemudian berusaha mengatasi rasa malu, tidak aman, dan harga diri yang rendah dengan mengejar kesempurnaan atau menjadi seorang yang perfeksionis dan biasanya salah satu atau kedua orang tua mereka juga merupakan orang yang perfeksionis. Anak-anak tersebut mengira menjadi sempurna akan menghilangkan rasa malu mereka. Namun, mereka menjadi terlalu keras pada diri sendiri. Dalam mengharapkan kesempurnaan, mereka selalu menuntut dan mengkritik diri mereka sendiri. Mereka mengharapkan diri mereka selalu benar dan sulit memaafkan diri mereka ketika melakukan kesalahan dan untuk mewujudkannya, mereka memaksa diri mereka melampaui batas-batas manusia normal.

Dari studi literatur, saya menemukan perfeksionisme memiliki keterkaitan dengan self-criticismBlatt (1995, seperti dikutip dalam Grzegorek dkk., 2004) mencatat, "perfeksionis individu yang mengalami depresi difokuskan terutama pada isu-isu harga diri dan self-critics, mereka mencaci, mengkritik, dan menyerang diri mereka sendiri, dan pengalaman intens perasaan bersalah, malu, kegagalan, dan tidak berharga". Hasil penelitian Grzegorek, Slaney, Franze, dan Rice (2004) mendukung penelitian yang sebelumnya dilakukan Rice dan Slaney (2002) menunjukkan kelompok yang bukan perfeksionis memiliki skor self-critics yang lebih rendah dibanding kelompok yang perfeksionis. Perfeksionis secara tidak langsung merupakan penyebab self-criticism. Semakin perfeksionis seseorang maka orang tersebut menjadi semakin self-critics.

Setelah mengetahui penyebab self-criticism, timbul pertanyaan apakah dampak dari self-criticism? Ternyata self-criticism menyebabkan seseorang memiliki tingkat harga diri yang rendah dan rasa tidak aman. Selain itu, self-criticism juga memilki dampak lain, Blatt (1974, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991) menyatakan self-criticism sering diasosiasikan dengan depresi. Blatt, D’Afflitti, dan Quinlan (1976, seperti dikutip dalam Hakes, 2001) mengidentifikasi self-criticism sebagai salah satu dari tiga faktor penyebab depresi. Jika Self-criticism dibandingkan dengan dua faktor lain penyebab depresi (ketergantungan dan efikasi), self-criticism memiliki korelasi tertinggi dengan ukuran lain depresi. Faktor Self-criticism, menurut Blatt, et. al (1976) terdiri dari hal-hal yang berkaitan dengan:
keprihatinan tentang perasaan bersalah, kosong, putus asa, tidak puas, dan tidak aman, gagal memenuhi harapan dan standar, dan tidak mampu memikul tanggung jawab, merasa diancam oleh perubahan, merasa ambivalen tentang diri dan orang lain, cenderung menyalahkan dan merasa kritis terhadap diri sendiri.
Studi yang dilakukan oleh Moskowitz dan Zurrof (1991, dikutip dalam Zurrof dan Duncan, 1999) menemukan orang yang memiliki self-criticism memiliki teman yang lebih sedikit dan merasa kurang puas dengan dukungan sosial yang mereka miliki. Menurut Zurrof dan Duncan (1999) orang yang self-criticism memiliki representasi kognitif yang negatif dari orang lain, terlibat dalam bermusuhan, memiliki perilaku interpersonal yang kompetitif, dan
dukungan sosial yang lebih sedikit.

Lalu bagaimana cara mengatasi self-criticism? Bervely Engel (2005) dalam bukunya Healing Your Emotional Self menyarankan enam langkah dalam mengatasi self-criticism. Langkah pertama mengatasi self-criticism adalah menghadapi kenyataan dan membiarkan emosi tersebut keluar. Langkah selanjutnya adalah menyadari bahwa orang tua telah melakukan kesalahan─bukan berarti menyalahkan orang tua tetapi maksud Bervely Engel adalah berhenti menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri membuat seseorang depresi. Dengan menyadari bahwa orang tua telah melakukan kesalahan membuat orang yang memiliki harga diri rendah akibat self-citicism diharapkan mampu menolak kritik atau pesan-pesan negatif yang berasal dari orang tuanya. Langkah ketiga adalah mengeluarkan rasa marah pada orang tua dengan menceritakan yang selama ini dirasakan ke teman dekat atau terapis karena hal tersebut membantu mengurangi rasa bersalah dan membantu orang yang memiliki self-criticism untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Langkah keempat adalah menerima diri sendiri  dan berusaha mengganti suara hati yang mengkritik menjadi suara hati yang penuh kasih sayang. Kemudian seseorang dengan self-criticism diharapkan berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain karena membandingkan diri dengan orang lain sering membuat seseorang merasa terancam. Langkah terakhir adalah percaya bahwa orang-orang akan menerima dirimu apa adanya. Caranya dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang menerima dirimu. Jangan menolak pujian ataupun perlakuan baik dari seseorang.

Dari studi literatur yang telah saya lakukan, saya memperoleh kesimpulan bahwa faktor penyebab self-criticism ada dua yaitu pola asuh orang tua dan perfeksionis. Pola asuh yang menyebabkan self-criticism adalah perilaku orang tua terhadap anaknya yang negatif, seperti orang tua sering memarahi, mengkritik, tidak memasang batas-batas sehat atas perilaku anak-anaknya dan memukul setiap kali anak-anaknya melakukan kesalahan kecil. Faktor lain yang menyebabkan self-criticism adalah perfeksionis karena semakin perfeksionis seseorang maka orang tersebut juga semakin self-critics orang tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari self-criticism adalah rendahnya harga diri, menyebabkan depresi, memiliki representasi kognitif yang negatif dari orang lain, terlibat dalam bermusuhan, memiliki perilaku interpersonal yang kompetitif, dan dukungan sosial yang lebih sedikit. Menurut Bervely Engel (2005), ada enam langkah yang dapat mengatasi self-criticism yaitu menghadapi kenyataan, menyadari orang tua telah melakukan kesalahan, becerita pada teman atau terapis, berusaha menerima diri sendiri, berhenti membadingkan diri dengan orang lain dan berharap orang-orang akan menerima dirimu apa adanya.






Daftar Pustaka

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-
Hall.

Holden, G. and P. Miller: 1999, ‘Enduring and different: A meta-analysis of the
similarity in parents’ child rearing’, Psychological Bulletin 125, pp. 223–254.

Brewin, C. R., Firth-Cozens, J., Furnham, A. & McManus, C. (1992). Self-criticism in adulthood and recalled childhood experience. Journal of Abnormal Psychology 101, 561-566.

Cheng, H., & Furham, A. (2004). Perceived parental rearing style,self-esteem and self-criticism as predictors of happiness. Journal of Happiness Studies 5, 1-21.

Chaplin, J.P. (2006). Dictionary of psychology. (Terj. Dr. Kartini Kartono). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Grzegorek, J. L., Rice, K. G., Slaney, R. B. & Franz, S. (2004). Self-criticism, dependency, self-esteem, and grade point average satisfaction among clusters of perfectionists and nonperfectionists. Journal of Counseling Psychology 51, 192-200.

Hakes, R. (2001). Self-criticism as experienced by performing artists: A phenomenological study. Kalamazoo: Western Michigan University,

Koestner, R.,  Zuroff, D.C., & Power, T. A. (1991). Family origins of adolescent self-criticism and its continuity into adulthood. Journal of Abnormal Psychology 100, 191─197.

Mckay, M., & Fanning, P. (2000). Self esteem: A proven program of cognitive techniques for assessing, improving, & maintaining your self-esteem. (Ed. ke-3). Oakland: New Harbinger Publications, Inc.

Michener, H. A., DeLamater, J.D.& Myers, D.J. (2004). Social psychology. (Ed.  ke-5). Belmon: Wadsworth/Thomson Learning.

Zurrof, D. C., & Duncan, N. (1999). Self-criticism and conflict resolution in romantic couples. Canadian Journal of Behavioural Science 31:3, 137─149.



Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature