Top Social

Self-Criticism : Penyebab, Dampak dan Cara Menanganinya

|
ni esai uts logika penulisan ilmiah Hana, kalau dibaca lagi, banyak banget kesalahannya.. bentuk nya frase, terjemahannya ngga enak... hehehe.. tapi pas ngerjain esai ini dengan topik yang ditentukan dengan undian, Hana jadi tahu kalau Hana tuh self-criticism dan bealajar untuk memperbaiki diri Hana. I hope you guys can enjoy it and can learn from this:


Hampir setiap saat seseorang melakukan self-talk, berbicara dengan diri sendiri. Salah satu bentuk self-talk yang sering dilakukan adalah pathological critic. Pathological critic adalah istilah yang diciptakan oleh psikolog Eugene Sagan untuk mendeskripsikan suara hati yang menyerang dan menghakimi diri. Setiap orang memiliki suara hati yang mengkritik dirinya. Orang-orang yang mengkritik dirinya lebih kejam cenderung memilki harga diri yang rendah. Contoh kritikan yang kejam adalah seperti “Kau tidak pernah menyelesaikan apa pun tepat waktu!” , “Kau selalu menghancurkan segalanya!” dan “Kenapa kau melakukan hal tersebut? Kau seharusnya ...  ”.  Pathological critic berkaitan erat dengan self-criticism. Self-criticism memiliki dua definisi dalam Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005), yaitu  (1) kemampuan untuk mengenali kelemahan dan keterbatasan diri, (2) pengenalan dan pengakuan bahwa prestasi sendiri itu tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendaki oleh standar sosial atau seperti yang diharapkan atau ditentukan oleh diri sendiri. Definisi self-criticism yang digunakan dalam studi literatur yang saya lakukan adalah definisi kedua dari Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2005). Setelah mengetahui definisi self-criticism, timbul pertanyaan apakah yang menyebabkan self-criticism? Apa saja dampak dari self-criticism? Bagaimana cara menanganinya? Saya pun mencari tahu penyebab, dampak, dan cara menangani self-criticism dengan melakukan studi literatur.

Dari beberapa buku dan jurnal yang saya baca (Koestner, Zuroff & Power, 1991; Brewin dkk., 1992; McKay, 2000; Cheng dan Furham, 2004; Grzegorek, 2004; Engel, 2006), saya mengambil kesimpulan bahwa pola asuh orang tua adalah faktor yang menyebabkan self-criticism. Perilaku orang tua memiliki pengaruh yang mendalam dalam pembentukan self-concept─kepercayaan atau gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya dan self-esteem─bagaimana seseorang melihat dirinya secara keseluruhan. Penelitian dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang saya baca menunjukkan bahwa faktor paling penting dalam menentukan tingkat harga diri seorang anak dimulai dari pola asuh pada kehidupan anak-anak. Beberapa hasil penelitian yang mendukung teori gaya asuh orang tua adalah faktor penyebab self-criticism, seperti yang dikemukan Hertz dan Gullone (1999, seperti dikutip dalam Cheng, 2004). Mereka berpendapat bahwa kualitas hubungan orang tua-anak memiliki peran yang signifikan dalam percaya diri jangka panjang, ketahanan dan kesejahteraan dari seorang individu. Dalam formulasi dari perkembangan self-criticism menurut Blatt (1974, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991), dia mengusulkan kecenderungan self-critics untuk mengkritik dirinya sendiri didorong oleh keprihatinan atas kehilangan penerimaan dari orang tua, dan orang tua yang memiliki sikap dingin, kasar, menuntut, dan menghakimi. Menurut Blatt, orang tua adalah sebab yang paling krusial dari self-criticism. Bahkan investigasi yang dilakukan Firth-Cozens (1992, seperti dikutip dalam Brewin, dkk., 1992) menunjukkan level self-criticism yang lebih tinggi diasosiasikan dengan laporan hubungan anak dengan kedua orang tuanya, ayah dan ibu yang kurang memuaskan.

Teori pembelajaran sosial yang dikemukakan Bandura (1977, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991) mengusulkan bahwa anak-anak memperoleh standar penguatan diri dari observasi terhadap lingkungannya. Orang tua merupakan lingkungan pertama dan terdekat. Orang tua menjadi cermin dan sumber seorang anak dalam menilai dirinya sendiri. Kalau orang tua mengasihi, mendorong, dan memberikan disiplin dengan batasan yang benar dan konsisten, anak-anak mereka akhirnya menjadi percaya diri. Tetapi orang tua yang lalai, kritis, dan tidak adil, dan memberikan disiplin kasar dan tidak sesuai batas, membuat anak-anak mereka merasa tidak aman, self-critics, dan mereka pun memiliki harga diri rendah.

Anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering memarahi, mengkritik, tidak memasang batas-batas sehat atas perilaku anak-anaknya dan memukul setiap kali anak-anaknya melakukan kesalahan kecil, anak-anak tersebut biasanya menyalahkan diri mereka sendiri atas perlakuan orang tua mereka. Hal ini disebabkan karena anak-anak itu egocentric─mereka berasumsi bahwa segala sesuatu berpusat di sekitar mereka sehingga mereka sendirilah yang menyebabkan reaksi orang lain kepada mereka. Beberapa dari mereka kemudian berusaha mengatasi rasa malu, tidak aman, dan harga diri yang rendah dengan mengejar kesempurnaan atau menjadi seorang yang perfeksionis dan biasanya salah satu atau kedua orang tua mereka juga merupakan orang yang perfeksionis. Anak-anak tersebut mengira menjadi sempurna akan menghilangkan rasa malu mereka. Namun, mereka menjadi terlalu keras pada diri sendiri. Dalam mengharapkan kesempurnaan, mereka selalu menuntut dan mengkritik diri mereka sendiri. Mereka mengharapkan diri mereka selalu benar dan sulit memaafkan diri mereka ketika melakukan kesalahan dan untuk mewujudkannya, mereka memaksa diri mereka melampaui batas-batas manusia normal.

Dari studi literatur, saya menemukan perfeksionisme memiliki keterkaitan dengan self-criticismBlatt (1995, seperti dikutip dalam Grzegorek dkk., 2004) mencatat, "perfeksionis individu yang mengalami depresi difokuskan terutama pada isu-isu harga diri dan self-critics, mereka mencaci, mengkritik, dan menyerang diri mereka sendiri, dan pengalaman intens perasaan bersalah, malu, kegagalan, dan tidak berharga". Hasil penelitian Grzegorek, Slaney, Franze, dan Rice (2004) mendukung penelitian yang sebelumnya dilakukan Rice dan Slaney (2002) menunjukkan kelompok yang bukan perfeksionis memiliki skor self-critics yang lebih rendah dibanding kelompok yang perfeksionis. Perfeksionis secara tidak langsung merupakan penyebab self-criticism. Semakin perfeksionis seseorang maka orang tersebut menjadi semakin self-critics.

Setelah mengetahui penyebab self-criticism, timbul pertanyaan apakah dampak dari self-criticism? Ternyata self-criticism menyebabkan seseorang memiliki tingkat harga diri yang rendah dan rasa tidak aman. Selain itu, self-criticism juga memilki dampak lain, Blatt (1974, seperti dikutip dalam Koestner, Zuroff & Power, 1991) menyatakan self-criticism sering diasosiasikan dengan depresi. Blatt, D’Afflitti, dan Quinlan (1976, seperti dikutip dalam Hakes, 2001) mengidentifikasi self-criticism sebagai salah satu dari tiga faktor penyebab depresi. Jika Self-criticism dibandingkan dengan dua faktor lain penyebab depresi (ketergantungan dan efikasi), self-criticism memiliki korelasi tertinggi dengan ukuran lain depresi. Faktor Self-criticism, menurut Blatt, et. al (1976) terdiri dari hal-hal yang berkaitan dengan:
keprihatinan tentang perasaan bersalah, kosong, putus asa, tidak puas, dan tidak aman, gagal memenuhi harapan dan standar, dan tidak mampu memikul tanggung jawab, merasa diancam oleh perubahan, merasa ambivalen tentang diri dan orang lain, cenderung menyalahkan dan merasa kritis terhadap diri sendiri.
Studi yang dilakukan oleh Moskowitz dan Zurrof (1991, dikutip dalam Zurrof dan Duncan, 1999) menemukan orang yang memiliki self-criticism memiliki teman yang lebih sedikit dan merasa kurang puas dengan dukungan sosial yang mereka miliki. Menurut Zurrof dan Duncan (1999) orang yang self-criticism memiliki representasi kognitif yang negatif dari orang lain, terlibat dalam bermusuhan, memiliki perilaku interpersonal yang kompetitif, dan
dukungan sosial yang lebih sedikit.

Lalu bagaimana cara mengatasi self-criticism? Bervely Engel (2005) dalam bukunya Healing Your Emotional Self menyarankan enam langkah dalam mengatasi self-criticism. Langkah pertama mengatasi self-criticism adalah menghadapi kenyataan dan membiarkan emosi tersebut keluar. Langkah selanjutnya adalah menyadari bahwa orang tua telah melakukan kesalahan─bukan berarti menyalahkan orang tua tetapi maksud Bervely Engel adalah berhenti menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri membuat seseorang depresi. Dengan menyadari bahwa orang tua telah melakukan kesalahan membuat orang yang memiliki harga diri rendah akibat self-citicism diharapkan mampu menolak kritik atau pesan-pesan negatif yang berasal dari orang tuanya. Langkah ketiga adalah mengeluarkan rasa marah pada orang tua dengan menceritakan yang selama ini dirasakan ke teman dekat atau terapis karena hal tersebut membantu mengurangi rasa bersalah dan membantu orang yang memiliki self-criticism untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Langkah keempat adalah menerima diri sendiri  dan berusaha mengganti suara hati yang mengkritik menjadi suara hati yang penuh kasih sayang. Kemudian seseorang dengan self-criticism diharapkan berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain karena membandingkan diri dengan orang lain sering membuat seseorang merasa terancam. Langkah terakhir adalah percaya bahwa orang-orang akan menerima dirimu apa adanya. Caranya dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang menerima dirimu. Jangan menolak pujian ataupun perlakuan baik dari seseorang.

Dari studi literatur yang telah saya lakukan, saya memperoleh kesimpulan bahwa faktor penyebab self-criticism ada dua yaitu pola asuh orang tua dan perfeksionis. Pola asuh yang menyebabkan self-criticism adalah perilaku orang tua terhadap anaknya yang negatif, seperti orang tua sering memarahi, mengkritik, tidak memasang batas-batas sehat atas perilaku anak-anaknya dan memukul setiap kali anak-anaknya melakukan kesalahan kecil. Faktor lain yang menyebabkan self-criticism adalah perfeksionis karena semakin perfeksionis seseorang maka orang tersebut juga semakin self-critics orang tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari self-criticism adalah rendahnya harga diri, menyebabkan depresi, memiliki representasi kognitif yang negatif dari orang lain, terlibat dalam bermusuhan, memiliki perilaku interpersonal yang kompetitif, dan dukungan sosial yang lebih sedikit. Menurut Bervely Engel (2005), ada enam langkah yang dapat mengatasi self-criticism yaitu menghadapi kenyataan, menyadari orang tua telah melakukan kesalahan, becerita pada teman atau terapis, berusaha menerima diri sendiri, berhenti membadingkan diri dengan orang lain dan berharap orang-orang akan menerima dirimu apa adanya.






Daftar Pustaka

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-
Hall.

Holden, G. and P. Miller: 1999, ‘Enduring and different: A meta-analysis of the
similarity in parents’ child rearing’, Psychological Bulletin 125, pp. 223–254.

Brewin, C. R., Firth-Cozens, J., Furnham, A. & McManus, C. (1992). Self-criticism in adulthood and recalled childhood experience. Journal of Abnormal Psychology 101, 561-566.

Cheng, H., & Furham, A. (2004). Perceived parental rearing style,self-esteem and self-criticism as predictors of happiness. Journal of Happiness Studies 5, 1-21.

Chaplin, J.P. (2006). Dictionary of psychology. (Terj. Dr. Kartini Kartono). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Grzegorek, J. L., Rice, K. G., Slaney, R. B. & Franz, S. (2004). Self-criticism, dependency, self-esteem, and grade point average satisfaction among clusters of perfectionists and nonperfectionists. Journal of Counseling Psychology 51, 192-200.

Hakes, R. (2001). Self-criticism as experienced by performing artists: A phenomenological study. Kalamazoo: Western Michigan University,

Koestner, R.,  Zuroff, D.C., & Power, T. A. (1991). Family origins of adolescent self-criticism and its continuity into adulthood. Journal of Abnormal Psychology 100, 191─197.

Mckay, M., & Fanning, P. (2000). Self esteem: A proven program of cognitive techniques for assessing, improving, & maintaining your self-esteem. (Ed. ke-3). Oakland: New Harbinger Publications, Inc.

Michener, H. A., DeLamater, J.D.& Myers, D.J. (2004). Social psychology. (Ed.  ke-5). Belmon: Wadsworth/Thomson Learning.

Zurrof, D. C., & Duncan, N. (1999). Self-criticism and conflict resolution in romantic couples. Canadian Journal of Behavioural Science 31:3, 137─149.



Catatan yang perlu Hana ingat selama jadi mahasiswa tingkat satu di Psikologi UI:

|
Semester 1
*      Hana ternyata tidak sekuat yang Hana kira. Hana mudah terpengaruh oleh lingkungan. Ketika temen2 di sekitar Hana melakukan prokastinasi (menunda mengerjakan tugas), Hana mengikuti mereka. Hana lupa bahwa Hana bukan tipe yang bisa mengerjakan tugas dengan waktu yang mepet/ mendadak . Hasilnya hana stres dan hasil pekerjaan hana buruk.


*      Ketika banyak kakak angkatan yang bilang kalau Psikologi Umum Satu (psium satu) itu susah. Well, sebagian besar dari mereka ngga terang2an bilang susah sih, mereka bilang secara tersirat contoh: “Hati2 ya sama Psium satu”. ketawa terus mendesah dan bilang “Semangat ya!”, dan juga “Kalau psi umum satu, harus rajin baca ya!”. Ada juga yang bilang terang2an “Psi um satu tuh matkul terberat di semester satu”.  Hana mempercayai mereka dan membuat Hana membenci Psium I. Hasilnya walaupun Hana belajar tapi karena hana menganggap Psi umum I itu susah jadinya emang susah. Padahal Psi Umum I ngga sesusah itu. Ketika baca bagian psikoanalisis, Hana langsung suka Psi Umum I dan Psi Umum terasa tidak lagi menyulitkan. Alhamdulillah Hana lulus Psi Umum I dengan nilai B+. Pelajaran: Jangan percaya mentah-mentah ucapan senior, mesti chros-check. Percayai ucapan senior jika dia menjawab pertanyaan dari berbagai sisi atau tanya ke senior yang sifat dan cara belajarnya mirip dengan kita.
Contoh:  Hana: Kak, dosen Y itu gimana ya?
                 Senior1: dia tuh killer
                Senior2: pelit nilai, perfeksionis, standar tinggi
                Senior 3; baik. Dia dosen favorit kakak.
                Nah lho? Kok bisa beda?
Dari pengalaman hana sih hal itu disebabkan sifat orang yang beda-beda jadinya tiap orang punya tipe dosen ideal masing2. Ada yang suka dosen yang disiplin, ada yang suka dosen murah senyum, ada yang suka dosen murah nilai, ada yang suka dosen yang perfeksionis. Jadi, jangan percaya mentah-mentah ucapan senior. Alami aja dulu.

*      Hana keseringan memaafkan diri Hana sendiri. Ketika Hana merasa mengantuk, Hana langsung tertidur tidak memaksa diri Hana untuk tetap bangundan belajar. Bisa dibilang niat Hana buat belajar tuh kurang.

*     
Hana membohongi diri Hana sendiri. Hana males belajar Bimbingan Pendidikan tetapi Hana malah bilang kalau Hana ngga suka Bidik.

*      Hana belajar kalau Hana udah ngga bisa multi-tasking. Pelajaran dan kegiatan perkuliahan dan organisasi itu membutuhkan konsenterasi penuh, ngga bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain.


*      Hana belajar kalau belajar dan mengerjakan tugas2 kuliah itu ngga semudah tugas SMA sehingga ngga bisa diselesaikan dalam satu waktu. Hana harus nyicil dan menuliskan rencana pencicilan tugas di buku agenda.


*      Buku agenda sangat penting. Salah satu cara efektif untuk manajemen diri dan biar ngga lupa janji ataupun tugas.


*      Dont judge book by its cover. Banyak temen2 Hana yang keliatannya hobi main tapi nilai2nya bagus.


*      Hana jadi orang yang sekuler (sekuler yang Hana maksud bukan memisahkan urusan dunia dan agama tetapi lebih fokus pada urusan dunia dibanding urusan agama atau akhirat). Hana merasa Hana berusaha dapat A  di kuliah sementara soal ibadah, Hana cuma mengerjakan yang wajib2 aja. Rasanya hana hanya berusaha mendapat nilai C dari Allah.


*      Mata Kuliah yang membuat Hana bertahan menghadapi semester 1 adalah Logpenil (logika dan penulisan Ilmiah). Di mata kuliah ini, Hana belajar cara nulis yang baik. Hana merasa beruntung masuk psikologi UI.

Semester 2
*      Bulan pertama semester 2, tiap minggunya hana pulang ke karawang karena mau ke dokter gigi. Selama di karawang kerjaan Hana malah internetan atau nonton, ngga belajar.


*      Waktu semester satu, Hana jarang nonton film dan baca komik, jadinya waktu liburan semester satu, selain ngurusin himaka (himpunan mahasiswa karawang), kerjaan hana hampir nonstop baca komik online.  Hana pun berpikir jika Hana baca komik pas semester biasa, mungkin pas liburan Hana ngga bakal kayak gitu lagi. Tahunya malah keseringan baca komik dan nonton film.


*      Hana menjadi melankolis, sering meragukan diri sendiri, sering mengeluh, perfeksionis, dan sering mempertanyakan alasan Hana masuk psikologi.


*      Pas semester 2, Hana baru menyadari bahwa semester satu itu ngga ada apa2nya dibanding semester 2. Hana jadi malu sama diri Hana sendiri yang sering ngeluh di semester 1. Bodohnya, Hana mengulangi kesalahna yang sama. Hana merasa semester 2 ini berat dan bukannya malah makin rajin belajar, Hana menyibukkan diri dengan kegiatan lain dan membenarkan diri Hana yang tidak belajar karena alasan sibuk.


*      Belajar dari kesalahan semester 1, maka semster 2 ini, alhamdulillah Hana udah ngga nunda kalau ngerjain tugas tetapi...


*      Hana ngga nyicil belajar. Walaupun Hana udah tahu kalau Hana tuh cocoknya belajar pakai mind map dan buat rangkuman, selama semester 2 ini rasanya berat sekali menggerakkan tangan Hana untuk menulis mind map/rangkuman. Ujung2nya Hana belajar pake  SKS(sistem kebut semalam)


*      Hana sering merasa ngantuk atau lapar di kelas dan ngga memperhatikan dosen. Hana yang selama ini sering duduk di barisan depan, semester 2 ini sering memilih duduk di barisan kedua. kepada posisi duduk berpengaruh? well, ada penelitian yang hasilnya orang yang duduk di barisan depan itu biasanya punya motivasi belajar yang lebih tinggi dibanding yang milih duduk di belakang.(note : ingetin hana ya buat cari siapa penelitinya)

*     
Walaupun udah belajar dari semester 1 jangan mudah terpengaruh ucapan orang, kali ini Hana menganggap faal itu sulit karena banyak teman2 Hana yang mengeluh tentang faal, Hana juga jadi percaya faal susah.  Lalu setelah uts, Hana sadar dan bertanya kembali kenapa Hana memilih untuk percaya faal susah? Kenapa Hana membenci faal? Kalian tahu, Hana rasa kesalahan terbesar Hana adalah memilih untuk percaya bahwa faal itu susah padahal Hana bisa memilih untuk menggangap faal menyenangkan dan belajar dengan rajin

*      Hana belajar bahwa motivasi internal/intrinsik itu perlu. Hana yang di semester 2 gagal melakukan delay of gratification─menunda melakukan sesuatu yang menyenangkan karena percaya ada hadiah yang lebih besar di masa yang akan datang. Hana sering lebih memilih untuk melakukan sesuatu menyenangkan dan menunda belajar.


*      Hana belajar untuk mengingatkan diri Hana sendiri bahwa Hana mencintai psikologi dan jika ada mata kuliah atau tugas yang tidak Hana sukai, Hana harus mau menerima dan mengerjakannya. Hana sudah memilih jurusan psikologi dan seharusnya Hana bertanggung jawab dengan pilihan hana dengan cara mau menanggung resiko yang ada, entah itu baik atau buruk.


*      Hana belajar untuk berusaha sebaik mungkin yang Hana bisa. Hasilnya serahkan pada Allah. :) Salah satu alasan Hana menganggap nilai penting karena Hana punya anggapan bahwa Hana disukai karena Hana pintar. Sejak kecil, orang2 selalu memuji Hana pintar, bukan cantik, ramah, ataupun karakter yang lain. Hana jadi mebuat kesimpulan bahwa kepintaran merupakan sumber self-esteem Hana dan menentukan apakah Hana punya teman atau tidak. Waktu SMP, Hana sering bertanya “If I am not smart, will you still be my friend?” Rata2 yang Hana tanya selalu menjawab iya. Akan tetapi, Hana tidak mempercayai mereka karena Hana menyadari ada begitu banyak sifat menybalkan yang Hana miliki, seperti egois, keras kepala, tukang ngatur, serius (ngga bisa diajak bercanda), maksa, ceroboh, sakit2an dan judes. Kalau ada temen2 Hana main ke rumah, keluarga Hana sering bertanya apa yang membuat temen2 Hana tetap bertahan menjadi teman Hana karena saking judesnya Hana. Seiring berjalannya waktu, Hana belajar bahwa Hana bisa punya banyak teman selama Hana bersikap ramah dan baik dengan mereka.


*      Perbuatan itu tergantung niat, kalau niat Hana kuat buat belajar, Hana bisa begadang sampai malem. Selain itu, waktu awal masuk UI, Hana berniat ingin jadi mahasiswa yang mengabdi untuk masyarakat tapi akhirnya Hana malah jadi mahasiswa yang ngurusin diri sendiri. Hana menyadari banyak tindakan Hana didasari niat untuk kepentingan pribadi dan duniawi. Hana lupa kalau melakukan segala sesuatu harus diniatkan karena Allah.


*      Waktu awal semester satu, hana sangat bersemangat ingin masuk bem ui tetapi karena Hana merasa galau karena Hana merasa Hana menjadi seorang yang sekuler (terlalu fokus pada masalah duniawi), jadinya Hana memilih masuk SALAM UI dengan harapan Hana tidak lagi jadi orang yang sekuler. Kenapa Hana ngga mau jadi orang yang terlalu fokus sama masalah duniawi? Well, seinget Hana, Allah pernah berfirman Umat Islam itu adalah umat terbaik sepanjang masa karena seimbang antara dunia dan akhirat. 

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas: 77)”

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,  menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. ... "(Q.S. Ali-Imran: 110)
Hana merasa Hana belum menjadi seorang muslim yang seimbang antara masalah dunia dan akhirat. Keputusan memilih SALAM, bukan bem ui sempet membuat Hana menangis mengingat cita2 Hana masuk bem ui udah lama banget. Akan tetapi, Hana takut kalau Hana masuk bem ui akhirnya Hana tetep jadi fokus sama masalah dunia karena Hana itu belum bisa jadi orang yang memprioritaskan masalah agama Contoh: Hana niat menghapal Juz 30 tetapi akhirnya ngga berhasil karena setiap ada waktu senggang, Hana memilih untuk mengerjakan tugas atau mengerjakan hal lain.

Sekedar catatan, i'm not trying to say bahwa yang masuk SALAM UI tuh lebih religius daripada yang masuk BEM UI atau yang masuk BEM UI tuh ngga religius. Hana tidak bermaksud bicara seperti itu. Keputusan ini lebih karena Hana tahu/kenal diri Hana sendiri. Hana belum bisa menjadi muslim yang baik sehingga hana berharap dengan memilih lingkungan yang memang fokus pada dunia islam (dalam hal ini, SALAM UI), Hana bisa jadi muslim yang lebih baik.
Ada kok temen Hana yang masuk BEM baik UI maupun BEM fakultas tetapi tetep bisa menjaga ibadahnya seperti hapalan quran, ibadah rutin dan sunnahnya, bahkan bisa dikatakan lebih rajin daripada Hana yang masuk SALAM.

Mungkin kalian bertanya kenapa ngga masuk dua2nya, salam ui dan bem ui? Well, Hana takut ngga fokus di dua2nya, Hana takut jadinya Hana setengah-setengah dalam menjalankan amanah. Hana tipe orang yang ingin bisa bekerja total jika Hana sudah memutuskan sesuatu. Kalau ngerjain amanah setengah-setengah kan bisa berdampak buruk juga ke citra Hana. I dont want people know me as somebody who doing something halfhearty. (eh inggris hana bener ga sih?)

Selain itu, Hana takut nilai Hana terjun bebas karena manajemen waktu Hana belum begitu baik. Awalnya, Hana sempet kecewa sama diri Hana sendiri karena walaupun akhirnya masuk SALAM, banyak acara SALAM yang akhirnya ngga bisa Hana hadiri karena ada kuliah atau kerja kelompok. Hana jadi merasa cuma dapet soft skill tentang organisasi saja. Alhamdulillah, pas sehabis UTS, ada beberapa acara SALAM yang bisa Hana ikuti dan Hana makin bersyukur atas pilihan Hana masuk SALAM. 

*      Mata kuliah yang buat Hana bertahan di semester ini adalah IPK (Identifikasi Pengembangan Kreatif, Hana suka matkul ini kecuali UASnya), Filsafat Manusia, MPK Wayang, Antropologi dalam matkul Inkemas (individu dan Kebudayaan Masyrakat, walaupun nilai Hana Cuma dapet B) dan Etika (Hana suka tugasnya soalnya ngetik, hampir mirip dengan bikin esai).

Well, sekian cerita Hana. Semoga kalian yang membaca ini bisa belajar dari kesalahan yang Hana lakukan. :)

Post Signature

Post Signature