Top Social

Kecenderungan Seseorang Melakukan Social Loafing: Faktor Internal versus Faktor Eksternal

|


Anda selalu mengerjakan tugas sendirian? Saya yakin jawaban Anda pasti tidak. Anda pasti pernah bekerja dalam kelompok. Kondisi tersebut disebabkan baik saya maupun Anda dibesarkan oleh masyarakat Indonesia yang percaya bahwa hasil kerja kelompok lebih baik dibanding hasil kerja secara sendiri. Sejak kecil, kita ditanamkan pentingnya bekerja di dalam kelompok melalui tradisi gotong royong dan peribahasa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Bahkan, dosen-dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sering memberi tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok kepada mahasiswa. Hal serupa juga terjadi saat saya berpartisipasi dalam organisasi mahasiswa atau kepanitiaan, sebagian besar tugas yang diberikan dalam bentuk tugas kelompok. Pemberian tugas dalam kelompok dipercaya sebagai latihan bagi mahasiswa agar terbiasa bekerja dalam kelompok dan siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang nyata.
Namun, berdasarkan pengalaman saya, kerja kelompok tidak selalu “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Saya pernah beberapa kali mendapati salah satu rekan kerja kurang berkontribusi dalam kerja kelompok, baik dalam tugas akademik maupun organisasi. Mereka memberikan berbagai macam penjelasan mengapa mereka kurang berkontribusi dibanding yang lain. Salah satu alasan mereka adalah mereka sedang sibuk di organisasi mahasiswa dan memohon kepada saya dan rekan saya yang lain untuk tidak mengerjakan tugas atau mengurangi beban tugas mereka. Alasan yang hampir serupa dikemukakan oleh rekan saya di organisasi, mereka memberi alasan sedang sibuk mengerjakan tugas perkuliahan atau di kepanitiaan yang lain sehingga terlambat menyelesaikan tugas yang diberikan. Terkadang, rekan saya di organisasi sulit dihubungi dan jarang menghadiri rapat sehingga membuat saya dan rekan saya yang lain mengerjakan lebih dari satu pekerjaan. Pengalaman-pengalaman tersebut mengakibatkan saya kurang suka bekerja di dalam kelompok.
Anda mungkin pernah mengalami hal yang hampir serupa dengan yang saya alami. Peristiwa tersebut dalam psikologi disebut social loafing atau pemalasan sosial. Pemalasan sosial adalah menurunnya motivasi dan usaha seorang individu, yang terjadi saat individu bekerja secara kolektif dalam sebuah grup dibanding ketika dirinya bekerja secara sendiri (Karau & Williams, 1993). Pemalasan sosial merupakan salah satu penyakit sosial karena menghasilkan konsekuensi negatif. Dalam organisasi dan perusahaan, pemalasan sosial berakibat penurunan efisiensi yang berujung pada menurunnya keuntungan. Melihat efek negatif tersebut, mengapa orang  melakukan pemalasan sosial? Hal apa saja yang menyebabkan pemalasan sosial terjadi?
 Berbagai penelitian yang berusaha mencari penyebab pemalasan sosial telah dilakukan. Hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan pemalasan sosial disebabkan oleh faktor internal seperti persepsi individu (Harkins & Petty, 1982, George, 1992),  hilangnya motivasi (Kerr, 1983),  gender (Kerr, 1983), sedangkan faktor eksternal, seperti group size (Latane, Williams, & Harkins,  1979), noncohesiveness group (Karau & Williams, 1997), dan kontribusi individu tidak teridentifikasi (Williams, Harkins, & Latane,  1981). Dalam esai ini, saya berusaha membuktikan bahwa faktor internal lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial dibandingkan dengan faktor eksternal.
Pemalasan sosial dipercaya berkorelasi dengan faktor eksternal yaitu group size. Penelitian paling awal dilakukan oleh Ringelmann (dalam Vaughan & Hogg, 2005). Dia meminta partisipan (semuanya berjenis kelamin lelaki) secara sendiri atau dalam grup (kelompok) yang terdiri dari 2, 3, atau 8 orang, untuk menarik tambang yang terikat pada dynamometer (alat yang digunakan untuk mengukur force atau daya tarik). Hasil penelitiannya menunjukkan semakin besar suatu kelompok atau semakin banyaknya anggota dalam suatu kelompok, semakin berkurang usaha yang dilakukan seseorang, yang kemudian disebut Ringelmann effect. Penelitian tersebut direplikasi oleh Latane, Williams, dan Harkins (1979) dengan jenis tugas yang berbeda yaitu berteriak, menyemangati dan bertepuk tangan. Hasil penelitian mereka juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu semakin besar suatu kelompok, semakin kecil suara yang dihasilkan oleh seseorang.
Salah satu penjelasan yang memungkinkan terjadinya pemalasan sosial dalam kelompok adalah tidak teridentifikasi atau tidak diketahuinya kontribusi individu (Williams, Harkins, & Latane,  1981). Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika tugas berbentuk additive task─tugas dimana hasil kerja kelompok merupakan gabungan atau kombinasi dari usaha anggota kelompok (Baron, Branscombe, & Byrne, 2009). Menurut Harkins dan Petty (1982), pemalasan sosial terjadi karena evaluation apprehension, yaitu ketika kinerja individu tidak dimonitor, individu merasa identitasnya tersamar sehingga melakukan pemalasan sosial. Hal itu disebabkan individu tersebut merasa hasil penilaian akan proporsional, yaitu 1/n , dengan n=jumlah anggota dalam kelompok.
Walaupun tidak teridentifikasinya kontribusi individu berperan menyebabkan pemalasan sosial, hilangnya motivasi merupakan faktor yang lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial. Contoh, ketika Anda bersemangat dan memiliki motivasi tinggi untuk mengerjakan tugas kelompok mata kuliah favorit Anda, Anda tentu akan mengerjakannya sebaik mungkin. Anda tidak peduli apakah dosen Anda nantinya akan mengetahui berapa besar kontribusi Anda kepada kelompok, Anda tetap bekerja keras karena menyukai mata kuliah tersebut. Berbeda halnya jika Anda tidak memiliki motivasi dalam mengerjakan tugas, Anda cenderung tidak peduli terhadap tugas tersebut atau jika Anda mengerjakannya, prinsip Anda adalah “asal beres”. Gambaran yang saya berikan sesuai dengan hasil penelitian Kerr dan Bruun (1983), dimana individu tetap tidak berkontribusi dalam kerja kelompok walaupun hasil kerja kelompok tersebut dapat dilihat publik. Bukti penelitian lain yang mendukung adalah hasil penelitian George (1992) yang menemukan ketika motivasi individu tinggi, individu tersebut cenderung tetap bekerja keras, tidak peduli apakah kontribusinya teridentifikasi atau tidak. Begitu pula sebaliknya, ketika motivasi individu rendah, individu tersebut melakukan pemalasan sosial walaupun kontribusinya teridentifikasi. Harkins dan Petty (1982) menemukan ketika seorang individu merasa bisa memberikan kontribusi unik, pemalasan sosial tidak terjadi walaupun kontribusi individu tidak teridentifikasi. Penelitian-penelitian tersebut merupakan satu bukti bahwa faktor internal lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial.
Selain motivasi, faktor internal yang menentukan pemalasan sosial adalah pandangan individu mengenai dirinya dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan tugas. Hasil penelitian Huguet, Emmanuelle, dan Monteil (1999) menemukan partisipan yang tingkat self-uniqueness-nya rendah─menganggap dirinya biasa saja, tidak melakukan pemalasan sosial, sementara partisipan yang tingkat self-uniqueness-nya tinggi melakukan pemalasan sosial ketika tugasnya mudah dan secara kolektif. Interpretasi dari hasil penelitian mereka juga membantu menjelaskan mengapa lelaki lebih sering melakukan pemalasan sosial dibanding perempuan (Kerr, 1983). Hal tersebut mungkin disebabkan lelaki cenderung memiliki self-esteem yang tinggi dibanding perempuan (Major, Barr, Zubek, & Babey dalam Baron, dkk.,  2009). Selain itu, persepsi individu mengenai sulit atau tidaknya tugas kelompok berperan dalam menyebabkan pemalasan sosial. Individu lebih sering melakukan pemalasan sosial ketika mempersepsikan tugas sebagai tugas yang mudah atau tidak berarti bagi dirinya (Harkins & Petty, 1982). Zaccaro (dalam Vaughan & Hogg, 2005) meneliti partisipan (lelaki dan perempuan) dalam kelompok yang terdiri dari dua atau empat orang dan diberi tugas membuat “moon tents”. Ketika tugas dibuat menarik dengan cara mengadakan kompetisi antar kelompok, partisipan justru menunjukkan kinerja yang lebih tinggi tingkatannya dalam kelompok yang terdiri dari empat orang dibanding kelompok yang terdiri dari dua orang (Zaccaro, dalam Vaughan & Hogg, 2005). Menurut Karau dan Williams (1993), hal tersebut terjadi ketika individu menganggap tugas dan kelompoknya penting maka ia termotivasi untuk meningkatkan usahanya. Selain itu, hasil penelitian Zaccaro (dalam Vaughan & Hogg, 2005) merupakan salah satu bantahan bahwa group size bukanlah penyebab utama pemalasan sosial.
Anda mungkin bertanya-tanya jika pemalasan sosial lebih dominan disebabkan oleh faktor internal seperti motivasi, pandangan individu mengenai dirinya dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan, kemudian bagaimana mencegah pemalasan sosial? Jika memungkinkan, ketika Anda mendapat tugas kelompok dari Dosen, sebaiknya Anda memilih teman yang memiliki banyak kesamaan dengan Anda atau peer Anda sebagai rekan kerja. Mengapa? Karau dan Williams (1997) menunjukkan pemalasan sosial tidak terjadi atau dapat direduksi ketika partisipan bekerja sama dengan teman mereka yang memiliki banyak kesamaan atau disebut cohesive group dibandingkan ketika partisipan bekerja dengan orang asing atau disebut noncohesiveness group saat mengerjakan tugas typing dan brainstroming. Hasil penelitian mereka didukung hasil penelitian Van Dick, Tellmacher, Wagner, Lemmer, dan Tissington  (2009) yang didasari social identity theory─individu berusaha mempertahankan hal-hal positif dari dirinya dengan membandingkan dirinya dengan anggota dari kelompok yang berbeda, dan self-categorization theory─individu mengategorikan dirinya sebagai anggota kelompok, kemudian bertindak sesuai ketentuan keanggotaan dalam kelompok tersebut. Hasil penelitian mereka menunjukkan partisipan yang berada pada high salient group─grup yang anggotanya memiliki tingkat identifikasi yang tinggi dengan kelompoknya,  bekerja lebih baik dibanding partisipan yang berada pada low salient group─grup yang anggotanya memiliki tingkat identifikasi yang rendah dengan kelompoknya. Hal ini disebabkan ketika partisipan merasa bagian dari kelompok, partisipan tersebut berkomitmen untuk bekerja dengan baik demi kesuksesan kelompok. Jika kondisi Anda tidak memungkinkan untuk memilih anggota kelompok, sebaiknya Anda berusaha menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja Anda sehingga dia merasa bagian dari kelompok.
Pemalasan sosial merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam kerja kelompok. Faktor internal dan eksternal sama-sama berperan menyebabkan pemalasan sosial. Namun, faktor internal yaitu motivasi, pandangan individu mengenai dirinya, pandangan individu mengenai keanggotaan dalam kelompok, dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan tugas lebih dominan dalam menyebabkan pemalasan sosial dibanding faktor eksternal yaitu group size dan tidak teridentifikasinya kontribusi individu. Oleh karena itu, untuk mencegah pemalasan sosial sebaiknya Anda bekerja bersama teman Anda atau membuat rekan kerja Anda menjadi teman Anda dengan menerapkan social identity theory dan self-categorization theory sehingga dia merasa bagian dari kelompok Anda.


















Daftar Pustaka

Baron, R. A., Branscombe. N. R., & Byrne, D. (2009). Social psychology. (12th ed.). Boston: Ally and Bacon.
George, J. M. (1992).  Extrinsic and intrinsic origins of perceived
social loafing in organizations. The Academy of Management Journal, 35 (1), 191-202. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/256478. Diakses pada 22 Juni 2011 pukul 21:57 WIB.
Harkins, S. G., & Petty, R. E.  (1982). Effects of task difficulty and task uniqueness on social loafing.  Journal of Personality and Social Psychology, 43(6), 1214-1229. doi: 10.1037/0022-3514.43.6.1214. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:06 WIB
Huguet, P., Emmanuelle, C., & Monteil, J-M. (1999). Productivity loss in performance groups: People who see themselves as average do not engage in social loafing. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 3(2),118-131. doi: 10.1037/1089-2699.3.2.118. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 14:47 WIB
Karau, S. J., & Williams, K. D. (1993). Social loafing: A meta-analytic review and theoretical integration. Journal of Personality and Social Psychology, 65,681-706. doi: 10.1037/0022-3514.65.4.681. Diakses pada 4 Juli 2011 pukul 14:52 WIB.
Karau, S. J., & Williams, K. D. (1997). The effects of group cohesiveness on social loafing and social compensation. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 1(2), 156-168. doi: 10.1037/1089-2699.1.2.156 . Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:10WIB
Kerr, N. L. (1983). Motivation losses in small groups: A social dilemma analysis.  Journal of Personality and Social Psychology, 45(4),  819-828. doi: 10.1037/0022-3514.45.4.819. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:04 WIB
Kerr, N. L. & Bruun, S. E. (1983). Dispensability of member effort and group motivation losses: Free​-​rider effects.  Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), 78-94. doi: 10.1037/0022-3514.44.1.78. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:07 WIB
Latane, B., Williams, K., & Harkins, S. (1979).  Many hands make light the work:
The causes and consequences of social loafing. Journal of Personality and Social Psychology, 37 (6), 822-832. doi: 10.1037/0022-3514.37.6.822 . Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:05 WIB
Peribahasa indonesia. (n.d.). Retrieved from http://id.wikiquote.org/wiki/Peribahasa_Indonesia. Diakses pada 3 Juli 2011 pukul 20:13 WIB.
Van Dick, R., Tellmacher, J., Wagner,U., Lemmer, G., & Tissington,  P. A.  (2009). Group membership salience and task performance. Journal of Managerial Psychology, Vol. 24(7), pp. 609-626. DOI 10.1108/02683940910989011. Diakses pada 13 Juni 2011 pukul 10:25 WIB.
Vaughan, G.M., & Hogg, H. A. (2005). Introduction to social psychology. (4th ed.). Frenchs Forest, NSW: Pearson Education Australia.
Williams, K., Harkins, S., & Latane, B. (1981). Identifiability as a deterrant to social loafing: Two cheering experiments.  Journal of Personality and Social Psychology, 40(2), 303-311. doi: 10.1037/0022-3514.40.2.303. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:05 WIB.



Post Signature

Post Signature