Top Social

Jika Kau Punya Masalah....

|



Saya rasa saya pernah memberi tahu kalian bahwa saya pernah ingin bunuh diri waktu saya kecil? (buat yg belum tahu, bisa baca disini) well, semester tiga lalu  atau tepatnya tahun 2011, aku pernah kembali ingin bunuh diri.  Saya menduga keinginan bunuh diri saya muncul karena sifat perfeksionis saya. Selama ini saya percaya kelebihan saya adalah kepintaran saya dan saya tidak punya kelebihan apa-apa selain itu. Di setiap semester, saya menargetkan untuk mendapat IP 4. Awalnya saya merasa yakin untuk meraihnya. Terlebih lagi ketika saya melihat para mahasiswa berprestasi ketika OKK UI. Mereka berkata mereka saja bisa. Saya kemudian melakukan social modelling. Walaupun begitu, pada prosesnya self-efficacy saya menurun. Hal ini disebabkan saya gagal mengerjakan tugas dengan baik, perencanaan saya kacau, dan hasil kuis saya buruk. Saya sendiri  menjadi tidak yakin dapat mencapainya kemudian malas belajar. Saya justru merasa sedih dan tertekan karena gagal memeroleh IP 4. Saya gagal memenuhi standar yang saya tentukan sendiri. Kegagalan tersebut membuat saya sering memaki dan membenci diri saya, seperti “i hate my self” atau “Tolol banget sih loe, Na”.. saya merasa diri saya gagal sebagai a person

Kondisi tersebut diperparah di semester 3 lalu, saya mendapati nilai UTS mata kuliah favorit saya, psikologi industri dan organisasi saya adalah 65. Selama ini, saya tidak pernah mendapat nilai jelek di mata kuliah favorit saya. Ketika mengetahui nilai UTS saya jelek, saya menangis dan berpikiran untuk mengakhiri hidup saya karena saya merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang membuat diri saya bangga ataupun berharga. 

Menurut Santrock (2011), seorang perfeksionis melihat kesalahan sebagai tanda bahwa ia tidak berharga, menjadi depresi dan kecewa berat   saat mengalami kegagalan, dan memasang standard terlalu tinggi dan diluar kemampuan. Saat menangis, terlintas di benak saya untuk meminta teman saya membunuh saya karena saya tahu Islam melarang bunuh diri. Mungkin mati karena dibunuh tidak dilarang.  Saat itu saya menangis di toilet kampus. Selesai menangis, saya pun berjalan pulang ke kosan dengan  berpikir tentang cara-cara mengakhiri hidup saya.  Ketika hendak menyebarang jalan, saya hampir tertabrak motor dan tubuh saya mendadak lemas. Saya merasa sangat ketakutan.

Peristiwa tersebut menyadarkan saya bahwa saya masih ingin hidup dan tidak ingin mati. Saya benar-benar bersyukur Allah masih menyadarkan dan mengingatkan saya.  Kalian tahu peristiwa tersebut juga membuat saya “kembali”ke islam? Saya benar-benar menyesal dan  mulai sering berdoa meminta maaf kepada Allah karena telah berpikir untuk bunuh diri.  Saya pun berusaha mengingat kembali hal apa yang dulu membuat saya bertahan untuk tidak bunuh diri, dan jawabannya adalah  dulu saya menjadikan Rasullullah SAW sebagai role model saya. Ketika sedang mengalami kesulitan, saya akan mengingat peristiwa buruk yang dialami Rasulullah SAW dan bagaimana beliau tetap bersabar. Namun, tidak kali ini. saya sudah lama melupakannya. Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai  melupakan beliau.  Salah satu hikmah dibalik keinginan saya ingin bunuh dirimembuat saya sadar bahwa saya berusaha kembali mencintai Rasulullah SAW dan menjadikannya panutan hidup saya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al Ahzab : 21.)



        SULIT, MUDAH , RIDHONYA

        by Salim A. Fillah

        Satu waktu, sudah lama sekali.

        Seseorang berkata dengan wajah sendu.

        “Alangkah beratnya… alangkah banyak rintangan… alangkah berbilang sandungan… alangkah rumitnya.”

        Aku bertanya, “Lalu?”

        Dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk.

        “Apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

        “Hanya karena itu kau menyerah kawan?” aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya.

        “Yah, bagaimana lagi? Tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

        Aku membersamainya menghela napas panjang.

        Lalu bertanya, “Andai Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah Islam di muka bumi?”

        “Maksudmu, akhi?” Ia terbelalak

        “Ya, andai Muhammad SAW berpikir bahwa banyaknya kesulitan berarti tak

        diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

        “Ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad SAW bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar.

        Mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher.

        Mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta.

        Mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu.

        Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir.

        Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib.

        Mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata.

        Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang.

        Atau justru saat dunia ditawarkan padanya ; tahta, harta, wanita…”

        “Jika Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

        “Tapi Muhammad SAW tahu, kawan.

        Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya,

        berat atau ringannya, bahagia atau deritanya,

        senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya..”

        “ Ridha Allah terletak pada

        Apakah kita mentaati-Nya

         dalam menghadapi semua itu?

        Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larang-Nya

        dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan? ”

        “Maka selama di situ engkau berjalan,

        bersemangatlah kawan…”

lalu di semester  ini, hana sempat kembali stres. di post yg lalu (klik di sini), hana pernah cerita kalau hana sempet ngerasa ngga bisa senyum selama seminggu. 

well, hana masih bisa senyum sih tapi senyumnya ngga tulus dari hati alias senyum sosial. hana juga sempet kaget hana bisa senyum di saat hana sedih. selama ini kalau hana sedih, semua orang kena getahnya karena hana akan menampakkan wajah murung hana ke semua orang. Tapi Alhamdulillah kali ini, hana bisa menyembunyikan hal tersebut.  

Nah, pas Hana lagi sedih tersebut, dosen Klinis Kesehatan Hana, Mba Sherly cerita tentang dampak bunuh diri bagi orang-orang di sekitarnya, banyak yang merasa menyesal tidak dapat dapat menolong dan tidak menyadari tanda-tandanya, dan rasa penyesalan tersebut bisa bertahan lama. Mba sherly bilang perumpaan kalau  mahasiswa psikologi yang bunuh diri itu kayak tikus mati di lumbung padi. Soalnya sekitar 80% dosen di psikologi tuh psikolog, kalau kami punya masalah harusnya kami minta tolong mereka. Terlebih lagi khusus mahasiswa psikologi, biaya ikut konseling tuh gratis. Jadi, kata mbak sherly kalau punya masalah tuh minta tolong, jangan diem aja. 

Omongan mba sherly membuat hana menangis. hana jadi mikir apa jadinya kalau semester 3 lalu, hana jadi bunuh diri? hana saat itu memang merasa tidak berguna dan gagal sebagai seorang manusia, tapi hana juga tidak mau kematian hana membuat orang-orang di sekitar hana, keluarga, dosen-dosen dan temen-temen merasa bersalah karena tidak menolong hana.

Gara-gara omongan mba sherly, hana pun memutuskan ikut konseling. Hana saat itu stress biasa sih tapi Hana takut Hana kepikiran ingin bunuh diri lagi. Jadi niat hana ikut konseling tuh lebih ke pencegahan, untuk mengetahui cara mengatasi depresi jika hana nanti mengalaminya lagi.. 

Sebenernya dari semester 1, hana udah pengen ikut konseling tapi hana selama ini takut, takut masalah hana ternyata sepele, takut hana ngga bisa membuka diri ke psikolognya, takut hana merasa ngga nyaman, dll.  Banyak takutnya deh pokoknya dan akibatnya hana jadi sering mengurungkan niat hana tuk pergi ke psikolog . 

Hana jadi mikir padahal hana mahasiswa psikologi ya, tapi masih punya rasa  takut ke psikolog, gimana yang orang awam? *nyegir* Anyway, hana pun memberanikan diri untuk ikut konseling. Hana ngga mau  keinginan bunuh diri itu muncul lagi, mengingat di Islam pun bunuh diri dilarang. Kalian tahu hana udah ikut lima sesi konseling. Nanti insya allah hana bakal post insight-insight yang Hana dapet selama konseling :D

Intinya: kalau  punya masalah, selesaikan :D  minta bantuan sama Allah :D minta bantuan sama  manusia juga :D dalam kasus ini, kalau depresi/stres, datengi psikolog :D nah, minta bantuan ke psikolog tuh salah satu bentuk ikhtiar (usaha) menyelesaikan masalah :D





Daftar Pustaka

Santrock, J.W. (2011). Educational psychology. (5th ed). New York:McGraw-Hill.
Fillah. S.A. (2010). Dalam dekapan ukhuwah (5th  ed). Jogjakarta: Pro-U media.
gambar diunduh dari https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/537495_10151300005354800_383539441_n.jpg

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature