Top Social

Suicide Notes part 1: Four Reason Why

|


Seperti yang pernah gue janjikan di post sebelumnya (jika kau punya masalah), gue akan berbagi insight (hikmah)  yang hana dapet selama konseling berlangsung. Maaf ya padahal ini tahun baru dimana sebagian besar orang posting yang bernada semangat. Postingan gue justru gloomy..
 ._.v



Anyway, dari konseling sesi 1, gue menemukan bahwa penyebab bunuh diri bukan hanya satu masalah tapi lebih dari satu. Masalah tersebut menumpuk dan makin lama semakin besar sehingga merasa sulit untuk diselesaikan.

Awalnya gue pikir gue ingin bunuh diri karena dapet nilai 65 di PIO dan sifat perfeksionis Hana, tapi ternyata pas konseling, gue diminta mengingat masalah apa saja yang gue alami ketika semester 3. Gue ingat ada beberapa masalah yang gue alami sebelumnya dan nilai 65 adalah titik terendah dari segala masalah tersebut sehingga gue ingin bunuh diri. Kalau dirangkum ada empat masalah yang gue alami di semester 3:


a.       Masalah akademik
Di semester ini gue merasa performa akademik gue menurun, hampir semua mata kuliah Hana nilai UTSnya 70an. Ini masa-masa yang berat bagi gue.

b.       Masalah di kepanitian dan di organisasi
Gue ngerasa gue gagal menjalankan amanah dengan baik.
Kesalahan-kesalahan yang gue lakukan: guesering bolos acara SALAM , gue tidak mengingatkan tim danus dan sponsorship Natsu No hi AAJ , Gue sempet stress takut COE ngga dapet dana dan gue sering ngga ikut bagian acara pemberian materi COE, Gue merasa gagal sebagai ketua BWB 2010 karena proker-proker yang gue janjikan tidak ada yang berjalan. Semua itu membuat gue ketakutan, takut orang-orang bakal benci gue karena megang jabatan ngga bener, takut gue digosipin dan dicap punya performa buruk, takut sama pertanggungjawaban di akhirat nanti,

c.       Gue menyerah sama salah satu mimpi besar gue
Di semester 3 ini, gue ikut sekolah mahasiswa berprestasi psikologi dan mendapati bahwa ternyata ada banyak hal yang belum gue lakukan untuk dapat mengisi kolom-kolom penilaian agar bisa jadi mapres. Gue bahkan udah merasa stress sama akademis, kepanitiaan dan organisasi yang gue pegang sekarang. Bagaimana caranya gue ngisi bagian kosong yang lain seperti kegiatan social, wiraswasta/magang, lomba-lomba akademik dan non akademik?

d.       Masalah interpersonal
My future husband (whoever you are ), gue harap kau tidak cemburu jika suatu saat nanti kau membaca postingan ini. Gue sempet berpikir untuk tidak menceritakan bagian ini. Akan tetapi, hana merasa insight yang gue dapet dari masalah ini adalah hal yang penting sehingga akan aneh kalau gue  cerita insight tanpa menceritakan terlebih dahulu masalahnya. Semoga kau tidak cemburu ya. ;)

Masalahnya adalah gue patah hati. Gue mendengar kabar kalau cowok yang gue sukai dari semester 1 sedang dekat dengan seorang cewek.  Yah.. sebenarnya  dari awal gue udah nebak bakalan patah hati karena gue ngga mau pacaran dan belum siap nikah. Tapi patah hati tetap terasa menyakitkan. (ʃ˘̩̩̩_˘̩̩̩ƪ


http://9gag.com/trending/10836



Berita bagusnya adalah gue ngga punya kenangan apa-apa sama cowok ini. Kami berdua cuma tahu nama satu sama lain tapi tidak pernah mengobrol, bisa dibilang gueini secret admirer atau mungkin lebih tepat disebut stalker?  hehe

 “Menyukai diam-diam itu seperti komedi putar, seolah berjalan padahal tidak kemana-mana.”

Ya.. gue ngecek/kepo facebooknya tiap hari dan bertanya tentang dirinya ke temen-temennya, jadinya gue tahu banyak tentang dia, tapi dia ngga tahu apa-apa tentang gue, rasanya persis “seolah berjalan padahal tidak kemana-mana.”

Waktu lagi patah hati, gue sempet berpikir tahu gitu lebih baik sakit gigi dibanding sakit hati. Dan tahu ga? Allah baik banget mendengar keluhan gue dan memberikan keduanya :D Jadi pas lagi patah hati, gue sakit gigi juga. Dan Kalian tahu apa? Keduanya sama sakitnya. Gue rasa yang bilang lebih baik sakit gigi dibanding sakit hati itu fakta yang tidak benar,. Well, at least for me, dua-duanya menyakitkan.



Nah ketika keempat masalah di atas belum selesai dan membebani pikiran gue, Gue menemukan bahwa gue mendapat nilai 65 di mata kuliah favorit. Rasanya seperti dijatuhkan dari jurang. :’( Biasanya ketika gue lagi down, guebakal bilang “Ngga apa-apa, Na. loe kan masih punya hal lain yang loe banggakan misalnya… “ . Nah, saat gue  dapet nilai 65 itu,. gue ngga inget apa-apa yang bisa melawan pikiran buruk  yang muncul. Bahkan rasanya gue sudah mengecewakan umi. Selama ini yang membanggakan dari diri gue adalah akademis dan bahkan gue pun gagal di situ. Pikiran tersebut sempet ditepis bahwa gue beruntung karena gue bisa masuk UI, I mean banyak yang ingin masuk UI dan gue termasuk salah satu orang yang beruntung. Tapi kemudian Hana malah inget kalau di UI ada banyak mahasiswa yang lebih baik dari pada guen. I mean kehilangan seorang mahasiswa sepertinya tidak ada bedanya. Saat itu gue berpikir jikapun gue pergi(meninggal), tidak akan ada perubahan yang signifikan. Akan ada banyak mahasiswa lain yang menggantikan posisi gue. Jadi gue berpikir untuk mengakhiri hidup ini.


“I could picture life—school and everything else—continuing on without me. 
But I could not picture my funeral. 
Not at all. Mostly because I couldn’t imagine who would attend or what they would say.” 



Yah,,, untungnya pas perjalanan pulang, gue hampir keserempet motor dan menyadari bahwa gue masih belum ingin mati. Gue hanya ingin semua masalah itu selesai.

Sekarang, Gue justru bersyukur karena dapet nilai UTS PIO 65. :D Kalau gue ngga dapet nilai 65 mungkin gue akan membiarkan masalah-masalah tersebut berlarut-larut. Gue mungkin ngga berefleksi kenapa sampai keinginan bunuh diri itu muncul.



"You can't stop the future
You can't rewind the past
The only way to learn the secret
...is to press play.” 


Gara-gara dapet nilai UTS PIO 65, gue batal masuk peminatan PIO dan punya alasan untuk tidak ngambil peminatan PIO. Umi pengen gue ambil peminatan PIO, gue juga pengen sih tapi hana takut pas masuk peminatan PIO, gue bakalan depresi lagi. Guue jadi punya alasan untuk nolak ke Umi untuk bilang bahwa Gue ngga mau  ambil karena takutnya gue pas dapet nilai PIO yang jelek.  Soalnya yang gue denger dari salah senior yang ngambil peminatan PIO, kalau Dosen PIO suka ngasih nilai pukul rata B. Ngga kebayang kalau usaha apapun yang guelakukan akan tetep dapaet nilai B.  Gue takut  malah bakal learned helplessness. Alasan lain ngga ambil peminatan PIO adalah di kelas PIO yang semester 3 gue ambil, gue suka bingung karena dosennya tidak tegas dalam menjalankan peraturan. Di kuliah pertama kan biasanya ada peraturan yang diumumkan harus dituruti selama dikelas. Nah yang gue bingung ketika perkuliahan berlangsung, banyak mahasiswa yang melanggar salah satu atau beberapa peraturan tersebut tapi dosennya membiarkan, tidak ada sanksi apa-apa. Beda banget sama kelas psikologi pendidikan atau psikologi sosial.

Terus beberapa temen gue yang ngambil peminatan PIO pada ngeluh stress ke gue, gue jadi bersyukur mendengar keluhan mereka karena ada kemungkinan gue bakal berada di posisi mereka saat ini jika gue ngambil peminatan PIO. Maaf ya temen-temen yang curhat karena gue malah seneng di atas penderitaan kalian tapi curhatan kalian membantu gue untuk mengubah pemaknaan nilai UTS PIO 65. Sebelumnya gue menganggap itu adalah bukti kegagalan tapi ternyata nilai 65 justru menyelamatkan gue. Ketetapan Allah memang yang terbaik \(^o^)/

Sometimes things didn't work out the way you imagined it. 
Well, it just even BETTER!! =D

Selain itu, gue belajar untuk tidak menilai berharga atau tidaknya diri gue dari sekedar nilai yang didapat di kuliah. Hana Bilqisthi tidak didefiniskan oleh sebuah nilai karena ada banyak komponen/kepingan lain yang membentuk seorang Hana Bilqisthi :D

Soal organisasi, gue malah aneh saat akhir kepengurusan SALAM UI 14, Kak Umi (Kordinator akhwat PSDM SALAM UI 14) malah bilang kalau gue itu staf terbaiknya. Sumpah aneh banget karena gue ngga ngerasa begitu. But I feel happy :D
 Soal COE, ternyata Kak Kurona (PO COE) ngga marah selama gue pergi pas acara COE dan malah berterima kasih karena gue berhasil mendapatkan sponsor. Gue juga dapet ucapan terima kasih dari Kak Singgih (Korbid eksternal SOSMAS BEM UI). Soal Natsu No Hi ternyata tidak ada yang merasa kalau kegagalan yang gue lakukan itu salah gue sepenuhnya. Soal BWB, gue sebenernya pengen ketemu sama semua anak BWB dan meminta maaf sama mereka semua (satu persatu) dan mungkin mengundurkan diri jadi ketua BWB. Seinget gue salah satu janji gue adalah kalau Hana gagal, gue bakal ngundurin diri., tapi waktu beberapa waktu yang lalu ketika kumpul BWB (walaupun ngga semua), gue cerita ke Qolbun kalau gue merasa gagal jadi ketua dan dia bilang “Han… kayaknya anak-anak pada lupa deh loe ngejanjiin proker apa ke mereka. Udah sih ngga usah dipikirin.” . Tapi jujur aja gue  masih inget sama janji gue dan rasanya seperti masih punya hutang dan gue a ngga mau bawa hutang itu seumur hidup. Atau jangan-jangan itu bakal jadi hutang seumur hidup? :o Hana lupa batas waktu masa jabatan Hana sampai kapan ya… Σ(Д|||) ?

Hal yang aneh lainnya adalah kalau gue tahu salah satu kabar anggota BWB dan gue nyebarin itu ke temen-temen BWB, beberapa dari mereka berterima kasih. Itu aneh bagi gue karena gue kan menjalankan kewajiban. Selama ini,buat gue kalau menjalankan kewajiban ngga perlu diberi ucapan makasih karena itu adalah hal yang emang HARUS gue lakukan kecuali gue melakukakn hal-hal di luar kewajiban maka gue malah ngarep dibilanging makasih. Hehehe.. Tapi gue jadi terharu :’)

Makasih banyak ya buat semua temen-temen gue yang mengucapkan terima kasih =) Kalian membuat gue merasa berharga.


Soal patah hati, gue berhasil move on tentunya.  :D  Keinginan bunuh diri membuat gue merasa amat sangat bersalah karena menginginkan hal yang dilarang dalam Islam dan tentu saja gue jadi sering mendekatkan diri kepada Allah. Di masa-masa itu, Hana menyadari satu hal bahwa gue telah melakukan dosar besar: gue menyukai cowok ini melebihi cinta terhadap Allah dan RasulNya. gue sering banget menghabiskan waktu  untuk mikirin cowok ini atau mencari tahu tentang cowok ini. gue terobsesi dengannya. Kalau diinget-inget lagi rasanya malu banget. Kok bisa gue menyukai seorang makhluk melebihi rasa suka  terhadap Penciptanya? Selama semester dua dan tiga kemarin, gue sering merasa bosan dan merindukan sesuatu. Tiap merasa bosan, Hana mengisi waktu gue dengan nonton film dan baca komik online sementara kalau merasa rindu gue kira gue rindu sama cowok ini dan jadi sering mantengin layar notebook untuk kepo facebooknya (cowok ini ngga punya twitter). Tapi ternyata  yang gue rindukan bukan hal-hal tersebut. Soalnya semakin lama gue butuh waktu yang lama di depan computer untuk memunculkan peraasaan puas atau terisi. Tapi anehnya perasaan puas itu cuma bertahan sebentar sekali.

Waktu menyesal karena keinginan bunuh diri gue, entah kenapa gue membuka buku doa-doa yang udah dikasih Abi gue dari semester 1 (tapi baru gue buka saat itu). Gue mendapati ketenangan ketika membacanya. gue pun sadar ternyata yang gue rindukan itu Allah. Perasaan bosan dan rindu itu lebih cepat terpenuhi ketika berdzikir, membaca doa dan Al-quran dibanding menonton film, baca komik atau kepo-in cowok tersebut. Ya Allah, maafin Hana. Ngga kebayang kalau saat itu gue mati bunuh diri dan didalam kubur ditanya “siapakah Tuhanmu?”. gue takut jawaban yang keluar malah "cowok tersebut/internet/komik." Astagfirullah! Innalillahi T.T

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Padahal, orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.. “
(Q.S. Al-Baqarah: 165)


Saat ini gue sedang belajar mencintai Allah dan Rasulullah SAW
 Doain ya :D Semoga nanti ketika ditanya “siapakah Tuhanmu?” gue bisa menjawab “Allah!” :D



Kalian tahu? Ternyata hal yang gue kira musibah (punya masalah dan ingin bunuh diri) justru terdapat banyak hikmah di dalamnya :D Gue bersyukur masih dikasih kesempatan sama Allah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah gue lakukan.


Nikmat terbaik adalah segala kejadian yang membawa kita semakin dekat kepada Allah betapapun itu menyakitkanmu -Anonim

“Penderitaan yang sesungguhnya adalah ketika kamu kehilangan kepercayaan diri dan 

harapan. Ketika Allah tak ada dalam tujuan hidupmu ”


― Helvy Tiana Rosa, Tanah Perempuan


http://24.media.tumblr.com/f2478d5608d8885385152fce546ab778/tumblr_mep1mwzzuD1rnvmn2o1_500.jpg

Buat yang pengen bunuh diri, Gue harap kalian memikirkan lagi keinginan kalian. Bayangin deh diri kalian tanpa masalah-masalah yang kalian hadapi saat ini, akankah kalian memilih bunuh diri?
Gue rasa jawabannya tidak.
karena bukan bunuh diri yang sebenarnya kalian inginkan
tapi yang kalian inginkan adalah masalah-masalah kalian terselesaikan. :D

Ada satu hal lagi yang mau gue share bahwa ternyata orang yang berkeinginan bunuh diri biasanya itu disebabkan perasaan putus asa. Gue sendiri pernah putus asa berpikir bahwa "dosa-dosa gue udah terlalu banyak dan mungkin tidak akan diampuni oleh Allah". Gue seolah lupa bahwa Allah Maha Penyanyang dan Maha Pengampun. 

Gue juga mau ngucapin makasih banyak buat temen-temen gue yang masih memperlakukan gue seperti biasa setelah gue mengaku pernah ingin bunuh diri, pertama kali di postingan Menjadi Lebih Cantik Setiap Harinya  . Gue sebenarnya sempet takut temen-temen gue memandang Hana dengan rasa kasihan dan guesendiri ngga mau dikasihani, tapi ternyata ketakutan gue tidak terbukti. :D

Hal yang mendorong gue menulis postingan tentang bunuh diri adalah harapan dengan tulisan hana, semoga makin banyak orang yang memahami gejalanya dan dapat menolong teman-temannya yang merasa depresi. Gue juga berharap orang-orang akan berani mengutarakan keinginan bunuh diri mereka sehingga mereka dapat ditolong. itu harapan idealnya sih.. hehehe ^^v

Makasih udah mau baca sampai akhir postingan :D 
(harap menunggu suicide notes part 2 ya :D)


Have a nice day everyone :D


http://30.media.tumblr.com/tumblr_lejxdywX6G1qajjdco1_500.png

5 komentar on "Suicide Notes part 1: Four Reason Why"
  1. Yup!
    Terima kasih ya Hana untuk bantuan selama di Center of Entrepreneurship Sosmas BEM UI 2011 :) Alhamdulillah berkat telepon Hana, maka Gerakan UI Mengajar terkena efek bola salju positifnya...

    SUMANGAIK! ;)

    BalasHapus
  2. sama2 kak singgih :) makasih banyak udah mau comment :D dan makasih banyak ya ucapan makasihnya :')

    BalasHapus
  3. Kak Hana Keren...
    Aku suka gaya kakak :)

    Salam Otominiyaki
    #Alif

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 alif :) makasih udah baca :D salam kenal ya :D

      Hapus
  4. Kak Hana Keren ..
    Salut sma kakak :)

    Aku tunggu curhatan kakak yg lain moga2 sama dgn masalah2ku yg lain ..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature