Top Social

The Magic is Gone

|
When I was little, I always being number one. I thought that I am really a lucky girl because I always get first rank in my class.
being number one means that everytime I stand up in front of the class, my classmate pay attention for what I said although that I am not a claas leader. It made feel confident and It felt like magic. I mean the noisy class became a quiet one when you stand and talk in front of the class. I made me proud because I knew they respect and appreciate me.

But I am no longer feel the same way. My magic seems gone little by little. Now, everytime I talk in front of the class, my class mate only pay attention in the beginning. It made me frustated, angry, and sad. because I do not know why it happend to me.

At the first time, everytime they ignored me, I blame myself. I thought it was my fault. Mybe that I have done something wrong, my persentation is not good enough or maybe I am not a charismatic person. So , I change the way I talk, but nothing change. Is my magic really gone???

I'm back!

|
Hari ini rabu,30 sep 2009 adalah hari 1st masuk skul. .
Awalnya sempet takut telat masuk karena selama libur ramadhan & lebaran begadang menjadi santapan sehari-hari. Tahunya pukul 6 pagi,hana dah siap berangkat.

Ada banyak hal baik terjadi. Ash co me back! (Cerita lengkapnya nanti ja ya).
Dan a1 mendapat giliran pertama minta maaf ke guru2 pas halal bihalal. Beruntungnya jadi ipa1. Terus hana dapet juga dvd attention please. Selain itu umi ngasih hana radikus makan kakus.
Hana bener2 seneng hari ni!

Kemana Aku Harus Pergi?

|

Kemanakah aku harus pergi?”. Pertanyaan itu mengendap dalam benakku dan sering muncul diikuti pertanyaan yang bernada serupa tanpa diikuti jawaban. Rasanya sesulit soal-soal fisika dan matematika. Ragaku tercekik tiap kali memikirkannya. Tiap kali aku berusaha mengalihkan pikiranku tetap saja pertanyaan tersebut kembali menyeruak muncul. Aku benci diriku yang tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri. Aku juga benci pikiranku yang mudah sekali teralihkan.

Pada awalnya tujuanku jelas. Semenjak umi menumpahkan semua keingannya padaku, lama-kelaman tujuanku menjadi kabur dan bias. Aku merasa ragu dan keraguanku itu menggerogotiku tiap hari membuat lubang keraguan yang besar dalam hatiku. Lubang besar itu membuatku merasa tak nyaman, apalagi aman. Ingin sekali kuterbebas dari perasaan ini.

Umi menginginkanku masuk Kedokteran, Teknik Kimia ITB, Teknik Elektro ITB, STAN, Farmasi ITB, Administrasi Fiskal UI, dan sederet cita-cita umi lainnya. Aku berusaha meyakinkan beliau akan jalan yang kupilih : psikologi. Namun, umi tidak menrestuinya. Umi bilang aku tidak cocok menjadi psikolog karena kepribadianku yang introvert, cuek dan jutek. Jauh di lubuk hatiku, aku tahu yang umi katakan ada benarnya. Namun, mendengar hal tersebut membuatku merasa selama ini aku bermimpi hal yang tidak boleh kuimpikan.

Aku ingin bisa meraih cita-citaku tapi aku tak mau melawan keinginan umi. Karena aku tahu restu Allah terdapat pada restu kedua orang tuaku. Akut takut aku menjadi anak yang tidak berbakti jika aku memilih jalan yang ingin kutempuh. Tapi jika aku memilih jalanku tanpa restu umi sama saja dengan aku ini egois. Aku ingin membahagiakan umi dan tidak mengecewakannya. aku benar-benar kebingungan. rasanya seperti melawan pukulan emosi yang tak bisa kumenangkan. Kemanakah aku harus pergi? Kapan aku menuju kepastian?

Post Signature

Post Signature