Top Social

Menyulitkan diri sendiri

|
Image Courtesy of Natureworks at pixabay.com

Ada kejadian berkesan yang tidak lepas dari ingatan sewaktu aku bersekolah MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) Al-Irsyad. Usiaku 7/8 tahun kalau tidak salah. MDAku dulu masuk pukul 2 siang dan hanya terdiri dari dua kelas dan memiliki 2 guru.

Cerita ini dimulai dengan ketidakhadiran salah seorang guru sehingga guru kami bolak balik mengajar di antara dua kelas.
Beliau memberikan kami tugas kemudian pergi meninggalkan kami ke kelas sebelah.
Aku terdiam sambil memandangi buku tulisku. Aku tidak langsung mengerjakan tugas karena merasa instruksi beliau kurang jelas. Ternyata aku tidak sendirian, dua orang temanku pun merasakan hal yang sama.
Aku dan kedua orang temanku pergi ke kelas sebelah menghampiri guru kami untuk menanyakan tentang mekanisme pelaksanaan tugas yang dia berikan.
Beliau menjawab pertanyaan kami dan kami pun kembali ke kelas.

Tapi pertanyaan lain mengenai pengerjaan tugas muncul sehingga kami kembali mendatangi guru kami yang masih di kelas sebelah untuk bertanya.
Beliau kembali menjawab dan kami kembali ke kelas.

Begitu duduk, pertanyaan lain kembali muncul dan kami memutuskan untuk kembali mendatangi guru kami. Tapi alih-alih mendapat jawaban, beliau berkata "Kalian tahu, kalian mengingatkanku tentang kisah Nabi Musa AS, kaumnya dan sapi betina di Surat Al Baqarah. Apakah kalian pernah mendengar ceritanya?"
Kami menggeleng.

Beliau tersenyum dan mulai bercerita bahwa di dalam Surat Al-Baqarah (ayat 67-73), Nabi Musa AS mendapat wahyu dari Allah untuk memerintahkan kaumnya untuk menyembelih sapi betina. Namun bukannya langsung mengerjakan perintah, kaumnya Nabi Musa AS malah bertanya sapi betina seperti apa yang dimaksud. Nabi Musa AS pun menjawab sapinya tidak tua dan tidak muda.
Selesai mendapat jawaban tersebut, kaum Nabi Musa AS kembali bertanya apa warna kulit sapinya? Nabi Musa AS pun menjawab Sapinya berwarna kuning. Mereka begitu terus bolak-balik bertanya hingga perintah menyembelih sapi betina yang tadinya umum menjadi menyembelih sapi betina dengan kriteria yang spesifik. Mereka mengira tugas mereka akan menjadi mudah tapi ternyata mereka menjadi kesulitan sendiri mencari sapi betina dengan kriteria yang sangat spesifik tsb.

Kalian tahu Allah pada awalnya hanya menyuruh menyembelih sapi betina. Jika mereka tidak banyak bertanya dan langsung mengerjakan perintah, mereka bisa menyembelih sapi betina dengan kondisi bagaimana pun. Perintahnya mudah, tapi kaum Nabi Musa AS malah mempersulit diri mereka dengan banyak bertanya.

Guru kami mengakhiri ceritanya dengan berkata "Jangan banyak bertanya. Kerjakan saja tugasnya."

Kami pun terdiam, kembali ke bangku kami dan kali ini langsung mengerjakan tugas.

Aku merasa tertohok mendengar cerita tersebut karena salah satu alasan aku banyak bertanya adalah malas/enggan mengerjakan tugas. Biasanya tugas yang diberikan akan dikumpulkan di akhir pelajaran. Aku berharap bisa bilang tugasnya belum selesai karena aku baru memahami tugas yang diberikan mepet waktu pulang. Astagfirullah. Ternyata banyak bertanya tidak selalu bagus kalau niatnya enggan mengerjakan tugas dan malah bisa menyulitkan diri sendiri.

Misteri Mukena Kantor

|
Dalam hal membawa mukena, ada dua tipe muslimah : yang suka bawa mukena kemanapun pergi dan yang ngga.
Well, dulu Hana termasuk tipe yang pertama...
hingga Hana kerja di majalah SWA.
Sekarang Hana masuk tipe kedua.

Pada suatu hari Hana lupa bawa mukena ke kantor karena baru selesai dapet (haid). Entah kenapa kalau hari-hari awal selesai dapet, biasanya masih merasa ngga shalat/ lupa kalau udah wajib shalat.
Karena ngga bawa mukena sendiri, mau ngga mau Hana pakai mukena kantor.
Hana kaget ternyata mukena kantor SWA bersih dan wangi.
:O
Biasanya kalau pakai mukena yang dipakai bersama, kondisi mukenanya ngga banget deh.

Hana pun curiga jangan-jangan ada pengurus mushola di Kantor.
Hana kemudian bertanya pada Mba Dian (senior Hana tapi sekarang udah pindah kerja),  apakah SWA memiliki pengurus mushola.
Mba Dian menjawab tidak ada.
Hana bertanya kalau tidak ada, siapa yang mengurus mukena-mukena di kantor? Mukenanya dalam kondisi terawat.
Mba dian bilang karyawan perempuan yang ibu-ibu di SWA suka bawa pulang mukena untuk dicuci kemudian dibawa lagi ke kantor. Bahkan Mba Dian mengakui dia juga pernah melakukan hal tersebut.

Hana masih setengah percaya mendengarnya.
Terlebih lagi, Hana tidak pernah melihat karyawan perempuan melakukan yang Mba Dian bilang.
Kalau Hana bawa mukenanya pulang buat dicuci, emang ngga akan dibilang pencuri apa?
begitulah pikirku.

Obrolan Hana dengan Mba Dian ini terlupa hingga tanggal 15 Oktober lalu.
Hana pergi ke mushala pagi-pagi buat shalat duha dan kebingungan mukenanya tinggal satu. Ngga nemu mukena kantor yang biasanya Hana pakai.

Selesai shalat duha, Hana menemukan teman kerja, Mba Amor  lagi duduk di samping Hana mengeluarkan mukena-mukena kantor dari tasnya.
Wajahku menunjukkan ekspresi terkejut dan tanpa bertanya Mba Amor menjelaskan "Mumpung libur, Han kemarin. Jadi gue bawa buat dicuci"
(buat yang lupa 14 Oktober libur tahun baru Islam)
"Rajin banget Mba" jawabku.
"Wajar han. Ini mah kerjaan emak-emak." Mba Amor berusaha mengelak dan tersipu.
Buatku sih tetep rajin karena bisa aja kan Mba Amor memilih tidak peduli dan jadi pengguna aja.

Ternyata omongan Mba Dian bener, kalau yang merawat mukena kantor tuh karyawan perempuan tapi baru menyaksikan dengan mata kepala sendiri setahun setelah bergabung di SWA.
Wah ternyata ada peluang berbuat kebaikan lainnya: Mencuci Mukena Kantor :D

Buat pembaca Hana yang tidak kerja di majalah SWA dan ngga bisa bantuin cuci mukena kantor SWA, mungkin bisa ikutan peluang kebaikan yang lain, seperti donasi mukena, sarung & karpet sajadah yang diselenggarakan LD MII 24 FMIPA UI.



🎎 Donasi Mukena, Sarung, dan Karpet Sajadah 🎎
Sampai hari ini donasi yang telah terkumpul:
💾 Rp 1.736.000,-
👘 Mukena: 7 pasang
👖 Sarung: 3 buah
đŸ‘łđŸœ Sajadah satuan: 3 buah
Donasi mukena, sarung dan karpet sajadah masih dibuka 😊, yuk teman2, barangsiapa yang ingin berdonasi, dapat dilakukan dengan cara :
📭 Berdonasi secara langsung ke Kotak MII yang telah disediakan di tempat sholat ikhwan atau akhwat
đŸ“© Donasi dapat juga dikirimkan ke rekening Bank BNI
👉0372492689 A.n Rinda Parya Putri👈
konfirmasi donasi ke :
Rinda 085774253602
Format :
Nama_Instansi_Jumlah Donasi
📞 Selain itu, kamu bisa berdonasi mukena atau sarung secara langsung dengan cara menghubungi narahubung di bawah ini
Narahubung :
👧 Rinda 085774253602 (Akhwat)
👩 Hanif 085710301785 (Ikhwan)
Donasi mukena,sarung dan karpet sajadah yang terkumpul akan digunakan untuk keperluan ibadah di Musholla Izzatul Islam FMIPA UI
Dept. Kemakmuran Musholla
Sahabat Musholla
LD MII 24 FMIPA UI
Unstoppable Inspiration


Yuk jangan lewatkan peluang berbuat baik  😊

The King Speech

|


Pas Mba Evrina mengumumkan giveaway What movie are you di group Blogger Muslimah sempat mengira lomba ini tentang film/karakter yang ceritanya mirip jalan hidup kita, atau tentang film favorit dan hubungannya dengan kepribadian kita :)
kemudian kebingungan memilih film..
Terus pas lagi milih-milih film baru sadar "eh, emang ketentuan nya apa?"
*menepuk jidat*
Pertama kali baca cuma skimming, jadinya lupa..
Hohoho
(^_^)v
Peace ah
Pas baca ulang kententuannya ternyata postingan blognya tentang film yang menginspirasi :D

Film apakah yang menginspirasi Hana Bilqisthi?
Well, banyak sih tapi yang baru-baru ini aku tonton dan belum ditulis di blog adalah The King Speech!

Film ini menginspirasi karena pesan utamanya tentang  harapan bahwa kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik dan dapat bangkit dari keterbatasan.
Poin plus lainnya film ini diangkat dari kisah nyata, jadi ngga bisa bilang "Ah, itu kan cuma fiksi, kehidupan nyata ngga segampang itu."
(^0^)/
Hal lain yang membuatku suka The king speech adalah dapat belajar cara pikoterapi.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang Pangeran Albert (Duke of York), bagaimana dia mengatasi keterbatasan yang dia miliki (gagap) dan akhirnya berhasil menjadi Raja George VI.



https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/a/a0/Kings_speech_ver3.jpg
Image Download from wikipedia





Film ini dibuka dengan adegan Pangeran Albert harus melakukan pidato pertamanya untuk upacara penutupan pameran kerajaan Inggris di Wembley Stadion pada tahun 1925 yang disiarkan oleh radio BBC ke koloni dan dominon Inggris.

Ketika Pangeran Albert membuka mulut, aku tidak mendengar suara apa-apa dan mulai berpikir apa aku salah dengar ya? Kemudian melihat orang yang sepertinya berperan menjadi operator radio memutar-mutar tombol yang kuduga  pengeras suara.

Ooh berarti emang dari filmya.

Kemudian saat terdengar suara, ternyata Pangeran Albert mengucapkan pidatonya dengan terbata, dan kita pun jadi tahu bahwa beliau gagap
:O

Karena itu disiarkan, fakta bahwa beliau gagap jadi diketahui di seluruh dunia.
Kalau jadi beliau, aku mungkin malu dan ingin kabur/menghilang saja.
Alhamdulillah, beliau bukan orang yang mudah menyerah.

Hal tersebut terlihat dari adegan selanjutnya yang diberi keterangan terjadi di tahun 1934 (9 tahun setelah pidato publiknya),  Pangeran Albert sedang menjalani terapi untuk menyembuhkan kegagapannya. Sayangnya beliau belum berhasil sembuh juga. Kegagalan tersebut membuat Pangeran Albert meminta kepada Istrinya, Elizabeth, untuk tidak mengajaknya lagi pergi ke terapi. Dia sudah lelah tidak sembuh juga.

Aku bisa mengerti. Kalau aku terus-terusan mengalami kegagalan saat mencoba sembuh, mungkin aku akan menyerah seperti dia. 

Untung, istrinya tidak menuruti perkataannya karena percaya bahwa dirinya bisa sembuh. Elizabeth kemudian menyamar sebagai Mrs. Johnson datang sendirian menemui Lionel, speech therapist yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang kontroversial.

Elizabeth menjelaskan kepada Lionel bahwa suaminya telah menemui semua orang dan belum ada yang berhasil. Dia khawatir suaminya sudah menyerah.

Dengan percaya diri, Lionel menjawab bahwa suaminya belum bertemu dengannya.
Elizabeth bilang Lionel sangat yakin pada dirinya sendiri.
Lionel membalas bahwa dia percaya pada siapapun yang ingin sembuh.

Adegan ini mengajarkanku untuk percaya diri dalam menangani klien dan juga percaya dan optimis terhadap klien :)

Elizabeth meminta Lionel untuk datang ke tempat mereka tapi Lionel menolak “Maaf, Bu Johnson. Permainanku, Areaku, Peraturanku.”
Jawaban Lionel membuat Elizabeth terpaksa mengungkapkan identitas suami yang sebenarnya.
Lionel kemudian meminta maaf dan menjelaskan bahwa agar metodenya bekerja, dia memerlukan kesetaraan dan kepercayaan penuh di ruang konsultasinya dan tidak ada pengecualian.

Mau tak mau Pangeran Albert pun mendatangi Lionel. Dia terkejut di pertemuan pertama dengan Lionel, dia tidak segera di-treatment. Lionel menjawab bahwa jika dia akan melakukannya jika pangeran Albert tertarik.

Suka adegan ini karena secara tidak langsung mengajarkan bahwa terapis bukanlah tukang sihir yang sim salabim bisa menyembuhkan klien, butuh usaha keras dan kerjasama dari kliennya juga.

Lionel kemudian memaksa Pangeran Albert memanggilnya Lionel tanpa Dr. dan memanggil pangeran Albert dengan panggilan Bertie agar terciptanya hubungan yang setara antara terapis dan klien.

Lionel melanjutkan percakapan dengan bertanya sejak kapan Pangeran Albert gagap dan beliau menjawab bahwa dia sudah dari dulu seperti itu. Lionel membantah dengan bilang tidak ada seorang bayipun mulai bicara dengan gagap.

Ini salah satu adegan jleb juga karena sering kali kita mengira keterbatasan kita itu adalah suatu yang permanen, yang dari lahir memang seperti itu sehingga tidak bisa diubah.

Akhirnya Pangeran Albert menjawab bahwa dirinya mulai gagap saat dia berusia 4/5 tahun.
Lionel kemudian meminta pangeran Albert membaca sambil mendengarkan musik dan hasil bacaannya direkam di piringan hitam untuk membuktikan pada Pangeran Albert bahwa dia dapat berbicara lancar.

Tentu saja trust antara terapis dan klien tidak mudah dibentuk di pertemuan pertama, pangeran Albert merasa dia telah melakukan hal yang konyol. Dia marah pada Lionel dan berhenti membaca. Lionel memberinya kepingan hitam hasil rekaman sebagai hadiah perpisahan.

Di Istana, ayahnya, Raja George V membentaknya agar tidak gagap. Beliau juga memprediksi bahwa Pangeran David, Kakaknya Pangeran Albert,  tidak kompeten menjadi raja dan tidak akan memegang tahta dalam waktu lama sehingga meminta pangeran Albert bersiap-siap melakukan banyak hal untuk mengantikan kakaknya. 

Pangeran Albert kemudian mencoba memutar piringan hitam dari Lionel dan terkejut mendapati dirinya bisa membaca dengan lancar. Dia pun akhirnya kembali ke Lionel dan meminta disembuhkan secara mekanik karena tidak ingin membicarakan masalah pribadi.

Dimulailah sesi terapi untuk merilekskan otot rahang dan memperkuat lidah bersama Lionel. Pertemuan yang intens membuat Lionel dan Pangeran Albert menjadi dekat.
Kedekatan tersebut terlihat ketika Raja George V meninggal, Pangeran Albert yang sedih pergi mendatangi Lionel. Beliau kesal ketika ayahnya tidak memberi tahu langsung kata-kata terakhirnya di hadapannya, "Bertie memiliki keberanian dibandingkan semua saudara digabungkan”.

Dalam film ini, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan seorang pangeran juga berat. Ternyata saat kecil Pangeran Albert“dibetulkan”. Dia sempat kidal dan memiliki kaki bengkok. Selain itu, dia pernah menjadi korban neglect dari pengasuh pertamanya. Pengasuhnya sering mencubitnya jika dia menangis dan tidak diberi makan dalam waktu lama sehingga dia mengalami masalah lambung. 

You don't need to be afraid of things you were afraid of when you were five.

Lionel

Ya, meski sudah mengetahu luka yang kemungkinan menjadi penyebab gagapnya Pangeran Albert, menjadi sembuh tetap membutuhkan perjuangan. Untuk tahu kelanjutannya baiknya tonton sendiri film inspiring ini :)

Yang jelas aku suka sama film ini karena mengajarkan meski memiliki masa lalu kelam dan keterbatasan, bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, keterbatasan bukan berarti masa depan kita akan kelam. Jika Pangeran Albert saja bisa, mengapa kita tidak?
Change may be not easy, but it will be worth to try :)

Dua hal yang aku sesali tidak aku lakukan pada pernikahan orang tua kandungku

|
Otak manusia memiliki kemampuan hebat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita mengambil suatu keputusan dan dampaknya. Tidak sekali dua kali pikiran kita dihinggapi penyesalan mengenai jalan yang tidak kita ambil. I wish I knew what I know now...

Ada banyak hal yang aku sesalkan. Tapi salah satu penyesalan terbesarku adalah mengenai hal yang tidak aku lakukan pada pernikahan orang tua kandungku (buat yang belum tahu, orang tua kandungku bercerai di tahun 2011).
Image courtesy of David Castillo Dominici at FreeDigitalPhotos.net

Aku akan berbagi mengenai dua hal yang aku sesali tidak aku lakukan:
1.       Aku tidak pernah mendoakan pernikahan mereka agar sakinah, mawaddah wa rahmah
Saat Umi menikah dengan ayah tiriku di tahun 2013, sahabatku, Nia mengirim pesan mengucapkan selamat dan semoga pernikahan umi dan ayah tiriku sakinah mawaddah wa rahmah. Pesannya membuatku tertampar karena aku menjadi sadar bahwa aku bahkan lupa soal konsep sakinah, mawadda wa rahmah ini dan tidak pernah mendoakan pernikahan orang tua kandungku. Aku memang telah berusaha membuat kedua orang tuaku rujuk, tapi tidak sekalipun aku berdoa meminta bantuan Allah agar pernikahan mereka menjadi sakinah, mawaddah wa rahmah. Astagfirullah.

Aku sering berpura tampil tegar dan kuat. Aku tidak mau orang lain tahu masalah keluargaku. Aku tidak mau dikasihani. Aku mengandalkan diriku sendiri. Padahal diri ini rapuh dan lemah, seharusnya aku bersandar pada Allah dan mengakui kelemahanku.  

Image downloaded from Pure Matrimony Facebook Fanpage
Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji kekuatan dirimu,
tetapi menguji seberapa besar kesungguhanmu meminta pertolongan Allah
-Ibnu Qayyim Al-Jauziah



2.       Aku tidak berbohong untuk mendamaikan kedua orang tuaku
Selama ini yang aku ketahui berbohong adalah perbuatan tercela. Aku kemudian membaca tentang hadist dibolehkannya berbohong dalam rangka mendamaikan orang yang berselisih.
Aku tidak pernah mencobanya.
Aku sempat menonton dorama Good Life~Arigato, Papa, Sayonara~, 
 ă‚°ăƒƒăƒ‰ăƒ©ă‚€ăƒ•ïœžă‚ă‚ŠăŒăšă†ă€ăƒ‘ăƒ‘ă€‚ă•ă‚ˆăȘă‚‰ïœž

kaget pas nonton adegan pemeran utama anak kecilnya, Waku membohongi Ibunya yang merasa tidak dicintai karena ayahnya workholic dengan mengatakan bahwa ayahnya bekerja keras karena ingin mengajak mereka liburan. Kebohongan tersebut membuat Ibunya bertahan sampai kemudian Ibunya akhirnya sadar bahwa Waku telah berbohong padanya dan memutuskan pergi.

Aku tahu aku tidak bisa memutar kembali waktu ke belakang tapi pas awal-awal, aku mengalami fase denial, menolak menerima kenyataan dan berharap aku bisa tahu mengenai hal ini lebih awal dan mungkin pernikahan orang tuaku bisa diselamatkan. In the end, we only regret the chances we did not take.





Setelah beberapa waktu, aku tersadar bahwa beberapa kesalahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan agar kita belajar. Jika kita tidak membaut kesalahan tersebut mungkin kita tidak akan mendapat pelajaran/pengetahuan yang kita ketahui sekarang.


Most mistakes are unavoidable.
Learn to forgive yourself. 
It’s not a problem to make them. 
It’s only a problem if you never learn from them.
marcandangel  (via amargedom)

No amount of guilt can change the past, and no amount of worrying can change the future. Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by Allaah’s decree.

If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from it you cannot flee.”

― Umar Ibn Al-Khattaab



Jadi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. 
Sekarang aku mendoakan agar pernikahan Umi dan Ayah tiriku sakinah, mawaddah wa rahmah dan berusaha menceritakan sisi baik mereka jika mereka sedang berselisih.

Bismillah :)
Wish me luck :)

Semoga Allah SWT melimpahkan kedamaian dan keberkahan dalam rumah tangga kita semua, kaum muslimin di mana pun kita berada. Aamiin

Tentang Kriteria Usia Pasangan

|
Image Courtesy of shalla-falynn0 at pixabay.com

Temanku, Large bertanya mengenai kriteria pasangan hidup yang diinginkan dari segi  rentang usia di group Line Psycho10geek.
 

Aku menjawab lebih muda satu tahun dan maksimal lebih tua 3 tahun.


Saat membaca jawaban teman-temanku yang lain, aku menyadari satu hal: aku termasuk yang memiliki kriteria rentang usia yang sempit. Beberapa temanku mentolerir perbedaan usia hingga 10 tahun. Ada juga yang menjawab usia tidak penting selama bisa cocok.


Saat membaca jawaban teman-temanku tersebut, di benakku terlintas percakapan dengan salah seorang juniorku. Dia meminta tolong untuk dicarikan ikhwan yang siap nikah, aku menjawab aku tidak yakin bisa membantu karena aku sendiri masih mencari, bagaimana jika terjadi conflict of interest. Dia tetap bersikukuh meminta tolong. Akhirnya kuiyakan dan kemudian kutanya apa kriterianya? Dia menjawab usia 28 tahun ke atas.


Aku kaget dong. Kok dia mau sama yang jauh lebih tua dari dia. Kemudian aku bertanya kenapa.


Dia jawab karena biasanya ikhwan di usia 28 udah masuk usia siap nikah sehingga tidak banyak pertimbangan, soalnya dia melihat ikhwan-ikhwan sebaya denganya masih banyak pertimbangan, dan kebanyakan masih mau main-main.


Aku terhenyak mendengar jawabannya. Sumpah, aku pas mencari ngga mikir sampai sana dong, jadi berpikir omongan juniorku ini ada benarnya juga.


Aku pun berusaha mengingat-ngingat mengapa aku  memiliki kriteria pasangan dari segi usia lebih muda satu tahun dan maksimal lebih tua 3 tahun.
Aku teringat cerita umiku saat mencari calon suami, beliau titip pesan ke murrabinya kalau dia menginginkan suami yang lebih tua, dengan asumsi lebih tua itu berarti lebih dewasa.

Kemudian umi berjodoh dengan abi yang perbedaan usianya 10 tahun. Abi yang lahir tahun 1956 sementara umi lahir 1967.
Dari pernikahan orang tuaku, aku belajar lebih tua tidak selalu sama dengan lebih dewasa.


Aku juga melihat kecenderungan lelaki yang belum menikah pada umumnya tidak lebih dewasa (masih bersikap kenak-kanakan) berapa pun usia mereka.
Selain itu, aku melihat umi dan abi jadi sering ngga nyambung karena memiliki banyak perbedaan pola pikir sehingga aku memiliki hipotesis generasi seseorang membentuk cara pikir orang tersebut. I mean yang dihadapi orang yang lahir di tahun 50an beda kan sama yang dihadapi tahun 60an?

Alasan lainnya adalah aku juga merasa lebih cepat nyambung dengan yang sebaya dibanding yang jauh lebih tua dariku.

(Walaupun sekarang aku sadar, kalau hubungan itu bukan tentang banyaknya kesamaan tapi bagaimana menghargai perbedaaan, seperti yang Leo Tolstoy katakan 'What counts in making a happy marriage is not so much how compatible you are but how you deal with incompatibility.'
Tapi di masa awal-awal perceraian orang tuaku aku menganggap salah satu faktor mereka bercerai adalah banyaknya perbedaan. )


Jarak usiaku dan adikku Huang yang terpaut satu tahun membuatku ingin usia pasanganku minimal sama denganku (sama-sama lahiran 92) biar ngga bingung nanti buat penyebutan kakak/uwa/om nya.

Tapi aku melihat yang seangkatan denganku tidak hanya lahiran 92, yang 93 juga ada dan karena seangkatan, entah kenapa yang 93 ini tidak terlihat berbeda dengan yang lahir 92.



Hal-hal tersebut membuatku memutuskan untuk mencari yang sebaya saja jika pada akhirnya yang tua belum tentu lebih dewasa. Setidaknya kalau yang sebaya bersikap tidak dewasa, aku bisa menghibur diriku dengan mengatakan “ya udah sih emang usianya masih sekian”



Nah baru-baru ini aku mendapat kabar bahagia, salah seorang teman lelakiku (FEUI 2010) menikah dan ternyata istrinya 3 tahun lebih tua dari dia.  Barakallah ya :)


Aku terkejut karena mengingat (berapa kali gue ngomong “ingat” dalam post ini? :P) jawaban sebagian besar teman lelakiku yang di group line psycho10geek ketika menjawab pertanyaan large adalah menginginkan pasangan yang lebih muda. Ternyata ada juga ya yang mau menikah dengan yang lebih tua.


Pernikahan teman lelakiku ini mengingatkanku pada Rasulullah dan Khadijah. Khadijah kan lebih tua 15 tahun dari Rasulullah dan alhamdulillah pernikahannya harmonis.




Aku jadi teringat hadist Rasulullah tentang kriteria yang biasanya digunakan dalam memilih pasangan, dan Rasulullah menyebut 4 hal : kecantikan, harta, nasab dan agama. Usia ngga disebut dong!
O_O



Kemudian aku inget pernah nolak tawaran dari ayah tiri saat ingin mengenalkan (menjodohkan) ku dengan teman sebayanya (yang usianya ngga jauh beda sama ayah tiri gue, lahiran 1964). Aku langsung nolak lho dengan alasan usia, tanpa istikharah dulu. Astagfirullah!
Padahal yang penting agamanya ya?

Di tengah keterkejutan tersebut, aku membaca jawaban Joe soal pertanyaan Large “Lebih tua atau lebih muda 5 tahun tp tidak membentengi kemungkinan pasangan di atas atau di bawah itu”
Membentengi diri?
Jangan-jangan itu yang telah kulakukan. Aku jadi mikir kenapa aku jadi terpaku sama usia begini.
Aku memang punya kriteria, tapi aku kan tidak tahu apakah kriteriaku ini sebenarnya baik buatku.
Harusnya aku konsultasi sama Allah, Sang Maha Mengetahui.

Ya Allah, bimbinglah hambaMu ini dalam melangkah dan berikan hambaMu ini pemahaman yang benar.
Amin

Find Hana Bilqisthi on Google Playstore

|
Alhamdulillah Cerpen Hana yang berjudul Lupa, yang kemarin diikutsertakan dalan lomba di bukusendiri.com udah terbit di google play store :D
Harganya cuma Rp 9091 lho (^0^)/
Check out "Langkah-Langkah Kecil #07: Terima Kasih Kota Maumere" - https://play.google.com/store/books/details?id=NQWNCgAAQBAJ





Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Yuk Bantu Gerakan #MelawanAsap

|
Hari ini, Kamis 8 Oktober, saya dikejutkan dengan tampilan headline Koran Republika di meja ruang baca kantor.
Mengapa tulisanya tidak jelas dan seperti dilapisi abu-abu.
Saya mendekat untuk memegang, saya kira korannya dilapisi kertas plastik abu-abu yang jika dibuka saya masih bisa membaca halaman depannya.
Saya pernah menemukan kasus mirip pada Koran Kompas, namun untuk iklan.
Saya pikir koran Republika juga melakukan hal seperti itu.
Tapi ternyata tidak.
Saya berusaha membaca headlinenya karena untuk bagian awal tulisan cukup jelas, namun lama-kelamaan meski saya mendekatkan wajah dan mengercap-ngercapkan mata saya ke koran, saya tetap tidak dapat membaca halaman pertama.


Mata saya sempat lelah dan sakit karena berusaha keras membaca halaman depan. Saya kemudian membaca bagian paling bawah: Saat tertutup asap semua berita menjadi sulit dibaca.

Saya terhenyak. Secara tidak langsung Republika memberikan pengalaman langsung bagaimana sulitnya melihat & membaca ketika pandangan kita terhalang kabut asap. Idenya benar-benar keren! Masya Allah! Saya merasa masuk suatu simulasi, tapi lebih aman karena tidak asap.
Saya tidak dapat membayangkan kondisi saudara-saudara kita di sana. 
Selain kesulitan membaca, mereka juga kesulitan bernapas dan beraktivitas.
Bahkan paparan kabut asap ini membuat korban ISPA berjatuhan.

Geram, kesal, sedih rasanya membaca berita tentang kabut asap yang melanda sebagian kawasan di Indonesia selama dua bulan terakhir.
Tapi daripada mengutuk,  yuk bergerak kita bantu saudara-saudara kita disana!

Misalnya ikut mendanai Gerakan #MelawanAsap oleh Kitabisa.com. Saat ini ada 13 campaign yang berlangsung untuk pengadaan masker, obat-obatan, hingga tumbuhan penjernih udara. Kalian cek disini dan kemudian pilih campaign yang kalian suka.



Atau bisa ikut Gerakan #BerbagiO2 yang dilakukan oleh Korps Relawan Salman ITB (KORSA) Rumah Amal Salman ITB YPM Salman ITB.  Mereka memprakarsai gerakan 'saling menyambung nafas' dengan menyalurkan donasi #GerakanBerbagiO2: Rp 100.000 untuk 2 tabung gas oksigen.
Salurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 800 500 4003 a.n. YPM Salman ITB



Bisa juga ikut mensukseskan program Posko Darurat Kabut Asap oleh Rumah Zakat. Rencananya, RZ akan membangunkan Posko Darurat Kabut Asap tersebut di 6 titik bencana, antara lain Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin dan Balikpapan.

Layanan Posko Darurat Kabut Asap, antara lain :

1. Penyediaan Masker Berkualitas
2. Pemberian Oksigen
3. Pemeriksaan Kesehatan oleh Tenaga Medis
4. Obat-obatan
5. Pengantaran Ambulance.

Donasi Peduli Korban Asap
Rp.275.000/ 10 penerima
Rp.41.250.000 / titik per bulan

Rekening Donasi:
Bank Mandiri
132000 481 974 5

Bank Central Asia
094 301 6001



 Yuk berpartisipasi menjadi bagian dari solusi :)

Dan jangan lupa berdoa semoga saudara-saudara kita disana diberi kekuatan dan ketabahan menjalani ini semua dan semoga bencana kabut asap ini segera berlalu dan tidak terulang lagi di tahun-tahun mendatang.




 #SaveHutanIndonesia #BloggerMuslimah #SpecialBlogWalking

Pre-Order Buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghapal Quran

|
Assalamualaikum Temen-temen :D
Salah satu buku keren yang terbit tahun ini, Mahasiswa-Mahasiswa Penghapal Quran akan kembali dicetak.
Alhamdulillah
(^0^)/
Yeay!
Yuhuuuu~
Hore!

Buat yang ingin baca tapi ketinggalan Pre-Order Pertama, bisa ikut PO ke- 2 yang mulai dilakukan dari 2 sampai 10 Oktober nanti.

Bagaimana cara pesannya? Langsung saja klik http://mmpq.iqf.or.id






Kalau kalian baru pertama dengar buku ini, berikut sinopsisnya:


Sibuk. Tidak punya waktu luang. Kata-kata itulah yang sering terucap saat kita merasa susah dalam menemukan waktu untuk mempelajari, mengkaji juga menghafal Quran. Akan tetapi, bukankah Allah telah berfirman , "Kami tidak menurunkan Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah." (Q.S. Thaha:2).
Maka, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah kita benar-benar tidak punya waktu luang?

"Luangkanlah hatimu (untuk Quran), maka Allah akan meluangkan waktumu!"

Itulah 'rumus canggih' yang digunakan oleh mahasiswa-mahasiwa penghapal Quran ini. Mereka mahasiswa biasa dengan segala aktivitas akademiknya. Mulai dari mengerjakan tugas harian hingga skripsi.
Akan tetapi mereka tetap berusaha untuk terus menghafal Quran di tengah kegiatan-kegiatan hariannya itu.
Atas izin dan pertolongan Allah, banyak yang masih bisa berprestasi, berorganisasi, berwirausaha, juga konferensi sampai ke luar negeri.
Mereka terus saling berlomba, saling menyemangati, sampai kelak Quran bisa benar-benar merasuk ke dalam hati, juga menjadi syafa'at di yaumul akhir nanti.

Dalam buku ini tertulis kepingan kisah mereka. Dimulai dari bagaimana mereka 'menemukan' Quran, bagaimana mereka menghafal dan menghadapi lika-liku tantangannya, serta pelajaran-pelajaran hidup yang mereka petik dalam perjalanannya.
  



dan ini review Hana :


Jujur kalau liat santri-santri IQF ini gue ngerasa strata mereka sangat jauh di atas gue.
Sering kali mereka terlihat seperti malaikat.
Gue suka kalau mereka (Kak Gun, Kak Zain, Kak Fitrah) jadi imam shalat pas acara kampus. Bacaannya merdu.
Membaca buku ini membuat gue sadar bahwa mereka manusia biasa yang punya rasa malas, ketakutan, kekhawatiran, kesibukan, tapi mereka memilih untuk meluangkan waktu dan hati mereka untuk Quran.
Apalagi mereka mahasiswa-mahasiswa UI, jadi gue bisa mengindetifikasi diri dengan mudah.
Banyak ceritanya bikin gue nangis dan malu bacanya. (((( ;°Đ”°))))
Pengen kayak mereka :')


kisah-kisah dalam buku ini dibagi ke dalam 4 bagian: Kutemukan Quran, Perjalanan Bersama Al-Quran,Kelezatan Quran, dan Selayang Pandang.

Terimakasih sudah menulis buku ini. Semoga menginspirasi banyak orang.

Ya Allah, jadikan Alquran sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, memupus kebingungan serta kesedihanku, cahaya bagi pikiranku, teman setia dalam kesepianku, dan pemberi syafaat di hari perjumpaan denganMu
.

Buruan pesan dan selamat membaca :D



Post Signature

Post Signature