Top Social

Me time

|


Semester tiga ini, gue baru menyadari betapa manjanya gue selama semester dua kemarin...
Ni jadwal sem 3 gue

Dan ni jadwal sem 2 gue..


 gue malah memanfaatkan waktu luang gue buat ngobrol, baca komik, nonton film, dan mengeluh... padahal seharusnya gue mikir, smester satu yang belajarnya serius aja gue cuma dapet IP 3.7..
Wajar aja semester dua IP gue turun karena ngga memanfaatkan waktu dengan baik (ngga serius belajar).. Selain ngga serius belajar, gue menyadari satu hal.. gue mengalami kecemasan yang berlebihan saat ujian.. selama ujian yang keinget di otak gue adalah gue harus bisa mempertahankan IP gue.. Selain itu, ketika dapat nilai jelek di kuis pertama, gue langsung menganggap hasil kuis tersebut sebagai hasil akhir yang akan tertera di SIAK NG gue .

Pengalaman semester dua jadi wake up call buat gue.
Oleh karena itu pas SP kemarin gue melakukan segala hal yang gue bisa dengan tujuan dapet IP 4. Gue baca buku, ppt, buat mind map, buat rangkuman dan gue begadang (begadang versi hana ya ^^) buat belajar...  Selama SP kemarin, gue tidur jam 11 atau jam  1 malem.  Namun, hasil kuis pertama psi bang (psikologi perkembangan) gue adalah enam.. Hal itu disebabkan pas kuis berlangsung,gue inget pengalaman kegagalan gue di mata kuliah faal (gue lulus faal kok tapi nilainy ... ) sehingga gue ngga percaya diri.. Nah, Pas kuis kedua, gue kembali buat mind map,rangkuman dan baca buku, Cuma kali ni gue bilang ke diri gue sendiri “Hana, loe udah berusaha sebaik yang loe bisa.. Masalah nilai jangan dipeduliin..

then...

nilai kuis kedua  psibang gue adalah SEMBILAN (9)... :D

Sayangnya nilai akhir SP gue adalah psibang A- dan psi sos A. Awalnya, gue sedih karena gagal dapet IP 4. Tapi setelah gue mikir2 lagi... Nilai psibang A- tuh masih mending..Soalnya kalau gue ngambil Psibang pas semester biasa, kayaknya nilai segitu mustahil dicapai. Kenapa? Well, ternyata jadwal psibang dan psi sos di semester biasa tuh berbarengan di hari kamis. Gue yakin gue bakal ngeduluin baca buku psi sos yang gue suka dibanding baca psibang , padahal psibang tuh kuis setiap pertemuan.  Gue ngerasa kemungkinan besar gue bakal melakukan kesalahan yang sama waktu faal.

Kita tutup pembicaraan tentang SP, gue mau cerita semester tiga ini.. Semester tiga ini gue berasa mau gila dan tercekik. Gue dapet dosen yang hobi ngasih tugas dan ngambil mata kuliah pilihan yang hobi ngasih tugas. Intinya: gue ngerasa sebagian dosen ngerasa mata kuliahnya paling penting, mereka seolah mengira mahasiswa ngga punya kerjaan lain selain ngurusin mata kuliah mereka. Hal yang kadang memperparah dan kadang juga memperingan tugas adalah tugas dikerjakan dalam kelompok. Kerja kelompok emang membuat tugas berat jadi ringan (catetan: selama dapet temen yang bener kerjanya). Namun, memperperah kalau bikin janjian ketemu susahnya minta ampun, pas gue bisa, dia ngga bisa.. but.. THANKS TO GOOGLE DOCS J, sebagian masalah kerja kelompok dapat teratasi....

Hal yang paling gue ngga ngerti adalah fakta bahwa semester ini gue selalu tidur jam 11 malem dan gue tetep belum sempet baca buku rujukan sebelum kuliah. >.< Padahal dulu gue pikir saat gue bisa tidur di atas jam 9, gue bisa pakai waktu tersebut buat baca buku... Gue tidur jam 11 karena ngerjain tugas... Selain itu, gue ngerasa gue jadi lola pas ngerjain tugas di malem hari..

Intinya gue mau bilang semester 3 ini gue ngerasa sangat melelahkan dan bikin gue “gila”. Namun di tengah 
kesibukan, gue menyadari betapa baiknya Allah memerintahkan shalat wajib lima waktu. Hal itu karena gue ngerasa shalat adalah me time. Saat shalat, gue bisa berhenti dan beristirahat dari segala hiruk pikuk yang bikin kepala penat.  Saat shalat, gue bisa merasa rileks. Saat shalat, gue ngerasa ini adalah waktu khusus buat gue dan Allah tanpa ganguan apapun. Bahkan gue sering ngerasa istirahat gue adalah shalat, selain tidur dan makan tentunya. Gue ngga kebayang bakal segila apa gue kalau gue ngga shalat. J


Shalat adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realitas bumi yang kecil menuju realita alam raya. ia adalah angin, embun dan awan di siang hari bolong nan terik. ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah. (Sayyid Quth dalam Fillah 2010)


Kalian mungkin bertanya sesibuk apa gue? Well, kesibukan gue sama kayak sebagian mahasiswa UI lainnya, kuliah, ngerjain tugas, ikut organisasi dan kepanitiaan. Gue bahkan ngga ikut PIMNAS atau OLIM atau kegiatan lain tapi rasanya udah mau gila. Ngga ngerti lagi.. -_-“

Sekedar catetan, tulisan ini dibuat saat gue stres ma tugas observasi psikologi media dan tugas pengganti UTS berpikir kritis dan Psikologi.
intinya ini tulisan iseng.

daftar pustaka


Fillah. S.A. (2010). Dalam dekapan ukhuwah (5th  ed). Jogjakarta: Pro-U media.

ANALISIS TOKOH HARUN DALAM LASKAR PELANGI

|



PENDAHULUAN
Laskar Pelangi adalah film yang disutradarai Riri Riza dan diadaptasi dari novel Andrea Hirata dengan judul yang sama. Alur film ini adalah campuran, namun, didominasi alur maju. Film ini menceritakan perjuangan sepuluh anak miskin yang berjuang meraih pendidikan. Mereka adalah Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, Kucai, A Kiong, Syahdan, Borek, Trapani, dan Harun. Ibu Muslimah atau bu Mus, guru sepuluh anak tersebut, sering memanggil mereka dengan sebutan Laskar Pelangi. Hal itu disebabkan mereka suka memandangi pelangi setelah hujan turun. Selain itu, karakter sepuluh anak tersebut digambarkan seperti pelangi.
Film Laskar Pelangi diawali adegan saat hari pertama masuk sekolah.  Konflik seolah terjadi di awal film karena diceritakan SD Muhamadiyah Belitung terancam dibubarkan oleh Departemen Pendidikan dan Budaya Sumatera Selatan jika muridnya tidak mencapai jumlah sepuluh orang. Saat Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhamadiyah, akan mengumumumkan sekolah akan ditutup karena murid yang mendaftar baru berjumlah sembilan orang, Harun datang bersama ibunya untuk mendaftar. Harun pun menjadi penyelamat. Tanpa Harun, kesembilan temannya mungkin tidak akan memperoleh pendidikan di SD Muhamadiyah. Mulai hari itulah, perjuangan sepuluh anak-anak tersebut dimulai.
Film ini sarat akan pesan. Salah satu pesannya dan merupakan pesan utama adalah “Pendidikan untuk semua”. Film ini menyadarkan kita bahwa anak-anak miskin dan anak berkebutuhan khusus (ABK) berhak mendapat pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan yang tercantum pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”. Sayangnya, pada praktiknya, tanpa kita sadari, kita kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anak miskin dan ABK. Kondisi tersebut digambarkan oleh film Laskar Pelangi. Film itu menggambarkan bagaimana para pengajar Muhamadiyah dan Laskar Pelangi menghadapi pandangan sinis dari masyarakat sekitar.  Hal itu disebabkan masyarakat Belitung tidak melihat adanya harapan masa depan yang cerah bagi anak-anak miskin dan ABK di Belitung. Di Belitung, hanya anak-anak dengan status sosial ekonomi menengah ke atas yang pergi ke sekolah, sementara sebagian besar anak-anak miskin di Belitung tidak pergi bersekolah, melainkan menjadi buruh membantu penghasilan orang tua mereka.
Berdasarkan pesan utama dalam film Laskar Pelangi,  penulis tertarik menganalisis tokoh Harun. Harun merupakan ABK dengan keterbatasan mental retardation. Penulis kagum melihat semangat Harun untuk bersekolah dengan keterbatasan yang dia miliki. Selain itu, tokoh Harun merupakan penyelamat Laskar Pelangi. Tanpa Harun, tidak mungkin ada cerita mengenai Laskar Pelangi. Harun layaknya kunci yang membuka pintu menuju pendidikan bagi sembilan temannya.
Harun disekolahkan di SD Muhamadiyah oleh ibunya karena tidak tersedianya SLB di daerah tersebut. SLB terdapat di pusat Pulau Bangka dan terlalu jauh untuk menempuh SLB tersebut. Ibu Harun menyadari Harun berhak mendapat pendidikan. Usia Harun saat pertama masuk sekolah tidak sama antara film dan Novel. Di Film, Harun berusia sepuluh tahun saat duduk di bangku kelas satu SD. Sementara di Novel, Harun berusia lima belas tahun saat mendaftar masuk di SD Muhamadiyah.
Dalam film Laskar Pelangi, Harun digambarkan murah senyum, senang berlari, berteman baik dengan Sahara, sering menceritakan kucingnya, dan bertanya kapan liburan sekolah. Gambaran yang hampir serupa juga ditemukan pada novel. Dalam novel, Harun digambarkan tidak bisa menulis,santun, pendiam, murah senyum, hobi menguyah permen asam jawa, kesulitan memahami pelajaran yang diajarkan ibu Muslimah, sering bertanya kapan libur lebaran, menceritakan kucing belang tiga miliknya secara berulang-ulang kepada Sahara, dan bercita-cita menjadi Trapani.
           
LANDASAN TEORI
Pendidikan Mental Retardation 
            Mental retardation atau tunagrahita adalah keterbatasan yang signifikan dalam berfungsi, baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang terwujud melalui kemampuan adaptif konseptual, sosial, dan praktikal. Keterbatasan itu muncul sebelum usia 18 (American Association on Mental Retardation, dalam Hallahan dan Kaufman, 2006). Sementara Santrock (2011) mendefinisikan tunagrahita sebagai “... a condition with an onset before age 18 that involves low intelligence (usually below 70 on a traditional individually administered intelligence test) and difficulty in adapting to everyday life” .Berdasarkan rentang IQ, anak tunagrahita dapat digolongkan menjadi mild, moderate, severe dan profound.
            Program pendidikan untuk menangani anak tunagrahita beragam, mulai dari memisahkan mereka di dalam kelas khusus hingga memasukkan mereka ke dalam kelas inklusi, dimana para anak tuna grahita belajar dan berkegiatan di kelas yang sama dengan anak lainnya. Namun, belakangan ini menurut Westling dan Fox (dalam dalam Hallahan dan Kaufman, 2006), program pendidikan yang sering diberikan untuk anak tunagrahita ada dua macam, yaitu pendidikan inklusi dan pengajaran tentang kemampuan-kemampuan yang berguna serta penekanan pada determinasi dini.

Perkembangan Sosial Emosional
            Dua teori besar yang menjelaskan tentang perkembangan sosial dan emosional individu. Teori pertama adalah Ecological theory yang dikemukakan oleh Urrie Brofenbrenner. Menurutnya, terdapat lima sistem yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap individu, yaitu microsystem, mesosystem, exosystem, macrosystem, dan chronosytem. Bronfenbrenner  percaya sistem lingkungan, mulai dari interaksi interpersonal hingga budaya mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Brofenbrenner, anak paling banyak menghabiskan waktu dalam microsystem, sehingga individu-individu yang terlibat di dalam sistem tersebut, seperti orangtua, guru, dan peer memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan self concept, self esteem, dan perkembangan moral anak.  Teori kedua adalah Psychosocial theory yang dikemukakan oleh Erik Erikson. Menurut Erikson perkembangan psikososial individu merupakan proses bertahap, dimana pada setiap tahap terdapat virtue yang harus dicapai dan krisis yang harus dilewati. Jika berhasil, hal tersebut akan mengantarkan individu pada tahap selanjutnya. Tahap perkembangan psikososial tersebut terdiri dari trust vs mistrust, autonomy vs shame and doubt, initiative vs guilt, industry vs inferiority, identity vs identity confusion, intimacy vs isolation, generativity vs stagnation, dan integrity vs despair

Motivasi
Motivasi adalah the processes that energize, direct, and sustain behavior (Santrock, 2011).  Motivasi dibagi dua berdasarkan sumbernya, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam individu sementara motivasi ekstrinsik berasal dari luar diri individu.
            Terdapat lima perspektif motivasi, yaitu behavioral perspective, trait perspective, humanistic perspective, cogitive perspective, dan social perspective. Behavioral perspective menekankan pada external reward dan punishment dalam menentukan motivasi individu. Trait perspective melihat bahwa sumber motivasi adalah sesuatu yang relatif menetap dalam karakter tiap individu.  Humanistic perspective menekankan pada kapasitas individu untuk mengembangkan dirinya (personal growth), kebebasan untuk memilih, dan kualitas positif yang dimiliki oleh tiap individu. Pada perspektif humanistik, motivasi seseorang didasari hierarki kebutuhan Maslow. Kebutuhan tertinggi dari setiap individu adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Sebelum sampai pada tahap tersebut, individu harus memenuhi kebutuhan lain yang berada pada tahap lebih rendah, yaitu kebutuhan physiology, safety, love and belongingness, self-esteem, cognitive, dan aesthetic. Cognitive perspective berfokus pada competence motivation, yaitu motivasi internal individu untuk mencapai, memberikan atribusi, dan keyakinan bahwa mereka dapat mengontrol lingkungannya. Social perspective menekankan pada kebutuhan individu untuk berafiliasi atau berhubungan dengan individu lain.


ANALISIS
Hal yang disayangkan adalah baik di dalam film maupun novel, tidak diceritakan secara spesifik kategori tunagrahita yang dimiliki Harun. Jika melihat karakteristik yang dimiliki Harun, kemungkinan besar Harun termasuk mild category atau mampu didik. Hal ini disebabkan karakteristik Harun cocok dengan karakteristik mild category, yaitu masih dapat mengikuti pelajaran di sekolah, rentang perhatian pendek sehingga sulit berkonsentrasi, kurang dalam hal kecepatan, kekuatan, dan koordinasi, memperlihatkan rasa malu atau pendiam (Mangungsong, 2009).
Harun beruntung bersekolah di SD Muhamadiyah karena Bu Mus memiliki pola pikir pendidik inklusi walaupun SD Muhamadiyah sebenarnya bukan sekolah inklusi. Bu Mus memberi perlakukan khusus kepada Harun, seperti memberikan kriteria penilaian yang berbeda dengan teman-temannya. Salah satu contoh perlakuan khusus yang diberikan Bu Mus adalah saat pemilihan ketua kelas. Harun yang belum bisa menulis tetap dapat berpartipasi dengan menyebutkan nama yang dia pilih. Harun juga diuntungkan kondisi kelas yang inklusi. Menurut Mangungsong (2009), anak tunagrahita akan menunjukkan perilaku sosial yang lebih baik jika banyak diikutkan untuk berinteraksi dengan anak lain. Hal tersebut didukung hasil penelitian Parmenter, T. R, Einfeld, S. L., Tonge, B. J., dan Dempster, J. A. (1998) yang menunjukkan anak dengan intellectual disability yang bersekolah di sekolah khusus memiliki lebih banyak masalah perilaku dan emosi dibanding anak dengan intellectual disability yang bersekolah di sekolah inklusi.
Masalah lain yang dihadapai anak tunagrahita adalah kesulitan mendapat teman dan mempertahankan hubungan dengan teman tersebut (Mangungsong, 2009). Hal itu disebabkan mereka tidak tahu cara memulai interaksi sosial dengan orang lain dan mereka menampilkan tingkah laku yang membuat teman-temannya menjauh, seperti tidak fokus dan mengganggu. Perilaku serupa sempat ditampilkan Harun. Namun, Harun tidak mengalami penolakan dari teman-temannya karena mereka memahami kondisi Harun. Dalam novel, diceritakan Harun pernah mengganggu latihan band Mahar dengan memainkan drum tidak sesuai intruski Mahar. Namun, Mahar tidak memarahi Harun, melainkan membimbing Harun untuk bermain dengan benar. Hal serupa juga dilakukan Ikal. Harun memberi semangat Ikal, Mahar dan Lintang yang mengikuti perlombaan cerdas cermat, namun seolah memberi dukungan ke tempat lain. Ikal memahami bahwa Harun mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal dalam jangka waktu lama sehingga tidak marah pada perilaku Harun. Penerimaan teman-teman Harun menguntungkan bagi Harun karena siswa yang mengalami penolakan dari peer-group cenderung memiliki self-esteem yang rendah, sementara siswa yang mendapatkan penerimaan dari peer-group cenderung memiliki self-esteem yang tinggi (Santrock, 2011).
Masalah anak tunagrahita ketika di sekolah adalah mereka sering mengalami learned helpeness dan berakibat rendahnya motivasi berprestasi serta self-concept mereka menjadi buruk (Mangungsong, 2009).Untuk mengatasi hal tersebut, Bu Mus melakukan scaffolding, teknik mengajar yang di dalamnya memberikan bantuan terhadap pembelajaran anak disesuaikan dengan level pembelajaran anak. Scaffolding dilakukan oleh Bu Mus sendiri atau melalui peer-tutoring. Pada beberapa adegan film terlihat bahwa saat proses pembelajaran, Harun dibantu memahami pelajaran oleh teman-teman yang mendapat jatah untuk duduk sebangku dengannya. Selain itu,  bu Mus melakukan strategi dengan memberikan tugas yang sama pada Harun namun dengan kriteria penilaian yang berbeda. Misalnya, Harun pernah disuruh membuat prakarya. Namun, Harun malah membawa tiga botol kecap. Hal tersebut tetap diapresiasi oleh bu Mus.
Kesulitan belajar yang dialami anak tunagrahita adalah masalah memusatkan perhatiannya. Anak tunagrahita sering memusatkan perhatian pada benda yang salah, serta sulit mengaloksikan perhatian mereka dengan tepat (Mangungsong, 2009). Hal ini dialami juga oleh Harun. Dalam Novel, Harun sering memandang ke arah lain ketika bu Mus sedang menjelaskan atau ketika Harun melihat ke arah lain saat mendukung Ikal, Lintang dan Mahar ketika lomba cerdas cermat.
Salah satu penanganan Harun yang ditemukan dalam Laskar Pelangi adalah modifikasi intruksional berupa instruksi dalam setting (situasi) kehidupan nyata dengan material sebenarnya (Mangungsong, 2009). Salah satu contohnya adalah ketika Ibu Mus mengajak Laskar Pelangi membersihkan kelas bersama, shalat berjamaah, belajar di luar kelas untuk mengenal alam Belitong, seperti tanaman dan hewan yang ada di Belitung, dan belajar mengenai manfaat tanaman sekitar Belitung. Hal tersebut membantu mengajarkan Harun kemampuan hidup sehari-hari di setting aktual.
             Motivasi Harun bersekolah adalah motivasi ekstrinsik, yaitu kondisi sekolah yang menyenangkan. Di SD Muhamadiyah, Harun bisa berinteraksi dan bermain dengan teman-temannya. Hal tersebut menyebabkan Harun merasa senang di sekolah.    
Sayangnya, motivasi Harun untuk berseolah mendapat tantangan dari masyarakat. Hal tersebut digambarkan secara tersirat. Contohnya di film, digambarkan para guru SD PN menertawakan jawaban ulangan Harun. Selain itu, masyarakat sekitar sering bertanya kepada Bu Mus mengapa masih bertahan mengajar Laskar Pelangi, khususnya Harun karena mereka tidak melihat adanya harapan. Kondisi tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Mangungsong (2009) bahwa tantangan terbesar anak tunagrahita adalah ekpektasi dari masyarakat. Masyarakat secara keseluruhan menaruh harapan yang begitu rendah pada anak-anak tunagrahita sehingga menghambat kemajuan mereka. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa kegagalan anak tunagrahita dalam menyelesaikan pekerjaan bukan karena ketidakmampuan mereka menghasilkan atau menyelesaikan tugas, namun karena alasan-alasan sosial (Mangungsong, 2009).
           
SIMPULAN
Film Laskar Pelangi menekankan pendidikan adalah hak setiap anak, termasuk Harun yang merupakan tunagrahita. Harun termasuk beruntung karena mendapat penanganan yang tepat, yaitu pendidikan inklusi oleh Bu Mus. Selain itu, penerimaan dari teman-temannya membantu mengembangan keterampilan sosialnya. Tantangan terbesar yang dihadapi harun adalah ekspektasi masyarakat. Alangkah baiknya jika kita sebagai masyarakat dapat mencontoh bu Mus dan Laskar Pelangi.




Daftar Pustaka

Hallahan, D.P. & Kauffman, J. M. (2006). Exceptional learners: An introduction to special education. (10th ed.). Massachusetts: Allyn and Bacon.
Hartono, T.D.  (2008, 10 Desember). Harun penyelamat laskar pelangi. Liputan 6.  Retrieved from http://berita.liputan6.com/read/169576/harun-penyelamat-laskar-pelangi. Diakses pada 25 Oktober 2011 pada 10:44 WIB
Hirata, A. (2006). Laskar pelangi. Yogyakarta: Bentang
Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: LPSP3 UI.
Parmenter, T. R, Einfeld, S. L., Tonge, B. J., & Dempster, J. A. (1998). Behavioural and emotional problems in the classroom of children and adolescents with intellectual disability. Journal of Intellectual & Developmental Disability, 23(1),71-77.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology (5th ed.). New York : The McGraw Hill Companies, Inc
Riza, R. (Director). Lesmana, M. (Producer). Aristo, S., Riza, R., Lesmana, M. (Writers). (2008). Laskar pelangi. (DVD). Indonesia: Miles Film & Mizan Production.


Mr. Nice Guys on Bikun UI

|


Alhamdulillah.. akhirnya bikun (bis kuning) nya datang juga setelah menunggu sekitar setengah jam..
\(•ˆˆ‎​​​​•)/ 
Yah.. Sayang sekali.. tempat duduknya penuh..
Hana kurang beruntung hari ini..
(́_̀) 
Mungkin akan ada yang turun di halte selanjutnya sehingga Hana bisa duduk..
(ʃƪ́_̀)
Eh..
(.)
Tiba-tiba cowok yang duduk di depan Hana berdiri dan berjalan dua langkah ke arah pintu belakang bikun..
“Apakah dia akan turun di halte berikutnya?” pikir Hana
Tanpa pikir panjang, Hana langsung duduk..
Dan kalian tahu apa? Ternyata cowok yang ngasih Hana tempat duduknya berhenti di halte pocin.. Sekedar info, Hana naik bikun dari halte teknik.. Cowok itu berarti berdiri  melewati 3 halte: Kukel, FMIPA, FKM, dan dia turun di halte selanjutnya Pocin.. (apa seharusnya 4 halte?)
Woaaaa... \(˚O°")/ \("˚O°)/
I did not even say thanks to him..
Hana kira dia mau berhenti di kukel..
Semoga aja kebaikannya dibalas sama Allah SWT.. (˘ʃƪ˘) 
Makasih banyak ya siapapun dirimu :D
O ia, Kejadian yang Hana ceritain di atas tuh terjadi pada hari Senin, 5 Sepetember 2011,, Sekitar jam 10  pagi..
Kalian tahu? Salah satu hal yang Hana suka dari UI adalah Hana sering banget ketemu cowok yang baik hati mau memberikan tempat duduknya ketika melihat Hana berdiri.. Semenjak jaman maba lho .ˆ)
Hana rasa Hana emang gadis paling beruntung sedunia .. hehehe..
Kesimpulan yang Hana ambil : Sebagian besar mahasiswa cowok UI itu baik dan sopan
:D

Buat semua cowok yang udah pernah ngasih tempat duduknya ke Hana pas di Bikun, I owe you a lot.. ˆ‎​​​​ʃƪ) (ʃƪˆˆ‎​​​​)
Thanks so much ˆ)

Dua pengalaman lain yang ngga Hana lupa (soalnya kejadiannya baru2 ini)..
Scene 1
Hana : Naik bikun
            Yes! Dapet tempat duduk
Ada cowok duduk di samping Hana (sebelah kanan persisnya)... Posisi duduk Hana tuh bangku ke 3 atau ke 4 dibelakang supir
Seorang pria, bisa dipanggil "Bapak2" naik.. Dia minta cowok yang duduk di samping Hana geser supaya dia bisa duduk.. Tapi jadinya mereka berdua duduk sempit2an,, Soalnya satu kursi buat berdua..
Bapak yang duduk menatap tajam cowok yang duduk di sebelah Hana seolah2 berkata “Saya ini sudah tua, saya berhak dapet tempat duduk. Kamu berdiri aja”
Cowok yang duduk sebelah Hana balas menatap tajam seolah berkata “Saya naik duluan, Pak. Saya berhak duduk Pak.”
Melihat hal tersebut, Hana sempat berpikiran jangan mereka berdua termasuk orang yang egois..
Hana bahkan mengira mereka berdua bakal berantem karena tiba2 mereka berdua sama2 bangkit dari tempat duduk..
Kalian tahu apa? Ternyata ada seorang ibu yang hamil tua naik bikun dan berdiri persis di depan mereka.. Hana ngga nyadar karena sibuk ngeliatin mereka berdua..
Baik bapak2 maupun cowok yang duduk di samping Hana sama2 mengalah dan memberikan tempat duduk ke ibu yang hamil tersebut.. Padahal tadinya mereka terlihat hendak bertengkar..
Hana terharu ngeliatnya.. (˘̩̩̩-˘̩̩̩ƪ)
Maaf ya sudah berburuk sangka

Scene 2
Hana baru saja selesai membagikan flyer BWB 2011 pada OKK hari pertama dan sedang menunggu bikun di halte Pocin..
Pas Hana naik bikunnya penuh sesak..Yah.. Jadinya berdiri deh..
Setidaknya Hana masih beruntung bisa naik bikun soalnya ada yang ga kebagian dan harus menunggu bikun lagi,,
Kalian tahu? Saat itu bikun didominasi warna putih karena yang naik bikun sebagian besar MABA UI.. Pakaian wajib OKK kan kemeja putih dengan rok atau celana putih..
Saat itu, entah kenapa Hana malah pakai kemeja & kerudung putih juga,tetapi Hana pakai jeans, bukan rok putih..
Sepertinya cowok yang duduk di depan Hana mengira kalau Hana maba juga, dia berdiri dan mempersilahkan Hana duduk..
Wow.. Baik sekali..
ˆ)
Tapi mengingat Hana turun di halte statiun UI, hana menolak tawaran dia.. sehingga yang duduk adalah cewek yang berdiri di sebelah Hana..
See? Apa hana bilang? Mahasiswa Cowok UI baik dan sopan kan?
Hehehe..
Thanks a lot Mr. Nice Guy :D
Keep up the good work!

Idul Fitri

|
Buat para pembaca blog Hana & teman2 Hana :

Happy Eid Mubarak! \(´`\)(/´`)/
Selamat idul fitri teman2... baik yang merayakannya tanggal 30 ataupun tanggal 31 oktober. 
Hana minta maaf atas kesalahan hana selama ni. 
 Ketika Hana bersikap menyebalkan,berkata menyakitkan & berburuk sangka, terima kasih teman sudah bersabar.
I hope both of us can be better person :)) 

Barbie and me

|

Hana mau sharing sedikit mengenai masa middle childhood (masa usia anak sekolah yaitu 6-12 tahun) hana. Ni bagian tugas analisis diri mata kuliah psikologi perkembangan.
Hana waktu usia 6 tahun :)

Pada masa middle childhood adalah masa dimana anak mulai sadar tentang body image. Saya sendiri mulai menyadari body image saya. Pada usia enam tahun, ibu saya membelikan saya boneka Barbie yang kemudian saya beri nama Clara. Saya sangat menyukai Clara dan mengidolakannya. Kemudian, saya memutuskan untuk tidak mau makan karena ingin kurus seperti Clara. Kondisi saya tersebut sesuai dengan hasil penelitian Dittmar, Halliwell, & Ive (2006), yaitu anak perempuan yang berusia 5-8 tahun cenderung merasa tidak puas dengan body image yang mereka miliki jika sering diperlihatkan boneka Barbie. Keluarga saya sering mengatakan kepada saya kalau saya sudah sangat kurus tetapi  saya tidak mempercayai mereka. Saya tidak mau makan karena saya merasa diri saya gendut jika dibandingkan boneka barbie yang saya miliki. Keinginan saya untuk menjadi kurus diperkuat oleh pengamatan yang saya lakukan terhadap ibu saya. Ibu saya juga sering mengeluh bahwa dirinya gemuk dan cenderung ingin kurus dan berdiet. Penelitian Swarr & Richard (dalam Paludi, 2002) menunjukkan bahwa ganguan makan yang dialami anak berkolerasi positif dengan ibu dan ayah. Hal ini disebabkan anak perempuan belajar mengenai tubuhnya melalui pesan tidak langsung yang diberikan orang tua, yaitu perasaan ibunya mengenai body image-nya dan perasaan ayah mengenai tubuh ibunya. Selain itu, faktor genetik berperan menyebabkan saya tidak mau makan karena ibu saya saat kecil juga sering tidak mau makan.
Saya mulai menghentikan tindakan tidak mau makan yang saya lakukan ketika saya terjangkit penyakit demam berdarah pada kelas 4 SD. Penyakit tersebut menyebabkan saya dirawat di rumah sakit dan lidah saya mati rasa. Saya tidak dapat merasakan apapun yang saya makan. Semua makanan terasa hambar. Setelah sembuh, ibu saya memberi tahu saya  jika saya makan teratur maka daya tahan tubuh saya akan kuat sehingga saya mungkin tidak mengalami demam berdarah. Nasehat ibu saya membuat saya mau makan karena saya tidak mau mengalami demam berdarah untuk ke-2 kalinya. Selain itu, saya merasa bersalah karena uang yang ditabung oleh ibu saya untuk membeli kulkas terpakai untuk membayar biaya rawat inap saya. Semenjak itu, saya jera dan mulai makan dengan teratur walaupun porsinya sedikit.

Kalau diinget2 lagi, Hana jadi merasa tolol karena pernah ingin kayak boneka barbie. Intinya Hana mau bilang kalau ngasih boneka barbie ke anak usia 5-7 tahun itu ngga baik kecuali mereka diberi penjelasan kalau tubuh boneka barbie tuh sebenarnya ngga ideal. Well, yang jelas sepertinya Hana ngga bakal ngasih anak Hana boneka barbie sampai dia menyukai body image nya dan mencintai dirinya sendiri.


Daftar Pustaka

Dittmar, H., Halliwell, E., & Ive, S. (2006). Does Barbie make girls want to be thin? The effect of experimental exposure to images of dolls on the body image of 5​-​ to 8​-​year​-​old girls.  Developmental Psychology, 42(2), 283-292. doi: 10.1037/0012-1649.42.2.283. Diakses pada 18 Juli 2011 pukul 12:46 WIB
Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human development. (11th ed.). New York: McGraw-Hill.

When you can’t turn back time

|
homepage SIAK-NG
detail nilai


B. I could not believe what I saw. I’m sure enough that I learned and understood the lecture.  I predicted at least I got A-. How could it happened? I believed that I could answer the test easily. When and where it went wrong?

Well, I don’t know it’s a good news or bad news, but I’m not the only one who got dissapointed with the result. Saat itu, Hana dan temen-temen Hana sempet merasa kesal sama dosennya. Di satu sisi Hana sadar bahwa Hana seharusnya ngga menyalahkan orang lain, mungkin Hana kurang berusaha di mata kuliah tersebut dan terlalu menyepelekan. Then I blame myself.

Namun, salah satu  teman Hana yang mengalami kejadian serupa justru bisa melihat dari sudut pandang berbeda. Dia juga cukup yakin akan mendapat nilai bagus dan kaget ketika melihat hasil yang keluar. Hasil tersebut menyadarkannya. Bagaimana hal serupa terjadi ketika dia mendapat raport di akhirat nanti? Bagaimana jika selama ini dia merasa telah banyak berbuat baik tetapi ketika di akhirat, nilai raportnya justru mengecewakan? Kemudian, hal yang bisa dia lakukan adalah menyesal mengapa tidak berbuat yang terbaik selama di dunia karena dia sadar tidak dapat memutar kembali waktu.

Ketika mendengar cerita tersebut, Hana malu sama diri Hana sendiri. Kami mengalami peristiwa serupa namun dia mendapat insight yang berbeda dan bahkan jauh lebih baik. Hana jadi berpikir bagaimana jika yang diucapkan temen hana benar? Bagaimana jika selama ini Hana yakin telah berbuat baik dan ternyata saat mendapat raport di akhirat ternyata hasilnya tidak sebaik yang kita kira. I mean when I cant turn back time, regret is the only thing that I can do.  Hana bersyukur Hana punya temen yang mau share insight yang dia dapet karena setelah mendengar cerita tersebut, Hana berjanji sama diri Hana sendiri bahwa ketika melakukan sesuatu, Hana harus bisa berbuat terbaik yang bisa hana lakukan. :)) Hal itu karena hana sadar bahwa Hana tidak bisa kembali ke masa lalu dan jangan sampai  penyesalan itu datang
Semoga bermanfaat :))

Kecenderungan Seseorang Melakukan Social Loafing: Faktor Internal versus Faktor Eksternal

|


Anda selalu mengerjakan tugas sendirian? Saya yakin jawaban Anda pasti tidak. Anda pasti pernah bekerja dalam kelompok. Kondisi tersebut disebabkan baik saya maupun Anda dibesarkan oleh masyarakat Indonesia yang percaya bahwa hasil kerja kelompok lebih baik dibanding hasil kerja secara sendiri. Sejak kecil, kita ditanamkan pentingnya bekerja di dalam kelompok melalui tradisi gotong royong dan peribahasa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Bahkan, dosen-dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sering memberi tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok kepada mahasiswa. Hal serupa juga terjadi saat saya berpartisipasi dalam organisasi mahasiswa atau kepanitiaan, sebagian besar tugas yang diberikan dalam bentuk tugas kelompok. Pemberian tugas dalam kelompok dipercaya sebagai latihan bagi mahasiswa agar terbiasa bekerja dalam kelompok dan siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang nyata.
Namun, berdasarkan pengalaman saya, kerja kelompok tidak selalu “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Saya pernah beberapa kali mendapati salah satu rekan kerja kurang berkontribusi dalam kerja kelompok, baik dalam tugas akademik maupun organisasi. Mereka memberikan berbagai macam penjelasan mengapa mereka kurang berkontribusi dibanding yang lain. Salah satu alasan mereka adalah mereka sedang sibuk di organisasi mahasiswa dan memohon kepada saya dan rekan saya yang lain untuk tidak mengerjakan tugas atau mengurangi beban tugas mereka. Alasan yang hampir serupa dikemukakan oleh rekan saya di organisasi, mereka memberi alasan sedang sibuk mengerjakan tugas perkuliahan atau di kepanitiaan yang lain sehingga terlambat menyelesaikan tugas yang diberikan. Terkadang, rekan saya di organisasi sulit dihubungi dan jarang menghadiri rapat sehingga membuat saya dan rekan saya yang lain mengerjakan lebih dari satu pekerjaan. Pengalaman-pengalaman tersebut mengakibatkan saya kurang suka bekerja di dalam kelompok.
Anda mungkin pernah mengalami hal yang hampir serupa dengan yang saya alami. Peristiwa tersebut dalam psikologi disebut social loafing atau pemalasan sosial. Pemalasan sosial adalah menurunnya motivasi dan usaha seorang individu, yang terjadi saat individu bekerja secara kolektif dalam sebuah grup dibanding ketika dirinya bekerja secara sendiri (Karau & Williams, 1993). Pemalasan sosial merupakan salah satu penyakit sosial karena menghasilkan konsekuensi negatif. Dalam organisasi dan perusahaan, pemalasan sosial berakibat penurunan efisiensi yang berujung pada menurunnya keuntungan. Melihat efek negatif tersebut, mengapa orang  melakukan pemalasan sosial? Hal apa saja yang menyebabkan pemalasan sosial terjadi?
 Berbagai penelitian yang berusaha mencari penyebab pemalasan sosial telah dilakukan. Hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan pemalasan sosial disebabkan oleh faktor internal seperti persepsi individu (Harkins & Petty, 1982, George, 1992),  hilangnya motivasi (Kerr, 1983),  gender (Kerr, 1983), sedangkan faktor eksternal, seperti group size (Latane, Williams, & Harkins,  1979), noncohesiveness group (Karau & Williams, 1997), dan kontribusi individu tidak teridentifikasi (Williams, Harkins, & Latane,  1981). Dalam esai ini, saya berusaha membuktikan bahwa faktor internal lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial dibandingkan dengan faktor eksternal.
Pemalasan sosial dipercaya berkorelasi dengan faktor eksternal yaitu group size. Penelitian paling awal dilakukan oleh Ringelmann (dalam Vaughan & Hogg, 2005). Dia meminta partisipan (semuanya berjenis kelamin lelaki) secara sendiri atau dalam grup (kelompok) yang terdiri dari 2, 3, atau 8 orang, untuk menarik tambang yang terikat pada dynamometer (alat yang digunakan untuk mengukur force atau daya tarik). Hasil penelitiannya menunjukkan semakin besar suatu kelompok atau semakin banyaknya anggota dalam suatu kelompok, semakin berkurang usaha yang dilakukan seseorang, yang kemudian disebut Ringelmann effect. Penelitian tersebut direplikasi oleh Latane, Williams, dan Harkins (1979) dengan jenis tugas yang berbeda yaitu berteriak, menyemangati dan bertepuk tangan. Hasil penelitian mereka juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu semakin besar suatu kelompok, semakin kecil suara yang dihasilkan oleh seseorang.
Salah satu penjelasan yang memungkinkan terjadinya pemalasan sosial dalam kelompok adalah tidak teridentifikasi atau tidak diketahuinya kontribusi individu (Williams, Harkins, & Latane,  1981). Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika tugas berbentuk additive task─tugas dimana hasil kerja kelompok merupakan gabungan atau kombinasi dari usaha anggota kelompok (Baron, Branscombe, & Byrne, 2009). Menurut Harkins dan Petty (1982), pemalasan sosial terjadi karena evaluation apprehension, yaitu ketika kinerja individu tidak dimonitor, individu merasa identitasnya tersamar sehingga melakukan pemalasan sosial. Hal itu disebabkan individu tersebut merasa hasil penilaian akan proporsional, yaitu 1/n , dengan n=jumlah anggota dalam kelompok.
Walaupun tidak teridentifikasinya kontribusi individu berperan menyebabkan pemalasan sosial, hilangnya motivasi merupakan faktor yang lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial. Contoh, ketika Anda bersemangat dan memiliki motivasi tinggi untuk mengerjakan tugas kelompok mata kuliah favorit Anda, Anda tentu akan mengerjakannya sebaik mungkin. Anda tidak peduli apakah dosen Anda nantinya akan mengetahui berapa besar kontribusi Anda kepada kelompok, Anda tetap bekerja keras karena menyukai mata kuliah tersebut. Berbeda halnya jika Anda tidak memiliki motivasi dalam mengerjakan tugas, Anda cenderung tidak peduli terhadap tugas tersebut atau jika Anda mengerjakannya, prinsip Anda adalah “asal beres”. Gambaran yang saya berikan sesuai dengan hasil penelitian Kerr dan Bruun (1983), dimana individu tetap tidak berkontribusi dalam kerja kelompok walaupun hasil kerja kelompok tersebut dapat dilihat publik. Bukti penelitian lain yang mendukung adalah hasil penelitian George (1992) yang menemukan ketika motivasi individu tinggi, individu tersebut cenderung tetap bekerja keras, tidak peduli apakah kontribusinya teridentifikasi atau tidak. Begitu pula sebaliknya, ketika motivasi individu rendah, individu tersebut melakukan pemalasan sosial walaupun kontribusinya teridentifikasi. Harkins dan Petty (1982) menemukan ketika seorang individu merasa bisa memberikan kontribusi unik, pemalasan sosial tidak terjadi walaupun kontribusi individu tidak teridentifikasi. Penelitian-penelitian tersebut merupakan satu bukti bahwa faktor internal lebih dominan menyebabkan pemalasan sosial.
Selain motivasi, faktor internal yang menentukan pemalasan sosial adalah pandangan individu mengenai dirinya dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan tugas. Hasil penelitian Huguet, Emmanuelle, dan Monteil (1999) menemukan partisipan yang tingkat self-uniqueness-nya rendah─menganggap dirinya biasa saja, tidak melakukan pemalasan sosial, sementara partisipan yang tingkat self-uniqueness-nya tinggi melakukan pemalasan sosial ketika tugasnya mudah dan secara kolektif. Interpretasi dari hasil penelitian mereka juga membantu menjelaskan mengapa lelaki lebih sering melakukan pemalasan sosial dibanding perempuan (Kerr, 1983). Hal tersebut mungkin disebabkan lelaki cenderung memiliki self-esteem yang tinggi dibanding perempuan (Major, Barr, Zubek, & Babey dalam Baron, dkk.,  2009). Selain itu, persepsi individu mengenai sulit atau tidaknya tugas kelompok berperan dalam menyebabkan pemalasan sosial. Individu lebih sering melakukan pemalasan sosial ketika mempersepsikan tugas sebagai tugas yang mudah atau tidak berarti bagi dirinya (Harkins & Petty, 1982). Zaccaro (dalam Vaughan & Hogg, 2005) meneliti partisipan (lelaki dan perempuan) dalam kelompok yang terdiri dari dua atau empat orang dan diberi tugas membuat “moon tents”. Ketika tugas dibuat menarik dengan cara mengadakan kompetisi antar kelompok, partisipan justru menunjukkan kinerja yang lebih tinggi tingkatannya dalam kelompok yang terdiri dari empat orang dibanding kelompok yang terdiri dari dua orang (Zaccaro, dalam Vaughan & Hogg, 2005). Menurut Karau dan Williams (1993), hal tersebut terjadi ketika individu menganggap tugas dan kelompoknya penting maka ia termotivasi untuk meningkatkan usahanya. Selain itu, hasil penelitian Zaccaro (dalam Vaughan & Hogg, 2005) merupakan salah satu bantahan bahwa group size bukanlah penyebab utama pemalasan sosial.
Anda mungkin bertanya-tanya jika pemalasan sosial lebih dominan disebabkan oleh faktor internal seperti motivasi, pandangan individu mengenai dirinya dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan, kemudian bagaimana mencegah pemalasan sosial? Jika memungkinkan, ketika Anda mendapat tugas kelompok dari Dosen, sebaiknya Anda memilih teman yang memiliki banyak kesamaan dengan Anda atau peer Anda sebagai rekan kerja. Mengapa? Karau dan Williams (1997) menunjukkan pemalasan sosial tidak terjadi atau dapat direduksi ketika partisipan bekerja sama dengan teman mereka yang memiliki banyak kesamaan atau disebut cohesive group dibandingkan ketika partisipan bekerja dengan orang asing atau disebut noncohesiveness group saat mengerjakan tugas typing dan brainstroming. Hasil penelitian mereka didukung hasil penelitian Van Dick, Tellmacher, Wagner, Lemmer, dan Tissington  (2009) yang didasari social identity theory─individu berusaha mempertahankan hal-hal positif dari dirinya dengan membandingkan dirinya dengan anggota dari kelompok yang berbeda, dan self-categorization theory─individu mengategorikan dirinya sebagai anggota kelompok, kemudian bertindak sesuai ketentuan keanggotaan dalam kelompok tersebut. Hasil penelitian mereka menunjukkan partisipan yang berada pada high salient group─grup yang anggotanya memiliki tingkat identifikasi yang tinggi dengan kelompoknya,  bekerja lebih baik dibanding partisipan yang berada pada low salient group─grup yang anggotanya memiliki tingkat identifikasi yang rendah dengan kelompoknya. Hal ini disebabkan ketika partisipan merasa bagian dari kelompok, partisipan tersebut berkomitmen untuk bekerja dengan baik demi kesuksesan kelompok. Jika kondisi Anda tidak memungkinkan untuk memilih anggota kelompok, sebaiknya Anda berusaha menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja Anda sehingga dia merasa bagian dari kelompok.
Pemalasan sosial merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam kerja kelompok. Faktor internal dan eksternal sama-sama berperan menyebabkan pemalasan sosial. Namun, faktor internal yaitu motivasi, pandangan individu mengenai dirinya, pandangan individu mengenai keanggotaan dalam kelompok, dan persepsi individu mengenai tingkat kesulitan tugas lebih dominan dalam menyebabkan pemalasan sosial dibanding faktor eksternal yaitu group size dan tidak teridentifikasinya kontribusi individu. Oleh karena itu, untuk mencegah pemalasan sosial sebaiknya Anda bekerja bersama teman Anda atau membuat rekan kerja Anda menjadi teman Anda dengan menerapkan social identity theory dan self-categorization theory sehingga dia merasa bagian dari kelompok Anda.


















Daftar Pustaka

Baron, R. A., Branscombe. N. R., & Byrne, D. (2009). Social psychology. (12th ed.). Boston: Ally and Bacon.
George, J. M. (1992).  Extrinsic and intrinsic origins of perceived
social loafing in organizations. The Academy of Management Journal, 35 (1), 191-202. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/256478. Diakses pada 22 Juni 2011 pukul 21:57 WIB.
Harkins, S. G., & Petty, R. E.  (1982). Effects of task difficulty and task uniqueness on social loafing.  Journal of Personality and Social Psychology, 43(6), 1214-1229. doi: 10.1037/0022-3514.43.6.1214. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:06 WIB
Huguet, P., Emmanuelle, C., & Monteil, J-M. (1999). Productivity loss in performance groups: People who see themselves as average do not engage in social loafing. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 3(2),118-131. doi: 10.1037/1089-2699.3.2.118. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 14:47 WIB
Karau, S. J., & Williams, K. D. (1993). Social loafing: A meta-analytic review and theoretical integration. Journal of Personality and Social Psychology, 65,681-706. doi: 10.1037/0022-3514.65.4.681. Diakses pada 4 Juli 2011 pukul 14:52 WIB.
Karau, S. J., & Williams, K. D. (1997). The effects of group cohesiveness on social loafing and social compensation. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 1(2), 156-168. doi: 10.1037/1089-2699.1.2.156 . Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:10WIB
Kerr, N. L. (1983). Motivation losses in small groups: A social dilemma analysis.  Journal of Personality and Social Psychology, 45(4),  819-828. doi: 10.1037/0022-3514.45.4.819. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:04 WIB
Kerr, N. L. & Bruun, S. E. (1983). Dispensability of member effort and group motivation losses: Free​-​rider effects.  Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), 78-94. doi: 10.1037/0022-3514.44.1.78. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:07 WIB
Latane, B., Williams, K., & Harkins, S. (1979).  Many hands make light the work:
The causes and consequences of social loafing. Journal of Personality and Social Psychology, 37 (6), 822-832. doi: 10.1037/0022-3514.37.6.822 . Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:05 WIB
Peribahasa indonesia. (n.d.). Retrieved from http://id.wikiquote.org/wiki/Peribahasa_Indonesia. Diakses pada 3 Juli 2011 pukul 20:13 WIB.
Van Dick, R., Tellmacher, J., Wagner,U., Lemmer, G., & Tissington,  P. A.  (2009). Group membership salience and task performance. Journal of Managerial Psychology, Vol. 24(7), pp. 609-626. DOI 10.1108/02683940910989011. Diakses pada 13 Juni 2011 pukul 10:25 WIB.
Vaughan, G.M., & Hogg, H. A. (2005). Introduction to social psychology. (4th ed.). Frenchs Forest, NSW: Pearson Education Australia.
Williams, K., Harkins, S., & Latane, B. (1981). Identifiability as a deterrant to social loafing: Two cheering experiments.  Journal of Personality and Social Psychology, 40(2), 303-311. doi: 10.1037/0022-3514.40.2.303. Diakses pada 16 Juni 2011 pukul 15:05 WIB.



Post Signature

Post Signature