Top Social

Tampilkan postingan dengan label semester 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semester 4. Tampilkan semua postingan

Millenium Super Cool: The Best Team Ever

|
I just realized that I often mention Millenium Super Cool (MSC) in my blog but i have not introduce them properly
so this post dedicates to introduce them
here they are
Vania, Nia, Kathy, Me, Ikhsan and Hana Talita

Nia is one of my first friend in university, we lived at the same floor in the university dorm, C2 in our freshman year .
You could say we got close by proximity. She's my closest one in MSC. I adore her because she's hard worker, creative, able to speak what's in her mind, good listener, understanding, and funny. Sometimes I annoyed at her when she's moody, came late, etc. but somehow I still love her

Hana Talita, I often called her my twin because we have same name, Hana. People sometimes mock us by called "Hana" when we both together because we will turn our head around at the same time to see who's calling. We both did not want to change our nickname, "Hana" so when people met both of us, I asked them to call me Hanabe and she's as Hanata. She and I had the same academic advisor. Hana Talita is one of the most caring in MSC, she's paying attention to little thing. She also often introduces me to new world, she's the first who introduced me to Starsbuck, Cosmogirl and many other things.

Kathy, I knew her because we are in the same group in faculty orientation. When I first met her, I knew we had a lot in common and can get along. She's brave person. I admire her because she knew what she want, what she interested and always work hard to pursue it. She told me bluntly that she dislike me when I am moody and materialistic. Thanks to her, I knew bad side of me and try to be a better person.

Vania, she's humble person. She has highest GPA among MSC members but she never boast about it. She's like to help you study if you ask her. She's optimistic, conscientious, sporty, cheerful and practical. Thanks to her, i knew another way to study and to do things in practical way. She also inspires me to be better every day. By the ways, she's also the one that I asked when it comes about love.

Ikhsan is my first guy facebook friend from psychology. He is the last pieces of MSC puzzle. He's the last one that we recruit. I like him because he always says hi to me first and call me by full name, "Hi Hana Bilqisthi". I can ask him if i want to know the popular song these days. He's reliable and funny. I don't know how but he fit well in MSC.


They are my best friends and they had accompanied me through my university life and I hope it will last forever :D
The song that describe them is thanks God I found you mariah carey




I had been dreaming and praying to found best friend that understand me since I was in kindergarten :D
and I am really glad I found them  :D I feel they are answer to my prayer :D
Alhamdulillah :D

The best thing I like about them is I can be myself when I am around them
they accept good and bad side of me
The most important lesson I got from them is no matter how imperfect and big differences that you and your best friend are and have, you still love them :D

For me, they are the best team ever when I study psychology in University of Indonesia
I hope we can be together forever



Note to myself (Catatan yang perlu hana ingat selama jadi mahasiswa tingkat 2 psikologi UI )

|


Halo guys :D
Sudah seminggu lebih perkuliahan semester 5 berjalan :D masih ngga percaya kalau sekarang hana jadi mahasiswa tingkat 3… waktu cepat sekali berlalu ya? XD perkuliahannya meyenangkan :D di semester ini, mahasiswa psikologi memilih peminatan dan peminatan yg hana ambil adalah sosial klinis (SoKlin)
\(•ˆˆ‎​​​​•)/
Btw, ni jadwal kuliah hana di semester 5:





Hana mau share insight yg hana dapet selama jadi mahasiwa psikologi UI tingkat 2 (semester 3 dan 4) kemarin :D

Semester 3

1.       Lebih baik hana ngga ikut semester pendek
Hana memiliki semangat 45 ketika mengikuti perkuliahan di semester pendek namun semangat Hana menurun saat masuk kuliah di semester 3 >.< merasa jenuh banget gitu… ip hana pas sp bagus tapi semester biasa malah turun.. padahal sks yg diambil di semester biasa kan lebih banyak
2.       Salah satu strategi manajemen waktu: Lebih baik fokus di satu organisasi.
Di semester 3 ini, hana ngerasa kecapaian karena hana ambil terlalu banyak kepanitiaan (buat ukuran hana ya). Kepanitiaan yang hana ikuti tuh center of entrepreneurship BEM UI 2011, best wanna be 2011, dan nat su no hi 2011. Hana ngerasa manajemen waktu Hana buruk banget dan performa Hana di ketiga kepanitiaan plus di SALAM UI jadi ngga maksimal.  Tidur pun ngga cukup (ngga 8 jam sehari) karena ngerjain tugas baik akademis maupun perkuliahan. Bahkan di semester ini hana pernah tidur cuma satu jam sehari. Rekor banget buat ukuran Hana bilqisthi. Well, intinya adalah menurut hana lebih baik ikut satu organisasi tapi berperan maksimal daripada ikut banyak tapi setengah-setengah.
3.       Harus makan malem
Di semester 3 ini Hana sering ngga makan malem dan mendapati tubuh hana sangat lemas saat bangun tidur. Pola hidup yang sangat tidak sehat
4.       Konsentrasi saat di kelas
Saat kuliah di semester ini, hana suka ngga konsen dengerin dosen. Otak hana jalan-jalan mikirin cara cepat untuk menyelesaikan tugas-tugas akademis dan kepanitiaan. (jangan ditiru ya).
5.       Baca buku sebelum perkuliahan dimulai (ngga milih2)
Well, sebenernya ini udah hana lakukan tapi untuk mata kuliah-mata kuliah yang Hana SUKAI. Kalau matkulnya ngga hana sukai, bukunya sama sekali ngga hana sentuh kecuali pas mau ujian. Parah banget ya? pantesan nilai matkul yang hana sukai selalu bagus tapi yang hana ngga suka tuh biasa aja :D hahaha
6.    Being perfectionist kills me
Di mata kuliah psikologi pendidikan, Hana tersadarkan kalau sebenarnya sifat perfeksionis yang Hana miliki itu lebih banyak merugikannya untuk hana dibanding keuntungannya.  Gara2 baca table dibawah ini:
Perfeksionis
Healthy Striver
Memasang standard terlalu tinggi dan diluar
Kemampuan
Memasang standard tinggi namun masih
dapat dicapai
Tidak pernah puas diluar dari kesempurnaan
Dapat menikmati keseluruhan tindakan dari
proses sampai hasil yang keluar
Menjadi depresi dan kecewa berat karena
saat mengalami kegagalan
Mempunyai daya lenting untuk kembali dari
keadaan kecewa saat gagal
Tertekan oleh perasaan takut melakukan
kesalahan dan kegagalan
Tetap merasa takut gagal namun masih
dalam tingkat wajar, tidak panik berlebihan
Melihat kesalahan sebagai tanda bahwa ia
tidak berharga
Melihat kesalahan sebagai bahan
pembelajaran dan kesempatan untuk
berkembang
Menjadi terlalu defensif saat dikritik
Memberi reaksi positif saat mendapat
kritikan atau masukan

 Sumber : Santrock, J.W. (2011). Educational psychology. (5th ed). New York:McGraw-Hill.

Selain itu, hana juga mencari tahu tentang perfeksionis dan ternyata:
Perfeksionis itu dibentuk bukan karena diturunkan(genetic).  Anak yang perfeksionis biasanya entah memiliki orang tua yang perfeksionis (anak jadi meniru jadi perfeksionis) atau karena factor interaksi dengan orang tua yang menuntut kesempurnaan pada anak.
Karena tahu perfeksionis itu dibentuk, hana berusaha mengubahnya walaupun sempet khawatir prestasi hana bakal turun kalau hana ngga perfeksionis


  ('́)


Perfectionists fear that if they give up perfectionism, they won't be good anymore at anything; they'll fall apart. In fact, perfectionism harms performance more than it helps.


Alhamdulillahnya salah satu temen deket Hana, Vania adalah seorang healthy striver, Hana belajar meniru dia di semester 4. makasih banyak ya van :D
Buat yang mau tahu lebih banyak ttg perfeksionis bisa baca link ini:


Saran buat ngatasin perfeksionis:
Try one or more of these and observe the consequences:
  • List the negative consequences of perfectionism—are you seen as controlling? Do you take on extra work without being asked and then feel overworked? Do you feel exhausted? Does the worry about being a failure or not good enough still come back?
  • Stop using all/never language, such as "It is awful if I make a mistake." "I must always be right!" Mistakes are not intolerable and they are not proof of your unworthiness. See how you and others react when you stop that way of speaking.
  • Plan for "non-perfect" performance. Decide to not take on a specific one-time job that someone else could do, such as writing a report. The goal: to see whether the work gets done even if you don't do it. Also observe: if it doesn't get done, the world doesn't end.
  • Observe the imperfect work of others, and how people accept it with surprising frequency as "good enough."
  • Assume some responsibility, but do not do what others are supposed to be responsible for. Then watch. What do others do and how do you feel?
  • Deliberately do not finish some work, such as typing up an elaborate agenda for a meeting. These kinds of detail-oriented items typically turn out to be inconsequential and noticing that may help the perfectionist become willing to dial down their efforts.
  • Observe how little anyone cares whether you were perfect.
  • Note that when unexpected problems occur, most people usually cope.
  • Learn what makes the difference between important and inconsequential tasks, and to distinguish between what is essential and what is not. Try skipping some inconsequential aspects of a task and observe whether it matters.


Nah berdasarkan insight yang Hana dapat di semester 3, Hana berusaha melaksanakan hal-hal tersebut di semester 4. Kalian tahu apa? Hana merasa jauh lebih bahagia :D bahkan, hana bisa menikmati saat ini. Di semester 4, hana menyadari bahwa selama ini hana terlalu mengejar masa depan sampai tidak menikmati saat2 ini (present). :D
hana juga beruntung banget dikelilingi temen2 hana yang suportif banget ketika proses Hana belajar untuk tidak perfeksionis.. berkali-kali hana khawatir apakah performa akademis dan organisasi Hana bakalan jadi jelek klo Hana ngga perfeksionis :D
thanks a lot to berlian damenia, hafida kusuma dewi yang selalu bilang "it's okay, Hana" saat Hana cemas (˘⌣˘)ε˘`)

Makasih banyak juga buat kelompok (peer di kampus) tim peneliti milenium supercool yaitu Dyah Ayu Kartika, Hana Talita, Vania Callista dan Ikhsan Aridani yang tetep mau menerima Hana ketika Hana udah tidak lagi seorang yang perfeksionis :D
Makasih banyak juga buat SALAMERS (seluruh staf dan BPH SALAM UI) terutama biro PSDM yang mau bersabar  sama tingkah laku Hana :D


( ^o)( ^ 0 ^ )(o^ )


salah satu perubahan yang terjadi di semester empat adalah hana mulai jarang menggunakan tas ransel.. selama ini hana selalau pakali tas ransel dan bawa banyak barang  (bisa baca disini)  nah, semester 4 hana mulai pake tas selempang gitu.. karena kapasistasnya yang lebih kecil dari tas ransel, gue pun mulai milih2 barang yang gue masukkin ke tas. Selain itu, gue ngga lagi abwa laptop tiap hari ataupun buku text kuliah. soalnya gue udah baca bukunya sebelum keliah dan ternyata bawa laptop pun sering ngga gue pake. buku text baru gue bawa ketika ternyata gue belum beres baca buku tsb atau karena disuruh sama dosennya :D dan ternyata akhirnya gue bisa merasakan bawa tas kecil dan ringan :D selama ini, gue selalu bingung sama orang2 yang abwa tas ringan. kok mereka bisa ya? dan ternyata hana juga bisa :D hana mulai mengurangi perasaan bahwa hana harus bawa semua barang. sisi positif lainnya dalah hana mulai belajar percaya dan mengandalkan temen hana :D alhamdulillah :D 



thank you guys for reading :D
semoga saja ada pelajaran yang bisa kalian ambil dari pengalaman Hana :D

P.S. : mata kuliah favorit Hana di semester 3 adalah psikologi media sementara kalau di semester 4 tuh psikologi kognitif :D

Identitas Suku

|
well, ini esai yang Hana lampirkan di tugas pohon keluarga pada mata kuliah psikologi lintas budaya.. tadinya udah buat tiga halaman (padahal baru setengah dari yang mau diceritakan), eh... tahunya disuruh cuma satu halaman.. jadinya esai ini udah sangat diringkas.. hehe :)

Abi, Huang, Hana, Umi dan Memey




Sunda-Cina1. Itu adalah jawaban yang sering saya gunakan ketika mendapat pertanyaan mengenai identitas suku. Kadang, saya mengikuti jawaban adik saya, Memey, yaitu Citong[1] (Cina Sepotong). Sayangnya, saya sering dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan saya memilih salah satu diantara dua identitas suku tersebut, contohnya ketika mengisi formulir pendaftaran. Jika hal tersebut terjadi, saya mengalami dilema karena saya merasa keduanya merupakan identitas saya yang tidak dapat saya pisahkan. Saya pun sering berkhayal akan muncul pilihan baru saat mengisi formulir: Sunda-Cina1. Namun, hal tersebut sepertinya mustahil maka saya cenderung memilih suku Sunda sebagai identitas saya. Mengapa? Hal itu disebabkan saya lebih sering berinteraksi dengan keluarga dari pihak ibu dibanding keluarga ayah. Saya dibesarkan di Karawang, kampung halaman keluarga ibu. Selain itu, keluarga dari pihak ibu tinggal berdekatan, sehingga saya dapat bertemu dengan mereka setiap hari. Alasan lain pengaruh budaya Sunda lebih besar pada diri saya karena ayah saya menyerahkan pengasuhan sepenuhnya kepada ibu dimana ayah sedikit terlibat. Saya juga sering dilibatkan dalam acara tradisi Sunda seperti pernikahan, akikah, dan sidekah tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, naun, mendak (ketemu tahun kematian).
Salah satu pengaruh budaya Sunda dalam kehidupan saya adalah dari segi bahasa. Keluarga ibu sering menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari sehingga saya mengerti bahasa Sunda walaupun saya jarang menggunakannya dan saya terpengaruh menggunakan huruf p untuk kata-kata yang sebenarnya menggunakan huruf f. 
Budaya Sunda sangat menekankan sopan-santun. Sejak kecil saya sering diajarkan hormat pada orang yang lebih tua, seperti salim (mencium tangan) kepada orang yang lebih tua dan menggunakan penyebutan nama menggunakan hirarki seperti aa, teteh, nini, aki, uwa, dsb. Selain itu, saya sering ditekankan untuk kenal saudara untuk mencegah pernikahan antarsaudara dekat dan dapat saling menolong saat kesulitan. Nilai lain yang ditekankan adalah teguh pada agama dengan mengajarkan anak beribadah sejak dini.
Bicara soal agama, keluarga ayah saya termasuk keluarga yang demokratis karena memperbolehkan Ayah saya masuk Islam dan tidak mengusirnya. beberapa teman ayah saya yang Tionghoa dan masuk Islam bersama Ayah saya, ada yang diusir oleh keluarganya. Ayah saya masih berhubungan dengan keluarganya, namun jarang melibatkan saya sehingga saya kurang dekat dengan pihak keluarga ayah. Pengaruh etnis Tionghoa dari ayah saya yang paling saya rasakan adalah faktor genetik atau kondisi fisik saya. Saya memiliki kulit kuning dan rambut lurus. Ketika saya SD dan SMP (saat itu saya belum memakai kerudung), kesan pertama teman-teman terhadap saya adalah Tionghoa dan non-muslim meskipun mata saya tidak sipit. Aneh! Ibu saya berpendapat rambut saya-lah yang membentuk kesan tersebut dan sepertinya hal tersebut benar karena sejak saya menggunakan kerudung, sekarang teman-teman saya justru tidak percaya jika saya bilang saya keturunan Tionghoa. Saya sendiri tidak memiliki prasangka negatif terhadap etnis Tionghoa karena di lingkungan keluarga ibu atau ayah saya tidak diajarkan hal tersebut. Saya baru mengetahui adanya prasangka negatif terhadap etnis Tionghoa saat saya mulai duduk di bangku sekolah dan saya mengetahuinya dari teman-teman saya.
Budaya etnis Tionghoa yang masih bertahan dalam keluarga saya adalah nama panggilan. Di rumah, saya dipanggil Jeje dari (姐姐 atau Jie Jie), artinya kakak perempuan. Adik lelaki saya, Huang, awalnya dipanggil de Huang, semenjak memey lahir, dia sempat akan dipanggil Koko yang artinya kakak lelaki. Namun, ibu saya menentang hal tersebut karena nama Huang sendiri sudah memunculkan persepsi bahwa dirinya Tionghoa, sehingga Huang dipanggil Kakak. Adik perempuan saya, Aysyi dipanggil memey, yang berati adik perempuan. Tradisi seperti Imlek, saya hanya ikuti saat saya kecil dan berhenti saat saya kelas dua SD. Setelah itu, ayah saya sering menghabiskan Imlek bersama teman-teman PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Selain itu, sepertinya tidak ada lagi tradisi Tionghoa yang saya ikuti.
Jadi, Sunda atau Tionghoa? Sepertinya saat ini jawaban saya Sunda, tapi, saya akan memilih Sunda-Tionghoa jika pilihan tersebut muncul. Tionghoa-Sunda juga saya setuju. J


[1] Jawaban ini saya gunakan sebelum saya mengetahui bahwa Cina bermakna negatif, sekarang saya menggunakan kata Tionghoa

I'm back and I am alive :D

|
hi there :D I am still alive :DDDDD
i knew its been a long time i didnt post anything...
well, somehow i became lazy to write.. .ide tulisan cuma jadi draft di komputer.. mau ngeposting tugas juga udah ngga bisa karena sebagian besar tugas diberikan dalam bentuk tugas kelompok. masa posting tugas kelompok di blog pribadi kan ngga lucu.. hehehe...
selain itu, diary digital gue dari blog berubah menjadi twitter.. hehe

o ia, semester 4 ini hana ambil 23 sks :D
doain aja semoga lancar :D

Post Signature

Post Signature