Top Social

Tampilkan postingan dengan label semester 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semester 3. Tampilkan semua postingan

Millenium Super Cool: The Best Team Ever

|
I just realized that I often mention Millenium Super Cool (MSC) in my blog but i have not introduce them properly
so this post dedicates to introduce them
here they are
Vania, Nia, Kathy, Me, Ikhsan and Hana Talita

Nia is one of my first friend in university, we lived at the same floor in the university dorm, C2 in our freshman year .
You could say we got close by proximity. She's my closest one in MSC. I adore her because she's hard worker, creative, able to speak what's in her mind, good listener, understanding, and funny. Sometimes I annoyed at her when she's moody, came late, etc. but somehow I still love her

Hana Talita, I often called her my twin because we have same name, Hana. People sometimes mock us by called "Hana" when we both together because we will turn our head around at the same time to see who's calling. We both did not want to change our nickname, "Hana" so when people met both of us, I asked them to call me Hanabe and she's as Hanata. She and I had the same academic advisor. Hana Talita is one of the most caring in MSC, she's paying attention to little thing. She also often introduces me to new world, she's the first who introduced me to Starsbuck, Cosmogirl and many other things.

Kathy, I knew her because we are in the same group in faculty orientation. When I first met her, I knew we had a lot in common and can get along. She's brave person. I admire her because she knew what she want, what she interested and always work hard to pursue it. She told me bluntly that she dislike me when I am moody and materialistic. Thanks to her, I knew bad side of me and try to be a better person.

Vania, she's humble person. She has highest GPA among MSC members but she never boast about it. She's like to help you study if you ask her. She's optimistic, conscientious, sporty, cheerful and practical. Thanks to her, i knew another way to study and to do things in practical way. She also inspires me to be better every day. By the ways, she's also the one that I asked when it comes about love.

Ikhsan is my first guy facebook friend from psychology. He is the last pieces of MSC puzzle. He's the last one that we recruit. I like him because he always says hi to me first and call me by full name, "Hi Hana Bilqisthi". I can ask him if i want to know the popular song these days. He's reliable and funny. I don't know how but he fit well in MSC.


They are my best friends and they had accompanied me through my university life and I hope it will last forever :D
The song that describe them is thanks God I found you mariah carey




I had been dreaming and praying to found best friend that understand me since I was in kindergarten :D
and I am really glad I found them  :D I feel they are answer to my prayer :D
Alhamdulillah :D

The best thing I like about them is I can be myself when I am around them
they accept good and bad side of me
The most important lesson I got from them is no matter how imperfect and big differences that you and your best friend are and have, you still love them :D

For me, they are the best team ever when I study psychology in University of Indonesia
I hope we can be together forever



Alasan Kenapa Gue Jarang Pulang Ke Karawang

|
Sebenernya postingan kali ini pernah gue posting di note FB gue pada tanggal 24 April 2011 cuma ternyata belum sempet gue posting di blog..
Hehe


Sepupu-sepupu gue yang seusia sama gue, Icha (di IPB), Raissa (di UNJ) , dan keponakan gue, QQ  (di UIN) selalu pulang tiap minggunya dan mereka selalu bertanya-tanya kenapa gue ngga pulang setiap minggu seperti mereka. Bukan hanya sepupu2 gue, tapi temen2 gue yang tahu kalau gue tuh dari Karawang dan waktu semester 1 kemarin cuma balik dua kali, yaitu pas lebaran dan pas tahun baru islam. Sebenarnya tiga kali, ketiga kalinya tuh pas Presiden Obama mau kuliah umum di UI. Gue yang baru saja tiba di karawang, ditelpon temen gue, Findez kalau gue termasuk salah satu yang dapet tiket masuk buat kuliah umum. Alhasil, gue balik ke depok saat itu juga.
Kaget? Well, kalian bukan satu-satunya. Bahkan salah satu temen gue pas dia tahu gue cuma balik dua kali pas semester kemarin, bilang kalau gue anak durhaka, rumah cukup deket tapi ngga balik tiap minggu. Sepupu gue icha bilang “betah banget di depok”. Well, bukannya gue ngga mau pulang tapi kondisi yang memaksa gue untuk tidak pulang tiap minggu.

Alasan pertama kenapa gue jarang balik ke karawang adalah waktu masa-masa jadi maba, masa PSAF (Pengenalan Sistem Akademik tingkat Fakultas) selalu aja ada kegiatan tiap hari sabtu. PSAFnya sendiri udah ngebuat gue stres dan capek. Waktu gue buat balik ke karawang hari minggu doang. Senin udah masuk lagi kuliah. Kayaknya buang2 waktu dan uang aja kalau gue balik hari minggu doang. Selain itu, guenya juga yang jadi makin capek.

Selesai PSAF, gue ikut Best Wanna be, pelatihan Bem UI, yang diadakan tiap hari sabtu juga. Dan BWB tuh baru beres pas mau UAS. Jadi selama semster satu, hari sabtu di agenda gue udah dipake buat kegiatan.
Q: Kenapa ngga bolos ja?
A: Well, ngga kepikiran.  Baru kepikiran pas loe nanya. Tapi.. BWBnya kan udahan.               
Q: Berati loe selalu dateng BWB dung?
A: Ngga kok. Gue pernah ngga ikut bwb tapi tu karena sakit dan pertemuan himaka.
Alasan kedua kenapa gue ngga balik ke karawang adalah sperti yang pernah gue ceritakan di tulisan Klo ciri anak ui insomnia, lalu gue???”, gue menggunakan hari minggu buat belajar seharian. Mengingat ketidakmampuan gue buat begadang. Jadi jadwal gue ngga ada balik ke karawang. Lagian kalau gue balik ke karawang, kayakna gue malah main bukannya belajar. Godaan buat mainnya terasa lebih besar pas di karawang.

Kalau pun gue balik hari minggu, dengan ongkos angkot dari asrama ke terminal rambutan 4,5rb, bus 9,5ribu, trus angkot dari by pass ke rumah 2rb. Ditotal jadi 16rb. Klo gue ke karawang cuma sehari ja 9kurang dari sehari malah) berati gue bakal habis 32ribu. 32ribu cuma buat beberapa jam di karawang yang bakal gue pake buat main2. Sementara di depok, gue bisa pake waktu tsb buat belajar. Bayangkan kalau gue balik ke karawang tiap minggu Cuma pas hari minggu. Dalam sebulan gue menghabiskan 128rb cuma buat ongkos.

Q: Loe emang  ngga kangen ma keluarga loe na?
A: Kangenlah. Gue inget banget waktu malem gue lupa tanggal berapa, yang jelas pas perhitungan ketua forkat, keluarga gue dateng ke asrama. Gue nangis setelah mereka pergi.  Gue pengen ikut balik ke karawang. Tapi ngga mungkin karena hari seninnya klo gue ngga salah inget, gue kuis Psikologi Umum I. Bahkan waktu liburan semester 1 mau berakhir, gue masih belum rela ninggalin rumah.

Alasan lain kenapa gue ngga sering balik adalah gue ngga mau membuat orang tua gue khawatir. . Gue inget pesen pertama nyokap gue ke gue pas ninggalin gue untuk tinggal di asrama Ui adalah “Je, yang betah ya. Jangan pulang tiap minggu nanti umi khawatir karena nyangka jeje ngga betah di asrama.” Bagi gue balik tiap minggu berati gue ngga betah di asrama UI. Gue ngerasa nyaman kok di asrama UI, jadi gue ngga mau orang tua gue bertanya-tanya kenapa anaknya ini pulang tiap minggu

Gue inget tanggal  9 april kemarin pas gue balik ke karawang, sepupu2 gue, uwa2, bibi, dan paman gue pada kaget gue balik ke karawang. Pertanyaan mereka semua sama: “Libur na? Berapa lama?”, “Libur habis UTS?” . Gue jawab gue lagi pengen balik aja, berhubung tugas lagi ngga banyak.
Setelah mereka bertanya begitu, Gue jadi mikir saking jarangnya gue pulang, sampai seaneh itukah gue balik dalam rangka mau balik karena kangen keluarga gue sendiri?

Bahkan nyokap gue bilang susah banget ketemu gue padahal gue masih mahasiswa yang tinggal di kosan. Gimana kalau gueudah kerja dan tinggal di apartemen . Kalau dari omongan nykap gue, gue menangkap pesan yang tersirat kalau gue tuh workholic yang sampai ngga peduli sama keluarganya sendiri. Miris banget. Padahal gue belajar full pas hari minggu kan karena gue pengen ngebahagiain nyokap gue dengan dapet IP bagus.

Tapi setelah dipikir2, gue jadi kepikiran. Yang gue takutkan adalah gue nanti jadi ibu yang lebih betah di kantor dan mengabaikan anak2 gue. Padahal gue pengen jadi ibu yang perhatian.
Menurut kalian gimana? 

Analisis Film Miracle Worker : Peran Significant others dalam membentuk perilaku

|
Sumber gambar: wikipedia



1. Sinopsis
I seldom think about my limitations, and they never make me sad. Perhaps there is just a touch of yearning at times; but it is vague, like a breeze among flowers
-Helen Keller-

Siapa yang tidak kenal Helen Keller? Beliau adalah salah satu wanita berpengaruh di dunia. Beliau merupakan wanita buta-tuli yang pertama kali meraih gelar Bachelor of Arts (BA).  Kisah masa kecil Helen Keller diceritakan dalam film berjudul “Miracle Worker” yang diperankan oleh Hallie Kate Eisen dan disutradarai oleh Nadia Tass (2000). Film ini menggambarkan perjuangan Anne Sulivan  yang diperankan oleh Alison Eliot dalam mengajarkan Helen sopan santun dan juga memahami kata-kata. Bagian awal film berusaha menggambarkan kondisi Helen yang buta dan tuli dengan memperlihatkan Helen berjalan dengan meraba-raba dan berusaha menyentuh mulut salah satu budaknya yang bernama Percy. Selain itu, Helen juga beberapa kali menabrak benda di hadapannya ketika berjalan.
Bagian awal film juga menceritakan kondisi keluarga Keller yang terdiri dari ayah, ibu, kakak Helen yang bernama James, Helen, adik Helen yang masih bayi dan bibi Evelyn. Dalam film, digambarkan ayah Helen dan kakak Helen, James sering bertengkar. Ibu Helen terlalu fokus pada Helen sehingga jarang meluangkan waktu untuk adik Helen. Melihat masalah yang terjadi di keluarga Helen, bibi Evelyn menyarankan kedua orang tua Helen untuk menulis surat kepada Dr. Chisolm. Sayangnya, Dr. Chisolm tidak bisa membantu Helen sehingga menyarankan Helen untuk menghubungi Alexander Graham Bell. Kemudian Bell menyarankan orang tua Helen untuk menghubungi Perkins Institute for the Blind. Kepala Sekolah Perkins Institute for the Blind meminta Annie Sulivan untuk menjadi instuktur Helen. Semenjak itulah hubungan antara Annie dengan Helen dimulai.
Selama di perjalanan, Annie mengetahui dari Ibu Helen bahwa Helen belum diajarkan mengenali bahasa sehingga begitu tiba di rumah keluarga Keller, Annie berusaha mengeja kata-kata ke tangan Helen.  Kata pertama yang Annie ajarkan adalah doll. Walaupun keluarga Keller sempat tidak yakin Hellen dapat belajar bahasa karena Helen buta dan tuli. Namun, Annie tetap berusaha mengajarkan Helen kata-kata karena Annie percaya “bahasa lebih penting bagi pikiran daripada cahaya bagi mata”.
Keesokan harinya, ketika Annie sarapan bersama keluarga Keller, Annie terkejut melihat keluarga Keller membiarkan Helen makan dengan posisi berdiri dan menggunakan tangan. Annie kemudian meminta keluarga Keller mengizinkan waktu berdua dengan Helen untuk mengajarinya makan dengan  benar. Saat jam makan siang, Annie berhasil membuat Helen makan menggunakan sendok, garpu dan serbet. Namun, setelah kejadian tersebut Helen selalu menghindari Annie sehingga menyulitkan Annie mengajarinya kata-kata. Annie pun meminta izin keluarga Keller agar Hellen tinggal hanya berdua dengannya selama  di rumah kebun. Selama di rumah  kebun tersebut Annie mengajarkan Hellen kata-kata dan berhasil mengubah perilaku Hellen. Sayangnya, sebelum Helen paham kata merepresentasikan sesuatu, Helen diminta kembali ke rumah. Lebih parahnya lagi, ketika Helen kembali ke rumah, perilaku Helen kembali seperti semula. Helen kembali makan menggunakan tangan dan mengguyur Annie dengan air dari teko. Annie yang marah melihat perilaku Helen membuat Helen mengisi kembali teko tersebut. Ketika Annie sedang mengalirkan air dari pompa seraya menuliskan kata air di telapak tangan Helen, saat itu keajaiban terjadi. Helen menyadari ide ‘air’, kemudian terus-terusan bertanya kepada Annie nama-nama benda di sekitarnya. Film diakhiri dengan adegan Helen mencium pipi Annie dan dibalas Annie dengan bahasa isyarat  I love Helen.                                                                                                                      

2. Analisis
Analisis film Miracle Worker akan berfokus pada peran significant others yaitu Ayah, Ibu, Kakak, Bibi Evelyn dan Annie Sulivan terhadap Helen. Hal ini disebabkan orang tua, saudara merupakan bagian penting dalam proses perkembangan dan pendidikan anak.
2.1. Ayah Helen
Ayah Helen berada pada tahap anger menurut Kuebler-Ross (dalam Mangungsong, 2011). Beliau menunjukkan karakteristik pada tahap ini yaitu menyadari bahwa anaknya tidak menunjukkan peningkatan dan kemungkinan memunculkan rasa marah pada dirinya. Karateristik tersebut terlihat dari pengakuan ayah Helen yang sudah putus asa menghadapi Helen karena telah gagal mencari dokter yang dapat menyembuhkan Helen. Selain itu, ayah Helen menyarankan ibu Helen untuk menerima keadaan Helen dan memasukan Helen ke rumah sakit jiwa yang baik. Di masa ini, orang berkebutuhan khusus sering disalahpahami sebagai orang yang sakit jiwa sehingga masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan berkebutuhan khusus dan merasa sudah menyerah untuk mengurusnya, mengirimkan anggota keluarga tersebut ke rumah sakit jiwa. Kesadaran bahwa Helen tidak mengalami peningkatan juga ditunjukkan saat Annie belum berhasil mengajarkan Hellen berbicara, ayah Helen berkomentar bahwa mungkin Tuhan tidak menginginkan Hellen untuk berbicara.
Ayah Helen sering membiarkan tingkah laku Helen selama Helen tidak membuat kegaduhan. Hal itu terlihat ketika adegan Helen mencopot kancing bibi Evelyn, ayah Helen mengatakan Helen diperbolehkan melakukan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Ayah Helen tidak memberikan batasan tingkah laku yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Helen sehingga Helen bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Kondisi itu membuat Helen sulit diatur dan tidak disiplin.  Selain itu, dalam film terlihat bahwa Helen tidak takut ataupun hormat terhadap ayahnya.
Ada dua tanggung jawab yang belum dipenuhi ayah Helen yaitu memperhatikan hubungan saudara-saudara anak luar biasa dan merencanakan masa depan anak. Ayah Helen tidak memberikan penjalasan atau pengertian kepada James untuk memahami kondisi anak luar biasa, dalam hal ini kondisi Helen. Hal itu menyebabkan James tidak mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik ketika berinteraksi dengan Helen. Selain itu, ayah Helen dan James menjadi sering beradu argumen. Ayah Helen juga tidak mempersiapkan Helen untuk mandiri di masa depan. Beliau merasa kasihan terhadap Helen namun karena beliau sudah putus ada dengan kondisi Helen, beliau pun tidak mengajarkan Helen keterampilan untuk mengurus diri sendiri.  Dua penyebab lain  yang kemungkinan besar membuat ayah Helen tidak mempersiapkan Helen untuk mandiri di masa depan adalah ketidaktahuan bahwa Helen mampu belajar dan mengurus dirinya sendiri serta perasaan mampu untuk menanggung hidup Helen karena keluarga Helen termasuk kalangan menengah ke atas. Seharusnya ayah Hellen sadar bahwa suatu saat nanti dia tidak bisa selalu ada untuk Hellen. Oleh karena itu, penting mengajarkan Hellen kemandirian.

2.2. Ibu Helen
Perilaku anak bertahan karena di-reinforce oleh orang tuanya.  Ibu Helen berperan menyebabkan perilaku agresif Helen tetap bertahan melalui operational conditioning. Pada awal film ketika Helen menjadi tantrum ketika Percy, budak keluarga Keller, menolak disentuh olehnya, ibu Helen datang dan berusaha menenangkan Helen dengan memberinya permen. Begitu pula halnya ketika Helen menusuk Annie, ibu Helen malah memberi Helen permen. Helen belajar bahwa setiap kali dia tantrum atau berperilaku agresif maka ibunya akan memberinya permen.  Selain itu, salah satu kemungkinan Helen penuh kemarahan adalah ketidakmampuannya untuk mengungkapkan apa yang dia inginkan karena keterbatasan bahasa yang dia ketahui. Helen sebelum bertemu Annie, hanya memiliki tanda ketika dia menginginkan ibunya. Orang tua memiliki kecenderungan untuk mengontrol interaksi dengan anak yang buta-tuli karena ketidakpahaman mereka dengan utterances anak mereka (Vervloed, van Dijk, Knoors, & van Dijk, 2006). Kondisi tersebut juga terlihat ketika interaksi antara ibu Helen dengan Helen. Walaupun Ibunya mengaku tahu apa yang dinginkan Helen, namun yang sering dilakukan ibu Helen adalah memberi Helen permen supaya Helen tenang.
            Ibu Helen sendiri cenderung berada pada tahap bargaining menurut Kuebler-Ross (dalam Mangungsong, 2011) karena menunjukkan karakteristik berpikir imaginatif dan berfantasi  jika dia (ibu Hellen) berusaha dengan keras maka anaknya akan mengalami peningkatan. Beliau masih mengharapkan Helen dapat membaik dan menolak memasukan Helen ke rumah sakit jiwa.
2.3. James, Kakak Helen
James yang merupakan saudara Helen yang lebih tua. Dia sering lebih fokus bagaimana masyarakat memandang dirinya dan Helen yang berkebutuhan khusus (Mangungsong, 2011). Kekhawatiran James tersebut tersirat dari percakapan antara dirinya dengan Bibi Evelyn pada bagian awal film. Bibi Evelyn menanyakan mengapa James jarang mengundang teman-temannya ke rumah dan memberikan nasihat agar James tidak usah khawatir dengan pandangan teman-temannya mengenai Helen. Secara tidak langsung adegan tersebut menggambarkan rasa khawatir James. Rasa khawatir tersebut muncul karena orang tua tidak mempersiapkan ataupun James menjadi kakak berkebutuhan khusus. Dalam film juga digambarkan James sering mengritik pola asuh orang tuanya dalam membesarkan Helen. Sayangnya, orang tua Helen menganggap kritikan yang dilontarkan oleh James merupakan bentuk rasa iri antar saudara sehingga tidak menanggapi serius kritikan tersebut. Selain itu, James hanya mengritik perilaku orang tuanya tanpa melakukan intervensi tindakan apapun terhadap Helen.
2.4. Annie Sulivan
Annie tahu kondisi Helen yang buta tuli tidak dapat merespon sesuai dengan anak normal. Hal itu disebabkan salah satu aspek learning yaitu imitasi tidak dapat digunakan, karena anak buat tuli tidak mampu mempersepsinya, sehingga harus dilakukan pendekatan yang langsung dan sangat intens (Vervloed, van Dijk, Knoors, & van Dijk, 2006). Annie yang mengetahui hal tersebut meminta kepada keluarga Keller untuk memberinya izin tinggal berdua dengan Hellen di rumah kebun. Keuntungan lain Annie hanya tinggal berdua dengan Helen adalah agar Helen tidak kebingungan dalam menerima pesan. Berbeda halnya ika pendidikan Helen dilakukan di dalam rumah, Helen mengetahui bahwa orang tuanya dan Annie menerapkan peraturan yang berbeda sehingga Helen akan cenderung memilih yang paling menyenangkan untuknya. Kendala yang akan dihadapi jika dilakukan pendekatan yang langsung dan sangat intens membuat anak buta tuli berusaha melarikan diri dari interaksi tersebut (Vervloed, van Dijk, Knoors, & van Dijk, 2006). Kondisi tersebut digambarkan pula di film ini. Saat hari pertama Helen tinggal bersama Annie, Helen berusaha melarikan diri dan bersembunyi di kolong tempat tidur.  
Annie menerapkan prinsip reward and punishment dalam operational conditioning dalam mendidik Helen. Ketika Helen memberikan respon yang sesuai maka Helen mendapatkan yang ia inginkan ketika Helen berhasil membuat isyarat cake maka Helen mendapat cake dan ketika perilaku Helen tidak sesuai yang diharapkan maka Helen tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Selain itu Annie konsinten menerapkan peraturan yang dia berikan kepada Helen sehingga Helen patuh dan belajar perilaku apa yang boleh dan tidak. Annie mampu membuat Helen makan dengan sendok dan mengajarkan Helen merajut. Annie mengajarkan Helen berbicara dengan cara memberi Helen benda yang bisa diraba dan menuliskan nama benda tersebut di telapak tangan Helen dengan menggunakan bahasa isyarat. Sayangnya usaha Annie dalam mendisiplinkan Helen maupun mengajarkan Helen berbicara justru sempat mendapat kesulitan dari kedua orang tua Helen karena menganggap Annie terlalu keras kepada Helen. Annie melihat bahwa orang tua Helen merasa lebih mudah merasa kasihan pada Helen daripada mengajarkannya berperilaku baik. Untungnya Annie dapat meyakinkan orang tua Helen untuk menyerahkan pendidikan Helen kepada dirinya.
2.5.      Bibi Evelyn
            Bibi Evelyn termasuk salah satu orang yang peduli dan sayang pada Helen. Dia yang merekomendasikan Helen bertemu Dr. Chisolm demi kesembuhannya. Bibi Evelyn menjadi salah satu dukungan moril bagi keluarga Keller.

3. Simpulan
Dalam film Miracle Worker tergambar jelas peran Significant others dalam membentuk perilaku Helen. Perilaku Helen yang tidak disiplin dan agresi dipertahankan karena Ayah dan Ibu Helen cenderung merasa kasihan pada Helen sehingga tidak memberinya hukuman. Namun Annie berhasil mebuktikan pada keluarga Keller bahwa Helen dapat bertingkah laku seperti anak normal (berbicara dan disiplin) dengan pengajaran yang konsisten, tegas, dan menggunakan sistem reward-punishment. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bertahan atau tidaknya perilaku Helen ditentukan oleh reaksi Signifikan others terhadap perilakunya.





Daftar pustaka
Domjan, M. (2010). The principles of learning and behavior. (6th Ed.) Belmont: Wadwordth.
Hellen keller quotes (n.d). Retrieved from http://www.brainyquote.com/quotes/authors/h/helen_keller.html Diakses pada tanggal 7 Desember 2011 pukul 19.30 WIB
Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus: Jilid kedua. Depok: LPSP3 UI.
Tass, N. (Director). (2000). Miracle worker [Motion Picture]. United States: Disney.
Vervloed,M. P. J., van Dijk, R. J. M., Knoors, H., & van Dijk, J. P. M. (2006). Interaction between teacher and congenitally deafblind child. American Annals of Deafs, 151(3), 336-343.

Note to myself (Catatan yang perlu hana ingat selama jadi mahasiswa tingkat 2 psikologi UI )

|


Halo guys :D
Sudah seminggu lebih perkuliahan semester 5 berjalan :D masih ngga percaya kalau sekarang hana jadi mahasiswa tingkat 3… waktu cepat sekali berlalu ya? XD perkuliahannya meyenangkan :D di semester ini, mahasiswa psikologi memilih peminatan dan peminatan yg hana ambil adalah sosial klinis (SoKlin)
\(•ˆˆ‎​​​​•)/
Btw, ni jadwal kuliah hana di semester 5:





Hana mau share insight yg hana dapet selama jadi mahasiwa psikologi UI tingkat 2 (semester 3 dan 4) kemarin :D

Semester 3

1.       Lebih baik hana ngga ikut semester pendek
Hana memiliki semangat 45 ketika mengikuti perkuliahan di semester pendek namun semangat Hana menurun saat masuk kuliah di semester 3 >.< merasa jenuh banget gitu… ip hana pas sp bagus tapi semester biasa malah turun.. padahal sks yg diambil di semester biasa kan lebih banyak
2.       Salah satu strategi manajemen waktu: Lebih baik fokus di satu organisasi.
Di semester 3 ini, hana ngerasa kecapaian karena hana ambil terlalu banyak kepanitiaan (buat ukuran hana ya). Kepanitiaan yang hana ikuti tuh center of entrepreneurship BEM UI 2011, best wanna be 2011, dan nat su no hi 2011. Hana ngerasa manajemen waktu Hana buruk banget dan performa Hana di ketiga kepanitiaan plus di SALAM UI jadi ngga maksimal.  Tidur pun ngga cukup (ngga 8 jam sehari) karena ngerjain tugas baik akademis maupun perkuliahan. Bahkan di semester ini hana pernah tidur cuma satu jam sehari. Rekor banget buat ukuran Hana bilqisthi. Well, intinya adalah menurut hana lebih baik ikut satu organisasi tapi berperan maksimal daripada ikut banyak tapi setengah-setengah.
3.       Harus makan malem
Di semester 3 ini Hana sering ngga makan malem dan mendapati tubuh hana sangat lemas saat bangun tidur. Pola hidup yang sangat tidak sehat
4.       Konsentrasi saat di kelas
Saat kuliah di semester ini, hana suka ngga konsen dengerin dosen. Otak hana jalan-jalan mikirin cara cepat untuk menyelesaikan tugas-tugas akademis dan kepanitiaan. (jangan ditiru ya).
5.       Baca buku sebelum perkuliahan dimulai (ngga milih2)
Well, sebenernya ini udah hana lakukan tapi untuk mata kuliah-mata kuliah yang Hana SUKAI. Kalau matkulnya ngga hana sukai, bukunya sama sekali ngga hana sentuh kecuali pas mau ujian. Parah banget ya? pantesan nilai matkul yang hana sukai selalu bagus tapi yang hana ngga suka tuh biasa aja :D hahaha
6.    Being perfectionist kills me
Di mata kuliah psikologi pendidikan, Hana tersadarkan kalau sebenarnya sifat perfeksionis yang Hana miliki itu lebih banyak merugikannya untuk hana dibanding keuntungannya.  Gara2 baca table dibawah ini:
Perfeksionis
Healthy Striver
Memasang standard terlalu tinggi dan diluar
Kemampuan
Memasang standard tinggi namun masih
dapat dicapai
Tidak pernah puas diluar dari kesempurnaan
Dapat menikmati keseluruhan tindakan dari
proses sampai hasil yang keluar
Menjadi depresi dan kecewa berat karena
saat mengalami kegagalan
Mempunyai daya lenting untuk kembali dari
keadaan kecewa saat gagal
Tertekan oleh perasaan takut melakukan
kesalahan dan kegagalan
Tetap merasa takut gagal namun masih
dalam tingkat wajar, tidak panik berlebihan
Melihat kesalahan sebagai tanda bahwa ia
tidak berharga
Melihat kesalahan sebagai bahan
pembelajaran dan kesempatan untuk
berkembang
Menjadi terlalu defensif saat dikritik
Memberi reaksi positif saat mendapat
kritikan atau masukan

 Sumber : Santrock, J.W. (2011). Educational psychology. (5th ed). New York:McGraw-Hill.

Selain itu, hana juga mencari tahu tentang perfeksionis dan ternyata:
Perfeksionis itu dibentuk bukan karena diturunkan(genetic).  Anak yang perfeksionis biasanya entah memiliki orang tua yang perfeksionis (anak jadi meniru jadi perfeksionis) atau karena factor interaksi dengan orang tua yang menuntut kesempurnaan pada anak.
Karena tahu perfeksionis itu dibentuk, hana berusaha mengubahnya walaupun sempet khawatir prestasi hana bakal turun kalau hana ngga perfeksionis


  (ง'́)ง


Perfectionists fear that if they give up perfectionism, they won't be good anymore at anything; they'll fall apart. In fact, perfectionism harms performance more than it helps.


Alhamdulillahnya salah satu temen deket Hana, Vania adalah seorang healthy striver, Hana belajar meniru dia di semester 4. makasih banyak ya van :D
Buat yang mau tahu lebih banyak ttg perfeksionis bisa baca link ini:


Saran buat ngatasin perfeksionis:
Try one or more of these and observe the consequences:
  • List the negative consequences of perfectionism—are you seen as controlling? Do you take on extra work without being asked and then feel overworked? Do you feel exhausted? Does the worry about being a failure or not good enough still come back?
  • Stop using all/never language, such as "It is awful if I make a mistake." "I must always be right!" Mistakes are not intolerable and they are not proof of your unworthiness. See how you and others react when you stop that way of speaking.
  • Plan for "non-perfect" performance. Decide to not take on a specific one-time job that someone else could do, such as writing a report. The goal: to see whether the work gets done even if you don't do it. Also observe: if it doesn't get done, the world doesn't end.
  • Observe the imperfect work of others, and how people accept it with surprising frequency as "good enough."
  • Assume some responsibility, but do not do what others are supposed to be responsible for. Then watch. What do others do and how do you feel?
  • Deliberately do not finish some work, such as typing up an elaborate agenda for a meeting. These kinds of detail-oriented items typically turn out to be inconsequential and noticing that may help the perfectionist become willing to dial down their efforts.
  • Observe how little anyone cares whether you were perfect.
  • Note that when unexpected problems occur, most people usually cope.
  • Learn what makes the difference between important and inconsequential tasks, and to distinguish between what is essential and what is not. Try skipping some inconsequential aspects of a task and observe whether it matters.


Nah berdasarkan insight yang Hana dapat di semester 3, Hana berusaha melaksanakan hal-hal tersebut di semester 4. Kalian tahu apa? Hana merasa jauh lebih bahagia :D bahkan, hana bisa menikmati saat ini. Di semester 4, hana menyadari bahwa selama ini hana terlalu mengejar masa depan sampai tidak menikmati saat2 ini (present). :D
hana juga beruntung banget dikelilingi temen2 hana yang suportif banget ketika proses Hana belajar untuk tidak perfeksionis.. berkali-kali hana khawatir apakah performa akademis dan organisasi Hana bakalan jadi jelek klo Hana ngga perfeksionis :D
thanks a lot to berlian damenia, hafida kusuma dewi yang selalu bilang "it's okay, Hana" saat Hana cemas (˘⌣˘)ε˘`)

Makasih banyak juga buat kelompok (peer di kampus) tim peneliti milenium supercool yaitu Dyah Ayu Kartika, Hana Talita, Vania Callista dan Ikhsan Aridani yang tetep mau menerima Hana ketika Hana udah tidak lagi seorang yang perfeksionis :D
Makasih banyak juga buat SALAMERS (seluruh staf dan BPH SALAM UI) terutama biro PSDM yang mau bersabar  sama tingkah laku Hana :D


( ^o)( ^ 0 ^ )(o^ )


salah satu perubahan yang terjadi di semester empat adalah hana mulai jarang menggunakan tas ransel.. selama ini hana selalau pakali tas ransel dan bawa banyak barang  (bisa baca disini)  nah, semester 4 hana mulai pake tas selempang gitu.. karena kapasistasnya yang lebih kecil dari tas ransel, gue pun mulai milih2 barang yang gue masukkin ke tas. Selain itu, gue ngga lagi abwa laptop tiap hari ataupun buku text kuliah. soalnya gue udah baca bukunya sebelum keliah dan ternyata bawa laptop pun sering ngga gue pake. buku text baru gue bawa ketika ternyata gue belum beres baca buku tsb atau karena disuruh sama dosennya :D dan ternyata akhirnya gue bisa merasakan bawa tas kecil dan ringan :D selama ini, gue selalu bingung sama orang2 yang abwa tas ringan. kok mereka bisa ya? dan ternyata hana juga bisa :D hana mulai mengurangi perasaan bahwa hana harus bawa semua barang. sisi positif lainnya dalah hana mulai belajar percaya dan mengandalkan temen hana :D alhamdulillah :D 



thank you guys for reading :D
semoga saja ada pelajaran yang bisa kalian ambil dari pengalaman Hana :D

P.S. : mata kuliah favorit Hana di semester 3 adalah psikologi media sementara kalau di semester 4 tuh psikologi kognitif :D

Me time

|


Semester tiga ini, gue baru menyadari betapa manjanya gue selama semester dua kemarin...
Ni jadwal sem 3 gue

Dan ni jadwal sem 2 gue..


 gue malah memanfaatkan waktu luang gue buat ngobrol, baca komik, nonton film, dan mengeluh... padahal seharusnya gue mikir, smester satu yang belajarnya serius aja gue cuma dapet IP 3.7..
Wajar aja semester dua IP gue turun karena ngga memanfaatkan waktu dengan baik (ngga serius belajar).. Selain ngga serius belajar, gue menyadari satu hal.. gue mengalami kecemasan yang berlebihan saat ujian.. selama ujian yang keinget di otak gue adalah gue harus bisa mempertahankan IP gue.. Selain itu, ketika dapat nilai jelek di kuis pertama, gue langsung menganggap hasil kuis tersebut sebagai hasil akhir yang akan tertera di SIAK NG gue .

Pengalaman semester dua jadi wake up call buat gue.
Oleh karena itu pas SP kemarin gue melakukan segala hal yang gue bisa dengan tujuan dapet IP 4. Gue baca buku, ppt, buat mind map, buat rangkuman dan gue begadang (begadang versi hana ya ^^) buat belajar...  Selama SP kemarin, gue tidur jam 11 atau jam  1 malem.  Namun, hasil kuis pertama psi bang (psikologi perkembangan) gue adalah enam.. Hal itu disebabkan pas kuis berlangsung,gue inget pengalaman kegagalan gue di mata kuliah faal (gue lulus faal kok tapi nilainy ... ) sehingga gue ngga percaya diri.. Nah, Pas kuis kedua, gue kembali buat mind map,rangkuman dan baca buku, Cuma kali ni gue bilang ke diri gue sendiri “Hana, loe udah berusaha sebaik yang loe bisa.. Masalah nilai jangan dipeduliin..

then...

nilai kuis kedua  psibang gue adalah SEMBILAN (9)... :D

Sayangnya nilai akhir SP gue adalah psibang A- dan psi sos A. Awalnya, gue sedih karena gagal dapet IP 4. Tapi setelah gue mikir2 lagi... Nilai psibang A- tuh masih mending..Soalnya kalau gue ngambil Psibang pas semester biasa, kayaknya nilai segitu mustahil dicapai. Kenapa? Well, ternyata jadwal psibang dan psi sos di semester biasa tuh berbarengan di hari kamis. Gue yakin gue bakal ngeduluin baca buku psi sos yang gue suka dibanding baca psibang , padahal psibang tuh kuis setiap pertemuan.  Gue ngerasa kemungkinan besar gue bakal melakukan kesalahan yang sama waktu faal.

Kita tutup pembicaraan tentang SP, gue mau cerita semester tiga ini.. Semester tiga ini gue berasa mau gila dan tercekik. Gue dapet dosen yang hobi ngasih tugas dan ngambil mata kuliah pilihan yang hobi ngasih tugas. Intinya: gue ngerasa sebagian dosen ngerasa mata kuliahnya paling penting, mereka seolah mengira mahasiswa ngga punya kerjaan lain selain ngurusin mata kuliah mereka. Hal yang kadang memperparah dan kadang juga memperingan tugas adalah tugas dikerjakan dalam kelompok. Kerja kelompok emang membuat tugas berat jadi ringan (catetan: selama dapet temen yang bener kerjanya). Namun, memperperah kalau bikin janjian ketemu susahnya minta ampun, pas gue bisa, dia ngga bisa.. but.. THANKS TO GOOGLE DOCS J, sebagian masalah kerja kelompok dapat teratasi....

Hal yang paling gue ngga ngerti adalah fakta bahwa semester ini gue selalu tidur jam 11 malem dan gue tetep belum sempet baca buku rujukan sebelum kuliah. >.< Padahal dulu gue pikir saat gue bisa tidur di atas jam 9, gue bisa pakai waktu tersebut buat baca buku... Gue tidur jam 11 karena ngerjain tugas... Selain itu, gue ngerasa gue jadi lola pas ngerjain tugas di malem hari..

Intinya gue mau bilang semester 3 ini gue ngerasa sangat melelahkan dan bikin gue “gila”. Namun di tengah 
kesibukan, gue menyadari betapa baiknya Allah memerintahkan shalat wajib lima waktu. Hal itu karena gue ngerasa shalat adalah me time. Saat shalat, gue bisa berhenti dan beristirahat dari segala hiruk pikuk yang bikin kepala penat.  Saat shalat, gue bisa merasa rileks. Saat shalat, gue ngerasa ini adalah waktu khusus buat gue dan Allah tanpa ganguan apapun. Bahkan gue sering ngerasa istirahat gue adalah shalat, selain tidur dan makan tentunya. Gue ngga kebayang bakal segila apa gue kalau gue ngga shalat. J


Shalat adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realitas bumi yang kecil menuju realita alam raya. ia adalah angin, embun dan awan di siang hari bolong nan terik. ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah. (Sayyid Quth dalam Fillah 2010)


Kalian mungkin bertanya sesibuk apa gue? Well, kesibukan gue sama kayak sebagian mahasiswa UI lainnya, kuliah, ngerjain tugas, ikut organisasi dan kepanitiaan. Gue bahkan ngga ikut PIMNAS atau OLIM atau kegiatan lain tapi rasanya udah mau gila. Ngga ngerti lagi.. -_-“

Sekedar catetan, tulisan ini dibuat saat gue stres ma tugas observasi psikologi media dan tugas pengganti UTS berpikir kritis dan Psikologi.
intinya ini tulisan iseng.

daftar pustaka


Fillah. S.A. (2010). Dalam dekapan ukhuwah (5th  ed). Jogjakarta: Pro-U media.

ANALISIS TOKOH HARUN DALAM LASKAR PELANGI

|



PENDAHULUAN
Laskar Pelangi adalah film yang disutradarai Riri Riza dan diadaptasi dari novel Andrea Hirata dengan judul yang sama. Alur film ini adalah campuran, namun, didominasi alur maju. Film ini menceritakan perjuangan sepuluh anak miskin yang berjuang meraih pendidikan. Mereka adalah Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, Kucai, A Kiong, Syahdan, Borek, Trapani, dan Harun. Ibu Muslimah atau bu Mus, guru sepuluh anak tersebut, sering memanggil mereka dengan sebutan Laskar Pelangi. Hal itu disebabkan mereka suka memandangi pelangi setelah hujan turun. Selain itu, karakter sepuluh anak tersebut digambarkan seperti pelangi.
Film Laskar Pelangi diawali adegan saat hari pertama masuk sekolah.  Konflik seolah terjadi di awal film karena diceritakan SD Muhamadiyah Belitung terancam dibubarkan oleh Departemen Pendidikan dan Budaya Sumatera Selatan jika muridnya tidak mencapai jumlah sepuluh orang. Saat Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhamadiyah, akan mengumumumkan sekolah akan ditutup karena murid yang mendaftar baru berjumlah sembilan orang, Harun datang bersama ibunya untuk mendaftar. Harun pun menjadi penyelamat. Tanpa Harun, kesembilan temannya mungkin tidak akan memperoleh pendidikan di SD Muhamadiyah. Mulai hari itulah, perjuangan sepuluh anak-anak tersebut dimulai.
Film ini sarat akan pesan. Salah satu pesannya dan merupakan pesan utama adalah “Pendidikan untuk semua”. Film ini menyadarkan kita bahwa anak-anak miskin dan anak berkebutuhan khusus (ABK) berhak mendapat pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan yang tercantum pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”. Sayangnya, pada praktiknya, tanpa kita sadari, kita kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anak miskin dan ABK. Kondisi tersebut digambarkan oleh film Laskar Pelangi. Film itu menggambarkan bagaimana para pengajar Muhamadiyah dan Laskar Pelangi menghadapi pandangan sinis dari masyarakat sekitar.  Hal itu disebabkan masyarakat Belitung tidak melihat adanya harapan masa depan yang cerah bagi anak-anak miskin dan ABK di Belitung. Di Belitung, hanya anak-anak dengan status sosial ekonomi menengah ke atas yang pergi ke sekolah, sementara sebagian besar anak-anak miskin di Belitung tidak pergi bersekolah, melainkan menjadi buruh membantu penghasilan orang tua mereka.
Berdasarkan pesan utama dalam film Laskar Pelangi,  penulis tertarik menganalisis tokoh Harun. Harun merupakan ABK dengan keterbatasan mental retardation. Penulis kagum melihat semangat Harun untuk bersekolah dengan keterbatasan yang dia miliki. Selain itu, tokoh Harun merupakan penyelamat Laskar Pelangi. Tanpa Harun, tidak mungkin ada cerita mengenai Laskar Pelangi. Harun layaknya kunci yang membuka pintu menuju pendidikan bagi sembilan temannya.
Harun disekolahkan di SD Muhamadiyah oleh ibunya karena tidak tersedianya SLB di daerah tersebut. SLB terdapat di pusat Pulau Bangka dan terlalu jauh untuk menempuh SLB tersebut. Ibu Harun menyadari Harun berhak mendapat pendidikan. Usia Harun saat pertama masuk sekolah tidak sama antara film dan Novel. Di Film, Harun berusia sepuluh tahun saat duduk di bangku kelas satu SD. Sementara di Novel, Harun berusia lima belas tahun saat mendaftar masuk di SD Muhamadiyah.
Dalam film Laskar Pelangi, Harun digambarkan murah senyum, senang berlari, berteman baik dengan Sahara, sering menceritakan kucingnya, dan bertanya kapan liburan sekolah. Gambaran yang hampir serupa juga ditemukan pada novel. Dalam novel, Harun digambarkan tidak bisa menulis,santun, pendiam, murah senyum, hobi menguyah permen asam jawa, kesulitan memahami pelajaran yang diajarkan ibu Muslimah, sering bertanya kapan libur lebaran, menceritakan kucing belang tiga miliknya secara berulang-ulang kepada Sahara, dan bercita-cita menjadi Trapani.
           
LANDASAN TEORI
Pendidikan Mental Retardation 
            Mental retardation atau tunagrahita adalah keterbatasan yang signifikan dalam berfungsi, baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang terwujud melalui kemampuan adaptif konseptual, sosial, dan praktikal. Keterbatasan itu muncul sebelum usia 18 (American Association on Mental Retardation, dalam Hallahan dan Kaufman, 2006). Sementara Santrock (2011) mendefinisikan tunagrahita sebagai “... a condition with an onset before age 18 that involves low intelligence (usually below 70 on a traditional individually administered intelligence test) and difficulty in adapting to everyday life” .Berdasarkan rentang IQ, anak tunagrahita dapat digolongkan menjadi mild, moderate, severe dan profound.
            Program pendidikan untuk menangani anak tunagrahita beragam, mulai dari memisahkan mereka di dalam kelas khusus hingga memasukkan mereka ke dalam kelas inklusi, dimana para anak tuna grahita belajar dan berkegiatan di kelas yang sama dengan anak lainnya. Namun, belakangan ini menurut Westling dan Fox (dalam dalam Hallahan dan Kaufman, 2006), program pendidikan yang sering diberikan untuk anak tunagrahita ada dua macam, yaitu pendidikan inklusi dan pengajaran tentang kemampuan-kemampuan yang berguna serta penekanan pada determinasi dini.

Perkembangan Sosial Emosional
            Dua teori besar yang menjelaskan tentang perkembangan sosial dan emosional individu. Teori pertama adalah Ecological theory yang dikemukakan oleh Urrie Brofenbrenner. Menurutnya, terdapat lima sistem yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap individu, yaitu microsystem, mesosystem, exosystem, macrosystem, dan chronosytem. Bronfenbrenner  percaya sistem lingkungan, mulai dari interaksi interpersonal hingga budaya mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Brofenbrenner, anak paling banyak menghabiskan waktu dalam microsystem, sehingga individu-individu yang terlibat di dalam sistem tersebut, seperti orangtua, guru, dan peer memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan self concept, self esteem, dan perkembangan moral anak.  Teori kedua adalah Psychosocial theory yang dikemukakan oleh Erik Erikson. Menurut Erikson perkembangan psikososial individu merupakan proses bertahap, dimana pada setiap tahap terdapat virtue yang harus dicapai dan krisis yang harus dilewati. Jika berhasil, hal tersebut akan mengantarkan individu pada tahap selanjutnya. Tahap perkembangan psikososial tersebut terdiri dari trust vs mistrust, autonomy vs shame and doubt, initiative vs guilt, industry vs inferiority, identity vs identity confusion, intimacy vs isolation, generativity vs stagnation, dan integrity vs despair

Motivasi
Motivasi adalah the processes that energize, direct, and sustain behavior (Santrock, 2011).  Motivasi dibagi dua berdasarkan sumbernya, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam individu sementara motivasi ekstrinsik berasal dari luar diri individu.
            Terdapat lima perspektif motivasi, yaitu behavioral perspective, trait perspective, humanistic perspective, cogitive perspective, dan social perspective. Behavioral perspective menekankan pada external reward dan punishment dalam menentukan motivasi individu. Trait perspective melihat bahwa sumber motivasi adalah sesuatu yang relatif menetap dalam karakter tiap individu.  Humanistic perspective menekankan pada kapasitas individu untuk mengembangkan dirinya (personal growth), kebebasan untuk memilih, dan kualitas positif yang dimiliki oleh tiap individu. Pada perspektif humanistik, motivasi seseorang didasari hierarki kebutuhan Maslow. Kebutuhan tertinggi dari setiap individu adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Sebelum sampai pada tahap tersebut, individu harus memenuhi kebutuhan lain yang berada pada tahap lebih rendah, yaitu kebutuhan physiology, safety, love and belongingness, self-esteem, cognitive, dan aesthetic. Cognitive perspective berfokus pada competence motivation, yaitu motivasi internal individu untuk mencapai, memberikan atribusi, dan keyakinan bahwa mereka dapat mengontrol lingkungannya. Social perspective menekankan pada kebutuhan individu untuk berafiliasi atau berhubungan dengan individu lain.


ANALISIS
Hal yang disayangkan adalah baik di dalam film maupun novel, tidak diceritakan secara spesifik kategori tunagrahita yang dimiliki Harun. Jika melihat karakteristik yang dimiliki Harun, kemungkinan besar Harun termasuk mild category atau mampu didik. Hal ini disebabkan karakteristik Harun cocok dengan karakteristik mild category, yaitu masih dapat mengikuti pelajaran di sekolah, rentang perhatian pendek sehingga sulit berkonsentrasi, kurang dalam hal kecepatan, kekuatan, dan koordinasi, memperlihatkan rasa malu atau pendiam (Mangungsong, 2009).
Harun beruntung bersekolah di SD Muhamadiyah karena Bu Mus memiliki pola pikir pendidik inklusi walaupun SD Muhamadiyah sebenarnya bukan sekolah inklusi. Bu Mus memberi perlakukan khusus kepada Harun, seperti memberikan kriteria penilaian yang berbeda dengan teman-temannya. Salah satu contoh perlakuan khusus yang diberikan Bu Mus adalah saat pemilihan ketua kelas. Harun yang belum bisa menulis tetap dapat berpartipasi dengan menyebutkan nama yang dia pilih. Harun juga diuntungkan kondisi kelas yang inklusi. Menurut Mangungsong (2009), anak tunagrahita akan menunjukkan perilaku sosial yang lebih baik jika banyak diikutkan untuk berinteraksi dengan anak lain. Hal tersebut didukung hasil penelitian Parmenter, T. R, Einfeld, S. L., Tonge, B. J., dan Dempster, J. A. (1998) yang menunjukkan anak dengan intellectual disability yang bersekolah di sekolah khusus memiliki lebih banyak masalah perilaku dan emosi dibanding anak dengan intellectual disability yang bersekolah di sekolah inklusi.
Masalah lain yang dihadapai anak tunagrahita adalah kesulitan mendapat teman dan mempertahankan hubungan dengan teman tersebut (Mangungsong, 2009). Hal itu disebabkan mereka tidak tahu cara memulai interaksi sosial dengan orang lain dan mereka menampilkan tingkah laku yang membuat teman-temannya menjauh, seperti tidak fokus dan mengganggu. Perilaku serupa sempat ditampilkan Harun. Namun, Harun tidak mengalami penolakan dari teman-temannya karena mereka memahami kondisi Harun. Dalam novel, diceritakan Harun pernah mengganggu latihan band Mahar dengan memainkan drum tidak sesuai intruski Mahar. Namun, Mahar tidak memarahi Harun, melainkan membimbing Harun untuk bermain dengan benar. Hal serupa juga dilakukan Ikal. Harun memberi semangat Ikal, Mahar dan Lintang yang mengikuti perlombaan cerdas cermat, namun seolah memberi dukungan ke tempat lain. Ikal memahami bahwa Harun mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal dalam jangka waktu lama sehingga tidak marah pada perilaku Harun. Penerimaan teman-teman Harun menguntungkan bagi Harun karena siswa yang mengalami penolakan dari peer-group cenderung memiliki self-esteem yang rendah, sementara siswa yang mendapatkan penerimaan dari peer-group cenderung memiliki self-esteem yang tinggi (Santrock, 2011).
Masalah anak tunagrahita ketika di sekolah adalah mereka sering mengalami learned helpeness dan berakibat rendahnya motivasi berprestasi serta self-concept mereka menjadi buruk (Mangungsong, 2009).Untuk mengatasi hal tersebut, Bu Mus melakukan scaffolding, teknik mengajar yang di dalamnya memberikan bantuan terhadap pembelajaran anak disesuaikan dengan level pembelajaran anak. Scaffolding dilakukan oleh Bu Mus sendiri atau melalui peer-tutoring. Pada beberapa adegan film terlihat bahwa saat proses pembelajaran, Harun dibantu memahami pelajaran oleh teman-teman yang mendapat jatah untuk duduk sebangku dengannya. Selain itu,  bu Mus melakukan strategi dengan memberikan tugas yang sama pada Harun namun dengan kriteria penilaian yang berbeda. Misalnya, Harun pernah disuruh membuat prakarya. Namun, Harun malah membawa tiga botol kecap. Hal tersebut tetap diapresiasi oleh bu Mus.
Kesulitan belajar yang dialami anak tunagrahita adalah masalah memusatkan perhatiannya. Anak tunagrahita sering memusatkan perhatian pada benda yang salah, serta sulit mengaloksikan perhatian mereka dengan tepat (Mangungsong, 2009). Hal ini dialami juga oleh Harun. Dalam Novel, Harun sering memandang ke arah lain ketika bu Mus sedang menjelaskan atau ketika Harun melihat ke arah lain saat mendukung Ikal, Lintang dan Mahar ketika lomba cerdas cermat.
Salah satu penanganan Harun yang ditemukan dalam Laskar Pelangi adalah modifikasi intruksional berupa instruksi dalam setting (situasi) kehidupan nyata dengan material sebenarnya (Mangungsong, 2009). Salah satu contohnya adalah ketika Ibu Mus mengajak Laskar Pelangi membersihkan kelas bersama, shalat berjamaah, belajar di luar kelas untuk mengenal alam Belitong, seperti tanaman dan hewan yang ada di Belitung, dan belajar mengenai manfaat tanaman sekitar Belitung. Hal tersebut membantu mengajarkan Harun kemampuan hidup sehari-hari di setting aktual.
             Motivasi Harun bersekolah adalah motivasi ekstrinsik, yaitu kondisi sekolah yang menyenangkan. Di SD Muhamadiyah, Harun bisa berinteraksi dan bermain dengan teman-temannya. Hal tersebut menyebabkan Harun merasa senang di sekolah.    
Sayangnya, motivasi Harun untuk berseolah mendapat tantangan dari masyarakat. Hal tersebut digambarkan secara tersirat. Contohnya di film, digambarkan para guru SD PN menertawakan jawaban ulangan Harun. Selain itu, masyarakat sekitar sering bertanya kepada Bu Mus mengapa masih bertahan mengajar Laskar Pelangi, khususnya Harun karena mereka tidak melihat adanya harapan. Kondisi tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Mangungsong (2009) bahwa tantangan terbesar anak tunagrahita adalah ekpektasi dari masyarakat. Masyarakat secara keseluruhan menaruh harapan yang begitu rendah pada anak-anak tunagrahita sehingga menghambat kemajuan mereka. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa kegagalan anak tunagrahita dalam menyelesaikan pekerjaan bukan karena ketidakmampuan mereka menghasilkan atau menyelesaikan tugas, namun karena alasan-alasan sosial (Mangungsong, 2009).
           
SIMPULAN
Film Laskar Pelangi menekankan pendidikan adalah hak setiap anak, termasuk Harun yang merupakan tunagrahita. Harun termasuk beruntung karena mendapat penanganan yang tepat, yaitu pendidikan inklusi oleh Bu Mus. Selain itu, penerimaan dari teman-temannya membantu mengembangan keterampilan sosialnya. Tantangan terbesar yang dihadapi harun adalah ekspektasi masyarakat. Alangkah baiknya jika kita sebagai masyarakat dapat mencontoh bu Mus dan Laskar Pelangi.




Daftar Pustaka

Hallahan, D.P. & Kauffman, J. M. (2006). Exceptional learners: An introduction to special education. (10th ed.). Massachusetts: Allyn and Bacon.
Hartono, T.D.  (2008, 10 Desember). Harun penyelamat laskar pelangi. Liputan 6.  Retrieved from http://berita.liputan6.com/read/169576/harun-penyelamat-laskar-pelangi. Diakses pada 25 Oktober 2011 pada 10:44 WIB
Hirata, A. (2006). Laskar pelangi. Yogyakarta: Bentang
Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: LPSP3 UI.
Parmenter, T. R, Einfeld, S. L., Tonge, B. J., & Dempster, J. A. (1998). Behavioural and emotional problems in the classroom of children and adolescents with intellectual disability. Journal of Intellectual & Developmental Disability, 23(1),71-77.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology (5th ed.). New York : The McGraw Hill Companies, Inc
Riza, R. (Director). Lesmana, M. (Producer). Aristo, S., Riza, R., Lesmana, M. (Writers). (2008). Laskar pelangi. (DVD). Indonesia: Miles Film & Mizan Production.


Post Signature

Post Signature