Top Social

Tampilkan postingan dengan label sorry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sorry. Tampilkan semua postingan

Maafkan aku yang tidak peka

|

Setelah mengobrol denganmu, kurasa aku sadar salah satu alasan aku ingin bekerja
Selain ingin jadi seperti zainab istri Rasulullah yang bertangan panjang
Karena sering bersedekah dari usahanya
Aku juga takut suamiku seperti ayahku
Meninggalkanku beserta anak-anak sendiri

Aku lupa bahwa kau bukan ayahku
Kau juga tidak mirip ayahku
Kau tidak akan meninggalkanku bukan?
Jika suatu saat nanti krisis datang, tetaplah disisiku
Kita hadapi bersama

Maafkan aku yang tidak peka
Aku pikir keinginanmu memiliki istri yang menyambut anak-anakmu ketika pulang karena kau memiliki masa kecil yang bahagia seperti itu
Dan kau berharap anak-anakmu mengalami hal yang sama
Tanpa kusadari penolakan terhadap permintaanmu mengorek luka lamamu
Maafkan aku

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 dari 1 Juni-30 Juni 2015

Pilihan Allah

|
Beberapa waktu lalu aku teringat percakapanku dengan seorang teman saat aku duduk di bangku SMP. Aku melihatnya sering menghabiskan waktu berdua dengan sahabatnya meski sahabatnya tidak lagi satu kelas dengannya. 
Aku bertanya apa yang dia sukai dari sahabatnya.
Dia menjawab “Dia dan aku suka mengkhayal. Kami sering mengkhayal bersama-sama. Misalnya kami pernah mengkhayal kalau kami sebenarnya bukanlah anak kandung orang tua kami. Aku adalah anak hilang dari pasangan kaya dan dia adalah putri yang hilang dari sebuah kerajaan.”

Mulutku menganga mendengarnya. 
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
I mean jika aku sedang merasa kesal atau marah pada orang tuaku, aku menekan perasaan tersebut.  Tidak pernah sedetikpun terlintas di benakku berandai-andai kalau orangtuaku bukan orang tua yag sekarang.
Aku merasa hal tersebut tidak pantas, membuaku merasa bersalah dan jika melakukannya akan jadi anak durhaka.
Tapi kemarahan tersebut jadi kemarahan terpendam, kadang tanpa kusadari aku jutek sama orang tuaku atau aku malas pulang ke rumah.

Tapi.. jawaban temanku tersebut menyadarkanku pada satu hal:
Allah Maha Kuasa, 
Dia bisa saja memberiku orang tua lain, 
keluarga lain, 
tapi tidak. 
Allah memberiku orang tua yang sekarang.

Ketika aku merasa kesal dengan perilaku orang tuaku, kenapa orang tuaku begini, kenapa begitu. 
Aku ingat kembali bahwa mereka adalah pilihan Allah untukku. 
Aku percaya Allah selalu memberi yang terbaik bagi hambaNya & lagipula Allah Maha Mengetahui, Allah lebih tahu yang cocok untukku.
Aku seharusnya bersabar, bukannya menahan marah ataupun kesal.

Astagfirullah. Maafkan hambaMu ini yang tidak pandai bersyukur.
Maaf karena pernah marah dengan ketetapanMu.


Ya Tuhanku,
 berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”
(QS An Naml: 19)

Image Courtesy of towbar / 6 images at pixabay.com

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 yang berlangsung sejak 1 Juni hingga 30 Juni 2015

Happy Ramadhan

|
Assalamualaikum blog readers
Thank you for reading this blog
I also want to apologize for no updates (although I promised to update this blog once a week)
Originally the reason why i did not update this blog was no internet access at home, then it made me lazy
I am sorry about that ..

I also want to say Happy Ramadhan!
Thank God we still given the opportunity to meet Ramadan
If you play the game,  Ramadan is like a bonus round because any good deeds, we do will be multiplied
Do not you feel lucky?
Hopefully we can take advantage of this month with a maximum and can be returned to fitrah in the end
Keep the spirit of fasting, guys :D

Baca versi bahasa indonesia, disini

Post Signature

Post Signature