Akhir-akhir ini aku merasa seperti remah-remah.
Keberadaanku sama sekali tidak signifikan dan tidak berarti.
Terutama jika melihat social media tentang berita-berita pencapaian-pencapain yang telah dicapai oleh teman-temanku (S2, melakukan kegiatan volunter/aksi social, menikah, dll)..
Baca juga “Lo ngga lanjut sekolah lagi?” has officially become the new “Kapan kawin?”
Di satu sisi, aku bersyukur perasaanku ini membuatku tidak besar kepala, menyadari bahwa masih banyak yang harus kupelajari dan perbaiki
tapi riskan membuatku merasa rendah diri, iri hati dengan nikmat teman..
Intinya melihat pencapaian mereka membuatku merasa aku malu pada diriku sendiri karena aku masih seperti ini..
Aku merasa tidak membuat kemajuan yang berarti..
Aku merasa belum berhasil..
Aku malu karena teman-temanku memanfaatkan waktunya dengan baik sementara aku tidak..
Aku malu karena teman-temanku terlihat sudah sukses
dan aku belum dan merasa masih jauh dari itu...
Kemudian aku bertemu dengan teman-teman yang kuanggap sukses dan aku menemukan fakta ternyata mereka juga merasa insencure dan merasa seperti remah-remah..
:O
*Super shock*
Ternyata beberapa temanku yang S2 merasa remah jika dibandingkan teman-temannya di S2 yang lebih berhasil atau dengan yang sudah S3..
Beberapa temanku yang sudah S2 tapi di dalam negeri merasa remah dibandingkan dengan temannya yang sudah S2 di luar negeri..
Temanku yang sudah sukses karirnya, tapi ternyata merasa remah karena belum menikah..
Teman-temanku yang sudah menikah juga tidak terbebas dari merasa seperti remah-remah (misal karena belum punya anak)..
Membuatku sadar titik yang kukira titik keberhasilan ini tidak berujung/berakhir. Saat aku berhasil naik satu tingkat, aku kemudian melanjutkan membandingkan diri dengan yang di atasku..
Terus-terusan seperti itu..
Dan ternyata aku tidak sendirian, teman-temanku pun begitu..
Kami sama-sama fokus mengejar apa yang belum menjadi milik kami
Know that the life of this world is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children - like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris. And in the Hereafter is severe punishment and forgiveness from Allah and contentment. And what is the worldly life except the chattels of deception. (Q.S. Al Hadith: 60)
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Al Hadith: 60)
![]() |
| Sumber gambar: Va_Selvia |
Tidak lama setelah bertemu dengan temanku, aku mengecek Rank Alexa blogku, The Luckiest & Hana Book Review.
Aku sedih ketika melihat peringkat alexa kedua blogku turun..
Namun, ada yang aneh..
Hana Book Review yang beberapa hari sebelumnya berperingkat 1,6 juta kemudian saat dicek menjadi 1,9 juta.. Namun Alexa malah memberi tanda hijau dan memberi tahu bahwa peringkat blogku naik.. Kok bisa? :/
Ternyata Alexa memberi keterangan bahwa peringkat blogku naik karena dia membandingkan posisi rank sekarang dengan peringkat blogku 3 bulan yang lalu.
Aku pun terdiam dan seolah tersadarkan..
Sering kali aku merasa sedih karena aku merasa tidak membuat progress yang berarti jika sedang melakukan evaluasi harian (membandingkan kondisiku yang sekarang dengan yang kemarin)
Namun jika ditilik lebih jauh ke belakang (3 bulan lalu), aku sebenarnya telah membuat kemajuan.
Mungkin dalam usahaku dalam berusaha menjadi lebih baik, ada masa pasang surutnya.. Tidak bisa selalu naik..
Aku tidak seharusnya bersedih dan kemudian merasa usahaku sebelumnya tidak berarti karena suatu kemunduran...
mungkin Allah ingin mengajarkanku untuk mampu ramah pada diriku sendiri, mengingatkan bahwa it is okay untuk jatuh sesekali, untuk merasa tidak memiliki kemajuan..
Bahwa hasil/pencapaian bukan segala-galanya, yang penting aku harus terus berusaha..
Aku jadi teringat ceramah Ust Nouman Ali Khan; Young People With Vision
Allah melihat usaha kita, bukan hasil kita. Ada Nabi yang tidak berhasil mendapatkan pengikut namun di hadapan Allah, beliau tetap mendapat kedudukan tinggi karena tidak berhenti berusaha.
I told you there are prophet that shown in front of Allah on judgment day with how many followers?
Zero!
So they had zero impact but Allah still gave them the highest rank of Jannah. Why?
Because Allah respect their pursuit, their effort.
They are great, they are tough and they went through it.
If you have progress report for Nuh AS every year.
Let’s see growth chart on how many people become Muslim.
Nuh AS’s annual review.
How many people become Muslim every year? 950 years and like blub, the chart is not going like this (up), it is flat, maybe even goes down, people coming close and ran away.
There is no impact.
But you know what will be respected from Nuh AS?
It is his constant, constant, constant pursuit.
We have to internalize this. You guys should be people of pursuit.
We will have nothing in front of Allah if not our pursuit.
Aku bilang ada nabi yang ditampilkan di hadapan Allah pada hari penghakiman dengan berapa banyak pengikut?
Nol!
Mereka memiliki dampak nol tetapi Allah masih memberi mereka peringkat tertinggi di surga. Mengapa?
Karena Allah menghormati usaha mereka.
Mereka hebat, mereka tangguh dan mereka berhasil melalui semua cobaan.
Jika Anda memiliki laporan kemajuan untuk Nuh AS setiap tahun.
Mari kita lihat grafik pertumbuhan pada berapa banyak orang menjadi Muslim.
Ulasan tahunan Nuh AS ini.
Berapa banyak orang yang menjadi Muslim setiap tahun? 950 tahun dan seperti blub, grafik tidak akan seperti ini ( naik ke atas), itu datar, bahkan mungkin turun, orang-orang datang mendekat dan kemudian lari.
Tidak ada dampak.
Tapi Anda tahu apa yang akan dihormati dari Nuh AS?
Ini adalah usaha yang terus-menerus.
Kita harus menginternalisasi ini. Kita harus menjadi orang yang berusaha.
Kita tidak akan memiliki apa-apa di hadapan Allah jika tidak berusaha.
Btw, aku menemukan kutipan keren dari Juniorku, Nadia.
"Sebenarnya, kalimat-kalimat dari kami yang berusaha menyadarkanmu ini tidak ada artinya jika Allah tidak menggerakkanmu. Apalah arti kalimat, besok bisa saja kamu lupa. Suatu hari nanti, Allah pasti menempamu dengan cara-Nya sendiri. Tempaan itu akan membuat dirimu jauh, jauh lebih kuat. Tiap orang pasti ditempa lewat kejadian-kejadian tertentu."
"Tapi aku takut. Rasa-rasanya aku selalu berada dalam zona nyaman. Sebesar apa pula tempaan dan tamparan untukku nanti?"
"Ibarat obat dan penyakit. Coba, orang yang terkena flu obatnya sederhana, sementara orang yang terkena kanker obatnya pasti bermacam-macam. Banyak, pahit pula. Apa yang kita bicarakan ini menyangkut ego. Semua orang punya ego. Semakin kokoh tembok ego seseorang, tentu butuh usaha yang besar untuk meruntuhkannya, bukan? Tempaan dari Allah itu berfungsi untuk meruntuhkan tembok egomu nanti."
*
Kata-kata berseliweran di laman utama media sosial bernuansa biru. Mataku menangkap satu. "Aku mengagumi seorang teman. Dia supel dan cerdas, tetapi dia berkata dia jelek dan tidak bisa apa-apa. Apa yang lebih rendah daripada menghinakan diri sendiri?" Coba. Apa yang lebih rendah daripada menghinakan diri sendiri, katanya.
Barangkali kita pernah. Aku dan kamu barangkali pernah merasa tidak punya kelebihan sama sekali. Akan tetapi, orang lainlah yang menangkap potensi dan kelebihan kita. Biarkan hatimu percaya sesekali sembari mengenali potensi yang diungkapkan padamu. Percayalah, tetapi jangan sampai membuatmu tinggi hati. Percayalah, karena terkadang kita memang butuh disadarkan sebelum jatuh ke dalam lubang kerendahdirian yang menghancurkan. Rendah hatilah, tetapi jangan sekali-sekali rendah diri.
*
"Orang akan maklum ketika kamu gagal karena berjuang, tetapi ketika kamu mundur sebelum memperjuangkan apa yang orang-orang percayakan padamu, itu sungguh memantik api kemarahan orang-orang itu. Orang percaya padamu, tetapi kamu malah tidak percaya pada diri sendiri. Apatah yang lebih menggemaskan daripada itu?"
*
Beberapa kutipan kalimat berasal dari Ella. Gadis yang menempatkan sastra sebagai bagian dari jiwanya. Terima kasih atas hari kemarin, La.
Semoga bermanfaat.
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Semangat!! Semoga kita menjadi hamba yang mampu bersyukur, tidak mudah menyerah/putus asa dan dibimbing Allah untuk melangkah ke jalan yang benar:D














































