Top Social

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Celebrating Failure

|

Happy Friday Good People ✨✨

I am really happy that weekend is near.  I can't wait another time for me to read ✨✨😊📖
Btw, I have read an inspiring article entitled "Billionaire CEO Sara Blakely Says These 7 Words Are the Best Career Advice She Ever Got

The article told us that during Sara Blakely's childhood, her father would sit her down at the dining room table and ask her the same question: "What did you fail at this week?" And when she told him, he high-fived her.

Every week growing up, her father made her reflect on something she'd failed at, then showed her that not only was she still loved after failing, but she was celebrated for it. Her dad taught her that failing simply just leads you to the next great thing.

I really love this article. I used to believe that I only will be loved if I am perfect/get all A on my report card. I was even thinking to kill myself for the bad score/grade that I got. Now, I knew that I did not need to be perfect/get all A on my report to be love. Failure is not the end of me or my world. It is part of the process. It is part of life. Something that I have to go through. I like this article's message because it is aligned with I have learned in life and I even got parenting technique how to tell my children (if I become parent someday), that I still love them despite the failure they make 😊
.
.
Have great day for all of you.
Hope all is well 💕💕

Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


Lebaran Bersama Abi

|


Bapak (panggilan untuk ayah tiriku) masih tidak dapat mengerti bahwa ada ayah dan anak yang hanya bertemu setahun sekali.

Terakhir kali, aku bertemu dengan Abi (panggilan untuk ayah kandungku) adalah lebaran tahun lalu dan hanya berlangsung satu jam. Hehehe

Kisah pertemuanku dengan abi tahun lalu bisa di baca di Untuk Satu Jam bersama Abi.

Bapak kemudian bertanya tidakkah Abi kangen dengan anak-anaknya dan apakah kami tidak kangen dengan abi?

Keheranan Bapak membuatku merenung. Karena dulu waktu Umi dan Abi masih bersama pun, aku jarang bertemu dengan Abi sehingga aku menganggap jarangnya pertemuan kami  sebagai hal yang wajar. Aku berusaha mengingat bahwa saat-saat aku kangen Abi, hal apakah yang aku lakukan? Well, aku berusaha sms/telepon dan kemudian rasa kangen tersebut bisa diobati.

Saat aku masih merenung, Umi menjawab pertanyaan keheranan Bapak bahwa kami telah terbiasa dengan ketidakhadiran abi.

Bapak kemudian bersikukuh bahwa di hari lebaran, kami harus pergi ke Tegal mengunjungi Abi. 
Aku sih tidak masalah. Kurasa memang sebaiknya pergi menemui Abi di hari lebaran.

Namun, mengingat adikku Huang baru diterima kerja, dan dia hanya mendapat jatah cuti 2 hari, yaitu H-1 lebaran & hari H lebaran, maka kami berencana menemui abi di pertama lebaran, bukan di hari kedua seperti tahun lalu. Jadi, kami akan berangkat sehabis shalat Id.

Adikku Huang merasa keberatan dengan jam keberangkatan kami. Dia ingin kami berangkat siang, sehabis acara kumpul keluarga besar H. Abdul Aziz (keluarga besar Umi).
Bapak berpikir lebih baik pagi agar kami bisa melakukan perjalanan pulang pergi satu hari dan Huang tidak kecapaian.

Kurasa aku bisa mengerti alasan Bapak dan setuju dengan beliau. Mengingat keluarga H. Abdul Aziz memiliki acara arisan rutin tiap 3 bulan, jadi meski rasanya berat tidak bisa bertemu saat lebaran, kurasa aku bisa tetap bertemu mereka saat arisan. Lagipula, tidak ada salahnya berganti suasana lebaran :D

Kami pun akhirnya berangkat dari Karawang jam 8 pagi.
Belajar dari pengalaman tahun lalu, aku mempersiapkan amunisi cukup lengkap.
Power bank, kue yang banyak untuk cemilan di jalan, buku bacaan, dan hand sanitizer.
Kurasa aku tidak akan mati gaya dan bosan di mobil.
Hohoho

Ternyata aku salah.
Selama perjalanan, aku mengantuk. 
Saat memutuskan tidur, aku baru sadar ternyata aku lupa bawa bantal.
Harusnya buat checklist kebutuhan dan barang bawaan biar tidak lupa.
Aku membuat mental note untuk tahun depan: jangan lupa bawa bantal.
Semoga tahun depan tidak ada barang yang terlupa.

Jalan tol cipali dan seterusnya sampai Tegal, alhamdulillah sudah di aspal. Kami tidak lagi melewati jalan berdebu dan tidak lagi mengalami adegan interstellar
Bahkan tolnya sepi dan tidak macet.
Kami pun bisa sampai ke Tegal pukul 10.30 WIB!
Hanya 2,5 jam!
Tidak lagi 5 jam seperti tahun lalu. 
Aku terkejut dari pintu keluar tol brexit ke belokan perempatan ternyata hanya butuh 5 menit, sementara tahun lalu ditempuh dalam waktu satu jam.
Yeah! Hore!
Alhamdulillah :D

Umiku sempat kecewa jalanan lancar, menurut beliau kalau lancar tidak ada yang bisa diceritakan.
Menurutku sih lebih baik lancar. Soal cerita, jalanan lancar pun bisa jadi cerita.

Begitu keluar dari Brexit, Umi bertanya padaku tempat janjian bertemu Abi.
Aku terdiam karena tak punya jawaban.
Jeng Jeng!
Aku lupa tanya.
Aku berasumsi akan bertemu Abi di tempat yang sama dengan tahun lalu yaitu di tempat kerja Abi, kantor PO Dewi Sri.
Aku seharusnya mengecek asumsiku.

Pada pagi hari, aku sudah sms mengabari abi bahwa kami berangkat ke Tegal tapi tidak menanyakan tempat bertemu.
Kubuka Hp, Smsku pun belum dibalas juga.
Aku segera menelepon abi.
Kepanikan sempat mampir ke dalam diriku karena abi tidak mengangkat teleponnya. Pada usaha ketiga, akhirnya teleponku diangkat. Alhamdulillah, Abi bilang abi ada di kantor PO Dewi Sri dan kami akan bertemu disana.
Kami pun pergi ke kantor PO Dewi Sri.

Setibanya disana, Umi dan Bapak bilang biar kami bertiga saja yang turun. Mereka akan pergi ke rumah Bude Topo, tetangga Umi & Abi waktu dulu di Tegal. Sebelum pergi, aku meminjam HP Umi karena diantara kami, kamera HP Umi paling bagus.

Kami agak kaget melihat kantor PO Dewi Sri sepi. Kupikir saat lebaran pun, kantor PO Dewi Sri akan tetap ramai.  Tahun lalu saat hari kedua lebaran kami mampir, ada banyak orang dan bus yang terparkir lebih sedikit. Namun, jika dipikir-pikir ini hari pertama lebaran, aku menduga pasti banyak orang yang ambil cuti/liburan. Siapa juga yang mau bekerja di hari pertama Lebaran.

Aku, Huang dan Memey kemudian mengobrol bersama Abi di ruang tamu/tunggu PO Dewi. Memey menceritakan bahwa dia sedang mengerjakan tugas akhir dan sebentar lagi lulus. Memey meminta Abi untuk datang saat wisudanya. Huang menceritakan pekerjaan barunya. Abi menanyakan apakah aku masih bekerja di SWA. Abi juga sempat bercita tentang parah dan gilanya kemacetan selama masa mudik lebaran. Pada H-1 lebaran, busa menempuh hampir 6 jam dari Brexit ke terminal, meski jaraknya dekat sekali.

Obrolan kami sempat diinterupsi karena ada supir yang datang dan meminta penggantian/pengecekan suku cadang sehingga Abi pun pergi untuk mengecek. Meninggalkan kami di ruang tamu.
Aku pun menelepon Umi dan bertanya kapan Umi akan menjemput kami. Umi malah bertanya balik apakah kami sudah selesai. Aku menjawab belum, hanya ingin mengetahu kapan Umi & Bapak akan menjemput. Umi membalas bahwa Umi & Bapak masih mencari pom bensin dan akan menjemput kami begitu selesai.

Ketika Abi selesai menjalankan tugasnya, kami ngobrol lagi sebentar. Kemudian aku mengusulkan agar kami foto-foto.
Berikut Foto-foto kami:

Aku, Huang, Memey & Abi


Tak lama, Umi menelepon dan memberi tahu bahwa beliau sudah dekat dan akan menjemput kami.
Aku meminta Umi menunggu karena foto-foto kami belum selesai. Abi juga meminta kami menunggu karena sudah memesan mie ayam untuk kami. Awalnya kami bilang mie ayamnya untuk orang-orang di kantor saja. Tapi abi bilang di kantor sepi dan lagipula kami belum pernah makan mie ayam tegal sehingga kami harus mencobanya :9

Kami pun shalat zuhur selama menunggu mie ayam. Selesai shalat, tak lama mie ayam tiba,
Kami pun pamitan pulang. Alhamdulillah perjalanan pulang ke Karawang pun lancar :D

Aku senang lebaran tahun ini bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Abi, tidak hanya satu jam. :D
Dan aku juga bersyukur Bapak mau mengantarku menemui ayah kandungku :)
Alhamdulillah :D
Terima kasih banyak ya Allah :D

P.S. Ternyata mie ayam tegal nya enak :9 Jadi penasaran teman abi beli mie ayam dimana.

O ia, hampir lupaaa...
Hana punya info penting yang ingin Hana bagikan :D
Ada acara silatuhrami keren tanggal 7 & 8 Agustus 2016 nanti dari Diary Hijaber, yaitu Hari Hijaber Nasional :D Bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat :D 
Free entry lho!!

Yuk ikutan! :D


You can't tell

|

Aku sedang melihat foto teman-teman dan kemudian menyadari satu hal: teman-temanku yang berasal dari keluarga broken home terlihat normal. Dari luar, mereka tampak baik-baik saja. Jujur, aku tidak akan menganggap atau mengetahui mereka anak broken home, kecuali mereka mengakuinya.

Mengingatkanku pada diriku sendiri. Dulu aku takut menjadi anak dari keluarga broken home. Aku takut mengalami berbagai dampak buruk jika memiliki keluarga broken home seperti yang tertulis dalam buku teks ataupun artikel psikologi. Aku juga takut persepsi orang terhadapku.

Tapi kalian tahu apa? Tidak ada yang mengira aku memiliki latar belakang keluarga broken home. Jika aku bercerita orang tua kandungku telah bercerai, mereka sering membelalakan mata. Menatapku dengan terkejut.

Tidak kelihatan kan?


Apa kalian juga teman yang berasal dari keluarga broken home? Apakah kalian bisa mengetahui bahwa mereka berasal dari keluarga broken home hanya dengan sekali lihat?

My Favorite Lessons from K-Drama Replay 1988

|



Drama Korea Replay 1988  sudah berakhir! Namun pesan-pesan dalam drama tersebut masih membekas dalam ingatan. Berikut daftar pesan/pelajaran favorit yang kudapatkan setelah menonton drama Replay 1988:

1. Orang tua kita sebenarnya tidak berpengalaman & masih dalam tahap proses menjadi orang tua

Tanpa sadar kita punya ekspektasi tinggi terhadap orang tua kita. Kita sering marah ketika orang tua kita tidak mempelakukan kita dengan adil. Kita sering kali lupa, mereka sebenarnya juga sedang berproses & belajar menjadi orang tua.

Duk Seon & ayahnya 

Ayah dan Ibu minta maaf. Kami tidak tahu.
Saat kakakmu lahir, kami khawatir bagaimana mengajarinya.
Saat kau lahir, kami khawatir bagaimana membesarkanmu. Saat adikmu lahir, kami khawatir membentuknya menjadi orang baik.
Ayah tidak otomatis menjadi ayah saat kau lahir.
Itu pertama kalinya ayah jadi ayah.
Maka... tolong ikhlaskan kali ini saja


 2. Miliki hati yang lapang untuk memaafkan orang terdekat kita.


Orang yang kemungkinan besar menyakiti hatimu adalah orang yang paling dekat denganmu. Hal itu disebabkan mereka tahu banyak tentang kita: kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, rasa insecure kita. Sering kali mereka menggunakan hal tersebut (baik sengaja ataupun tidak) dan berakhir melukai hati kita.



Meski begitu kita harus memiliki hati lapang untuk memaafkan mereka karena menyimpan luka hanya menyakiti diri kita sendiri dan pada akhirnya orang terdekat kita/keluarga adalah tempat kita pulang. Maafkanlah karena pada dasarnya manusia rentan berbuat kesalahan dan pelupa. 


3. Tidak perlu memaksakan kebenaran untuk bahagia. Terkadang kau perlu ilusi.

Masakan Ibu Sun Woo sebenarnya tidak enak. Namun Sun Woo selalu berkata bahwa masakan ibunya enak dan berusaha menghabiskan makanan yang dimasak untuk menyenangkan hati Ibunya.


Sun Woo juga pura-pura tidak tahu ketika Ibunya diam-diam bekerja sambilan untuk membiayai uang kuliahnya.


Apa masalah tenangnya pikiranmu yang penting?
Mencintai bukan cuma masalah ingin memberikan sesuatu
tapi sangat ingin memberikan sesuatu
Bora



4. Orang dewasa juga merasakan sakit, mereka hanya menahannya.


Saat nenek Duk Seon meninggal, Duk Seon keheranan mengapa ayah dan bibinya sama sekali tidak menampakkan kesedihan. Di akhir cerita, kita mengetahui bahwa mereka juga sebenarnya bersedih, mereka hanya menahannya.

5. Bersyukurlah dengan yang kau miliki

Sesuatu yang kita miliki lambat laun terasa membosankan & murahan padahal milik orang lain (sebagus apapun kelihatannya) sebenarnya juga memiliki kekurangan. Kita hanya tidak tahu. Ingatlah, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu bersyukurlah dengan yang kau miliki.

http://www.dramabeans.com/2015/11/answer-me-1988-episode-4/


6. Mengenal anggota keluarga dan membuat keluarga yang harmonis adalah proses seumur hidup. (Jika kau memiliki masalah, mintalah saran dari temanmu).

http://www.dramabeans.com/2015/11/answer-me-1988-episode-4/
 Jung Hwan kebingungan ketika ayahnya marah dan kemudian mendiamkan dirinya, kak Jung Bong dan ibunya. Meski sudah lama tinggal bersama ayahnya, Jung Hwan tidak tahu bagaimana membuat ayahnya tidak lagi marah. Dia pun kemudian curhat kepada Dong Ryong dan mendapat saran untuk menerima kemarahan ayahnya.

http://www.dramabeans.com/2015/11/answer-me-1988-episode-5/


Awalnya Ibu Jung Hwan marah karena suaminya, Jung Bong dan Jung hwan sering tidak membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun ketika ayah Jung Hwan, Kak Jung Bong dan Jung Hwan dapat membersihkan dan merawat rumah dengan baik dengan niat agar Ibunya tidak khawatir, ibunya malah sedih dan tak bersemangat. Hal itu disebabkan ibunya merasa tidak lagi dibutuhkan.

http://www.dramabeans.com/2015/11/answer-me-1988-episode-5/

Saat seorang pria mampu menghibur ibunya, dia bisa mencintai.
Jika ingin ibu bahagia, kata-kata "aku butuh ibu" sudah cukup.


7. Orang yang kau cintai (meski dia balas mencintaimu) belum tentu jodohmu

Siapa yang turut mendukung Jung Hwan menjadi suami Duk Seon? Aku juga. Sayangnya akhirnya kita tahu bahwa Jung Hwan bukan suami Duk Seon meski Duk Seon & Jung Hwan pernah saling mencintai. Then I am crying over my latest fictional-character-crush, Kim Jung Hwan.
Pelajaran yang didapat: cinta saja tidak cukup untuk berjodoh.
Kalau kata Fahd Fahdepie mah "Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya"

source : https://www.instagram.com/oim.illust/
Ya meski tidak bersama Jung Hwan, Duk Seon mendapat pengganti yang lebih baik. Buat yang ship Choi Taek dan Duk Seon, selamat ya! Tebakan anda benar! Selamat berbahagia (^0^)/


Source: http://instagram.com/kdramagram/


"Fate is also timing..."
"In the end, fate and timing do not just happen out of coincidence. They are products of earnest, simple choices that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation... This is what makes timing.
He (Taek) wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light's fault. It was not timing. It was my hesitations."- Jung Hwan

Well, kayaknya cukup sekian pesan favorit yang kudapat dari Replay 1988 (sebenarnya masih banyak tapi aku malas mengetik). Hehehe (^_^)v

Kalau kalian bagaimana? Apa pesan favorit setelah menonton Replay 1988? (^0^)/

Btw, menonton drama ini membuatku ingin makan masakan korea! :9
Aku pergi dulu ya mencari makanan korea!  (~^0^)~
안녕히 가세요!

My Best Moments in 2015

|
Assalamualaikum Good People
:D

I still can’t believe 2015 has already over.
Aku merasa tahun 2015 berlalu begitu cepat.
Mungkin karena ada banyak momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Biar ngga lupa, aku mau merangkum momen-momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Image Courtesy of backjunsung at pixabay.com, edited by me


Di tahun 2015, setelah setengah tahun bergabung dengan majalah SWA, akhirnya aku mendapatkan kartu pres.
Ngga nyangka bakal dapet soalnya aku bekerja sebagai staf riset bukan jurnalis.
Waktu kecil, aku dulu pernah membayangkan kerja jadi wartawan/jurnalis. Kesannya keren dan pinter gitu. Hihihi
Tapi kata Manajerku, staf riset itu bisa disebut juga jurnalis, lebih tepatnya jurnalis data.
Lalu pada bulan September 2015, alhamdulillah aku diangkat menjadi karyawan tetap majalah SWA.
Yeay!




Di tahun 2014 aku menyadari aku ingin menjadi penulis. Sebenarnya keinginan itu sudah ada dari tahun 2011, tapi aku tidak berani memulai.
Hehe
Di tahun 2015, alhamdulillah aku mulai belajar menulis dan berusaha jadi penulis.

“Twenty years from now you will be more disappointed 
 by the things that you
 didn’t do than by the ones you did do. 
 So throw off the bowlines.
 Sail away from the safe harbor. 
 Catch the trade winds in your sails. 
 Explore. Dream. Discover.”
 Mark Twain

Salah satu strategi yang kulakukan adalah mengurangi jumlah bacaan dan menggunakan waktu membacaku untuk menulis. Soalnya saat aku memperhatikan akun-akun Goodreads Author, kebanyakan dari mereka hanya menerapkan target 50 buku setahun. Jadi di tahun 2015, aku tidak menargetkan untuk membaca 100 buku seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya 36. Alhamdulillah meski hanya menargetkan membaca 36 buku ternyata aku tetap membaca lebih dari 100 buku (41 diantaranya adalah komik).
Baca juga Tips Membaca 100 Buku dalam Setahun 

Untuk menulis sendiri, pencapaian tahun ini adalah dua cerpen dan 3 esai pendekku terbit dalam bentuk buku antologi. Alhamdulillah!
Tertarik ingin membaca? Cara mendapatkannya bisa baca di Publikasi


Selain itu, aku juga rajin update blog The Luckiest ini, membenahi desainnya dan ikut komunitas Blogger Muslimah, Indonesian Hijab Blogger dan juga Blogger Perempuan Network. :D Alhamdulillah aku bersyukur bisa bergabung dalam komunitas ini. Aku mendapat banyak kenalan dan ilmu baru!





Terpengaruh oleh temanku, Retno. Di tahun 2015 lalu, aku sering ikutan kuis dan hasilnya 3 kali memenangkan kuis Elexmedia. Aku mendapat hadiah tas dan komik. Alhamdulilah! Makasih banyak Retno dan Elexmedia!


Di tahun 2015 ini juga aku baru tahu ternyata ada cara mendapatkan buku/novel secara gratis, yaitu dengan ikutan giveaway yang diselenggarakan penerbit, penulis dan blogger buku. Dulu aku tahunya dengan cara ikutan giveaway di Goodreads, tapi belum pernah menang. Aku mencoba banyak giveway novel dan alhamdulillah tahun ini berhasil memenangkan novel Replay dan 100 days.




Momen manis dan menyenangkan lainnya adalah momen reuni dengan teman-teman dekatku semasa kuliah (dan hingga saat ini).


Aku senang bisa bertemu mereka mengingat paska kampus, kami jarang bertemu, padahal dulu bisa bertemu setiap hari.  Jadi ketemu sebentar aja rasanya bahagia sekali, dan sudah bisa mengobati rasa kangen. 

I cannot even imagine where I would be today 
were it not for that handful of friends 
who have given me a heart full of joy. 
Let's face it, friends make life a lot more fun.
Charles R. Swindoll

Nah, untuk momen terbaik di tahun 2015 sendiri adalah saat aku memberikan sebagian uang THRku kepada Umi. Seperti yang pernah aku ceritakan dalam post Hadiah, ketika kondisi keuangan keluarga kami sulit, Umi pernah menjual cincin kawinnya untuk uang berobat adikku, memey. Aku bercita-cita suatu saat nanti ingin membelikan umiku cincin untuk menggantikan cincin yang pernah umi jual tersebut. Alhamdulillah akhirnya niat tersebut terwujud juga di tahun 2015.

Saat aku mengajak umi pergi untuk membeli cincin, umi bilang ngga usah soalnya umi sudah punya cincin kawin dari ayah tiriku. Umi malah menyuruhku untuk menabung uang tersebut untuk keperluan lain. Tapi aku bilang padanya mungkin malah aku gunakan untuk kepentingan yang ngga penting lainnya. Hehe. Akhirnya Umi mau menerimanya dalam bentuk uang.

Meski itu keinginan egoisku, ternyata Umi senang. Tiap ada anggota keluarga besar yang datang, Umi menceritakan bahwa beliau senang dengan pemberianku.
Aku tahu pemberianku tidak sebanding dengan segala jasa Umi tapi aku senang bisa membuat beliau bahagia. Melihat senyuman di wajah umi itu priceless.



Alhamdulillah it's been fun year!
Semoga di tahun 2016 ini ada banyak momen-momen bahagia yang menanti kita semua! (^0^)/



http://indonesian-hijabblogger.com/2015/12/ihb-blogpost-challenge-best-moment-2015/

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blogpost Challenge “The Best Moment of 2015”.

The King Speech

|


Pas Mba Evrina mengumumkan giveaway What movie are you di group Blogger Muslimah sempat mengira lomba ini tentang film/karakter yang ceritanya mirip jalan hidup kita, atau tentang film favorit dan hubungannya dengan kepribadian kita :)
kemudian kebingungan memilih film..
Terus pas lagi milih-milih film baru sadar "eh, emang ketentuan nya apa?"
*menepuk jidat*
Pertama kali baca cuma skimming, jadinya lupa..
Hohoho
(^_^)v
Peace ah
Pas baca ulang kententuannya ternyata postingan blognya tentang film yang menginspirasi :D

Film apakah yang menginspirasi Hana Bilqisthi?
Well, banyak sih tapi yang baru-baru ini aku tonton dan belum ditulis di blog adalah The King Speech!

Film ini menginspirasi karena pesan utamanya tentang  harapan bahwa kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik dan dapat bangkit dari keterbatasan.
Poin plus lainnya film ini diangkat dari kisah nyata, jadi ngga bisa bilang "Ah, itu kan cuma fiksi, kehidupan nyata ngga segampang itu."
(^0^)/
Hal lain yang membuatku suka The king speech adalah dapat belajar cara pikoterapi.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang Pangeran Albert (Duke of York), bagaimana dia mengatasi keterbatasan yang dia miliki (gagap) dan akhirnya berhasil menjadi Raja George VI.



https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/a/a0/Kings_speech_ver3.jpg
Image Download from wikipedia





Film ini dibuka dengan adegan Pangeran Albert harus melakukan pidato pertamanya untuk upacara penutupan pameran kerajaan Inggris di Wembley Stadion pada tahun 1925 yang disiarkan oleh radio BBC ke koloni dan dominon Inggris.

Ketika Pangeran Albert membuka mulut, aku tidak mendengar suara apa-apa dan mulai berpikir apa aku salah dengar ya? Kemudian melihat orang yang sepertinya berperan menjadi operator radio memutar-mutar tombol yang kuduga  pengeras suara.

Ooh berarti emang dari filmya.

Kemudian saat terdengar suara, ternyata Pangeran Albert mengucapkan pidatonya dengan terbata, dan kita pun jadi tahu bahwa beliau gagap
:O

Karena itu disiarkan, fakta bahwa beliau gagap jadi diketahui di seluruh dunia.
Kalau jadi beliau, aku mungkin malu dan ingin kabur/menghilang saja.
Alhamdulillah, beliau bukan orang yang mudah menyerah.

Hal tersebut terlihat dari adegan selanjutnya yang diberi keterangan terjadi di tahun 1934 (9 tahun setelah pidato publiknya),  Pangeran Albert sedang menjalani terapi untuk menyembuhkan kegagapannya. Sayangnya beliau belum berhasil sembuh juga. Kegagalan tersebut membuat Pangeran Albert meminta kepada Istrinya, Elizabeth, untuk tidak mengajaknya lagi pergi ke terapi. Dia sudah lelah tidak sembuh juga.

Aku bisa mengerti. Kalau aku terus-terusan mengalami kegagalan saat mencoba sembuh, mungkin aku akan menyerah seperti dia. 

Untung, istrinya tidak menuruti perkataannya karena percaya bahwa dirinya bisa sembuh. Elizabeth kemudian menyamar sebagai Mrs. Johnson datang sendirian menemui Lionel, speech therapist yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang kontroversial.

Elizabeth menjelaskan kepada Lionel bahwa suaminya telah menemui semua orang dan belum ada yang berhasil. Dia khawatir suaminya sudah menyerah.

Dengan percaya diri, Lionel menjawab bahwa suaminya belum bertemu dengannya.
Elizabeth bilang Lionel sangat yakin pada dirinya sendiri.
Lionel membalas bahwa dia percaya pada siapapun yang ingin sembuh.

Adegan ini mengajarkanku untuk percaya diri dalam menangani klien dan juga percaya dan optimis terhadap klien :)

Elizabeth meminta Lionel untuk datang ke tempat mereka tapi Lionel menolak “Maaf, Bu Johnson. Permainanku, Areaku, Peraturanku.”
Jawaban Lionel membuat Elizabeth terpaksa mengungkapkan identitas suami yang sebenarnya.
Lionel kemudian meminta maaf dan menjelaskan bahwa agar metodenya bekerja, dia memerlukan kesetaraan dan kepercayaan penuh di ruang konsultasinya dan tidak ada pengecualian.

Mau tak mau Pangeran Albert pun mendatangi Lionel. Dia terkejut di pertemuan pertama dengan Lionel, dia tidak segera di-treatment. Lionel menjawab bahwa jika dia akan melakukannya jika pangeran Albert tertarik.

Suka adegan ini karena secara tidak langsung mengajarkan bahwa terapis bukanlah tukang sihir yang sim salabim bisa menyembuhkan klien, butuh usaha keras dan kerjasama dari kliennya juga.

Lionel kemudian memaksa Pangeran Albert memanggilnya Lionel tanpa Dr. dan memanggil pangeran Albert dengan panggilan Bertie agar terciptanya hubungan yang setara antara terapis dan klien.

Lionel melanjutkan percakapan dengan bertanya sejak kapan Pangeran Albert gagap dan beliau menjawab bahwa dia sudah dari dulu seperti itu. Lionel membantah dengan bilang tidak ada seorang bayipun mulai bicara dengan gagap.

Ini salah satu adegan jleb juga karena sering kali kita mengira keterbatasan kita itu adalah suatu yang permanen, yang dari lahir memang seperti itu sehingga tidak bisa diubah.

Akhirnya Pangeran Albert menjawab bahwa dirinya mulai gagap saat dia berusia 4/5 tahun.
Lionel kemudian meminta pangeran Albert membaca sambil mendengarkan musik dan hasil bacaannya direkam di piringan hitam untuk membuktikan pada Pangeran Albert bahwa dia dapat berbicara lancar.

Tentu saja trust antara terapis dan klien tidak mudah dibentuk di pertemuan pertama, pangeran Albert merasa dia telah melakukan hal yang konyol. Dia marah pada Lionel dan berhenti membaca. Lionel memberinya kepingan hitam hasil rekaman sebagai hadiah perpisahan.

Di Istana, ayahnya, Raja George V membentaknya agar tidak gagap. Beliau juga memprediksi bahwa Pangeran David, Kakaknya Pangeran Albert,  tidak kompeten menjadi raja dan tidak akan memegang tahta dalam waktu lama sehingga meminta pangeran Albert bersiap-siap melakukan banyak hal untuk mengantikan kakaknya. 

Pangeran Albert kemudian mencoba memutar piringan hitam dari Lionel dan terkejut mendapati dirinya bisa membaca dengan lancar. Dia pun akhirnya kembali ke Lionel dan meminta disembuhkan secara mekanik karena tidak ingin membicarakan masalah pribadi.

Dimulailah sesi terapi untuk merilekskan otot rahang dan memperkuat lidah bersama Lionel. Pertemuan yang intens membuat Lionel dan Pangeran Albert menjadi dekat.
Kedekatan tersebut terlihat ketika Raja George V meninggal, Pangeran Albert yang sedih pergi mendatangi Lionel. Beliau kesal ketika ayahnya tidak memberi tahu langsung kata-kata terakhirnya di hadapannya, "Bertie memiliki keberanian dibandingkan semua saudara digabungkan”.

Dalam film ini, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan seorang pangeran juga berat. Ternyata saat kecil Pangeran Albert“dibetulkan”. Dia sempat kidal dan memiliki kaki bengkok. Selain itu, dia pernah menjadi korban neglect dari pengasuh pertamanya. Pengasuhnya sering mencubitnya jika dia menangis dan tidak diberi makan dalam waktu lama sehingga dia mengalami masalah lambung. 

You don't need to be afraid of things you were afraid of when you were five.

Lionel

Ya, meski sudah mengetahu luka yang kemungkinan menjadi penyebab gagapnya Pangeran Albert, menjadi sembuh tetap membutuhkan perjuangan. Untuk tahu kelanjutannya baiknya tonton sendiri film inspiring ini :)

Yang jelas aku suka sama film ini karena mengajarkan meski memiliki masa lalu kelam dan keterbatasan, bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, keterbatasan bukan berarti masa depan kita akan kelam. Jika Pangeran Albert saja bisa, mengapa kita tidak?
Change may be not easy, but it will be worth to try :)

Dua hal yang aku sesali tidak aku lakukan pada pernikahan orang tua kandungku

|
Otak manusia memiliki kemampuan hebat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita mengambil suatu keputusan dan dampaknya. Tidak sekali dua kali pikiran kita dihinggapi penyesalan mengenai jalan yang tidak kita ambil. I wish I knew what I know now...

Ada banyak hal yang aku sesalkan. Tapi salah satu penyesalan terbesarku adalah mengenai hal yang tidak aku lakukan pada pernikahan orang tua kandungku (buat yang belum tahu, orang tua kandungku bercerai di tahun 2011).
Image courtesy of David Castillo Dominici at FreeDigitalPhotos.net

Aku akan berbagi mengenai dua hal yang aku sesali tidak aku lakukan:
1.       Aku tidak pernah mendoakan pernikahan mereka agar sakinah, mawaddah wa rahmah
Saat Umi menikah dengan ayah tiriku di tahun 2013, sahabatku, Nia mengirim pesan mengucapkan selamat dan semoga pernikahan umi dan ayah tiriku sakinah mawaddah wa rahmah. Pesannya membuatku tertampar karena aku menjadi sadar bahwa aku bahkan lupa soal konsep sakinah, mawadda wa rahmah ini dan tidak pernah mendoakan pernikahan orang tua kandungku. Aku memang telah berusaha membuat kedua orang tuaku rujuk, tapi tidak sekalipun aku berdoa meminta bantuan Allah agar pernikahan mereka menjadi sakinah, mawaddah wa rahmah. Astagfirullah.

Aku sering berpura tampil tegar dan kuat. Aku tidak mau orang lain tahu masalah keluargaku. Aku tidak mau dikasihani. Aku mengandalkan diriku sendiri. Padahal diri ini rapuh dan lemah, seharusnya aku bersandar pada Allah dan mengakui kelemahanku.  

Image downloaded from Pure Matrimony Facebook Fanpage
Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji kekuatan dirimu,
tetapi menguji seberapa besar kesungguhanmu meminta pertolongan Allah
-Ibnu Qayyim Al-Jauziah



2.       Aku tidak berbohong untuk mendamaikan kedua orang tuaku
Selama ini yang aku ketahui berbohong adalah perbuatan tercela. Aku kemudian membaca tentang hadist dibolehkannya berbohong dalam rangka mendamaikan orang yang berselisih.
Aku tidak pernah mencobanya.
Aku sempat menonton dorama Good Life~Arigato, Papa, Sayonara~, 
 グッドライフ~ありがとう、パパ。さよなら~

kaget pas nonton adegan pemeran utama anak kecilnya, Waku membohongi Ibunya yang merasa tidak dicintai karena ayahnya workholic dengan mengatakan bahwa ayahnya bekerja keras karena ingin mengajak mereka liburan. Kebohongan tersebut membuat Ibunya bertahan sampai kemudian Ibunya akhirnya sadar bahwa Waku telah berbohong padanya dan memutuskan pergi.

Aku tahu aku tidak bisa memutar kembali waktu ke belakang tapi pas awal-awal, aku mengalami fase denial, menolak menerima kenyataan dan berharap aku bisa tahu mengenai hal ini lebih awal dan mungkin pernikahan orang tuaku bisa diselamatkan. In the end, we only regret the chances we did not take.





Setelah beberapa waktu, aku tersadar bahwa beberapa kesalahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan agar kita belajar. Jika kita tidak membaut kesalahan tersebut mungkin kita tidak akan mendapat pelajaran/pengetahuan yang kita ketahui sekarang.


Most mistakes are unavoidable.
Learn to forgive yourself. 
It’s not a problem to make them. 
It’s only a problem if you never learn from them.
marcandangel  (via amargedom)

No amount of guilt can change the past, and no amount of worrying can change the future. Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by Allaah’s decree.

If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from it you cannot flee.”

― Umar Ibn Al-Khattaab



Jadi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. 
Sekarang aku mendoakan agar pernikahan Umi dan Ayah tiriku sakinah, mawaddah wa rahmah dan berusaha menceritakan sisi baik mereka jika mereka sedang berselisih.

Bismillah :)
Wish me luck :)

Semoga Allah SWT melimpahkan kedamaian dan keberkahan dalam rumah tangga kita semua, kaum muslimin di mana pun kita berada. Aamiin

Untuk Satu Jam Bersama Abi

|
“Lebaran kali ini mau pergi ke Abi ngga, Je?” tanya Umi dari ujung handphone pada h-5 lebaran.
Aku langsung membayangkan lama dan macetnya perjalanan dari Karawang ke Tegal jika pergi saat lebaran.
“Ngga.” Jawabku
“Kenapa?”
“Males ah. Ke tegal kan lama, belum macetnya.”
“Tapi sekarang kan ada tol cipali. Mungkin sekarang cuma 2 jam ke Tegal.”
Aku terhenyak. Aku lupa sama tol cipali yang baru dibuka dan bagaimana tol tersebut bisa membatu mempersingkat waktu perjalanan.
Anehnya, alih-alih menjawab ya, aku mendengar mulutku kembali mengucapkan “Ngga”
Kebiasan menolak tawaran membuat mulutku otomatis menjawab ngga.
“Ya udah, Umi juga tadi tanya Kakak (adik gue, Huang dipanggil Kakak di rumah), dia juga ngga mau.”
..
Malam harinya aku memikirkan kembali percakapan di telepon dengan umi. Aku jadi teringat selama ini beberapa kali Abi selalu menelpon atau sms memintaku untuk pergi mengunjunginya ke Tegal jika sedang libur. Aku menjawab ya atau terdiam tapi aku tidak pergi juga mengunjunginya. Muncul perasaan tidak enak dan bersalah dalam hatiku.  
Baiklah sebaiknya lebaran kali ini aku mengunjungi Abi.

Keesokan harinya saat aku hendak menelepon Umi untuk memberi tahu bahwa aku berubah pikiran, Umi meneleponku terlebih dahulu dan mengatakan bahwa Kakak berubah pikiran. Dia ingin ke Tegal mengunjungi Abi. Aku katakan pada umiku bahwa akupun berubah pikiran. Umiku kemudian mengusulkan agar ke Tegal pada hari kedua lebaran, aku pun menyetujuinya.
..
Pada H2 Lebaran, kami sekeluarga (aku, ayah tiriku, umi, huang dan memey) berangkat pergi ke Tegal sekitar jam 9 pagi. Sebelum berangkat, Om Agus menyarankan kami untuk masuk tol karawang timur dan mencoba melihat apakah tol cipali macet, jika iya, kami bisa keluar tol cikopo dan kemudian masuk jalur pantura. Tapi di mobil, umi menentang ide tersebut, menurut beliau lebih baik macet-macetan di tol dibanding jalur pantura karena di tol, mobil hanya bertemu mobil sementara di jalan pantura, ada kemungkinan bertemu motor dan kendaran lain.  

Beberapa bagian jalan tol di cipali hanya dibeton tapi tidak diaspal sehingga memunculkan bunyi gesekan ban yang lebih keras. Meski begitu, perjalanan berjalan cukup lancar. Macet hanya dialami saat hendak masuk pintu tol.

Saat jalur terbagi dua jalur dan ada tulisan belok kiri ke pejagan, sementara lurus ke arag Semarang/Tegal, aku pun meminta bapak untuk lurus. Umi meminta Bapak untuk belok karena menurut umi harusnya kita melalui tol pejagan, nanti keluar di brebes kemudian ke tegal. Bapak sudah terlanjur mengambil lurus dan tidak dapat berbelok lagi sehingga mobil mengikuti petunjuk untuk lurus. Betapa kagetnya kami karena tidak lama kami melihat jalan yang masih berupa tanah merah, ada pemberitahuan untuk menyalakan lampu hazard dan batas maksimum mengemudi 40 km/jam. Ternyata kami melewati tol yang masih dalam tahap pembangunan dan sepertinya dibuka untuk mengurai kemacetan. Jalan menjadi penuh kepulan debu.

Umiku mengomel dan berkata seharusnya tadi kami nurut untuk berbelok, aku mengatakan pada umiku bahwa berdasarkan google map jika memilih belok, kami akan terjebak macet. Di google map menunjukkan bahwa warna merah di belokan dan Huang bilang warna jalan merah berarti macet, sementara jalan kami belum ada di google map. Jika melihat mobil di google map, kami seolah berjalan di antara rumah-rumah penduduk.

Adikku memey memilih merekam perjalanan kami dan mengunggahnya di snapchat. Dia dengan nada bersemangat mengatakan yang kami alami mirip interstellar. Di adegan awal interstellar ada adegan para pemerannya naik mobil melewati badai pasir. Nah yang kami alami kira-kira mirip seperti itu. Bukan adegan yang pergi ke luar angkasanya kok. Hehe. Aku bersyukur memey bisa melihat sisi positif dari kejadian ini. Alhamdulillah.





Kami melihat banyak mobil yang berdebu akibat melalui jalan ini sehingga kami tertawa dan kemudian menyadari jangan-jangan mobil kami juga berdebu parah dan orang-orang lain tertawa ketika melihat mobil kami.

Beberapa kali kami berpikir untuk kembali pindah ke jalan biasa. Saat melihat di google map bahwa seharusnya ada jalan lain, ternyata jalan yang kami lalui sudah menjadi semacam jalan layang atau jembatan sehingga sama saja kami menjatuhkan diri jika memilih jalan yang lain.

Ketika berhasil keluar dari tol tersebut ternyata perjalanan belum usai, kami ditahan hampir satu jam karena jalannya sedang dibuka tutup oleh polisi.

Kami berhenti sejenak di sebuah mushala sebelum menuju Abi. Alhamdulillah akhirnya kami tiba pukul 2 siang di Pool Bus PO Dewi Sri dan mendapati bahwa Abi tidak ada, entah beliau sudah pulang atau pergi ke bosnya.

Aku dan Huang  mencoba menelepon, tapi  tidak diangkat, mengirim sms Abi tapi tidak dibalas.
Setengah jam kemudian akhirnya abi datang. Ternyata handphone Abi secara misterius berubah menjadi mode silent padahal beliau tidak mengubahnya seperti itu dan kemudian meminta tolong Huang untuk mengubah mode telepon kembali menjadi normal.

Memey bertanya kepada abi mengenai kesibukan Abi dan kemudian Abi bertanya tentang kuliah memey. Abi juga bertanya tentang perusahaan yang Huang lamar. Aku bertanya pada Abi mengenai kiriman majalah dan buku yang kukirim pada beliau dan kemudian beliau bertanya balik mengapa aku sekarang jarang mengirimi majalah. Aku cuma menjawab Hehe.

Aku menatap abi dan menyadari Abi melewatkan banyak hal dalam hidupku. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Ingin rasanya melakukan perbincangan berdua antara ayah dan anak.

Akhirnya kami foto-foto dan kemudian pamit pulang. Kami hanya menghabiskan satu jam bersama Abi.



Di perjalanan pulang, Bapak (ayah tiriku) berharap tahun depan adikku Huang atau memey sudah dapat mengemudikan mobil sehingga mungkin lebaran tahun depan hanya kami bertiga yang mengunjungi Abi.   
amin.

Alhamdulillah aku bersyukur masih memiliki keluarga dan masih diberi kesempatan bertemu Abi, memiliki ayah tiri yang mau mengantar anak-anak tirinya menemui ayah kandung mereka. Terima kasih banyak ya Allah. :D



Post Signature

Post Signature