Top Social

Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan

Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


Lebaran Bersama Abi

|


Bapak (panggilan untuk ayah tiriku) masih tidak dapat mengerti bahwa ada ayah dan anak yang hanya bertemu setahun sekali.

Terakhir kali, aku bertemu dengan Abi (panggilan untuk ayah kandungku) adalah lebaran tahun lalu dan hanya berlangsung satu jam. Hehehe

Kisah pertemuanku dengan abi tahun lalu bisa di baca di Untuk Satu Jam bersama Abi.

Bapak kemudian bertanya tidakkah Abi kangen dengan anak-anaknya dan apakah kami tidak kangen dengan abi?

Keheranan Bapak membuatku merenung. Karena dulu waktu Umi dan Abi masih bersama pun, aku jarang bertemu dengan Abi sehingga aku menganggap jarangnya pertemuan kami  sebagai hal yang wajar. Aku berusaha mengingat bahwa saat-saat aku kangen Abi, hal apakah yang aku lakukan? Well, aku berusaha sms/telepon dan kemudian rasa kangen tersebut bisa diobati.

Saat aku masih merenung, Umi menjawab pertanyaan keheranan Bapak bahwa kami telah terbiasa dengan ketidakhadiran abi.

Bapak kemudian bersikukuh bahwa di hari lebaran, kami harus pergi ke Tegal mengunjungi Abi. 
Aku sih tidak masalah. Kurasa memang sebaiknya pergi menemui Abi di hari lebaran.

Namun, mengingat adikku Huang baru diterima kerja, dan dia hanya mendapat jatah cuti 2 hari, yaitu H-1 lebaran & hari H lebaran, maka kami berencana menemui abi di pertama lebaran, bukan di hari kedua seperti tahun lalu. Jadi, kami akan berangkat sehabis shalat Id.

Adikku Huang merasa keberatan dengan jam keberangkatan kami. Dia ingin kami berangkat siang, sehabis acara kumpul keluarga besar H. Abdul Aziz (keluarga besar Umi).
Bapak berpikir lebih baik pagi agar kami bisa melakukan perjalanan pulang pergi satu hari dan Huang tidak kecapaian.

Kurasa aku bisa mengerti alasan Bapak dan setuju dengan beliau. Mengingat keluarga H. Abdul Aziz memiliki acara arisan rutin tiap 3 bulan, jadi meski rasanya berat tidak bisa bertemu saat lebaran, kurasa aku bisa tetap bertemu mereka saat arisan. Lagipula, tidak ada salahnya berganti suasana lebaran :D

Kami pun akhirnya berangkat dari Karawang jam 8 pagi.
Belajar dari pengalaman tahun lalu, aku mempersiapkan amunisi cukup lengkap.
Power bank, kue yang banyak untuk cemilan di jalan, buku bacaan, dan hand sanitizer.
Kurasa aku tidak akan mati gaya dan bosan di mobil.
Hohoho

Ternyata aku salah.
Selama perjalanan, aku mengantuk. 
Saat memutuskan tidur, aku baru sadar ternyata aku lupa bawa bantal.
Harusnya buat checklist kebutuhan dan barang bawaan biar tidak lupa.
Aku membuat mental note untuk tahun depan: jangan lupa bawa bantal.
Semoga tahun depan tidak ada barang yang terlupa.

Jalan tol cipali dan seterusnya sampai Tegal, alhamdulillah sudah di aspal. Kami tidak lagi melewati jalan berdebu dan tidak lagi mengalami adegan interstellar
Bahkan tolnya sepi dan tidak macet.
Kami pun bisa sampai ke Tegal pukul 10.30 WIB!
Hanya 2,5 jam!
Tidak lagi 5 jam seperti tahun lalu. 
Aku terkejut dari pintu keluar tol brexit ke belokan perempatan ternyata hanya butuh 5 menit, sementara tahun lalu ditempuh dalam waktu satu jam.
Yeah! Hore!
Alhamdulillah :D

Umiku sempat kecewa jalanan lancar, menurut beliau kalau lancar tidak ada yang bisa diceritakan.
Menurutku sih lebih baik lancar. Soal cerita, jalanan lancar pun bisa jadi cerita.

Begitu keluar dari Brexit, Umi bertanya padaku tempat janjian bertemu Abi.
Aku terdiam karena tak punya jawaban.
Jeng Jeng!
Aku lupa tanya.
Aku berasumsi akan bertemu Abi di tempat yang sama dengan tahun lalu yaitu di tempat kerja Abi, kantor PO Dewi Sri.
Aku seharusnya mengecek asumsiku.

Pada pagi hari, aku sudah sms mengabari abi bahwa kami berangkat ke Tegal tapi tidak menanyakan tempat bertemu.
Kubuka Hp, Smsku pun belum dibalas juga.
Aku segera menelepon abi.
Kepanikan sempat mampir ke dalam diriku karena abi tidak mengangkat teleponnya. Pada usaha ketiga, akhirnya teleponku diangkat. Alhamdulillah, Abi bilang abi ada di kantor PO Dewi Sri dan kami akan bertemu disana.
Kami pun pergi ke kantor PO Dewi Sri.

Setibanya disana, Umi dan Bapak bilang biar kami bertiga saja yang turun. Mereka akan pergi ke rumah Bude Topo, tetangga Umi & Abi waktu dulu di Tegal. Sebelum pergi, aku meminjam HP Umi karena diantara kami, kamera HP Umi paling bagus.

Kami agak kaget melihat kantor PO Dewi Sri sepi. Kupikir saat lebaran pun, kantor PO Dewi Sri akan tetap ramai.  Tahun lalu saat hari kedua lebaran kami mampir, ada banyak orang dan bus yang terparkir lebih sedikit. Namun, jika dipikir-pikir ini hari pertama lebaran, aku menduga pasti banyak orang yang ambil cuti/liburan. Siapa juga yang mau bekerja di hari pertama Lebaran.

Aku, Huang dan Memey kemudian mengobrol bersama Abi di ruang tamu/tunggu PO Dewi. Memey menceritakan bahwa dia sedang mengerjakan tugas akhir dan sebentar lagi lulus. Memey meminta Abi untuk datang saat wisudanya. Huang menceritakan pekerjaan barunya. Abi menanyakan apakah aku masih bekerja di SWA. Abi juga sempat bercita tentang parah dan gilanya kemacetan selama masa mudik lebaran. Pada H-1 lebaran, busa menempuh hampir 6 jam dari Brexit ke terminal, meski jaraknya dekat sekali.

Obrolan kami sempat diinterupsi karena ada supir yang datang dan meminta penggantian/pengecekan suku cadang sehingga Abi pun pergi untuk mengecek. Meninggalkan kami di ruang tamu.
Aku pun menelepon Umi dan bertanya kapan Umi akan menjemput kami. Umi malah bertanya balik apakah kami sudah selesai. Aku menjawab belum, hanya ingin mengetahu kapan Umi & Bapak akan menjemput. Umi membalas bahwa Umi & Bapak masih mencari pom bensin dan akan menjemput kami begitu selesai.

Ketika Abi selesai menjalankan tugasnya, kami ngobrol lagi sebentar. Kemudian aku mengusulkan agar kami foto-foto.
Berikut Foto-foto kami:

Aku, Huang, Memey & Abi


Tak lama, Umi menelepon dan memberi tahu bahwa beliau sudah dekat dan akan menjemput kami.
Aku meminta Umi menunggu karena foto-foto kami belum selesai. Abi juga meminta kami menunggu karena sudah memesan mie ayam untuk kami. Awalnya kami bilang mie ayamnya untuk orang-orang di kantor saja. Tapi abi bilang di kantor sepi dan lagipula kami belum pernah makan mie ayam tegal sehingga kami harus mencobanya :9

Kami pun shalat zuhur selama menunggu mie ayam. Selesai shalat, tak lama mie ayam tiba,
Kami pun pamitan pulang. Alhamdulillah perjalanan pulang ke Karawang pun lancar :D

Aku senang lebaran tahun ini bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Abi, tidak hanya satu jam. :D
Dan aku juga bersyukur Bapak mau mengantarku menemui ayah kandungku :)
Alhamdulillah :D
Terima kasih banyak ya Allah :D

P.S. Ternyata mie ayam tegal nya enak :9 Jadi penasaran teman abi beli mie ayam dimana.

O ia, hampir lupaaa...
Hana punya info penting yang ingin Hana bagikan :D
Ada acara silatuhrami keren tanggal 7 & 8 Agustus 2016 nanti dari Diary Hijaber, yaitu Hari Hijaber Nasional :D Bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat :D 
Free entry lho!!

Yuk ikutan! :D


Untuk Satu Jam Bersama Abi

|
“Lebaran kali ini mau pergi ke Abi ngga, Je?” tanya Umi dari ujung handphone pada h-5 lebaran.
Aku langsung membayangkan lama dan macetnya perjalanan dari Karawang ke Tegal jika pergi saat lebaran.
“Ngga.” Jawabku
“Kenapa?”
“Males ah. Ke tegal kan lama, belum macetnya.”
“Tapi sekarang kan ada tol cipali. Mungkin sekarang cuma 2 jam ke Tegal.”
Aku terhenyak. Aku lupa sama tol cipali yang baru dibuka dan bagaimana tol tersebut bisa membatu mempersingkat waktu perjalanan.
Anehnya, alih-alih menjawab ya, aku mendengar mulutku kembali mengucapkan “Ngga”
Kebiasan menolak tawaran membuat mulutku otomatis menjawab ngga.
“Ya udah, Umi juga tadi tanya Kakak (adik gue, Huang dipanggil Kakak di rumah), dia juga ngga mau.”
..
Malam harinya aku memikirkan kembali percakapan di telepon dengan umi. Aku jadi teringat selama ini beberapa kali Abi selalu menelpon atau sms memintaku untuk pergi mengunjunginya ke Tegal jika sedang libur. Aku menjawab ya atau terdiam tapi aku tidak pergi juga mengunjunginya. Muncul perasaan tidak enak dan bersalah dalam hatiku.  
Baiklah sebaiknya lebaran kali ini aku mengunjungi Abi.

Keesokan harinya saat aku hendak menelepon Umi untuk memberi tahu bahwa aku berubah pikiran, Umi meneleponku terlebih dahulu dan mengatakan bahwa Kakak berubah pikiran. Dia ingin ke Tegal mengunjungi Abi. Aku katakan pada umiku bahwa akupun berubah pikiran. Umiku kemudian mengusulkan agar ke Tegal pada hari kedua lebaran, aku pun menyetujuinya.
..
Pada H2 Lebaran, kami sekeluarga (aku, ayah tiriku, umi, huang dan memey) berangkat pergi ke Tegal sekitar jam 9 pagi. Sebelum berangkat, Om Agus menyarankan kami untuk masuk tol karawang timur dan mencoba melihat apakah tol cipali macet, jika iya, kami bisa keluar tol cikopo dan kemudian masuk jalur pantura. Tapi di mobil, umi menentang ide tersebut, menurut beliau lebih baik macet-macetan di tol dibanding jalur pantura karena di tol, mobil hanya bertemu mobil sementara di jalan pantura, ada kemungkinan bertemu motor dan kendaran lain.  

Beberapa bagian jalan tol di cipali hanya dibeton tapi tidak diaspal sehingga memunculkan bunyi gesekan ban yang lebih keras. Meski begitu, perjalanan berjalan cukup lancar. Macet hanya dialami saat hendak masuk pintu tol.

Saat jalur terbagi dua jalur dan ada tulisan belok kiri ke pejagan, sementara lurus ke arag Semarang/Tegal, aku pun meminta bapak untuk lurus. Umi meminta Bapak untuk belok karena menurut umi harusnya kita melalui tol pejagan, nanti keluar di brebes kemudian ke tegal. Bapak sudah terlanjur mengambil lurus dan tidak dapat berbelok lagi sehingga mobil mengikuti petunjuk untuk lurus. Betapa kagetnya kami karena tidak lama kami melihat jalan yang masih berupa tanah merah, ada pemberitahuan untuk menyalakan lampu hazard dan batas maksimum mengemudi 40 km/jam. Ternyata kami melewati tol yang masih dalam tahap pembangunan dan sepertinya dibuka untuk mengurai kemacetan. Jalan menjadi penuh kepulan debu.

Umiku mengomel dan berkata seharusnya tadi kami nurut untuk berbelok, aku mengatakan pada umiku bahwa berdasarkan google map jika memilih belok, kami akan terjebak macet. Di google map menunjukkan bahwa warna merah di belokan dan Huang bilang warna jalan merah berarti macet, sementara jalan kami belum ada di google map. Jika melihat mobil di google map, kami seolah berjalan di antara rumah-rumah penduduk.

Adikku memey memilih merekam perjalanan kami dan mengunggahnya di snapchat. Dia dengan nada bersemangat mengatakan yang kami alami mirip interstellar. Di adegan awal interstellar ada adegan para pemerannya naik mobil melewati badai pasir. Nah yang kami alami kira-kira mirip seperti itu. Bukan adegan yang pergi ke luar angkasanya kok. Hehe. Aku bersyukur memey bisa melihat sisi positif dari kejadian ini. Alhamdulillah.





Kami melihat banyak mobil yang berdebu akibat melalui jalan ini sehingga kami tertawa dan kemudian menyadari jangan-jangan mobil kami juga berdebu parah dan orang-orang lain tertawa ketika melihat mobil kami.

Beberapa kali kami berpikir untuk kembali pindah ke jalan biasa. Saat melihat di google map bahwa seharusnya ada jalan lain, ternyata jalan yang kami lalui sudah menjadi semacam jalan layang atau jembatan sehingga sama saja kami menjatuhkan diri jika memilih jalan yang lain.

Ketika berhasil keluar dari tol tersebut ternyata perjalanan belum usai, kami ditahan hampir satu jam karena jalannya sedang dibuka tutup oleh polisi.

Kami berhenti sejenak di sebuah mushala sebelum menuju Abi. Alhamdulillah akhirnya kami tiba pukul 2 siang di Pool Bus PO Dewi Sri dan mendapati bahwa Abi tidak ada, entah beliau sudah pulang atau pergi ke bosnya.

Aku dan Huang  mencoba menelepon, tapi  tidak diangkat, mengirim sms Abi tapi tidak dibalas.
Setengah jam kemudian akhirnya abi datang. Ternyata handphone Abi secara misterius berubah menjadi mode silent padahal beliau tidak mengubahnya seperti itu dan kemudian meminta tolong Huang untuk mengubah mode telepon kembali menjadi normal.

Memey bertanya kepada abi mengenai kesibukan Abi dan kemudian Abi bertanya tentang kuliah memey. Abi juga bertanya tentang perusahaan yang Huang lamar. Aku bertanya pada Abi mengenai kiriman majalah dan buku yang kukirim pada beliau dan kemudian beliau bertanya balik mengapa aku sekarang jarang mengirimi majalah. Aku cuma menjawab Hehe.

Aku menatap abi dan menyadari Abi melewatkan banyak hal dalam hidupku. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Ingin rasanya melakukan perbincangan berdua antara ayah dan anak.

Akhirnya kami foto-foto dan kemudian pamit pulang. Kami hanya menghabiskan satu jam bersama Abi.



Di perjalanan pulang, Bapak (ayah tiriku) berharap tahun depan adikku Huang atau memey sudah dapat mengemudikan mobil sehingga mungkin lebaran tahun depan hanya kami bertiga yang mengunjungi Abi.   
amin.

Alhamdulillah aku bersyukur masih memiliki keluarga dan masih diberi kesempatan bertemu Abi, memiliki ayah tiri yang mau mengantar anak-anak tirinya menemui ayah kandung mereka. Terima kasih banyak ya Allah. :D



Pilihan Allah

|
Beberapa waktu lalu aku teringat percakapanku dengan seorang teman saat aku duduk di bangku SMP. Aku melihatnya sering menghabiskan waktu berdua dengan sahabatnya meski sahabatnya tidak lagi satu kelas dengannya. 
Aku bertanya apa yang dia sukai dari sahabatnya.
Dia menjawab “Dia dan aku suka mengkhayal. Kami sering mengkhayal bersama-sama. Misalnya kami pernah mengkhayal kalau kami sebenarnya bukanlah anak kandung orang tua kami. Aku adalah anak hilang dari pasangan kaya dan dia adalah putri yang hilang dari sebuah kerajaan.”

Mulutku menganga mendengarnya. 
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
I mean jika aku sedang merasa kesal atau marah pada orang tuaku, aku menekan perasaan tersebut.  Tidak pernah sedetikpun terlintas di benakku berandai-andai kalau orangtuaku bukan orang tua yag sekarang.
Aku merasa hal tersebut tidak pantas, membuaku merasa bersalah dan jika melakukannya akan jadi anak durhaka.
Tapi kemarahan tersebut jadi kemarahan terpendam, kadang tanpa kusadari aku jutek sama orang tuaku atau aku malas pulang ke rumah.

Tapi.. jawaban temanku tersebut menyadarkanku pada satu hal:
Allah Maha Kuasa, 
Dia bisa saja memberiku orang tua lain, 
keluarga lain, 
tapi tidak. 
Allah memberiku orang tua yang sekarang.

Ketika aku merasa kesal dengan perilaku orang tuaku, kenapa orang tuaku begini, kenapa begitu. 
Aku ingat kembali bahwa mereka adalah pilihan Allah untukku. 
Aku percaya Allah selalu memberi yang terbaik bagi hambaNya & lagipula Allah Maha Mengetahui, Allah lebih tahu yang cocok untukku.
Aku seharusnya bersabar, bukannya menahan marah ataupun kesal.

Astagfirullah. Maafkan hambaMu ini yang tidak pandai bersyukur.
Maaf karena pernah marah dengan ketetapanMu.


“Ya Tuhanku,
 berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”
(QS An Naml: 19)

Image Courtesy of towbar / 6 images at pixabay.com

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 yang berlangsung sejak 1 Juni hingga 30 Juni 2015

To Love or To be Loved?

|
My best friend Nia, asked me a question:  If you can only choose one, which one will you choose, to love or to be loved?

I want both of them,  to love and to be loved.


Being deeply loved by someone gives you strength, 
while loving someone deeply gives you courage.
 -Lao Tzu

But if I can only choose one, I will choose to love. \(♥▽♥)/
Image Courtesy of Serge Bertasius Photography at www.freedigitalphotos.net

I learned this through my personal experience, and maybe I can classified them into two category sample cases.

First case: Father.
A girl first love is her father.
I love my father and was longing to be loved by my father since I was young.
But somehow I am not sure whether he loved me or not.

At first what I did is waiting to be loved.
Then one day I realized maybe my father love me in his own way and did not express his love like I want to.
So I start express my love for him, like text him first and said "I love you" first to him.
Now, my father often texts me, too.
The same things happened with my stepfather, He often approached me and tried to get to know me.
So I said I love him too, and now my siblings said somehow they felt my stepfather often put me first when compared to my siblings.

  
2nd case: Friends
There are friends who happy to see me and admired me, while I feel nothing towards them.
I did not hate them nor I love them. I just feel casual.
But they consistently show they like me and then I started to like them, too.

Do you know what? In psychology, there is a phenomenon called reciprocity of liking, which means tendency for people to like others who express liking for them. Find out more, here.
When I learned about this, I was like.. what?!
I could be influenced by others,that way?
Then I am thinking, it is better be the one who influence rather than being influenced.
Hehehe ( It may be related to my high need in power and control)

If you are one of my loyal readers, you might know that I looking for best friend for a long time. One of my mistake is I am looking for a friend who gave me what I want. I thought that what best friends means, friends who always there for me and can give what I need.
Alhamdulillah I finally realized that I was wrong. 


Like Salim A Fillah said 
"How difficult to find a true friend." | "It's hard because you're looking for friends who give. Friend who need to be given, ah, there are many of them. "

I started looking and giving. Several attempt failed but I learned a lot of valuable lessons along the way and I believe help me prepare for next relationship. 
So now, here I am, I have friends whom I love and they love me. (っ˘▽˘(˘⌣˘と)
Alhamdulillah. ^0^

What I am trying to say is when you choose to love, there is probability that you will be loved. You could get both of them, to love and to be loved.

That's my "final" answer, I think....
until I come across a friend and he was given this question "If you can only choose one, which one will you choose, to love or to be loved?"
and his answers stunted me.
"To love." He answers firmly. "because  None of you truly believes until he loves for his brother what he loves for himself."

Ah!
How wonderful his answer. I suddenly felt ashamed and realized I am not good muslim,
I choose to love because I want to love and to be loved, while he chooses to love because he want to practice a hadith that he knew.
I felt his answered more sirence and pure than mine. Wallahu alam.
I should start fix myself and strive to be a better Muslim.
Wish me luck guys!
 (งˆヮˆ)ง

So, to love or to be loved? 
To love \(♥▽♥)/




Baca versi bahasa Indonesianya disini



Why I love to watch Return of Superman (Korean Variety Show)

|
The Return of Superman (Superman is back) is a Korean variety show on KBS World where the celebrity dads are looking after their kids while the moms are away from home.

Image download from The Return od Superman KBS World Facebook Fanpage



I love watch this variety show because it reminds me that:

* Allah is Al-`Adl (The Just)

If you look carefully, you will realized that every family have their own strength weakness, and their own problem. There are no perfect family so if you see a family that somehow seemed "perfect".
They are not. They seemed "perfect" because they grateful for what they have and choose to love their family's members despite their imperfection.

Sometimes we envy the happiness of others. When those things happen, remember and believe that God is The Just. Things that make other people happy is not necessarily make you happy, or vice versa. Allah knows His servants better.

Family is a beautiful thing
Family are beautiful people
That's why I like family, because they are beautiful
Lee Haru

* Allah never gives his servant, a trial that is too great too bear.

The children often give their parent, especially the dads, "challenges", such as being picky eater, hard to sleep, often cried a lot.
At first, The dads shocked, confused, helpless, and often show a lot incompetencies when handle their children. But in the end, they learn that they can overcome the challenges that has been given by their children (They learn how to cope with the situation). Alhamdulillah, It is work out in the end \(^0^)/

*The greater the test and trial, The greater the reward
Raising children maybe hard and need a lot of sacrifice, but it worth the pain. The dads often admit the children gave them great amount of happiness, a richer and fuller life.

"No matter how tired I am outside, 
I feel my heartbeat rise when I go home."
Lee Hwijae


Bingung? Yuk baca versi bahasa Indonesianya disini


Hadiah

|
Seorang anak tidak bisa memilih lahir dari ibu seperti apa. Tapi jikapun Allah memberiku kesempatan untuk memilih, aku akan tetap memilih umiku (panggilanku untuk Ibu) sebagai ibuku. Bagiku beliau adalah hadiah terindah dari Allah. Ibuku adalah sosok yang menginspirasiku dan menjadi motivasiku untuk tidak menyerah pada keadaan.

Image courtesy of Master isolated images at FreeDigitalPhotos.net

Tahun 1995, bisnis usaha Abi (panggilanku untuk ayah) di Tegal bangkrut dan rumah kami disita. Kami sekeluarga pindah ke rumah Kakek di Karawang. Abi bilang kami akan pindah untuk sementara, tapi ternyata kami tidak tinggal untuk sementara. Aku tidak mengerti kenapa tapi Abi tidak juga mendapatkan pekerjaan atau memulai usaha.

Aku ingat saat itu saking tidak ada uangnya dan adik perempuanku memey jatuh sakit, Umi pun terpaksa menjual cincin nikahnya.  Cincin nikah Abi sudah lebih dulu dijual untuk kebutuhan yang lain.

Temanku bilang bukan tugas seorang anak untuk memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak, tapi aku tahu kondisi keluargaku dan saat kecil aku sering mengkhawatirkan apakah aku bisa makan atau tidak. Aku tahu Umi dan Abi bertengkar saat mengira kami sedang tidur. Aku sebenarnya tidak tidur dan mendengar pertengkaran tersebut, aku cuma bisa menangis. Ada saat dimana ketika mendengar pertengkaran mereka, aku mengira mungkin lebih baik aku tidak dilahirkan sehingga tidak menjadi beban kedua orang tuaku. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku harus sukses dan punya banyak uang mungkin pertengkaran orang tuaku akan berhenti.

Abiku bekerja serabutan menjual majalah, tidur dari masjid ke masjid di Bandung dan jarang pulang. “Setiap keluarga diberi ujian. Ada yang diuji dengan harta, anak yang bermasalah, pasangan, kesehatan dan lain-lain. Alhamdulillah Umi bersyukur dianugerahi anak yang sehat, pinter dan nurut. Dan sepertinya ujian umi adalah suami.” Ujar beliau.  Uang penghasilan abi tidaklah cukup mengingat kebutuhan aku dan adik-adiku makin banyak menginjak usia masuk sekolah, akhirnya Umilah yang pergi bekerja. Awalnya, Umi bekerja menjadi guru honorer di STM Tekmako.  Hal yang aku kagumi adalah meski bekerja, Umi tetap memasak,mengurus rumah, dan mengajari aku dan adik-adikku belajar.

Alhamdulillah saat 2004, Umi ikut tes CPNS dan lolos menjadi guru Bahasa Indonesia di MAN Subang. Semenjak itu, Umi pulang pergi Karawang-Subang. Aku tidak tahu umi dapat kekuatan dari mana. Umi memulai harinya pukul 4, memandikan kakekku, memasak, menyiapkan seragamku, baru berangkat ke Subang. Meski perjalan Karawang-Subang memakan waktu 4 jam, tapi saat pulang ke rumah, Umiku masih sanggup mengajariku dan mendengarkan cerita keseharianku di sekolah.

Umiku sering melihat sisi positif dari masalah. Umiku tidak menyesali bisnis Abi bangkrut. Umi bilang mungkin itu teguran dari Allah karena saat bisnis abi berjalan baik, umi dan Abi jadi lalai shalat. Selain itu, Allah mengingatkan bahwa kekayaan itu titipan sementara, yang bisa diambil sewaktu-waktu, apalagi jika tidak bisa menggunakan titipan tersebut dengan baik.

Kalau aku jadi Umi sepertinya aku tidak akan sanggup bertahan. Aku mungkin ambruk dan ingin bunuh diri dari awal.  Ngomong-ngomong soal ambruk, Umiku akhirnya ambruk juga setelah dua tahun menjalani pulang-pergi Karawang-Subang. Beliau jatuh pingsan di kamar mandi dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Saat itu, aku sangat ketakutan akan kehilangan Umi.  Aku berdoa agar Allah menyelematkan Umi dan aku bilang aku berjanji akan jadi anak yang baik. Alhamdulillah Allah mendengar doaku, Umi selamat dan beliau masih hidup sampai sekarang. Akibat ambruk beliau, Umi pun berusaha mengurus mutasi dari MAN Subang ke MAN Karawang. Alhamdulillah proses mutasi berjalan lancar. Saat ini Umiku mengajar di MAN Karawang.

Saat akhirnya Umi bercerai dari Abi pun,  Umi tidak menyesal pernah menikah dengan Abi. Umi bilang kalau tidak menikah dengan Abi, mungkin umi tidak akan memiliki kami bertiga, aku, adikku Huang dan Memey. Dan Kalian tahu apa? Umi menikah dengan Abi melalui ta’aruf, tapi beliau tidak kapok untuk ta’aruf lagi. Padahal aku sempat berpikir bahwa pernikahan mereka gagal karena menikah melalui ta’aruf, mungkin mereka kurang benar-benar mengenal dan tidak saling mencintai. Saat ini, umiku sudah menikah lagi dengan Ayah Tiriku dan mereka menikah melalui ta’aruf.Kulihat mereka bahagia dan pernikahan mereka mengajariku untuk tetap optimis memandang pernikahan dan ta’aruf.

Umiku juga merupakan sahabatku. Aku sering cerita tentang masalahku pada beliau. Beliau pendengar yang baik. Beliau sering bertanya agar bisa memahami duniaku, seperti ikut buat akun email, facebook, dan twitter.  Beliau tidak menggurui, alih-alih bilang jangan pacaran, beliau bertanya padaku apa keuntungan pacaran dan apa kekurangannya, dan silahkan tentukan sendiri.

Hal yang aneh dari Umi adalah beliau terlalu percaya padaku. Ada juga saat aku mulai kecanduan HP,HP sulit lepas dari genggamanku dan mengganggu konsentrasi belajarku . Teman-temanku yang mengalami hal yang sama, HPnya disita oleh orang tua mereka, sementara umi cuma bilang “Kalau mau pinter dan sukses, ya belajar, kalau ngga mau ya udah, kan yang nanggung resikonya jeje (aku dipanggil jeje di rumah) sendiri.”
Aku bengong tidak percaya dan bertanya “Jadi umi ngga bakal sita HP Jeje?”
 “Ngga. Taruh aja Hpnya di samping jeje, terus buka buku belajar. Jeje bisa kok.”

Pernah juga aku meminta izin untuk pergi malam untuk kursus GO dan kursus bahasa Inggris di CEL dengan teman lelakiku, beliau mengizinkan. Beliau bisa saja mencurigaiku berbohong, tapi tidak. Emang aku tidak bohong juga sih tapi teman-teman perempuanku yang lain ditentang oleh orang tua mereka untuk pergi malam-malam, apalagi perginya sama temen lelaki sehingga aku sering jadi perempuan satu-satunya di kelas kalau ada kursus mendadak atau tambahan yang jadwalnya malam.

Melihat Umi yang hebat, aku skeptis bisakah aku menjadi ibu yang baik seperti Umi. Aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding Umiku. Saat kuutarakan hal tersebut, Umi bilang “Tahu ngga? Umi bisa kayak sekarang karena belajar Umi ngga langsung jago, dulu Umi ngga bisa apa-apa, ngga bisa masak, ngga bisa gendong bayi, dan lain-lain. Umi belajar pelan-pelan saat menikah. Umi yakin jeje juga pasti bisa.”
Mendengar hal tersebut, aku jadi ingat saat masih aku masih kecil, masakan Umi sering kali keasinan. Kalau sekarang? Well, masih sering keasinan juga. Hahaha. Tapi itu tidak seberapa dibading kebaikan dan usaha Umi selama ini. 

Amin. Semoga aku bisa jadi ibu hebat seperti Umi.
Jazakillah khair, Umi.
Alhamdulillah terima kasih telah menghadiahiku Umi sebagai ibuku, ya Allah.

"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”


My Funny Step Father

|
I used to think that finding my parent were divorced and had step parent was an unfortunate event
I just found out that it is actually a blessing
I just have to shift my way of thinking
Somebody just asked me if I have to choose between lose my parent because they died or they divorced (got separated) , what will I choose?
I don't want both of course
But I knew that if any of those things happened, I should do not mind any of them because I believe that Allah always gives best for His servant :)

The one who asked me, explained that if my parent divorced, I still can see both of them while if they are dead, I can't see them anymore

So divorce is not that bad
I just realized recently that having step family made me loved by more people.
Now I have two fathers that love me :D
I also got more people to be loved by me
Is not it great?
Alhamdulillah :D

Btw, I just found out that my step father is so funny. During ramadhan, He kept forgetting kolang kaling (glibbertjes) and every time he asked for kolang-kaling, he said kongkalikong (partner in crime) instead.
He is also often confused if my mom and my family from my mother's side talk in sundanese
He asked "Who is wae? Why he is often called?"
wae in sundanese  (may be it is similar to adverb in English) has a lot meaning and it differ depends the context, so it kinda hard to explain to him.
Wae can mean only, too, etc.
But since he thought wae was a person, We laughed at him.
Last Eid, my family walked to mosque near our house, my father complained that the sermon is in English and I got puzzled to hear that because I didn't remember the time when the sermon is in English. When I arrived at mosque, I realized that English is not really mean English for my father. It is a metaphor. What my father mean was Sundanese (a language that he did not understand) because the Ustad spoke in Sundanese
:D


My First Day at Work and Three Investigators

|


Alhamdulillah :D

I started  working in SWA Magazine as Research Executive on 4th August

On my first day, I was very nervous and anxious.
I did not have a good night sleep, I woke up several times
Plus I got flu and it made feel uncomfortable
When I try to take picture of me on first day of work, I shocked that I found my self frowned
(Oh no! I delete it instantly)
I don't want to be remembered as rude at first day at work (since I believe first impression matter)
It also made me realize I am still have to learn to control my emotion
Some people asked me my last employment and It made me wander "Did I not look like fresh grad? Did I look old?" Hope not.


Fortunately, the HR, Mba Rifka is really nice, she often initiates talk, and smile  :) She was the one who accompany me during human resources tours, I met a lot people, but also forgot most of them when I got home ( I regret did not write them in notes as soon the tours end)

I also told by Mba Rifka that the research department and library are in the same place. I think it is great. I will be surrounded by books \(^o^)/
(actually when I did intern at Indian embassy, my work area is surrounded with books also). I am really lucky!

When I looked at it, the place is so quiet and gave old and unfriendly feeling
Maybe because only few people in. Only two staff (Mas Armi and Mas Rizki) came to work, the rest was still on Eid leave. They were welcoming me but the I feel awkward.
Then I realized I did not what to do at my first day at work so I google it, then found  19 Things You Should Do On Your First Day Of Work ,  10 Tips for Your First Day of Work , and How to have a good first day at work .
After reading that, I started the to pick up line by asking how they first day at work.
Mas Rizki said that he did not get assignment at first day at work
Mas Armi told me to take it slow and can use the computer and the internet

Later, after lunch break, I was told by Mas Rizki that I have an assignment to update list as introduction.
When I worked on it, my flu seemed get worse, I felt shortness of breath and eye irritation so I stopped for awhile.
Somehow it made stressed, but Alhamdulillah I got really good news.
ヾ(@°▽°@)ノ
It made my day  ヾ(@°▽°@)ノ 
I found out that Gramedia republished Three Investigator Series (((o(*゚▽゚*)o))
Three Investigator #1
Three Investigator #2
Three Investigator #3
Three Investigator #4 
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
I love Three Investigator!
Abi (my dad) gave me the 9th book "The Mystery of the Screaming Clock" four years ago and I fell in love instantly and want to buy the rest but I found it published on 1980s. 
I want to buy the republished edition but I remembered that I promised my mom that I will not buy any book for this month 
then I remembered that I have a wish that if I get married I want my future husband gave a complete series Three Investigator as "mahar"
I took this republish as a good sign :D
I mean if Gramedia did not republish Three Investigator Series, it will be hard request from me to my future husband (whoever you are) to find Three Investigator Series, and as far as I know, mahar have to easy to find.
Thankfully, Gramedia republished Three Investigator Series so my wish can come true
(or maybe next month I will try persuade my mom to allow me to buy books again)
Alhamdulillah! Thank you Allah! Thank you Gramedia! “ヽ(´▽`)ノ”

Baca versi Indonesianya disini

Mulligan, The Second Chance

|
Mulligan in a golf game, happens when a player gets a second chance to perform a certain move or action. The practice is also sometimes referred to as a "do-over."




I hated Abi (father) because to me he was not a good father

My father is not perfect , he did not work like other fathers , did not care, did not play with his children , rarely present ( as it does not matter ) , and many others

Until one day I discovered my father fell ill
that moment I realized , I hate him because I love him
I have a lot of hope and expectation to him , but a lot of them did not come true
leaving  my disappointment piled , I did not forgive him and then it turned into hatred

Then one day, I read  Tere Liye's facebook status
 "We can not choose our parents , can not choose born from a wealthy family , king , handsome - beautiful parents and etc. But it does not mean we can not choose to be grateful at this time. There is always a reason why we live this way. And if we do not understand , then it does not mean God is not fair .- Tere Liye , the novel " Rembulan Tenggelam Di Wajahmu " 
After I read the facebook status, I am aware of one thing : our parents are God's destiny and choice. 
God knows the best for us. God can not be wrong in choosing our parents.
The best and most suitable father for me by God is abi.

I thought I would give it a second chance and try to forgive Abi.
I try to look my father’s positive side so I can see him in positive light.
The things that I admire about my father are he is diligent in prayer (he pray 5 times a day), read quran diligently, often go to the mosque , choose a good mother to her children ( umiku ), he remained in Islam , he was not drunk, alcoholic, gambler , smoker neither do domestic violence

I guess if my dad is perfect, I might have loved him so much and maybe I 'll love him so much and it exceeds my love of God
"A father could be God for his children when all affairs met with ease. Without a struggle . " - Yusuf Mansur .. "

When I think I gave my dad a second chance, God remind me quite politely.
He reminds me of the command that the child should be devote (honour and obey) to both parents. The command is not saying "devote to your parents if your parents are kind to you."
No!
The command does not imply any order requirements / criteria that must be adhered to parents. 
The command is telling me as a child to serve/devote to parent, however the condition of the parents. 

Even in Islam , if our parents are non Muslim, the obligation to honour and obey their parents remain as the obligation of a child, as long as the parents do not make the child disobey Allah and do  things that are contrary to Islam.

I suddenly embarrassed. I was arrogant. Astagfirullah!
I thought when I gave my dad a second chance to be a good father ,my father should thank me.
It turns out I was wrong.  I am the one who should be thankful because God gave me a second chance to be a dutiful daughter to my parents.
thank you very much , O God
: ' D

Another important lesson is when I am trying forgive my father, I am also trying heal my wound and forgiving my self.

Bismillahirrahmanirrahim
"... But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

video with similar message:




baca versi bahasa indonesia, disini

Father

|



When I heard my mother will get married again, I'm skeptical.
I know second marriages are more vulnerable than the first marriage
because each person thinks they have learned from their mistakes,
 but in fact is not necessarily true,
 the same problem can or will reappear.

Besides, I'm afraid I can not adapt well.
Father figure is rarely present in my life, 
what will I feel when suddenly there is a strange man who would show up every day to be my father? 
From what I heard,  my prospective father has 4 children.
 How will I adapt to my new four siblings?
 What will I call them?
Will am I no longer the first child?
There are many questions running in my mind that scared me and made me anxious.
Unfortunately, between my brother and sister, I am the only one who opposed  this marriage.
I even cried in front of my mom, but my mom said "Je, everyone has already agreed. Only you are not. "
I did not believe it when I heard that. Did my siblings not worry like me?
I mean a man and four new sibling will be a big change in life, right?
I can not imagine adaptation process! It will be hard! I presume

My brother, Huang said "What’s the problem, Je? Don’t shut yourself! Be more open! Why not try it once?"
Nia, my bestie, said I am worried because I am the first child and I feel responsible as head of the family if the marriage fails.
Maybe.. It sounds logical to me.

Do you know what?
The marriage turns out okay, not scary.
My step dad is a realistic person.
My family did not move to Jakarta (my step father come from Jakarta) and his family did not move to Karawang.
The new family had not stayed under the same roof. We live apart.
He comes to Karawang every weekend, it made the adaptation process easier for me, because it is not sudden and big changes. 
I and my siblings do not have to call him father/abi, we can call him, Om yul.
His children also call my mom, aunt Ema. 
The best part is that I was not forced to meet with my step siblings.
The second marriage turns out fine, the change was not as drastic and as difficult as I feared
Alhamdulillah : D


And now, a year has passed. I think it's time that I started to change my stepdad nickname.
Yes, a few days ago, I started calling him Dad, not Om yul anymore.
My tongue is still numb and sometimes, I forget and call him Om Yul again.  

But I am going to change, to be better :D



baca versi Indonesianya, disini.

Post Signature

Post Signature