Top Social

Tampilkan postingan dengan label semester 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semester 1. Tampilkan semua postingan

Lulus 3.5 Tahun

|
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah  


Banyak yang bertanya mengenai pengalaman Hana yang lulus 3,5 tahun :) Hana akan mencoba  menjawab :)



Kenapa Hana  pengen lulus 3,5 tahun?
Keinginan untuk lulus 3,5 tahun itu udah ada semenjak Hana masuk kuliah. Alasan utama sih masalah ekonomi, mengingat yang menanggung biaya hidup dan kuliah Hana itu Umi (Allah menitipkan rejeki Hana via Umi). Hana ngga mau ngerepotin Umi lama-lama. :) Biaya kuliah dan hidup satu semester kan lumayan gede juga :) Kalau bisa diusahakan untuk berhemat, mengapa ngga? Alasan lain pengen lulus 3,5 tahun karena ngerasa keren aja kalau bisa lulus 3,5 tahun. Hahahahhaha

Sebenarnya sempet mau membuang keinginan lulus 3,5 tahun mengingat Hana mengambil peminatan psikologi sosial dan klinis, dimana kedua peminatan tersebut masih ada mata kuliah wajib di semester tujuh dan juga belum nemu (kenal/tahu) senior yang dengan peminatan sosial klinis lulus 3,5 tahun.
Hal yang membuat terpacu lagi untuk lulus 3,5 tuh karena Hana udah sesumbar bilang pengen lulus 3,5 tahun dari awal masuk kuliah jadinya umi, abi  dan temen-temen hana banyak yang nanya rencana Hana untuk lulus 3,5 tahun. Hahahahahah

Alhamdulillah Hana ketemu Kak Asma dan curhat sama dia. Kak Asma bilang mungkin kok peminatan sosial-klinis lulus 7 semester, cuma akan banyak pengorbanan, dan mungkin akan banyak malam-malam tanpa tidur. Habis curhat sama Kak Asma, jadi makin optimis :) Alhamdulillah :D

Selain sama Kak Asma, Hana juga curhat sama Kak Senza, Kak Reno dan Kak Ninis mengenai kegamangan Hana untuk lulus 3,5 tahun dan menemukan pesan yang intinya : Doing something later is not the same with doing something better :D

Hana sempet berpikir kalau mengerjakan skripsinya di semester delapan, mungkin Hana akan lebih baik dan lebih fokus jadi hasilnya lebih baik tapi sebenarnya belum tentu. Ngga ada jaminan kalau skripsi Hana akan lebih baik kalau dikerjakan di semester delapan. :)


Bagaimana cara menentukan topik skripsi?

Ini termasuk hal yang sulit karena minat Hana broad banget. Kayaknya hampir semua topik di psikologi Hana suka. Hahahah. Diperparah dengan sifat Hana yang banyak maunya dan perfeksionis. Dari semester enam itu udah mulai baca-baca jurnal dan skripsi-skripsi senior tapi semua berasa seru. Hm..
Sampai tiba-tiba Nia nyeletuk "Han, loe mau ta'aruf kan? Kenapa loe ngga neliti tentang itu aja?"
0_0
Eh emang ta'aruf bisa diteliti ya?
Berangkat dari celetukan Nia, Hana menemukan bahwa ternyata udah pernah ada penelitian ta'aruf tahun 2005-2006 tapi kebanyakan kualitatif.
Setelah itu, bertekad meneliti tentang ta'aruf. Hohohoho :D



Sejak Kapan Mulai Cari PS (Pembimbing Skripsi)?
Hana baru mencari PS saat liburan dari semester enam ke semester tujuh. Sebenarnya pengen mencari PS dari semenjak semester 6 karena dapet nasehat kalau yang lulus 3,5 tahun itu memulai skripsi dari jauh-jauh hari. Intinya lebih cepat mulai, lebih baik. Tapi berhubungan semester enam masih galau topik, masih ragu juga untuk mencari PS, mengingat saran dari Mba Ira (manajer pendidikan) , PS adalah dosen yang ahli pada topik yang kita inginkan untuk skripsi. Sempet stress juga sebenarnya karena Hana masih belum dapet PS di semester enam karena Hana melihat beberapa teman Hana yang memang niat untuk lulus semester tujuh udah dapet PS dan anehnya lagi semester ini tuh Hana selalu telat daftar payung seorang dosen yang Hana suka topiknya. Entah kenapa Hana gagal mulu, keduluan orang. 

Nah setelah Hana tahu Hana pengen skripsi tentang ta'aruf, dari Hana liat sih skripsi senior yang ta'aruf itu pembimbing skripsinya Prof. Sarlito, tapi beliau udah pensiun, ngga mungkin Hana meminta tolong beliau jadi PS. Terus Hana inget kalau pakar pernikahan itu Mba Adriana. Jadinya memberanikan diri untuk menghubungi Mba Adriana . Alhamdulillah Mba Adriana mau untuk bertemu Hana :) Dari pertemuan dengan Mba Adriana, beliau secara halus menolak Hana karena beliau sibuk tapi karena tahu Hana minat ta'aruf, Mba Adriana merekomendasikan Hana untuk bertanya kepada Mba Sari. Sempet sedih karena ditolak Mba Adriana tapi inget cerita salah seorang temen Hana yang juga ditolak pada kesempatan pertama mencari PS. I feel better. Terus nanya deh ke Mba Sari dan alhamdulillah Mba Sari bersedia \(^0^)/

Nah, setelah tahu Hana ingin lulus 3,5, Mba Sari menyarankan untuk mencari teman satu payung, sebenarnya pengen ngajak MSC tapi Hana tahu mereka ngga minat topik beginian. Hahaha .. Akhirnya Hana mengajak Ria dan Shahnaz yang kebetulan magang bareng. 

Dari pencarian PS ini  Hana belajar bahwa "Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu memulai, tapi siapa yang berhasil mencapai finish lebih dulu :)". Insight ini Hana dapatkan karena beberapa temen Hana yang mendapat PS dan memulai pengerjaan skripsi terlebih dahulu dibanding Hana, ternyata batal lulus 3,5 tahun. Terus ada juga temen Hana yang memulai skripsi lebih telat dari Hana ternyata berhasil lulus 3,5 tahun.

:)

Sampai sini dulu ya :)
Nanti insya allah disambung lagi :)
Tenang aja, masih banyak yang pengen Hana ceritakan terkait pengalaman mengerjakan skripsi ini :)


Baca juga Tips Lulus Kuliah S1 3,5 tahun

Eh...

|


Awal2 masuk kuliah di UI, hana sering sekali tidak menyadari bahwa tidak semua orang mengeti bahasa sunda. Selama ini, jika Hana menggunakan bahasa Indonesia dengan dicampur bahsasa sunda, teman-teman Hana mengerti. Namun, Ada begitu banyak mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah dan memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Seharusnya Hana menyadari mereka tidak memiliki latar belakang yang sama dengan Hana. Seing sekali hana tanpa sadar menggunakan kata dalam bahasa sunda dan hal tersebut membuat teman-teman Hana kebingungan.

Story 1
Tokoh : Hana, Fatma dari Jawa, Billy dari Jakarta
Kalau digambarkan posisi duduk kami:

fatma
Fatma
Hana
Billy
 



Ketika itu mata kuliah Logpenil (Logika dan Penulisan Ilmiah) dan seperti biasa dosennya terlambat datang, Hana pun memnutuskan membeli risoles ke Fatma. Setelah gigitan pertama, entah kenapa Hana menginginkan cengek.
Hana:    Fatma, gue mau cengek dung
Fatma:  ....
Hana:    Fatma! Fatma!
Karena Fatma tidak menoleh juga, hana pun meminta bantuan Billy
Hana:    Bil, tolongin Hana dung. Panggilin Fatma dong!
Billy:       Ok.
Kemudian Billy menepuk pundak Fatma.
Billy: Fatma! Fatma!
Fatma :  (menoleh) apa Bil?
Billy : dipanggil hana
Hana      : minta cengek dong
Fatma   :  (menatap dengan wajah bingung) ngga ada cengek, Na.
Hana      : Ada. itu yang ijo.
Fatma   : Ooh.. cabe rawit. ini cabe rawit hana bukan cengek
Hana      : sama ja.  cengek tuh basa sundanya cabe rawit.

See?

Keanehan lain adalah bala-bala (gorengan yang terbuat dari adonan tepung terigu bercampur sayuran) ternyata di Depok disebut bakwan. Waktu Hana mesen bala-bala ke tukang gorengan, dianya malah diem aja. -.-“ Hana pikir tukang gorengannya bakal ngerti habis depok kan masih bagian dari Jawa Barat.

terus pernah juga pas Hana ketemu anak2 cowok politik 2010 di Asrama dan bertanya kenapa  pake Bondu? Muka mereka semua kebingungan. Untung temen hana, Jeany ngerti maksud hana dan ngejelasin ke anak2 co politik bahwa maksud hana tuh bando. Muka Hana merah padam saat itu.

Hahaha… ternyata istilah Hana sering pake waktu di Karawang tidak berlaku umum :D
 Pernah mengalami kejadian yang serupa? XD
               



Catatan yang perlu Hana ingat selama jadi mahasiswa tingkat satu di Psikologi UI:

|
Semester 1
*      Hana ternyata tidak sekuat yang Hana kira. Hana mudah terpengaruh oleh lingkungan. Ketika temen2 di sekitar Hana melakukan prokastinasi (menunda mengerjakan tugas), Hana mengikuti mereka. Hana lupa bahwa Hana bukan tipe yang bisa mengerjakan tugas dengan waktu yang mepet/ mendadak . Hasilnya hana stres dan hasil pekerjaan hana buruk.


*      Ketika banyak kakak angkatan yang bilang kalau Psikologi Umum Satu (psium satu) itu susah. Well, sebagian besar dari mereka ngga terang2an bilang susah sih, mereka bilang secara tersirat contoh: “Hati2 ya sama Psium satu”. ketawa terus mendesah dan bilang “Semangat ya!”, dan juga “Kalau psi umum satu, harus rajin baca ya!”. Ada juga yang bilang terang2an “Psi um satu tuh matkul terberat di semester satu”.  Hana mempercayai mereka dan membuat Hana membenci Psium I. Hasilnya walaupun Hana belajar tapi karena hana menganggap Psi umum I itu susah jadinya emang susah. Padahal Psi Umum I ngga sesusah itu. Ketika baca bagian psikoanalisis, Hana langsung suka Psi Umum I dan Psi Umum terasa tidak lagi menyulitkan. Alhamdulillah Hana lulus Psi Umum I dengan nilai B+. Pelajaran: Jangan percaya mentah-mentah ucapan senior, mesti chros-check. Percayai ucapan senior jika dia menjawab pertanyaan dari berbagai sisi atau tanya ke senior yang sifat dan cara belajarnya mirip dengan kita.
Contoh:  Hana: Kak, dosen Y itu gimana ya?
                 Senior1: dia tuh killer
                Senior2: pelit nilai, perfeksionis, standar tinggi
                Senior 3; baik. Dia dosen favorit kakak.
                Nah lho? Kok bisa beda?
Dari pengalaman hana sih hal itu disebabkan sifat orang yang beda-beda jadinya tiap orang punya tipe dosen ideal masing2. Ada yang suka dosen yang disiplin, ada yang suka dosen murah senyum, ada yang suka dosen murah nilai, ada yang suka dosen yang perfeksionis. Jadi, jangan percaya mentah-mentah ucapan senior. Alami aja dulu.

*      Hana keseringan memaafkan diri Hana sendiri. Ketika Hana merasa mengantuk, Hana langsung tertidur tidak memaksa diri Hana untuk tetap bangundan belajar. Bisa dibilang niat Hana buat belajar tuh kurang.

*     
Hana membohongi diri Hana sendiri. Hana males belajar Bimbingan Pendidikan tetapi Hana malah bilang kalau Hana ngga suka Bidik.

*      Hana belajar kalau Hana udah ngga bisa multi-tasking. Pelajaran dan kegiatan perkuliahan dan organisasi itu membutuhkan konsenterasi penuh, ngga bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain.


*      Hana belajar kalau belajar dan mengerjakan tugas2 kuliah itu ngga semudah tugas SMA sehingga ngga bisa diselesaikan dalam satu waktu. Hana harus nyicil dan menuliskan rencana pencicilan tugas di buku agenda.


*      Buku agenda sangat penting. Salah satu cara efektif untuk manajemen diri dan biar ngga lupa janji ataupun tugas.


*      Dont judge book by its cover. Banyak temen2 Hana yang keliatannya hobi main tapi nilai2nya bagus.


*      Hana jadi orang yang sekuler (sekuler yang Hana maksud bukan memisahkan urusan dunia dan agama tetapi lebih fokus pada urusan dunia dibanding urusan agama atau akhirat). Hana merasa Hana berusaha dapat A  di kuliah sementara soal ibadah, Hana cuma mengerjakan yang wajib2 aja. Rasanya hana hanya berusaha mendapat nilai C dari Allah.


*      Mata Kuliah yang membuat Hana bertahan menghadapi semester 1 adalah Logpenil (logika dan penulisan Ilmiah). Di mata kuliah ini, Hana belajar cara nulis yang baik. Hana merasa beruntung masuk psikologi UI.

Semester 2
*      Bulan pertama semester 2, tiap minggunya hana pulang ke karawang karena mau ke dokter gigi. Selama di karawang kerjaan Hana malah internetan atau nonton, ngga belajar.


*      Waktu semester satu, Hana jarang nonton film dan baca komik, jadinya waktu liburan semester satu, selain ngurusin himaka (himpunan mahasiswa karawang), kerjaan hana hampir nonstop baca komik online.  Hana pun berpikir jika Hana baca komik pas semester biasa, mungkin pas liburan Hana ngga bakal kayak gitu lagi. Tahunya malah keseringan baca komik dan nonton film.


*      Hana menjadi melankolis, sering meragukan diri sendiri, sering mengeluh, perfeksionis, dan sering mempertanyakan alasan Hana masuk psikologi.


*      Pas semester 2, Hana baru menyadari bahwa semester satu itu ngga ada apa2nya dibanding semester 2. Hana jadi malu sama diri Hana sendiri yang sering ngeluh di semester 1. Bodohnya, Hana mengulangi kesalahna yang sama. Hana merasa semester 2 ini berat dan bukannya malah makin rajin belajar, Hana menyibukkan diri dengan kegiatan lain dan membenarkan diri Hana yang tidak belajar karena alasan sibuk.


*      Belajar dari kesalahan semester 1, maka semster 2 ini, alhamdulillah Hana udah ngga nunda kalau ngerjain tugas tetapi...


*      Hana ngga nyicil belajar. Walaupun Hana udah tahu kalau Hana tuh cocoknya belajar pakai mind map dan buat rangkuman, selama semester 2 ini rasanya berat sekali menggerakkan tangan Hana untuk menulis mind map/rangkuman. Ujung2nya Hana belajar pake  SKS(sistem kebut semalam)


*      Hana sering merasa ngantuk atau lapar di kelas dan ngga memperhatikan dosen. Hana yang selama ini sering duduk di barisan depan, semester 2 ini sering memilih duduk di barisan kedua. kepada posisi duduk berpengaruh? well, ada penelitian yang hasilnya orang yang duduk di barisan depan itu biasanya punya motivasi belajar yang lebih tinggi dibanding yang milih duduk di belakang.(note : ingetin hana ya buat cari siapa penelitinya)

*     
Walaupun udah belajar dari semester 1 jangan mudah terpengaruh ucapan orang, kali ini Hana menganggap faal itu sulit karena banyak teman2 Hana yang mengeluh tentang faal, Hana juga jadi percaya faal susah.  Lalu setelah uts, Hana sadar dan bertanya kembali kenapa Hana memilih untuk percaya faal susah? Kenapa Hana membenci faal? Kalian tahu, Hana rasa kesalahan terbesar Hana adalah memilih untuk percaya bahwa faal itu susah padahal Hana bisa memilih untuk menggangap faal menyenangkan dan belajar dengan rajin

*      Hana belajar bahwa motivasi internal/intrinsik itu perlu. Hana yang di semester 2 gagal melakukan delay of gratification─menunda melakukan sesuatu yang menyenangkan karena percaya ada hadiah yang lebih besar di masa yang akan datang. Hana sering lebih memilih untuk melakukan sesuatu menyenangkan dan menunda belajar.


*      Hana belajar untuk mengingatkan diri Hana sendiri bahwa Hana mencintai psikologi dan jika ada mata kuliah atau tugas yang tidak Hana sukai, Hana harus mau menerima dan mengerjakannya. Hana sudah memilih jurusan psikologi dan seharusnya Hana bertanggung jawab dengan pilihan hana dengan cara mau menanggung resiko yang ada, entah itu baik atau buruk.


*      Hana belajar untuk berusaha sebaik mungkin yang Hana bisa. Hasilnya serahkan pada Allah. :) Salah satu alasan Hana menganggap nilai penting karena Hana punya anggapan bahwa Hana disukai karena Hana pintar. Sejak kecil, orang2 selalu memuji Hana pintar, bukan cantik, ramah, ataupun karakter yang lain. Hana jadi mebuat kesimpulan bahwa kepintaran merupakan sumber self-esteem Hana dan menentukan apakah Hana punya teman atau tidak. Waktu SMP, Hana sering bertanya “If I am not smart, will you still be my friend?” Rata2 yang Hana tanya selalu menjawab iya. Akan tetapi, Hana tidak mempercayai mereka karena Hana menyadari ada begitu banyak sifat menybalkan yang Hana miliki, seperti egois, keras kepala, tukang ngatur, serius (ngga bisa diajak bercanda), maksa, ceroboh, sakit2an dan judes. Kalau ada temen2 Hana main ke rumah, keluarga Hana sering bertanya apa yang membuat temen2 Hana tetap bertahan menjadi teman Hana karena saking judesnya Hana. Seiring berjalannya waktu, Hana belajar bahwa Hana bisa punya banyak teman selama Hana bersikap ramah dan baik dengan mereka.


*      Perbuatan itu tergantung niat, kalau niat Hana kuat buat belajar, Hana bisa begadang sampai malem. Selain itu, waktu awal masuk UI, Hana berniat ingin jadi mahasiswa yang mengabdi untuk masyarakat tapi akhirnya Hana malah jadi mahasiswa yang ngurusin diri sendiri. Hana menyadari banyak tindakan Hana didasari niat untuk kepentingan pribadi dan duniawi. Hana lupa kalau melakukan segala sesuatu harus diniatkan karena Allah.


*      Waktu awal semester satu, hana sangat bersemangat ingin masuk bem ui tetapi karena Hana merasa galau karena Hana merasa Hana menjadi seorang yang sekuler (terlalu fokus pada masalah duniawi), jadinya Hana memilih masuk SALAM UI dengan harapan Hana tidak lagi jadi orang yang sekuler. Kenapa Hana ngga mau jadi orang yang terlalu fokus sama masalah duniawi? Well, seinget Hana, Allah pernah berfirman Umat Islam itu adalah umat terbaik sepanjang masa karena seimbang antara dunia dan akhirat. 

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas: 77)”

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,  menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. ... "(Q.S. Ali-Imran: 110)
Hana merasa Hana belum menjadi seorang muslim yang seimbang antara masalah dunia dan akhirat. Keputusan memilih SALAM, bukan bem ui sempet membuat Hana menangis mengingat cita2 Hana masuk bem ui udah lama banget. Akan tetapi, Hana takut kalau Hana masuk bem ui akhirnya Hana tetep jadi fokus sama masalah dunia karena Hana itu belum bisa jadi orang yang memprioritaskan masalah agama Contoh: Hana niat menghapal Juz 30 tetapi akhirnya ngga berhasil karena setiap ada waktu senggang, Hana memilih untuk mengerjakan tugas atau mengerjakan hal lain.

Sekedar catatan, i'm not trying to say bahwa yang masuk SALAM UI tuh lebih religius daripada yang masuk BEM UI atau yang masuk BEM UI tuh ngga religius. Hana tidak bermaksud bicara seperti itu. Keputusan ini lebih karena Hana tahu/kenal diri Hana sendiri. Hana belum bisa menjadi muslim yang baik sehingga hana berharap dengan memilih lingkungan yang memang fokus pada dunia islam (dalam hal ini, SALAM UI), Hana bisa jadi muslim yang lebih baik.
Ada kok temen Hana yang masuk BEM baik UI maupun BEM fakultas tetapi tetep bisa menjaga ibadahnya seperti hapalan quran, ibadah rutin dan sunnahnya, bahkan bisa dikatakan lebih rajin daripada Hana yang masuk SALAM.

Mungkin kalian bertanya kenapa ngga masuk dua2nya, salam ui dan bem ui? Well, Hana takut ngga fokus di dua2nya, Hana takut jadinya Hana setengah-setengah dalam menjalankan amanah. Hana tipe orang yang ingin bisa bekerja total jika Hana sudah memutuskan sesuatu. Kalau ngerjain amanah setengah-setengah kan bisa berdampak buruk juga ke citra Hana. I dont want people know me as somebody who doing something halfhearty. (eh inggris hana bener ga sih?)

Selain itu, Hana takut nilai Hana terjun bebas karena manajemen waktu Hana belum begitu baik. Awalnya, Hana sempet kecewa sama diri Hana sendiri karena walaupun akhirnya masuk SALAM, banyak acara SALAM yang akhirnya ngga bisa Hana hadiri karena ada kuliah atau kerja kelompok. Hana jadi merasa cuma dapet soft skill tentang organisasi saja. Alhamdulillah, pas sehabis UTS, ada beberapa acara SALAM yang bisa Hana ikuti dan Hana makin bersyukur atas pilihan Hana masuk SALAM. 

*      Mata kuliah yang buat Hana bertahan di semester ini adalah IPK (Identifikasi Pengembangan Kreatif, Hana suka matkul ini kecuali UASnya), Filsafat Manusia, MPK Wayang, Antropologi dalam matkul Inkemas (individu dan Kebudayaan Masyrakat, walaupun nilai Hana Cuma dapet B) dan Etika (Hana suka tugasnya soalnya ngetik, hampir mirip dengan bikin esai).

Well, sekian cerita Hana. Semoga kalian yang membaca ini bisa belajar dari kesalahan yang Hana lakukan. :)

Kecenderungan Seseorang dalam Memilih Teman: Similar Attitudes versus Dissimilar Attitudes

|
Kecenderungan Seseorang dalam Memilih Teman:
Similar Attitudes versus Dissimilar Attitudes


Fidia, Risa, dan Muthi adalah mahasiswa baru di suatu universitas negeri di Indonesia. Mereka membicarakan mengenai boleh tidaknya pacaran. Fidia berpendapat bahwa pacaran merupakan hal yang dilarang. Menurutnya, pacaran dapat menjerumuskan seseorang ke dalam zina. Sementara Muthi tidak setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, pacaran diperbolehkan selama tidak melampaui batas dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Jika Anda adalah Risa, siapa yang Anda dukung? Mengapa Anda mendukungnya? Lalu siapakah yang Anda lebih sukai? 
Filsuf Yunani, Aristoteles, mengatakan bahwa orang yang saling setuju satu sama lain akan menjadi teman, sementara orang yang berbeda pendapat tidak akan menjadi teman. Jika Anda memiliki pendapat yang sama dengan Fidia, maka Anda  akan mendukung Fidia dan menyukainya. Begitu pula sebaliknya. Anda akan mendukung Muthi jika Anda memiliki pendapat yang sama dengannya dan mulai menyukainya. Menurut saya seseorang cenderung memilih teman yang memiliki similar attitudes dibandingkan teman yang memiliki dissimilar attitudes
Berbagai penelitian telah dilakukan oleh psikolog mengenai similar attitudes dengan dissimilar attitudes. Similar attitudes dapat didefiniskan sebagai kesamaan atau kemiripan sikap mengenai kepercayaan, nilai-nilai, dan minat antara seseorang dengan orang lain. Sementara dissimilar attitudes dapat didefinisikan sebagai perbedaan sikap mengenai kepercayaan, nilai-nilai, dan minat antara seseorang dengan orang lain Hasil-hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa pendapat Aristoteles mengenai orang yang saling setuju akan menjadi teman ternyata benar. Suatu hubungan cenderung didasari oleh similar attitudes. Hasil penelitian Condon dan Cranon (1998) menunjukkan bahwa kesamaan merupakan prediktor akan keberadaan ketertarikan. Bukti lain yang mendukung hubungan antara similar attitude dengan ketertarikan adalah penelitian yang dilakukan oleh Schuster & Elderton (dalam Baron & Bryne, 2000). Mereka meneliti lebih dari empat ratus keluarga dan hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa terdapat kesepakatan yang sama dan signifikan antara suami istri mengenai topik politik dan agama. Newcomb (dalam Baron & Bryne, 2000) meneliti pembentukan pertemanan antara mahasiswa semester satu di University of Michigan. Hasil penelitiannya menunjukan similar attitudes menyebabkan ketertarikan, sementara dissimilar attitudes menimbulkan ketidaktertarikan.
Mengapa orang cenderung mencari teman yang memiliki similar attitudes dengan dirinya? Menurut teori perbandingan sosial yang dikemukakan oleh Festinger (dalam Baron & Byrne, 2000), seseorang yang sedang dalam keadaan tidak yakin dengan kepercayaannya termotivasi untuk melakukan perbandingan. Asumsi dari teori tersebut adalah kita menginginkan seseorang yang mirip dengan kita, baik dalam hal minat dan kepribadian. Hal ini disebabkan jika orang lain memiliki similar attitudes dengan yang kita miliki, kita merasa bahwa pendapat kita juga benar. Mereka memberi consensual validation─validasi persepsi dari pandangan seseorang ketika orang lain memiliki pandangan yang identik atau sama. Bayangkan ketika Anda adalah satu-satunya orang yang setuju prostitusi dilegalkan di lingkungan Anda, Anda akan merasa diri Anda aneh karena memiliki pandangan yang berbeda dengan orang-orang di sekitar Anda. Namun, ketika Anda menemukan seseorang yang sama-sama setuju prostitusi dilegalkan, Anda merasa Anda tidak melakukan suatu kesalahan karena tidak berbeda dengan orang-orang di sekitar Anda. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan false consensus effect─jika ada seseorang yang setuju dengan saya maka semua orang juga akan setuju. False consensus effect yang menimbulkan seseorang percaya bahwa “most everyone agrees with me” ditemukan dari hasil penelitian Tan & Singh (dalam Baron & Byrne, 2000) pada anak-anak. Selain itu, hasil penelitian Fabrigar & Krosnick (dalam Baron & Byrne, 2000) menunjukan false consensus effect juga ditemukan diantara orang-orang dalam populasi, seperti diantara mahasiswa.

Apa yang terjadi ketika seseorang setuju dengan pendapat kita? Mengapa begitu? Byrne & Nelson (dalam Baron & Byrne, 2000) berpendapat bahwa evaluasi penilaian kita terhadap seseorang tergantung proporsi dari similar attitudes yang dimiliki orang tersebut, tidak peduli berapa pun jumlah topiknya empat ataupun empat ratus. Semakin tinggi proporsi similar attitudes, semakin kita menyukai orang tersebut. Seperti halnya Fidia, Risa, dan Muthi, Anda pasti pernah membicarakan hal-hal yang menurut Anda bersifat prinsip atau Anda memiliki kepercayaan kuat tentang hal tersebut. Bayangkan sekarang, Anda sedang membicarakan mengenai politik, agama, hal-hal yang disukai dan tidak disukai dengan beberapa teman Anda. Jika salah seorang teman Anda setuju dengan Anda sembilan pandangan dari sepuluh topik yang dibicarakan, umumnya Anda akan memiliki kesan bahwa dia menyenangkan. Anda berharap dapat menghabiskan waktu bersamanya. Bayangkan jika Anda adalah orang yang tidak suka merokok sementara teman Anda suka merokok, Anda cenderung memandang negatif teman Anda. Akan tetapi berbeda halnya jika Anda adalah seorang perokok, Anda akan menyukai teman Anda yang perokok. Hal tersebut  sesuai dengan pendapat Montoya & Harton (dalam Myers, 2009) ketika seseorang memiliki pandangan yang sama dengan kita, kita tidak hanya menghargai perilakunya tetapi juga memiliki pandangan baik mengenai dirinya. Sementara itu, kita cenderung memandang negatif orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Hal ini sesuai dengan pendapat Tangh dan Singh (dalam Baron & Byrne, 2000) bahwa  jika seseorang tidak setuju dengan Anda maka respon negatif Anda terhadap orang tersebut akan lebih kuat dibandingkan respon positif. 
Anehnya, ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa mereka harus mencari pasangan yang berbeda dengan mereka atau sering disebut opposites attract. Mungkin Anda pernah mendengar bahwa Anda seharusnya mencari seseorang yang berbeda dengan Anda agar kalian berdua bisa saling melengkapi. Dalam psikologi, teori tersebut disebut personality complement hypothesis. Teori tersebut dikemukakan oleh Winch (dalam Berscheid & Regan, 2005). Contohnya, jika Anda adalah seorang yang dominan maka Anda akan tertarik untuk mencari orang yang penurut. Jika Anda cerewet maka Anda akan mencari orang yang pendiam. Teori tersebut memang terdengar logis, tetapi sayangnya banyak hasil penelitian justru membuktikan bahwa seseorang cenderung memilih orang yang mirip dengannya jika diberi kesempatan untuk memilih, seperti penelitian oleh Berscheid (dalam Baron & Byrne, 2000), Zajonc (dalam Baron & Byrne, 2000), dan Buston & Emlen (dalam Myers, 2009). Berscheid menemukan bahwa seseorang cenderung mencari pasangan yang memiliki tingkat ketertarikan fisik yang sama. Seseorang yang cantik cenderung berpasangan dengan seseorang yang tampan. Sementara Zajonc (dalam Baron & Byrne, 2000) menemukan kecenderungan memilih pasangan yang similar ketika seseorang sedang berpacaran ataupun pada pasangan yang sudah menikah. Bahkan, seseorang cenderung bereaksi negatif ketika bertemu dengan seseorang yang tidak cocok dengan mereka. Pasangan yang memiliki dissimilar attitudes menganggap pasangan mereka kurang kemampuan, kurang disukai dan merasa kurang puas dibanding pasangan yang yang memiliki banyak persamaan. Buston & Emlen (dalam Myers, 2009) melakukan survey pada seribu orang di usia perkuliahan dan ternyata keinginan mereka untuk menemukan pasangan yang similar dengan mereka lebih kuat dibandingkan memilih pasangan yang fisiknya menarik. Contoh seseorang yang kaya secara ekonomi menginginkan pasangan yang status ekonominya sama. Seseorang yang mengutamakan keluarga juga menginginkan pasangan yang mengutamakan keluarga. Bahkan seseorang yang antisosial cenderung menikah dengan orang yang antisosial juga.
Kelebihan dissimilar attitudes bukanlah personality complement hypothesis, melainkan self-esteem maintanance theory yang dikemukakan Campbell & Tesser (dalam Kenrick, Neuberd, & Cialdini, 2007). Self-esteem maintanance theory adalah teori bahwa seseorang cenderung mencari orang yang memiliki dissimilar attitudes untuk menghindari perbadingan yang dapat merusak self-esteemnya. Sebagai contoh Anda dan saudara Anda sama-sama berbakat bermain alat musik biola, kemudian saudara Anda sering memenangkan perlombaan sementara Anda tidak. Hal tersebut membuat Anda merasa sedih dan tidak berharga. Lain halnya jika saudara Anda berbeda bakatnya dengan Anda, misalnya saudara Anda berbakat menulis dan sering memenangkan perlombaaan, Anda akan cenderung merasa bahagia karena memiliki keistimewaan yang berbeda. 

Walaupun dissimilar attitudes dapat mempertahankan self-esteem seseorang, Anda perlu tahu bahwa permasalahnnya adalah jarang sekali kita menyukai seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Anda mungkin berpendapat saya dan teman saya memiliki banyak perbedaan, dia Cina, saya Sunda, dia ceria, saya pemurung, saya Leo, dia Aquarius, dia Katolik, saya muslim,  tetapi kami bisa berteman. Sekarang saya meminta Anda menulis daftar jenis dan jumlah dissimilar attitudes dan similar attitudes Anda dengan teman Anda. Manakah yang lebih banyak? Dissimilar attitudes atau similar attitudes? Jawabannya tentu similar attitudes, bukan? Hal yang membuat Anda tetap bersama dengan teman Anda hingga saat ini adalah persamaan Anda dengannya. Apabila jumlah similar attitudes lebih sedikit, bagaimana perasaan Anda terhadap similar attitudes yang Anda miliki? Perbedaan yang ada antara Anda dan teman Anda tentunya sesuatu yang Anda bisa tolerir bukan? Jika Anda seseorang yang rapi, teratur, dan terjadwal mungkinkah Anda menyukai seseorang yang berantakan, hidup dengan penuh kejutan, dan tanpa rencana? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika Anda menyukai musik rock sementara teman Anda menyukai musik klasik? Kemungkinan besar yang akan terjadi adalah seperti  ini:
A: “Loe nonton konser musik Tribute to Nodame kemarin ngga?”
B: “Hah? Apaan tuh? Baru denger.”
A:”Itu konser musik klasik.”
B:”Yah.. musik klasik kan bikin ngantuk. Musik rock dong.”
Kemungkinan besar Anda akan berdebat dengannya berusaha membuatnya menyukai musik klasik juga atau Anda diam saja karena merasa kecewa dan berkata pada diri Anda sendiri bahwa Anda tidak akan berbicara dengan dirinya lagi mengenai musik karena kalian tidak cocok satu sama lain. Jika Anda memiliki begitu banyak perbedaan, apa yang bisa Anda dan teman Anda bicarakan? Tetapi coba bayangkan jika Anda dan teman Anda memiliki minat yang sama, entah sama-sama menyukai musik rock atau sama-sama menyukai musik klasik. Tentu saja akan menyenangkan bagi kalian berdua menghabiskan waktu bersama, baik membicarakan mengenai jenis musik yang kalian berdua sukai atau pergi ke konser bersama. Contoh lain jika Anda orang yang boros sementara teman atau pasangan Anda sangat hemat. Biasanya teman Anda yang hemat akan berusaha mengubah Anda menjadi hemat dengan memberi berbagai macam nasihat, Anda sebagai orang yang boros akan merasa diri Anda diatur dan mulai tidak menyukai teman Anda. Jika diantara kalian berdua tidak ada yang berubah, kemungkinan besar kalian berdua merasa tidak cocok satu sama lain dan menghabiskan waktu dengan bertengkar. Bukankah biasanya pasangan berpisah dengan alasan “We have nothing in common”? 

Bukti yang menentang dissimilarity attitudes menimbulkan ketertarikan adalah penelitian oleh Rossebaum (dalam Berscheid & Regan, 2005) menunjukan bahwa dissimilarity attitudes menghasilkan repulsion─ketidaksukaan seseorang terhadap orang yang berbeda dangan mereka. Penelitian yang hampir serupa dilakukan oleh Ickes (dalam Berscheid & Regan, 2005), orang-orang yang berbeda orientasi seksualnya justru lebih sedikit terlibat dalam interaksi dan juga lebih kurang menyukai satu sama lain dibandingkan orang-orang yang sama orientasi seksualnya. 

Dapat disimpulkan bahwa seseorang cenderung mencari orang yang memiliki similar attitudes dengan dirinya, dibanding dissimilar attitudes. Ada beberapa alasan mengapa seseorang cenderung mencari teman yang memiliki similar attitudes, yaitu seorang teman yang similar attitudes dengan dirinya akan memberikan consensual validation, similar attitudes menimbulkan ketertarikan dan Anda dapat menghabiskan waktu bersama lebih banyak jika teman Anda memiliki similar attitudes. Oleh karena itu, orang cenderung akan memberi respon positif jika bertemu dengan orang yang memiliki similar attitudes dengan dirinya. Akan tetapi, bukan berarti Anda harus berubah atau teman Anda harus berubah jika teman Anda memiliki dissimilar attitudes. Permasalahkan dissimilar attitudes dalam pertemanan tidak harus diperdebatkan karena hanya membuat seseorang merasa tidak nyaman. Jika Anda menemukan orang yang memiliki similar attitudes dengan Anda, bukan berarti Anda benar dan ketika Anda menemukan orang memiliki dissimilar attitudes, bukan berarti Anda salah.


Daftar Pustaka

Baron, R. A., & Byrne, D. (2000). Social psychology. (9th ed.). Massachusetss:  Allyn and Bacon.
Berscheid, E., & Regan, P. (2005). The psychology of  interpersonal relationships. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Condon, J. W., & Crano, W. D. (1988). Inferred evaluation and the relation between attitude similarity and interpersonal attraction. Journal of Personality and Social Psychology, 54(5), 789-797. doi: 10.1037/0022-3514.54.5.789
Degelman, D. (2010). APA style essentials. Retrieved from  http://www.vanguard.edu/faculty/ddegelman/detail.aspx?doc_id=796
Myers, D.G. (2009). Exploring social psychology. (5th ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Kenrick, D.T., Neuberd, S. L., & Cialdini, R. B. (2007) Social psychology: goals in interaction. (4th ed.). Boston: Allyn & Bacon.






Three Reasons Why Students Hate History

|

Three Reasons Why Students Hate History

We seldom hear students say “I love history” because most students hate history lesson. When our president, Susilo Bambang Yudhoyono was a student, he probably hate history lesson, too. The prove that he hate history lesson stated in his statement while opening a Cabinet meeting on a bill about Yogyakarta’s privileges
“Our country is based on laws and is a democratic country, therefore, we shall not ignore democratic values and there should not be a monarchical system, which is against the Constitution and democratic values.”
President Susilo Bambang Yudhoyonos statement made the people in Yogyakarta angry because he is considered to have forgotten the history of the birth of the privileges of Yogyakarta. I believe the reason why SBY forgot history of the birth of the privileges of Yogyakarta because he hate history lesson. However, he is not alone because many people hate history lesson, too. In my opinion, there are four reasons why students hate history; such as many students feel learning history does not make sense, they do not know to apply the benefits, and there are too many things to memorize.

Most students hate history because they feel history lesson does not make sense. They confuse why the teachers and school do not tell them about what future will be and how to handle it. Most of them said, “We are going to school to prepare our future, why we study about past?” They think it does not make sense to learn about death people and past because they do not see correlation between learning dates, names of death people, past event (read: history) and their future. That is why they hate history because they feel history lesson do not make sense.

Many students have asked “How can we benefit our present life by reading pages on long forgotten events (read: history)?” The answers are usually printed in history’s textbooks. Most of the first chapter in history’s textbook explains the benefits of learning history, such as: history as key to understanding future, a way to enrich the present, a contribution to liberal education, teaches humility, teaches a healthy skepticism, and influences human thought processes. Unfortunately, our curriculum made benefits of learning history as something to memorize, not to apply it in our everyday life. When I was a senior high student, history lesson was given once a week and only one study period (45 minutes). Teachers have limited time to help their students evaluate, analyze, or synthesize information. What make things worse are history lesson’s curriculum demand students to explain many events, for example: Indonesia’s proclamation and the establishment of Hindu-Buddha’s kingdoms. They demand an exhaustingly relentless processing of low-level knowledge and as a result the students only learn the definitions, not essential thing. They do not learn what lesson that they can benefit from learning history or what they can do to prevent tragedy. Curriculum makes students do not know how to apply the benefits in learning history in their everyday life. No wonder, many student think history are useless and wasting their time because they only remember the benefits but they do not know how to apply it.
The third reason why many student hate history that there are too many things to memorize. History is purely a test of your memory because history is rich in detail. From day one, students are in a race to memorize as many names, places, dates, and laws as possible.  When I am in second grade senior high school, I was expected to learn (read: memorize) the Hindu-Buddha’s kingdoms (400 M) until Indonesia’s Independence Day (1945). Can you imagine my friends and I (read: students) are expected to remember things that happened from 400 M to 1945 M? We are talking about covering a period from the 4th century to 1945. In other word, the students are forced to read and remember whole textbook. I believe forcing student to memorize many things is no way to encourage a passion for learning history. Instead, it is a cause of immense stress to students. No wonder many students hate history lesson.
Although we know learning history has many benefits, such as: history as key to understanding future, a way to enrich the present, a contribution to liberal education, teaches humility, teaches a healthy skepticism, and influences human thought processes, many students still hate history lesson regardless of its benefits in learning history. It happened because they feel learning history do not make sense, they do not know how to apply the benefits, and there are too many things to memorize. I believe if we change the curriculum and make student understand the benefits, they may change their mind and like history lesson.
References

King, B. D., Wayne, V., & Woody, W. D. (2009). History of psychology: Ideas and context (4th Ed.). Boston: Pearson Education, Inc.

Maulia, E. SBY denies controversial statement on yogya. http://www.thejakartapost.com/news/2010/12/02/sby-denies-controversial-statement-yogya.html (03-12-2010)

Reed, J. Why your kids hate history: Mile wide, inch deep. http://www.examiner.com/history-geek-in-national/why-your-kids-hate-history-mile-wide-inch-deep.html  (03-12-2010)

 Suryandari, S. Jangan ulangi kesalahan masa lalu. http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/11/184895/3/1/Jangan-Ulangi-Kesalahan-Masa-Lalu.html. (01-12-2010)

 



Post Signature

Post Signature