Top Social

Fix

|

Aku berjalan mendekati Jun yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
 “Jun, apa ini?!” tanyaku sambil memegang action figure gundam.
Pandangan Jun yang beralih kepadaku. Kedua alis Jun bergerak menjauh, bola matanya membesar, mulutnya terbuka lebar.
Tertangkap basah. Benar dugaanku ini adalah salah satu action figure yang baru.
Tadi saat sedang membereskan lemari pakaian, aku menemukan action figure gundam dibalik tumpukan kemeja Jun.
Aku menatapnya tajam. “Kamu beli action figure gundam lagi?”
Jun menunduk.
“Ummm... iya”

Aku mengerang “Juuun! Kamu ngga sadar kondisi keuangan kita?  Aku ngga masalah kamu beli action figure kalau keuangan kita lagi lancar.  Buat kebutuhan sehari-hari aja kita susah. Kamu mikir ngga sih?!”
Aku berteriak histeris. Aargh... Bisa gila aku.
Sebulan terakhir ini aku stress. Tabungan kami menipis. Kami mulai menunggak tagihan listrik, air, cicilan rumah dan motor. Tiga bulan lalu perusahaan Jun bangkrut, Jun diPHK dan sampai saat ini Jun belum mendapat pekerjaaan. Aku juga ingin ikut membantu dengan bekerja tapi Jun melarang. Jun bilang dia ingin aku fokus mengurus putri kami, Fitri yang bulan ini berusia setahun. Rasanya ada beban berat di pundakku.
Jun membuka mulut untuk membela diri “Say, maafin aku tapi itu belinya udah lama kok”
Aku masih melotot padanya.
“Sumpah.. itu udah lama..   3 bulan yang lalu.” Jelas Jun takut-takut.
Aku memutar bola mata, tidak percaya mendengarnya. “3 Bulan lalu?!”
Wajahku memerah. Amarahku memuncak. “Ini bisa dijual lagi ga?  Kamu beli ini berapa?”
“Ummmm....”
“Berapa, Jun?”
“Sepuluh...”
“Sepuluh ribu? Ngga mungkin harganya 10rb?” Volume suaraku makin keras. Aku tahu hobi Jun mengoleksi action figure dan dia selalu membeli action figure asli. Tidak mungkin harganya Cuma 10.000. Jun menggeleng, dia menunjuk jam dinding “10 menit.”
Aku terbelalak. Sial! Sejak kapan dia menghitung?
“Kesepakatan 10 menit”. Jelas Jun

Ugh. Aku kesal padanya. Cerdas sekali caranya kabur dari pertanyaanku. Aku dan Jun punya kesepakatan bahwa kami hanya akan bertengkar selama 10 menit. Jika sudah 10 menit, kami akan berhenti berbicara menenangkan diri dan akan membicarakannya lain kali.

Aku menghirup napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
“Terima kasih sudah mengingatkan, Jun.” Aku memaksakan diri untuk tersenyum
Jun mendekatiku, tersenyum dan mengusap punggungku “Sama-sama”
 “Kau tetap harus menjawab pertanyaanku tentang harga.”
Kau tidak boleh lari, Jun.
“Tentu saja. Di lain kesempatan, bukan?” Jun nyengir lebar.
Aku benci diriku sendiri. Rasa marah dan kesalku langsung turun setelah melihat senyum Jun. Senyumnya masih mampu membuatku meleleh.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menyadarkan diri. Aku tidak mau kalah “Tentu saja, di lain kesempatan” Aku nyegir “dan aku minta lain kesempatan itu bukan besok tapi dua jam lagi.”
Jun terhenyak kemudian mengendurkan rahang. “Boleh, kalau itu maumu.”
Yes! Aku berteriak dalam hati “Aku pamit wudhu dan shalat dulu.”
“Butuh imam? Mau shalat berjamaah?”
Aku mengangguk. Kebiasaan kami yang lain untuk menenangkan diri adalah shalat sunnah dua rakaat. Kadang-kadang Jun memilih melakukan shalat sunnah di mesjid untuk shalat sehingga aku shalat sendiri di rumah.
...

Aku mencium tangan Jun selesai shalat.
“Say, maafkan aku telah membuatmu marah. Aku akui aku salah.”
Aku tidak menyangka Jun akan meminta maaf duluan.
Aku mengangguk “Jun, maafkan aku tadi marah. Aku tidak keberatan dengan hobimu. Aku hanya berharap kau bisa lebih menahan diri saat kondisi keuangan kita sedang sulit.”
Jun tersenyum.
“Aku stress dan takut Jun. Aku tahu rizki sudah diatur oleh Allah, tapi tetap saja aku takut.
Kau belum mendapat kerja, ada cicilan dan tagihan yang belum dibayar, apa yang sebaiknya kita lakukan?”
“Aku akan mencari jalan keluarnya. Kau tenang saja. Hidup kadang di atas, kadang di bawah. Kali ini, kita sedang dibawah.” Jun berusaha menenangkanku.
“Ya, tapi bagaimana, Jun? Maafkan aku, tapi sudah tiga bulan ini kau menyuruhku tenang, dan sampai sekarang, aku belum melihat hasilnya.”
“Woaaa.. woaaa...” Jun menggerakan tangannya, memberi isyaratku agar aku berhenti bicara “Sebentar, Bukannya kau bilang kita akan bertengkar dua jam lagi? Kau mulai terlalu cepat, sayang”
“Juuun!”
“Beri aku waktu untuk berpikir”
  Aku menutup mulutku dan mengangguk lemah.
...

Aku meninggalkan Jun di ruang mushala untuk pergi ke kamar. Aku hendak mengecek apakah Fitri masih tidur. Ketika tiba di kamar, aku bersyukur mendapati Fitri masih terbaring dalam kondisi tidur lelap.

Aku memutar otakku. Aku tidak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu. Aku mengambil handphoneku.
Apa sebaiknya aku menelepon Ibu dan meminjam uang padanya.
Aku menelepon Ibu dan kemudian bertanya kabar beliau. Mendapati ternyata ayah sedang rawat jalan dan adikku sedang mengerjakan tugas akhir.
Mendengar hal tersebut, aku mengurungkan niatku meminjam uang pada Ibu. Tidak, kondisi keuangan Ibu juga sama-sama sedang sulit. Aku tidak boleh membebani beliau.
Haruskah aku meminjam pada teman baikku?
Tapi aku tidak yakin Jun akan senang dengan keputusan sepihakku.

Hm... Aku menghela napas. Aku menatap handphoneku untuk beberapa saat.
Akhirnya kuputuskan untuk menyusuri google dan mengetik beberapa keyword mengenai melunasi hutang dan kredit. Aku terdampar di situs CekAja.com. Ternyata artikelnya bagus-bagus. Aku harus memberi tahu Jun!
Aku keluar kamar dan berusaha mencari Jun
“Juun!”
“Ya, Say”
Jun datang menghampirku
“Ada yang ingin kuberi tahu padamu.”
“Kebetulan banget! Aku juga!”
“Siapa yang mulai duluan?”
“Ladies first”
“Kamu baca ini deh.” Aku menunjukkan layar hanphoneku yang terpampang artikel dari situs Cekaja.com
“hahahah” Jun tertawa. Aku mengeryit tidak mengerti.
“Kamu lihat ini juga” Jun kemudian menunjukkan layar hanphone-nya.
Mataku terpaku pada layar handphone Jun. Aku terpana.
Aku ikut tertawa. Hahahaha.
Ternyata aku dan Jun hendak menunjukkan artikel yang sama.
“Kita sehati banget ya, Say?” Jun nyegir lebar
Wajahku bersemu merah.

Image Courtesy of Ambro at freedigitalphotos.net



The End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih mana: Cinta atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com





Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature