Top Social

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Fix

|

Aku berjalan mendekati Jun yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
 “Jun, apa ini?!” tanyaku sambil memegang action figure gundam.
Pandangan Jun yang beralih kepadaku. Kedua alis Jun bergerak menjauh, bola matanya membesar, mulutnya terbuka lebar.
Tertangkap basah. Benar dugaanku ini adalah salah satu action figure yang baru.
Tadi saat sedang membereskan lemari pakaian, aku menemukan action figure gundam dibalik tumpukan kemeja Jun.
Aku menatapnya tajam. “Kamu beli action figure gundam lagi?”
Jun menunduk.
“Ummm... iya”

Aku mengerang “Juuun! Kamu ngga sadar kondisi keuangan kita?  Aku ngga masalah kamu beli action figure kalau keuangan kita lagi lancar.  Buat kebutuhan sehari-hari aja kita susah. Kamu mikir ngga sih?!”
Aku berteriak histeris. Aargh... Bisa gila aku.
Sebulan terakhir ini aku stress. Tabungan kami menipis. Kami mulai menunggak tagihan listrik, air, cicilan rumah dan motor. Tiga bulan lalu perusahaan Jun bangkrut, Jun diPHK dan sampai saat ini Jun belum mendapat pekerjaaan. Aku juga ingin ikut membantu dengan bekerja tapi Jun melarang. Jun bilang dia ingin aku fokus mengurus putri kami, Fitri yang bulan ini berusia setahun. Rasanya ada beban berat di pundakku.
Jun membuka mulut untuk membela diri “Say, maafin aku tapi itu belinya udah lama kok”
Aku masih melotot padanya.
“Sumpah.. itu udah lama..   3 bulan yang lalu.” Jelas Jun takut-takut.
Aku memutar bola mata, tidak percaya mendengarnya. “3 Bulan lalu?!”
Wajahku memerah. Amarahku memuncak. “Ini bisa dijual lagi ga?  Kamu beli ini berapa?”
“Ummmm....”
“Berapa, Jun?”
“Sepuluh...”
“Sepuluh ribu? Ngga mungkin harganya 10rb?” Volume suaraku makin keras. Aku tahu hobi Jun mengoleksi action figure dan dia selalu membeli action figure asli. Tidak mungkin harganya Cuma 10.000. Jun menggeleng, dia menunjuk jam dinding “10 menit.”
Aku terbelalak. Sial! Sejak kapan dia menghitung?
“Kesepakatan 10 menit”. Jelas Jun

Ugh. Aku kesal padanya. Cerdas sekali caranya kabur dari pertanyaanku. Aku dan Jun punya kesepakatan bahwa kami hanya akan bertengkar selama 10 menit. Jika sudah 10 menit, kami akan berhenti berbicara menenangkan diri dan akan membicarakannya lain kali.

Aku menghirup napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
“Terima kasih sudah mengingatkan, Jun.” Aku memaksakan diri untuk tersenyum
Jun mendekatiku, tersenyum dan mengusap punggungku “Sama-sama”
 “Kau tetap harus menjawab pertanyaanku tentang harga.”
Kau tidak boleh lari, Jun.
“Tentu saja. Di lain kesempatan, bukan?” Jun nyengir lebar.
Aku benci diriku sendiri. Rasa marah dan kesalku langsung turun setelah melihat senyum Jun. Senyumnya masih mampu membuatku meleleh.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menyadarkan diri. Aku tidak mau kalah “Tentu saja, di lain kesempatan” Aku nyegir “dan aku minta lain kesempatan itu bukan besok tapi dua jam lagi.”
Jun terhenyak kemudian mengendurkan rahang. “Boleh, kalau itu maumu.”
Yes! Aku berteriak dalam hati “Aku pamit wudhu dan shalat dulu.”
“Butuh imam? Mau shalat berjamaah?”
Aku mengangguk. Kebiasaan kami yang lain untuk menenangkan diri adalah shalat sunnah dua rakaat. Kadang-kadang Jun memilih melakukan shalat sunnah di mesjid untuk shalat sehingga aku shalat sendiri di rumah.
...

Aku mencium tangan Jun selesai shalat.
“Say, maafkan aku telah membuatmu marah. Aku akui aku salah.”
Aku tidak menyangka Jun akan meminta maaf duluan.
Aku mengangguk “Jun, maafkan aku tadi marah. Aku tidak keberatan dengan hobimu. Aku hanya berharap kau bisa lebih menahan diri saat kondisi keuangan kita sedang sulit.”
Jun tersenyum.
“Aku stress dan takut Jun. Aku tahu rizki sudah diatur oleh Allah, tapi tetap saja aku takut.
Kau belum mendapat kerja, ada cicilan dan tagihan yang belum dibayar, apa yang sebaiknya kita lakukan?”
“Aku akan mencari jalan keluarnya. Kau tenang saja. Hidup kadang di atas, kadang di bawah. Kali ini, kita sedang dibawah.” Jun berusaha menenangkanku.
“Ya, tapi bagaimana, Jun? Maafkan aku, tapi sudah tiga bulan ini kau menyuruhku tenang, dan sampai sekarang, aku belum melihat hasilnya.”
“Woaaa.. woaaa...” Jun menggerakan tangannya, memberi isyaratku agar aku berhenti bicara “Sebentar, Bukannya kau bilang kita akan bertengkar dua jam lagi? Kau mulai terlalu cepat, sayang”
“Juuun!”
“Beri aku waktu untuk berpikir”
  Aku menutup mulutku dan mengangguk lemah.
...

Aku meninggalkan Jun di ruang mushala untuk pergi ke kamar. Aku hendak mengecek apakah Fitri masih tidur. Ketika tiba di kamar, aku bersyukur mendapati Fitri masih terbaring dalam kondisi tidur lelap.

Aku memutar otakku. Aku tidak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu. Aku mengambil handphoneku.
Apa sebaiknya aku menelepon Ibu dan meminjam uang padanya.
Aku menelepon Ibu dan kemudian bertanya kabar beliau. Mendapati ternyata ayah sedang rawat jalan dan adikku sedang mengerjakan tugas akhir.
Mendengar hal tersebut, aku mengurungkan niatku meminjam uang pada Ibu. Tidak, kondisi keuangan Ibu juga sama-sama sedang sulit. Aku tidak boleh membebani beliau.
Haruskah aku meminjam pada teman baikku?
Tapi aku tidak yakin Jun akan senang dengan keputusan sepihakku.

Hm... Aku menghela napas. Aku menatap handphoneku untuk beberapa saat.
Akhirnya kuputuskan untuk menyusuri google dan mengetik beberapa keyword mengenai melunasi hutang dan kredit. Aku terdampar di situs CekAja.com. Ternyata artikelnya bagus-bagus. Aku harus memberi tahu Jun!
Aku keluar kamar dan berusaha mencari Jun
“Juun!”
“Ya, Say”
Jun datang menghampirku
“Ada yang ingin kuberi tahu padamu.”
“Kebetulan banget! Aku juga!”
“Siapa yang mulai duluan?”
“Ladies first”
“Kamu baca ini deh.” Aku menunjukkan layar hanphoneku yang terpampang artikel dari situs Cekaja.com
“hahahah” Jun tertawa. Aku mengeryit tidak mengerti.
“Kamu lihat ini juga” Jun kemudian menunjukkan layar hanphone-nya.
Mataku terpaku pada layar handphone Jun. Aku terpana.
Aku ikut tertawa. Hahahaha.
Ternyata aku dan Jun hendak menunjukkan artikel yang sama.
“Kita sehati banget ya, Say?” Jun nyegir lebar
Wajahku bersemu merah.

Image Courtesy of Ambro at freedigitalphotos.net



The End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih mana: Cinta atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com





Kita (Yuda)

|
Image Courtesy of akeeris at freedigitalphotos.net


Saat keluar dari kamar mandi, Istriku, Bella sudah mengenakan piyamanya. Dia berjalan menuju tempat tidur kami yang sudah terlebih dahulu aku tempati. Kami baru menikah seminggu yang lalu. Wajah Bella sangat cantik membuatku tak bosan memandang wajahnya. Aku merasa beryukur sekali Allah memilih Bella sebagai pendamping hidupku.
“Selamat malam” aku mengecup kening istriku
“Selamat malam juga” balasnya dan kemudian mematikan lampu.


Aku dan Bella sama-sama bekerja. Rutinitas kami setelah pulang dari kantor adalah mandi, makan, shalat isya, mengaji, menggosok gigi dan kemudian tidur.
Ini adalah jumat malam biasanya ini adalah “Quality time” tapi Bella bilang hari ini dia lelah sehingga malam ini kami langsung tidur. Saat hendak memejamkan mata, aku teringat sesuatu.
“Bel, belum tidur kan?”
“Emm...”
“Besok papa mama bakal dateng ke sini”
“Apa?!”
“Besok papa mama bakal ke sini.”

Bella menyalakan lampu, kemudian bangun dari posisinya untuk duduk “Papa mama kamu bakal ke sini?!”
“Ya” jawabku masih berbaring
“Yudaaa, kenapa baru bilang sekarang?” tangannya menggoyang-goyangkan pundak dan tangan kananku.
Aku ikut bangun untuk duduk. “Lupa. Baru inget tadi.” jawabku

“Kok papa mamamu ngga nelpon aku?”
“Kan udah nelpon aku.”
“Mereka berangkat dari Jogja jam berapa? sampai bandara jam berapa?”
“Pesawat jam 7, sampai bandara jam 8”
“Kita mesti bangun pagi-pagi buat jemput mereka dong?”
“Hm... Ga perlu. Papa mama tahu jalan kok ke sini”
“Aku serius”
“Aku juga”

“Yuda, besok tuh aku udah ada janji sama bestie-bestie aku. Raissa sama Dina mau berangkat S2 ke Inggris”
“Terus?”
“Ya berarti aku ngga yakin bisa jemput papa mama.”
“Gpp kan udah dibilang tadi ngga perlu.”
“Yuda, dengerin dulu, aku belum selesai ngomong”
“Ya?”
“Kalau besok aku jadi ketemuan sama bestie-bestie aku berarti aku ngga bisa nyambut papa- mama. Ninggalin kalian bertiga. Kamu kan tahu aku senin-jumat kerja. Nah, besok papa mama mau datang tapi rumah masih berantakan, laundry masih numpuk, kulkas kosong. Aku belum nyiapin apa-apa padahal ini kunjungan pertama mereka setelah kita nikah”
“Gpp. Dulu mereka sering dateng ke kosanku dalam kondisi kayak gitu kok.”
“Itu kan waktu kamu masih bujangan. Sekarang kan kondisinya beda. Mereka bakal mikir menantu macam apa aku ini?”
“Tenang aja. Mereka santai kok orangnya. Paling mereka mikir menantu mereka cantik banget.”
“Yudaaaa, serius dong!”
“Ini serius.”

“Yudaaa, besok jadinya gimana?”
“Gimana apa?”
“Besok aku ada reuni. Ngga bisa jemput dan nyambut papa-mama.”
“Gpp. Ga usah dipikirin.”
“Tapi…”
“Besok aku bisa bawa papa mama makan di luar. Kamu nyusul aja setelah ketemuan sama temen-temen kamu.”
Aku bisa melihat wajah Bella cerah tapi kemudian mimiknya berubah serius. “Hmmm… Bentar, papa mama langsung pulang apa nginep?”
“Nginep”
“Dimana?”
“Disini”

“Yudaaaaa!”
“apa lagi?”
“Jangan tidur dulu. Kita beres-beres rumah sekarang”
Aku mengerang. “Ga bisa besok aja, Bel?”
Bella beranjak dari tempat tidur tanpa menungguku. Sepertinya Bella marah.

Baca kelanjutan cerita Kita di Kita (Bella)


Baca juga #CeritaBerdua #SatuSeminggu lainnya disini

Find Hana Bilqisthi on Google Playstore

|
Alhamdulillah Cerpen Hana yang berjudul Lupa, yang kemarin diikutsertakan dalan lomba di bukusendiri.com udah terbit di google play store :D
Harganya cuma Rp 9091 lho (^0^)/
Check out "Langkah-Langkah Kecil #07: Terima Kasih Kota Maumere" - https://play.google.com/store/books/details?id=NQWNCgAAQBAJ





Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Pre-Order Buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghapal Quran

|
Assalamualaikum Temen-temen :D
Salah satu buku keren yang terbit tahun ini, Mahasiswa-Mahasiswa Penghapal Quran akan kembali dicetak.
Alhamdulillah
(^0^)/
Yeay!
Yuhuuuu~
Hore!

Buat yang ingin baca tapi ketinggalan Pre-Order Pertama, bisa ikut PO ke- 2 yang mulai dilakukan dari 2 sampai 10 Oktober nanti.

Bagaimana cara pesannya? Langsung saja klik http://mmpq.iqf.or.id






Kalau kalian baru pertama dengar buku ini, berikut sinopsisnya:


Sibuk. Tidak punya waktu luang. Kata-kata itulah yang sering terucap saat kita merasa susah dalam menemukan waktu untuk mempelajari, mengkaji juga menghafal Quran. Akan tetapi, bukankah Allah telah berfirman , "Kami tidak menurunkan Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah." (Q.S. Thaha:2).
Maka, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah kita benar-benar tidak punya waktu luang?

"Luangkanlah hatimu (untuk Quran), maka Allah akan meluangkan waktumu!"

Itulah 'rumus canggih' yang digunakan oleh mahasiswa-mahasiwa penghapal Quran ini. Mereka mahasiswa biasa dengan segala aktivitas akademiknya. Mulai dari mengerjakan tugas harian hingga skripsi.
Akan tetapi mereka tetap berusaha untuk terus menghafal Quran di tengah kegiatan-kegiatan hariannya itu.
Atas izin dan pertolongan Allah, banyak yang masih bisa berprestasi, berorganisasi, berwirausaha, juga konferensi sampai ke luar negeri.
Mereka terus saling berlomba, saling menyemangati, sampai kelak Quran bisa benar-benar merasuk ke dalam hati, juga menjadi syafa'at di yaumul akhir nanti.

Dalam buku ini tertulis kepingan kisah mereka. Dimulai dari bagaimana mereka 'menemukan' Quran, bagaimana mereka menghafal dan menghadapi lika-liku tantangannya, serta pelajaran-pelajaran hidup yang mereka petik dalam perjalanannya.
  



dan ini review Hana :


Jujur kalau liat santri-santri IQF ini gue ngerasa strata mereka sangat jauh di atas gue.
Sering kali mereka terlihat seperti malaikat.
Gue suka kalau mereka (Kak Gun, Kak Zain, Kak Fitrah) jadi imam shalat pas acara kampus. Bacaannya merdu.
Membaca buku ini membuat gue sadar bahwa mereka manusia biasa yang punya rasa malas, ketakutan, kekhawatiran, kesibukan, tapi mereka memilih untuk meluangkan waktu dan hati mereka untuk Quran.
Apalagi mereka mahasiswa-mahasiswa UI, jadi gue bisa mengindetifikasi diri dengan mudah.
Banyak ceritanya bikin gue nangis dan malu bacanya. (((( ;°Ð”°))))
Pengen kayak mereka :')


kisah-kisah dalam buku ini dibagi ke dalam 4 bagian: Kutemukan Quran, Perjalanan Bersama Al-Quran,Kelezatan Quran, dan Selayang Pandang.

Terimakasih sudah menulis buku ini. Semoga menginspirasi banyak orang.

Ya Allah, jadikan Alquran sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, memupus kebingungan serta kesedihanku, cahaya bagi pikiranku, teman setia dalam kesepianku, dan pemberi syafaat di hari perjumpaan denganMu
.

Buruan pesan dan selamat membaca :D



Selingkuh!

|
Aku tidak mengerti dengan wanita yang membenci selingkuhan suaminya. 
Seharusnya mereka membenci suaminya juga, selingkuh kan melibatkan dua pihak.
Bukankah berarti suaminya terlibat?
Kenapa sering kali hanya pihak perempuan yang disalahkan? 
Selama ini itulah anggapanku dan disinilah aku sedang menjilat ludahku sendiri. 
Aku baru saja menampar gadis selingkuhan suamiku di rumahnya. 
Gadis itu memegangi pipinya dan memicingkan matanya seolah tidak percaya apa yang baru saja dia alami. 
Suamiku tiba-tiba masuk, datang entah dari mana. Wajahnya merah karena marah, dia berbicara sambil menunjuk-nunjukku tapi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. 
Apakah dia malah marah padaku? Apakah dia menyalahkanku?
Semuanya terasa blur, badanku lemas, dan telapak tanganku berkeringat. 
Aku selama ini tidak pernah menampar seorang pun dalam hidupku.
Apakah ini mimpi? Mimpi yang buruk?
Seolah kehilangan kendali, tawa histerisku menggema memenuhi ruangan.

We're fine

|
“Is it not funny? I have issues with my father and you have issues with your mother. I do understand why you want a stay at home wife, but I am sorry I can’t.”
“But I am not your father, Can you learn to trust me?”
He has a point.  
“I am not your mother, either. Can you learn to trust me if I choose not to be a stay at home wife?”
“Hmm.” He says. I think he understands my point now.
“I love you  and I realized you are not my father, but I am still scared. “
“If I let you not become stay at home wife, will you stay?”
He’s looking at me with expectant eyes, and I know he thinks I’m going to say yes.
 “Yes, but.. “I hesitated.  “Does not it mean you will be hurt by your decision?  Are you sure? I am sad if you are sad.”
“I am fine. You stress far too much,” He whispered. “ I am happy if you are happy.”
I laugh. “Lucky you love me, then.”
“Lucky for me it goes both ways.”

Image Courtesy of gubgib at freedigitalphotos.net

Pantas

|



"Cha, Kemal mengajakku menikah" ungkap Dita dengan nada cemas.

Aku bisa melihat kecemasan dan ketakutan di mata Dita. “Aku tidak mengerti. Bukankah ini berita bagus? Kau sudah lama menyukainya diam-diam bukan?” 

“Justru itu! Aku tidak mengerti apa yang membuat dia menyukaiku. Ini terasa tidak nyata, terlalu bagus untuk jadi kenyataan." Dita memejamkan matanya "Kau kan tahu dia lulus cumlaude, aktif di BEM, cakep, hebat dalam berorasi, shalat selalu tepat waktu, rajin puasa senin-kamis, sementara aku tidak sedikit pun menyerupai kehebatannya. Aku hanya gadis biasa, masih banyak gadis lain yang lebih cantik, lebih pintar. Rasanya tidak pantas bagiku bersanding dengannya. Mengapa dia memilihku? ”

 “Dit, jika dia memilihmu, bukankah tandanya dia merasa kau pantas bersanding dengannya? Lagipula, bukan tugas kita menentukan siapa pantas dengan siapa. Itu tugas Tuhan. ” 

“Entahlah. Aku takut, Cha. Bagaimana kalau dia salah mengenalku? Mungkin dia mengira aku sosok yang baik. Bagaimana jika setelah menikah, dia justru menemukan bahwa aku berbeda dari yang selama ini dia pikirkan? Bagaimana jika dia kecewa?”

"Dit, bagiku kau adalah sosok gadis yang ceria, optimis, tidak mudah menyerah, dan memiliki semangat yang tinggi untuk mengenal Islam dan memperbaiki dirinya. Jika aku laki-laki, tentu aku akan mengajakmu menikah.” 

“Kau bicara begitu kan karena kau sahabatku. Jangan membuatku keGRan. Aku tidak cantik dan pintar. Aku punya banyak kekurangan.”

Dita menatapku, masih terlihat ragu. 

Aku tidak percaya mendengarnya, ternyata Dita sahabatku ini rendah diri.
“Aih Dita, tidak ada manusia yang sempurna, begitupun aku dan Kemal. Apa yang membuatmu mau berteman denganku? Kecantikan kah? Kepintaran kah?”

Dita menggeleng, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Begitu pula dalam memilih teman hidup, Ini bukan hanya soal kecantikan dan kepintaran. Kalau memang hanya itu, pernikahan bahagia hanya dimiliki oleh orang-orang pintar dan cantik saja. Jangan berpikir bahwa kau tidak cukup baik, kau baik, Dita. Belajarlah menerima dirimu dan mencintai dirimu sendiri. Kau layak dicintai." aku mengoceh panjang lebar menceramahinya.
"Bagaimana kalau tanya Kemal langsung saja, apa yang membuat dia melamarmu? Bertanya padaku tidak membantumu mendapatkan jawaban..”

Dita mengangguk lemah. Aku melingkarkan kedua tanganku di pundaknya, memeluknya, seraya berdoa semoga Dita bisa lebih percaya diri, percaya bahwa dirinya pantas untuk dicintai.




Jangan Jadikan Aku yang Kedua part 2

|
"Hm... apa aja yang udah loe lakukan?" tanya Risa sambil melirik ke arahku
"Gue tanya langsung, tapi ngga selalu efektif, karena cowok bisa bohong. Jawabannya belum tentu bener. Gue harus belajar bisa bedain cowok yang bohong dan yang ngga."

Risa menggangguk-angguk mendengar penjelasanku.

"Gue udah coba pura-pura pinjem dompet biar cek KTP, berhasil pas gue coba ke Pak Andre, makanya gue tahu dia udah nikah tapi ngga mempan ke yang udah tunangan dan punya pacar, status ktpnya masih belum kawin.

Pernah pakai cara kepo media sosial, tapi ngga bisa kalau pasangannya ngga punya akun atau ngga aktif di sosial media juga, kayak waktu kasus Mas Herman dan Kak Aldi.

Cara tahu yang paling buruk tuh pas gue tiba-tiba didamprat sama pasangannya, kayak waktu kasus Rizki. Dikira cewek ngga bener lah padahal kalau tahu dia udah tunangan,mana mau gue jalan sama dia. "

"Gue kagum sama loe yang ngga menyerah percaya bahwa ada cowok baik di luar sana meski disakiti berkali-kali." Risa memandangku dengan tatapan simpati

Aku tersenyum getir. "Tiap kali disakitin cowok, gue inget bokap gue. "
Aku menghela napas "Bokap gue baik. Ngga tega aja gue kalau nanti cowok sebaik bokap gue muncul dan gue malah nolak karena alasan gue ngga percaya lagi sama cowok."

Mulut Risa membentuk huruf O saat mendengar penjelasanku. "Loe udah banyak berusaha, gue jadi bingung mau kasih saran apa." Risa garuk-garuk kepala.

"Kalau loe jadi gue, apa yang bakal loe lakukan, Ris?"

"Emmm... Berhenti sejenak dari pencarian cinta ini. Refleksi. Belajar cara bedain cowok yang bohong dan ngga, nanya ke temen cowok, baca buku tentang hubungan, self-help gitu, terus berdoa sama Allah minta diberi jalan keluar dari masalah ini."
Aku menggangguk-angguk. "Hm... bagus juga Ris saran loe!"


....
Sebulan kemudian..

"Ris, anterin gue belanja ke Tanah Abang yuk." sahutku
"Boleh. Mau belanja apa?"
"Jilbab, gamis"
"Loe mau berhijab?" mata Risa terbelalak.
"Iya, insya allah." aku nyengir lebar.
"Alhamdulillah. Ada angin apa tiba-tiba?" tanya Risa seolah tak percaya
"Karena saran loe." Aku menunjuk ke arah Risa.
Risa mengernyitkan dahi.
"Dulu kan loe suruh gue berdoa. Nah, sebenarnya udah lama gue ngga berdoa sama Alah, kalau habis shalat langsung pergi. Akhir-akhir ini, gue mencoba berdoa minta jalan keluar masalah cowok ini. Terus dua minggu lalu gue ikut kajian Aa Gym di Istiqlal. Gue jadi sadar Allah belum jadi nomor satu di hati gue. Gue masih sering menggantungkan diri dan berharap ke makhluk, bukan ke Allah. Mungkin karena itu dikasih masalah dikejar-kejar cowok yang udah punya pasangan.  Kayaknya Allah ingin bilang kalau gue aja ngga suka jadi yang kedua, apalagi Allah. Sekarang, gue pengen memperbaiki diri, pengen Allah jadi nomor satu di hati gue. "
"Alhamdulillah. Gue seneng dengernya" pekik Risa kegirangan sambil memelukku. "Semoga loe istiqomah ya."
"Amin.. Mohon doanya, ya Ris". Aku tersenyum simpul.

Image Courtesy of Stuart Miles at freedigitalphotos.net


The End


Jangan Jadikan Aku yang Kedua

|

Image Courtesy of takmeomoe at pixabay.com


"Loe kenapa?" tanya Risa setelah melihatku pulang ke kosan dengan muka cemberut.
"Tris udah punya pacar!" keluhku.
 Aku berjalan gontai melewatinya, memutar kunci dan membuka pintu kamarkuu.
"Lagi?" tanya Risa terkejut seraya berjalan mengikutiku masuk kamar.
"Hahahahah. Sumpah, komedi banget cerita cinta loe!" Ujar Risa sambil tertawa memegangi perutnya 
"Eh, gue serius tahu. kok loe malah ketawa?"aku menatap Risa dengan lekat campur gemas.

Risa nyengir lebar, "Gue juga serius. Coba loe inget-inget lagi yang ngedeketin loe: Ada Pak Denny, Mas Andre, Mas Herman, mereka udah married. Terus ada Kak Tito, Kak Aldi, Rizki, Herri, pada udah tunangan, sekarang si Tris, ternyata udah punya pacar. Kalau jadi film, masuk komedi tuh."

Aku tercengang. "Hm... Ngga dong. Ini tragedi, bukan komedi!"
"Dua-duanyalah.. tragedi dan komedi" ujar Risa sambil tersenyum.
"Iiih.. apaaan sih!" aku melempar bantal ke arah Risa.
 Risa berhasil menghindar dan menangkap bantal sebelum mengenai wajahnya.

"Ris, kok gue selalu dapet cowok yang udah punya pasangan, ya?"
"Gue juga nanya hal yang sama." Risa mengangkat kedua bahunya.

"Padahal gue kayaknya ngga pernah pasang iklan berminat dijadikan kedua. Apa jangan-jangan muka gue secara ngga langsung bilang minta dijadiin yang kedua?
"Ngga lah.. Mungkin loe belum beruntung aja. Eh tapi ini mendingan ngga sih? Dulu loe dikejar-kejar yang udah married, sekarang kan yang udah punya pacar."
"Iya juga ya. Makasih Ris." jawab gue sambil memeluk Risa
"sama-sama."

"Ris, gimana caranya gue tahu cowok yang deketin gue tuh masih single, bukan yang udah married, udah tunangan, dan udah punya pacar? Gue letih sama semua ini"




bersambung... 


Kepada Dio tentang Mimpi

|
Image Courtesy of Doug Robichaud at Unsplash.com 



Dear Dio,

Kau titip pesan pada Sahabatku agar aku berhenti menyukaimu.
Kau bilang dirimu tidak sebaik yang kukira.
Aku kaget tentu saja.
Kukira aku mencintaimu diam-diam.
Ternyata ketahuan ya?
Apakah tingkah laku ku sejelas itu?
Entahlah aku masih percaya kau sebaik yang kukira.
Aku kan tahu kebaikanmu karena memperhatikan tingkah lakumu.
Karena mendengar ceritamu dari sahabat- sahabatmu.
Kau yang selalu membawa quran kemana pun kau pergi.
Kau yang murah senyum.
Kau yang keras kepala.
Kau yang pendiam tapi jika bicara bisa membius pendengarmu,
Atau setidaknya kau membiusku.
Kau tahu tidak kalau ulang tahun kita hanya berjarak 2 hari?
Masih belum percaya kalau sebaik yang kukira?


Apa kau takut karena aku menyukaimu diam-diam?
Aku mohon maaf.
Terima kasih atas pesanmu.
Ucapanmu membuatku mempertanyakan rasa sukaku padamu.
Benarkah yang kusukai adalah ideku tentangmu, bukan dirimu yang sebenarnya?
Apa yang paling kusukai darimu?
Mengapa aku menyukaimu?
Kurasa sekarang aku tahu kenapa aku menyukaimu.
Aku kagum kau mengejar mimpimu dengan begitu berani.
Aku tidak seperti itu.
Aku tidak yakin dengan diriku sendiri, dengan mimpiku.
Aku pengecut.
Sembunyi dari mimpi-mimpiku karena takut terjatuh.
Aku menyukaimu karena aku ingin sepertimu,
Yang percaya pada diri dan mimpi.
Aku pikir jika mendukung dan mendoakanmu untuk meraih mimpi-mimpimu,
Aku pun telah meraih mimpiku.
Senang rasanya jika menjadi bagian keberhasilan sebuah mimpi.
Itulah yang kupikir.
Sekarang aku sadar, kau benar.
Aku membohongi diriku sendiri.
Mimpimu dan mimpiku tidak sama.
Tercapainya mimpimu tidak otomatis membuat mimpiku tercapai.
Aku harus berhenti menyukai mu.
Aku harus mulai percaya pada diri dan mimpiku sendiri.
Aku harus berhenti menjadi pengecut.

Selamat tinggal Dio.
Semoga kau bisa mencapai mimpi-mimpimu.
Kuharap saat kita bertemu lagi aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku telah berhasil mencapai mimpi-mimpiku.

Best wishes,

Your (no longer) secret admirer

Terima Kasih

|
Image courtesy of thaikrit at FreeDigitalPhotos.net

Aku sedang menyesap secangkir green tea latte di sudut sebuah kafe, seorang lelaki datang  ke hadapanku.

Dia tersenyum dan menanyakan kabarku. Untuk beberapa saat kami mengobrol mengenai kabar dan kesibukan kami masing-masing.

Dadaku berdegup kencang dan aku keringat dingin. Ini akan jadi hari bersejarah. Dua bulan lalu, aku memberanikan diri menyatakan cinta padanya dan mengajaknya menikah.

“Aku sudah istikharah dan ...” Dia tampak ragu
Aku menatapnya dengan penuh harap
“I feel nothing”  Dia menatapku lekat-lekat.
“Apakah ini berarti jawabanmu adalah tidak?” tanyaku dengan suara bergetar
“Kau tahu, kakak sepupuku nyaris batal menikah karena calonnya orang Padang. Keluargaku sekonservatif itu.”
“Jadi, kau ingin bilang bahwa keluargamu tidak menerima yang bukan Tionghoa?”
“Kau ingat mantanku, Ranti, aku sempat menemui orang tuanya di Medan tapi berita tersebut diketahui keluarga besarku dan  mereka menunjukkan penolakan karena dia bukan amoy* . Saat itu aku hanya tersenyum, meneruskan makan, berpura-pura tidak mendengar, memikirkan yang mereka ucapkan.  Aku seserius itu dengan Ranti.”
“Bisakah kita hentikan percakapan ini? Aku ingin menangis.“ Aku berdiri dari kursiku. Aku tidak boleh menangis disini. Aku harus menahannya.
“Mira ...”
“Kita sudah sama-sama istikharah, kurasa ini jawaban dari Allah. Terima kasih sudah menepati janji untuk memberikan jawaban.”
Aku memaksakan diriku tersenyum kemudian beranjak pergi dari kursi.
Dia mengejarku
“Mir, sebenarnya aku juga ingin menikah tahun ini, sama sepertimu. Tapi tidak sekarang, biar aku yang nanti datang melamarmu”
Kakiku rasanya lemas. Bukankah dia tadi menolakku? Mengapa sekarang memberi pernyataan yang seolah memberi harap? Batinku
Aku diam membisu, terlalu bingung untuk menjawab.
Mungkin ini tidak nyata.  Waktunya untuk sadar.
 “Sebaiknya aku pulang” ujarku pelan,  menghindari tatapannya.
 “Kau ingin kuantar pulang? ”
Aku menggeleng pelan dan kemudian mempercepat langkahku menjauh darinya.

...

Selama di jalan aku berkali-kali mengatakan pada diriku sendiri “Perkara seorang muslim itu selalu baik. Jika  mendapat nikmat , dia bersyukur dan jika mendapat musibah, dia bersabar” Air mataku mengalir dan merasakan napasku sangat sesak. “Saat ini kau menangis karena kau tidak mengerti, Mira. Kau harus ingat bahwa Allah tidak pernah zalim kepada hambaNya. Allah Maha Baik and He is the best planner. “

“Ya Allah, bantulah hamba untuk bersabar, bersyukur, dan  memahami hikmah dibalik peristiwa ini.”

Aku mengambil hapeku dan mulai mengetik di notes. Menulis surat untuk diriku sendiri.

Assalamu’alaikum Amira
Terima kasih telah memberanikan diri mengajak lelaki yang kau cintai menikah
Terima kasih telah mempertaruhkan harga dirimu
Mungkin kau akan sulit menerima penolakan, tapi percayalah itu keputusan Allah untukmu
Allah tidak pernah zalim terhadap hambaNya
Dia selalu memberikan yang terbaik
Allah tidak lalai memberi yang tidak kita minta, apalagi memberi yang kita minta
Bersiaplah untuk menerima lebih baik, lebih indah dari yang dibayangkan
It is not the way you imagined
It is even better
Terima kasih sudah berdoa dan shalat istikharah
Itu suatu kemajuan
Kalau khawatir, ubah khawatir itu menjadi doa
Percayalah nanti saat kau telah tua, kau justru akan menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan, bukan yang telah kau lakukan.
Semangat!
Ambil hikmahnya!
I am proud of you!

Aku membaca kembali surat untuk diriku sendiri.

Aku terisak.
Terima kasih Allah.
Alhamdulillah ala kuli hal
Terima kasih untuk diriku sendiri.

*Amoy = perempuan berparas cantik, keturunan Tionghoa










Post Signature

Post Signature