Top Social

Tampilkan postingan dengan label cemas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cemas. Tampilkan semua postingan

My Brother's First Driving on Toll Road

|
Image courtesy of David Marcu at unsplash.com



Kemarin adalah hari bersejarah dalam hidupku or keluargaku karena adik Huang untuk pertama kalinya mengendarai mobil di jalan tol. Jadi, kemarin selesainya arisan ke 16 Keluarga H. Abdul Azis di rumah Wa Ati di Citereup, Bogor, Bapak (ayah tiriku) merasa lelah dan memutuskan memberi kesempatan pada adikku Huang untuk mengendarai mobil dari Bogor ke Tanah Abang, untuk mengantarku. Umiku menentang hal ini karena dia belum yakin Adikku Huang sudah lancar membawa mobil. Adikku Huang baru mengikuti 5 sesi kursus mengemudi dari keseluruhan 10 sesi. 

Namun, Bapak bersikukuh. Sementara Umi membujuk Bapak untuk membatalkan recananya, aku memberi tahu Huang bahwa Bapak memintanya mengendarai mobil, mendengar hal itu dia tertawa tapi beberapa detik kemudian langsung duduk di bangku kemudi.

Selama di perjalanan, umi berkeringat dingin dan menampilkan wajah cemas, bahkan umi menyangka aku juga cemas seperti beliau karena aku tidak tidur seperti yang biasa aku lakukan. Jadi, salah satu kebiasaanku begitu naik mobil adalah langsung tidur dan bangun ketika sudah sampai tujuan. Jangan tanya arah jalan padaku ataupun pemandangan karena aku menghabiskan sebagian besar waktu di perjalanan dengan tidur. Hehehehe 

Kali ini aku tidak tidur karena aku ingin melihat bagaimana adikku menyetir pertama kali di jalan tol. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan ini!

Jujur saya, aku merasa adikku cukup smooth membawa mobil, dia lebih tenang dari yang aku bayangkan. Dia juga berhasil berbelok dengan baik dan berhenti tepat saat mengambil/membayar karcis tol. Hal yang aku kagumi adalah dia membawa banyak orang lho, membawa bapak, umi, aku dan adikku, memey. \(^0^)/

Alhamdullillah kemarin aku dan keluargaku selamat sampai kosanku di Taman Tanah Abang.

P.S. saking menikmati momen memperhatikan adikku Huang, aku lupa memfoto dia sedang mengemudi. Jadi gambarnya ilustrasi saja ya?^^v

Pantas

|



"Cha, Kemal mengajakku menikah" ungkap Dita dengan nada cemas.

Aku bisa melihat kecemasan dan ketakutan di mata Dita. “Aku tidak mengerti. Bukankah ini berita bagus? Kau sudah lama menyukainya diam-diam bukan?” 

“Justru itu! Aku tidak mengerti apa yang membuat dia menyukaiku. Ini terasa tidak nyata, terlalu bagus untuk jadi kenyataan." Dita memejamkan matanya "Kau kan tahu dia lulus cumlaude, aktif di BEM, cakep, hebat dalam berorasi, shalat selalu tepat waktu, rajin puasa senin-kamis, sementara aku tidak sedikit pun menyerupai kehebatannya. Aku hanya gadis biasa, masih banyak gadis lain yang lebih cantik, lebih pintar. Rasanya tidak pantas bagiku bersanding dengannya. Mengapa dia memilihku? ”

 “Dit, jika dia memilihmu, bukankah tandanya dia merasa kau pantas bersanding dengannya? Lagipula, bukan tugas kita menentukan siapa pantas dengan siapa. Itu tugas Tuhan. ” 

“Entahlah. Aku takut, Cha. Bagaimana kalau dia salah mengenalku? Mungkin dia mengira aku sosok yang baik. Bagaimana jika setelah menikah, dia justru menemukan bahwa aku berbeda dari yang selama ini dia pikirkan? Bagaimana jika dia kecewa?”

"Dit, bagiku kau adalah sosok gadis yang ceria, optimis, tidak mudah menyerah, dan memiliki semangat yang tinggi untuk mengenal Islam dan memperbaiki dirinya. Jika aku laki-laki, tentu aku akan mengajakmu menikah.” 

“Kau bicara begitu kan karena kau sahabatku. Jangan membuatku keGRan. Aku tidak cantik dan pintar. Aku punya banyak kekurangan.”

Dita menatapku, masih terlihat ragu. 

Aku tidak percaya mendengarnya, ternyata Dita sahabatku ini rendah diri.
“Aih Dita, tidak ada manusia yang sempurna, begitupun aku dan Kemal. Apa yang membuatmu mau berteman denganku? Kecantikan kah? Kepintaran kah?”

Dita menggeleng, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Begitu pula dalam memilih teman hidup, Ini bukan hanya soal kecantikan dan kepintaran. Kalau memang hanya itu, pernikahan bahagia hanya dimiliki oleh orang-orang pintar dan cantik saja. Jangan berpikir bahwa kau tidak cukup baik, kau baik, Dita. Belajarlah menerima dirimu dan mencintai dirimu sendiri. Kau layak dicintai." aku mengoceh panjang lebar menceramahinya.
"Bagaimana kalau tanya Kemal langsung saja, apa yang membuat dia melamarmu? Bertanya padaku tidak membantumu mendapatkan jawaban..”

Dita mengangguk lemah. Aku melingkarkan kedua tanganku di pundaknya, memeluknya, seraya berdoa semoga Dita bisa lebih percaya diri, percaya bahwa dirinya pantas untuk dicintai.




Post Signature

Post Signature