Top Social

Tampilkan postingan dengan label nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nulis. Tampilkan semua postingan

My Best Moments in 2015

|
Assalamualaikum Good People
:D

I still can’t believe 2015 has already over.
Aku merasa tahun 2015 berlalu begitu cepat.
Mungkin karena ada banyak momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Biar ngga lupa, aku mau merangkum momen-momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Image Courtesy of backjunsung at pixabay.com, edited by me


Di tahun 2015, setelah setengah tahun bergabung dengan majalah SWA, akhirnya aku mendapatkan kartu pres.
Ngga nyangka bakal dapet soalnya aku bekerja sebagai staf riset bukan jurnalis.
Waktu kecil, aku dulu pernah membayangkan kerja jadi wartawan/jurnalis. Kesannya keren dan pinter gitu. Hihihi
Tapi kata Manajerku, staf riset itu bisa disebut juga jurnalis, lebih tepatnya jurnalis data.
Lalu pada bulan September 2015, alhamdulillah aku diangkat menjadi karyawan tetap majalah SWA.
Yeay!




Di tahun 2014 aku menyadari aku ingin menjadi penulis. Sebenarnya keinginan itu sudah ada dari tahun 2011, tapi aku tidak berani memulai.
Hehe
Di tahun 2015, alhamdulillah aku mulai belajar menulis dan berusaha jadi penulis.

“Twenty years from now you will be more disappointed 
 by the things that you
 didn’t do than by the ones you did do. 
 So throw off the bowlines.
 Sail away from the safe harbor. 
 Catch the trade winds in your sails. 
 Explore. Dream. Discover.”
 Mark Twain

Salah satu strategi yang kulakukan adalah mengurangi jumlah bacaan dan menggunakan waktu membacaku untuk menulis. Soalnya saat aku memperhatikan akun-akun Goodreads Author, kebanyakan dari mereka hanya menerapkan target 50 buku setahun. Jadi di tahun 2015, aku tidak menargetkan untuk membaca 100 buku seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya 36. Alhamdulillah meski hanya menargetkan membaca 36 buku ternyata aku tetap membaca lebih dari 100 buku (41 diantaranya adalah komik).
Baca juga Tips Membaca 100 Buku dalam Setahun 

Untuk menulis sendiri, pencapaian tahun ini adalah dua cerpen dan 3 esai pendekku terbit dalam bentuk buku antologi. Alhamdulillah!
Tertarik ingin membaca? Cara mendapatkannya bisa baca di Publikasi


Selain itu, aku juga rajin update blog The Luckiest ini, membenahi desainnya dan ikut komunitas Blogger Muslimah, Indonesian Hijab Blogger dan juga Blogger Perempuan Network. :D Alhamdulillah aku bersyukur bisa bergabung dalam komunitas ini. Aku mendapat banyak kenalan dan ilmu baru!





Terpengaruh oleh temanku, Retno. Di tahun 2015 lalu, aku sering ikutan kuis dan hasilnya 3 kali memenangkan kuis Elexmedia. Aku mendapat hadiah tas dan komik. Alhamdulilah! Makasih banyak Retno dan Elexmedia!


Di tahun 2015 ini juga aku baru tahu ternyata ada cara mendapatkan buku/novel secara gratis, yaitu dengan ikutan giveaway yang diselenggarakan penerbit, penulis dan blogger buku. Dulu aku tahunya dengan cara ikutan giveaway di Goodreads, tapi belum pernah menang. Aku mencoba banyak giveway novel dan alhamdulillah tahun ini berhasil memenangkan novel Replay dan 100 days.




Momen manis dan menyenangkan lainnya adalah momen reuni dengan teman-teman dekatku semasa kuliah (dan hingga saat ini).


Aku senang bisa bertemu mereka mengingat paska kampus, kami jarang bertemu, padahal dulu bisa bertemu setiap hari.  Jadi ketemu sebentar aja rasanya bahagia sekali, dan sudah bisa mengobati rasa kangen. 

I cannot even imagine where I would be today 
were it not for that handful of friends 
who have given me a heart full of joy. 
Let's face it, friends make life a lot more fun.
Charles R. Swindoll

Nah, untuk momen terbaik di tahun 2015 sendiri adalah saat aku memberikan sebagian uang THRku kepada Umi. Seperti yang pernah aku ceritakan dalam post Hadiah, ketika kondisi keuangan keluarga kami sulit, Umi pernah menjual cincin kawinnya untuk uang berobat adikku, memey. Aku bercita-cita suatu saat nanti ingin membelikan umiku cincin untuk menggantikan cincin yang pernah umi jual tersebut. Alhamdulillah akhirnya niat tersebut terwujud juga di tahun 2015.

Saat aku mengajak umi pergi untuk membeli cincin, umi bilang ngga usah soalnya umi sudah punya cincin kawin dari ayah tiriku. Umi malah menyuruhku untuk menabung uang tersebut untuk keperluan lain. Tapi aku bilang padanya mungkin malah aku gunakan untuk kepentingan yang ngga penting lainnya. Hehe. Akhirnya Umi mau menerimanya dalam bentuk uang.

Meski itu keinginan egoisku, ternyata Umi senang. Tiap ada anggota keluarga besar yang datang, Umi menceritakan bahwa beliau senang dengan pemberianku.
Aku tahu pemberianku tidak sebanding dengan segala jasa Umi tapi aku senang bisa membuat beliau bahagia. Melihat senyuman di wajah umi itu priceless.



Alhamdulillah it's been fun year!
Semoga di tahun 2016 ini ada banyak momen-momen bahagia yang menanti kita semua! (^0^)/



http://indonesian-hijabblogger.com/2015/12/ihb-blogpost-challenge-best-moment-2015/

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blogpost Challenge “The Best Moment of 2015”.

Creative Writing: Jadikan Keunikanmu sebuah Karya (Penerbit Bukune)

|

Syafial Rustama (Pemimpin Redaksi Bukune), Ry Azzura (Editor Bukune) dan Marco Ivanos (penulis
Super Not Inspiring Book ) pada hari Sabtu 5 Desember lalu berbagi tips menjadikan keunikan sebagai sebuah karya di Festival Pembaca Indonesia 2015.

Sesi dimulai dengan pembagian kertas seperti formulir kepada para peserta yang berisi

Nama:
Keunikan:
Premis:
Paragraf Awal:

Peserta diminta mengisi keunikan, namun banyak yang kebingungan. Ry Azzura pun memberi contoh keunikan dirinya: seorang perempuan yang berpenampilan tomboi.


Mengapa ditanya keunikan? Karena keunikan bisa menjadi ide untuk membuat premis.


Contoh Premis:  

Premis tidak menarik: Seorang jomblo ditolak karena bau badan
Premis menarik: Seorang jomblo sebenarnya seorang pangeran namun terkena kutukan bau badan

Romeo & Juliet: Cinta yang tidak direstui

Student Guidebook: Sekolah bisa menyenangkan
Relationshit: Hubungan yang selalu dikecewakan

Buat yang belum tahu, premis: Inti tulisan dalam satu kalimat. Biasanya susunan premis fiksi seperti ini: tokoh utama + tujuan+ halangan



Dari Premis dapat menyusun Outline.

Outline berfungsi sebagai Kerangka cerita, Urutan Bercerita, Arahan, dan Mengingatkan.
Ketika memiliki outline, menulis bisa dimulai random dari bab manapun, tanpa harus berurutan.

Bukune dengan genre personal literatur siap menampung kisah tentang keunikanmu.

Apa saja yang bisa ditulis?
a. Kegelisahan

Kegelisahan yang teman-teman rasakan bisa jadi banyak orang memiliki kegelisahan serupa.
Misal: Galau tidak lulus-lulus kuliah, kesal dengan kemacetan Jakarta, Curhat Patah Hati

b. Yang paling diketahui

Contoh: Kevin Anggara tips mengatasi guru galak
Marmut Merah Jambu Raditya Dika -> karena cinta bisa kadaluarsa

c. Yang dekat

Bisa cerita kehidupan sehari-hari. seperti cerita Marco


Marco lo kepikiran kasih nama apa kalo punya anak cewe?
Kamu Sayasendiri Ivanos.
Kalo diabsen
"Kamu,kamu ada?"
"Iya pak saya kamu pak"
"Iya saya sendiri tau kamu itu kamu"
"Lah saya sendiri nama belakang saya pak"
"Jadi nama kamu,kamu kamu?"
"Bukan pak,saya kamu saya sendiri"
"Iya saya tahu kamu itu kamu sendiri nak"
"Pak saya ini saya sendiri paK"
"Kamu keluar dari kelas saya"

Ka cerita Lagi‎ 
KULKAS
Jadi dulu pas gua SD kelas 2an gitu lah,mamah baru beli kulkas baru kan.
Gua tuh seneng gitu makanin es batu. Suka gua emut emut.
Jadi tiap ada yang buat es batu suka gua ambilin. Dari kecil udah panjang tangan.
Suatu saat gua bilang.
"Mah kok es batu ga ada!"
"Iya mamah ga buat tadi lupa"
"AH TERUS KAKA NYEMIL APA"
Kaya ga ada makanan lain di dunia. Semut sama upil banyak padahal.
Yaudah gua ngambek.
Ga ngomong ke nyokap 2 jam.
Sampe akhirnya gua yang jenius ini mendapat ide cemerlang.
Kan ada freezer,pasti dingin. YAIALAH DINGIN.
Trus dengan tampan dan gagah beraninya gua jilat itu freeezer.
Eh. Lidahnya. Nempel.
Panik.
"WAWAH WIDAH HAHA HEMPEL HIH. HOLONG HAH HOLOONG"
Trus ga ada yang denger.
Ada kali tiga menitan gua disana diem,nangis sambil melet.
Biasa lah bocah nangis suka ngedumel.
Tapi gua ngedumelnya ngedumel hidayah.
"Ya huhan,harco hinta haaf hatas hemu hoha harco ya huhan"
KEK ORANG SAKARATUL MAUT
Trus mamah datang. Ku senang.
Dipakein air anget.
Lepas.
Dah. 
Ry Azzura kemudian melontarkan pertanyaan dalam menulis, Ingin mencari atau dicari penerbit?
Tentu saja kita ingin dicari penerbit. Apalagi sekarang jamannya sosial media, seseorang bisa terkenal melalui ceritanya di wattpad, ask fm, status path, youtube, dan lain-lain.

Ry Azzura menyarakan dalam menulis, ubah pola pikir! Jangan yang penting naskah saya terbit tapi yang penting naskah saya terbit, jadi best seller, review di Goodreads bagus, diquote di tumblr.

Kalau buku laku, penulis dan penerbit sama-sama diuntungkan. 

Menurut Ry Azzura, setiap orang punya cerita lucu tapi tidak semua orang bisa bercerita dengan lucu. Dia sering kagum dengan orang-orang yang sering cerita di sosmed dan disukai banyak orang. Mereka seringkali tidak menyadari kalau mereka bisa menulis. 


Ry Azzura mengakui bahwa balah satu pertanyaan yang sering ditanya adalah mengapa seleb sosial media mendapat tawaran menulis? 

Karena disukai banyak orang/terkenal juga termasuk keunikan. 
Untuk seleb-seleb di sosial media, editor bukune sebelum menawarkan mereka menulis buku akan mengecek apakah mereka bisa menulis dan konsisten menulis. Biasanya yang pertama kali dicek adalah blognya.
Terkenal bukan satu-satunya faktor mendapat tawaran menulis dari penerbit, tetap ada filter/sortir terlebih dahulu.

Menurut Ry Azzura, jika semua seleb sosial media ditawari untuk menulis, mungkin sekarang buku yang diterbitkan Bukune lebih banyak lagi. Sayangnya, tidak semua seleb sosial media bisa menulis.

Dalam menulis, jangan berpikir idenya harus wah atau baru sehingga kalian tidak juga menulis.

Ry Azzura menjelaskan bahwa tidak ada cerita yang orisinal, tapi biasanya sudut pandang berbeda.
Contoh: Past & Curious dengan premis jika hidup punya tombol rewind.
Setiap dari kita pernah membayangkan jika hidup kita punya tombol rewind tapi tentu sudut pandangnya berbeda.

Ry Azzura berbagi tips supaya dicari penerbit: 

a. Milikilah personal branding
Ingin dikenal sebagai apa? Branding itu direncanakan untuk bisa sukses.
Marco sempat menceritakan kisahnya :
Awalnya dia hanya ikut-ikutan teman-temannya membuat akun ask fm.
Tidak disangka jawabannya dilike banyak orang.
Dia kemudian memperhatikan jawaban-jawaban yang likenya banyak. Dia menemukan bahwa like banyak ketika dia menampilkan diri sebagai seorang yang miskin, tersiksa/dibully, ga tahu malu, males.
Sehingga ketika menjawab untuk pertanyaan selanjutnya di ask.fm, Marco berusaha mengulang ciri khas tersebut. 
b. Mulailah berkarya di sosial media (share).
Biarkan orang tahu karyamu. Kita hidup di era dimana jika kamu tidak memberi tahu karyamu, kau dianggap tidak berkarya. Ry Azzura juga merekomendasi bacaan yaitu Show Your Work karya Austin Kleon
c. Konsisten berkarya
Perlu waktu untuk menjadi bagus dan terkenal. Memaku itu tidak cukup sekali dan mendaki gunung itu tidak cukup satu langkah.


Sesi kemudian dilanjutkan oleh Syafial Rustama. 

Beliau membahas mengenai menerbitkan buku.

Apa motivasi menulis buku?
-Hanya ingin menerbitkan

-Menjadi terkenal
-Royalti?
-Menginspirasi?
-Menjawab keresahan?

Menurut Syafial, semua alasan di atas benar, yang penting adalah NULIS!


Sekarang, bagaimana caranya naskah menjadi buku?

-> lewat perusahaan penerbit
    Biasanya naskah ini sudah melalui seleksi, editing dan kompetisi
-> Self publishing
   Beranikan dirimu raih kesempatan

Dalam menerbitkan buku, pilihlah "rumah" yang tepat.

*Pahami genre tulisan
*Riset berbagai penerbit (googling, kunjungi toko buku)
*Pahami karakter setiap penerbit dan pastikan genre tulisanmu cocok
*Kenali "saingan" bukumu
*Pelajari tren

Syarat-syarat pengajuan Naskah

Untuk mengetahui syarat-syarat pengajuan Naskah ke Bukune bisa cek disini.
Bukune menerima Personal Literature, Novel Komedi, Novel Horor, How-to, Lifestyle, dan Comics.

Apakah Naskah saya memenuhi syarat?
Cek tema dan genre.


Selain itu, edit sendiri naskahmu sebelum dikirim ke penerbit

> Ini cerita bukan hanya kumpulan kata-kata tanpa makna
>Ketahui sisi lemah tulisanmu
> Jangan ragu untuk memotong atau menghapus bagian yang tidak perlu.
> Milikilah beta readers/first readers 
> terbuka terhadap feedback

Jangan sampai naskahmu dibantai editor, atau lebih parah dibantai pembaca.


Dalam mengirim naskah, perhatikan prosedur dan ikuti. Jika ditulis empat bulan baru mendapat kabar, tunggu empat bulan. Jangan bertanya sebelum empat bulan.


Jika ditolak, jangan katakan saya tidak cukup bagus tapi katakan  saya belum cukup bagus.


Jika mengalami writer block, paksa diri menulis. Ingat tulisan jelek lebih baik dari tulisan yang tidak ada (ga jadi). Tulisan jelek bisa diedit, tulisan yang tidak ada, apa yang mau diedit?


Syafial kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat "Deadline bikin hidup terburu-buru tapi hidup perlu terburu-buru agar banyak pencapaian. "

Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Tips dari Talkshow Writer’s Club Femina: Daily Life in Fiction

|

Editor Fiksi Femina Mba Ficky Yusrini dan novelis Mba Erni Aladjai berbagai tips menulis dalam Talkshow Writer’s Club Femina: Daily Life in Fiction pada Sabtu, 5 Desember di Festival Pembaca Indonesia 2015.

https://twitter.com/owlmilove/status/672987259289800705
Image Courtesy of owlmilove
Sesi dimulai dengan menceritakan latar belakang dan kesibukan Mba Erni Aladjai. Mba Erni berasal dari Sulawesi Selatan dan merupakan juara 2 & 3 Cerbung Femina. Beliau baru saja kembali dari Book tour di Amerika. Beliau mengunjungi San Hose, UC Berkeley, Stanford serta klub pencinta bahasa Indonesia di San Fransisco. Beliau bercerita mengenai perbedaan pertanyaan peserta booktour di Amerika dan Indonesia. Peserta booktour di Amerika biasanya merupakan pembaca karyanya sehingga ketika sesi tanya jawab, pertanyaan yang muncul adalah mengapa karakternya seperti ini? Mengapa alurnya begini? Dsb. Sementara peserta booktour di Indonesia belum tentu pembaca karyanya dan pertanyaan yang sering ditanya adalah proses kreatif dibalik penulisan novel.

Mba Erni bercerita awalnya dia bekerja kantoran di sebuah bimbingan belajar dan juga bekerja secara part time sebagai editor berita, kemudian memilih berhenti bekerja dan fokus menjadi penulis. Ternyata rezeki tetap mengalir ketika dia memilih full time sebagai penulis.

Mba Erni mengungkapkan alasan beliau menyukai cerpen-cerpen di Femina adalah tokohnya orang biasa dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Mba Ficky. Mba Ficky memberi contoh salah satu cerpen yang dimuat di Femina bercerita tentang seorang lelaki dan tunangannya yang seminggu lagi hendak menikah pergi belanja ke mall, sampai ke toko tas dan tunangannya mengatakan dia menyukai salah satu tas yang dipajang. Sang lekaki pun kembali lagi ke toko tersebut untuk membelikan tas yang disukai tunangannya dengan harapan memberi kejutan. Ternyata tunangan tersebut malah tidak suka mendapat tas tersebut dan berkata “Mengapa kamu menghambur-hamburkan uang untuk membeli tas tersebut? Tas tersebut palsu. Kembalikan saja tasnya.” Akhirnya sang lelaki pun kembali ke toko tas tersebut, namun dirinya malah jatuh cinta dengan penjaga toko.

Cerita ini dekat dengan kehidupan sehari-hari karena perempuan terutama familiar dengan pengalaman berbelanja tas. Selain itu, cerita tentang ditinggal kekasih mendekati hari pernikahan juga merupakan salah satu cerita yang sering kita dengar.

Mba Ficky memberi saran dalam menulis cerita, jangan membuat tokoh yang sempurna tetapi buatlah tokoh yang tidak sempurna yang hidupnya struggling. Pembaca tidak dapat mengidentifikasi diri jika tokohnya sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna.

Menurut Mba Ficky, kehidupan sehari-hari bisa menarik jika diolah menggunakan kata-kata yang memikat. Tantangan menulis daily life adalah mengubah klise menjadi menarik. Beliau juga memberi tips untuk menulis yang kita ketahui dan kenal dekat, seperti perjuangan naik kereta commuter line.

Mba Erni bercerita bahwa beliau pernah membaca artikel tentang sisa makanan dan artikel tsb menyebutkan jika seluruh sisa makanan restoran di seluruh dunia dikumpulkan bisa memberi makan satu  benua Afrika. Artikel tsb membuat Mba Erni tersadar bahwa hal kecil, seperti menyisakan makanan ternyata bisa berdampak besar.

Dari membaca artikel tsb, Mba Erni tergerak menulis cerpen tentang pesta, dimana orang-orang di pesta tersebut menyisakan makanan dan di akhir cerita makanan tersebut menangis. Dalam menulis perjuangkan suatu nilai.

Salah satu cara Mba Erni mendapatkan ide cerpen adalah dari obrolan di perjalanan. Mba Erni menyarankan agar banyak mendengar, banyak bertanya dan sedikit memberi tahu.

Mba Erni pernah bertemu dengan seorang Ibu yang memiliki anak berusia empat tahun dan anak tsb mencoret mobil baru Ibunya. Ketika ditanya alasannya, sang anak menjawab supaya mobilnya tidak hilang. Ternyata selama ini Ibunya sering memberi label nama pada barang-barang sang anak. Sang anak bertanya mengapa ibunya melakukan hal tersebut? Ibunya menjawab agar barang-barang sang anak tidak hilang. Sang anak kemudian belajar jika suatu barang diberi nama maka barang tsb tidak hilang. Sang anak pun menerapkan hal serupa pada mobil ibunya.

Contoh lain dari mendengar adalah Mba Erni mengetahui masalah petani. Mba Erni pernah bertemu petani yang berpendidikan rendah dan dia tidak mengetahui bahwa selama ini tengkulaknya menggunakan timbangan palsu. Setelah memperoleh pengetahuan, sang petani kemudian mengetahui bahwa selama ini dia ditipu oleh tengkulak dan mengetahui bahwa itu adalah timbangan palsu.


Ide lain beliau dapatkan dengan membaca dan melihat foto dari majalah, koran, dan buku.

Dalam menulis cerpen, Mba Erni menyarakan:
a.       bagian pembuka jangan klise, seperti matahari bersinar.
b.      Buat ending yang mengejutkan atau memantik pembaca berpikir mendalam.
c.       Paragraf pembuka bisa diedit berkali-kali agar ada yang baca (sayang kalau sudah nulis tapi tidak ada yang baca).

Mba Ficky berbagi ciri cerpen yang dimuat di media adalah karya yang bagus, awal menarik dan plot yang menarik. Beliau juga menyaranakan agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik yang benar, perhatikan EYD meskipun tokoh yang digunakan adalah ABG Gaul. Ada seninya dalam menyisipkan bahasa gaul, daerah atau asing dalam sebuah cerpen.

Mba Ficky mengatakan bahwa Femina sangat membuka diri untuk penulis baru. Rule di Femina adalah penulis yang sama (meski karyanya bagus) tidak akan dimuat dalam waktu berdekatan.

Mba Erni mengatakan kelebihan penulis baru adalah adanya kesegaran. Biasanya penulis lama jika kita sering membaca karyanya, lama-lama kita hapal gaya dan plot menulisnya. Selain itu, Indonesia butuh regenarasi penulis.

Ketika menulis, biasanya Mba Erni mengirim paragraf pertamanya ke lima temannya melalui pesan WA dan bertanya apakah temannya tertarik membaca lebih lanjut selesai membaca paragraf tsb. Salah satu kalimat pembuka yang Mba Erni suka dan terkenang selalu adalah kalimat pembuka karya Seno: Hidupku penuh kesedihan, karena itu aku mengembara.

Mba Ficky bercerita bahwa Femina memang menerima penulis-penulis dari luar jawa, yang menceritakan kekhasan budaya mereka. Namun sebagian orang yang mengirim cerpen terkadang terjebak dalam pemikiran bahwa untuk dimuat di femina harus menulis tentang pulau eksotis, padahal tidak seperti itu. Femina juga terbuka dengan cerpen yang membahas tentang urban seperti makan di kaki lima, tantangan hidup di kota besar, tidak adanya lahan sehingga harus berbagi jemuran.

Mba Erni menyarakan agar suatu ide disandingkan dengan hal lain agar ada pembelajaran. Ada pesan tapi jangan menggurui dan berhati-hati dalam memilih karakter. Perlu dicek apakah sudut pandang dan karakter yang kita gunakan dapat menyampaikan nilai yang ingin disampaikan.

Mba Erni membagi tips agar pembaca merasa ikut terlibat dengan tokoh:
a.       Menggunakan sudut pandang orang pertama
b.      Sentuh masalah yang dialami semua orang

Mba Erni biasanya menulis di rumahnya setelah shalat subuh dan tengah malam. Beliau tidak biasanya menulis di kafe. Tiap penulis punya gaya dan cara masing-masing untuk produktif menulis.

Sebelum mengirim cerpen ke Femina atau media lain, Mba Erni mempelajari karakter cerpen yang dimuat di media tersebut selama satu tahun.


Image Courtesy of Erni Aladjai & Femina Magazine

Di akhir sesi, Femina mengajak peserta untuk bergabung dalam Writers's Club Femina. Situs komunitas ini membuka ruang seluas-luasnya pada para pencinta fiksi untuk berkreasi. Kirim koleksi cerpen karya Anda dan asah kemampuan menulis Anda melalui berbagai artikel dan tip penulisan dari para penulis dan anggota komunitas lainnya. So, say goodbye to writer's block and start writing! 
:)

Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Post Signature

Post Signature