Top Social

Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan

Not a Lie but an Illusion

|


Aku baru selesai menonton Film Me and Earl and The Dying Girl. Me and Earl and The Dying Girl adalah adaptasi film dari novel berjudul sama karya Jesse Andrews. Film ini menceritakan bagaimana hidup Me (Greg) berubah setelah ibunya memaksa dia untuk berteman dengan cewek sekara atau The Dying Girl (Rachel Kusher).

Kalian bisa membaca review bukunya disini.

Salah satu adegan yang berkesan dalam film itu adalah saat Earl menjelaskan kepada Rachel mengapa Greg jarang menyebut seseorang sebagai teman.
Earl menjelaskan bahwa ibu Greg menyebut Greg tampan dan Greg menganggap ibunya berbohong karena
a. Ibu mana yang tidak bilang anaknya tampan
b. Greg tidak merasa tampan dan membenci dirinya sendiri.

Melihat adegan tersebut membuatku berefleksi akan pengalamanku. Karena sama seperti Greg, aku juga tidak percaya ketika Umiku bilang aku cantik.

Aku pernah cerita panjang lebar mengenai pengalamanku tidak merasa cantik disini.

Melihat kondisi Greg membuatku sadar bahwa ibu Greg maupun umiku tidak berbohong. I mean seseorang disebut bohong ketika berbicara tidak sesuai fakta/realita, bukan? (bukan berarti Greg tampan dan aku cantik). Hanya saja di mata Ibu Greg, Greg tampan dan di mata umiku, aku cantik. Mereka mencintai kami sehingga melihat kami dalam kacamata yang lebih positif. Bagi Ibu Greg, Greg tampan adalah realita.
Fenomena tersebut tidak tepat disebut sebagai kebohongan tapi ilusi. Psikologi menyebutnya positive illusion atau ilusi positif. Ketika kita mencintai seseorang, kita melihat mereka dalam positive light.

Sama saat kita jatuh cinta, sering kali kita melihat orang yang kita cintai lebih tampan/cantik sementara teman-teman kita sering kali tidak paham apa yang membuat kita merasa dia lebih tampan/cantik. Mungkin karena itu ya orang sering bilang kalau cinta itu buta. :)

Untuk tahu lebih lanjut mengenai positive illusion bisa baca:
Positive Illusions in Romantic Love: "You're the Nearest Thing to Heaven"
dan
The Eyes of Love


Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


My Best Moments in 2015

|
Assalamualaikum Good People
:D

I still can’t believe 2015 has already over.
Aku merasa tahun 2015 berlalu begitu cepat.
Mungkin karena ada banyak momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Biar ngga lupa, aku mau merangkum momen-momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Image Courtesy of backjunsung at pixabay.com, edited by me


Di tahun 2015, setelah setengah tahun bergabung dengan majalah SWA, akhirnya aku mendapatkan kartu pres.
Ngga nyangka bakal dapet soalnya aku bekerja sebagai staf riset bukan jurnalis.
Waktu kecil, aku dulu pernah membayangkan kerja jadi wartawan/jurnalis. Kesannya keren dan pinter gitu. Hihihi
Tapi kata Manajerku, staf riset itu bisa disebut juga jurnalis, lebih tepatnya jurnalis data.
Lalu pada bulan September 2015, alhamdulillah aku diangkat menjadi karyawan tetap majalah SWA.
Yeay!




Di tahun 2014 aku menyadari aku ingin menjadi penulis. Sebenarnya keinginan itu sudah ada dari tahun 2011, tapi aku tidak berani memulai.
Hehe
Di tahun 2015, alhamdulillah aku mulai belajar menulis dan berusaha jadi penulis.

“Twenty years from now you will be more disappointed 
 by the things that you
 didn’t do than by the ones you did do. 
 So throw off the bowlines.
 Sail away from the safe harbor. 
 Catch the trade winds in your sails. 
 Explore. Dream. Discover.”
 Mark Twain

Salah satu strategi yang kulakukan adalah mengurangi jumlah bacaan dan menggunakan waktu membacaku untuk menulis. Soalnya saat aku memperhatikan akun-akun Goodreads Author, kebanyakan dari mereka hanya menerapkan target 50 buku setahun. Jadi di tahun 2015, aku tidak menargetkan untuk membaca 100 buku seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya 36. Alhamdulillah meski hanya menargetkan membaca 36 buku ternyata aku tetap membaca lebih dari 100 buku (41 diantaranya adalah komik).
Baca juga Tips Membaca 100 Buku dalam Setahun 

Untuk menulis sendiri, pencapaian tahun ini adalah dua cerpen dan 3 esai pendekku terbit dalam bentuk buku antologi. Alhamdulillah!
Tertarik ingin membaca? Cara mendapatkannya bisa baca di Publikasi


Selain itu, aku juga rajin update blog The Luckiest ini, membenahi desainnya dan ikut komunitas Blogger Muslimah, Indonesian Hijab Blogger dan juga Blogger Perempuan Network. :D Alhamdulillah aku bersyukur bisa bergabung dalam komunitas ini. Aku mendapat banyak kenalan dan ilmu baru!





Terpengaruh oleh temanku, Retno. Di tahun 2015 lalu, aku sering ikutan kuis dan hasilnya 3 kali memenangkan kuis Elexmedia. Aku mendapat hadiah tas dan komik. Alhamdulilah! Makasih banyak Retno dan Elexmedia!


Di tahun 2015 ini juga aku baru tahu ternyata ada cara mendapatkan buku/novel secara gratis, yaitu dengan ikutan giveaway yang diselenggarakan penerbit, penulis dan blogger buku. Dulu aku tahunya dengan cara ikutan giveaway di Goodreads, tapi belum pernah menang. Aku mencoba banyak giveway novel dan alhamdulillah tahun ini berhasil memenangkan novel Replay dan 100 days.




Momen manis dan menyenangkan lainnya adalah momen reuni dengan teman-teman dekatku semasa kuliah (dan hingga saat ini).


Aku senang bisa bertemu mereka mengingat paska kampus, kami jarang bertemu, padahal dulu bisa bertemu setiap hari.  Jadi ketemu sebentar aja rasanya bahagia sekali, dan sudah bisa mengobati rasa kangen. 

I cannot even imagine where I would be today 
were it not for that handful of friends 
who have given me a heart full of joy. 
Let's face it, friends make life a lot more fun.
Charles R. Swindoll

Nah, untuk momen terbaik di tahun 2015 sendiri adalah saat aku memberikan sebagian uang THRku kepada Umi. Seperti yang pernah aku ceritakan dalam post Hadiah, ketika kondisi keuangan keluarga kami sulit, Umi pernah menjual cincin kawinnya untuk uang berobat adikku, memey. Aku bercita-cita suatu saat nanti ingin membelikan umiku cincin untuk menggantikan cincin yang pernah umi jual tersebut. Alhamdulillah akhirnya niat tersebut terwujud juga di tahun 2015.

Saat aku mengajak umi pergi untuk membeli cincin, umi bilang ngga usah soalnya umi sudah punya cincin kawin dari ayah tiriku. Umi malah menyuruhku untuk menabung uang tersebut untuk keperluan lain. Tapi aku bilang padanya mungkin malah aku gunakan untuk kepentingan yang ngga penting lainnya. Hehe. Akhirnya Umi mau menerimanya dalam bentuk uang.

Meski itu keinginan egoisku, ternyata Umi senang. Tiap ada anggota keluarga besar yang datang, Umi menceritakan bahwa beliau senang dengan pemberianku.
Aku tahu pemberianku tidak sebanding dengan segala jasa Umi tapi aku senang bisa membuat beliau bahagia. Melihat senyuman di wajah umi itu priceless.



Alhamdulillah it's been fun year!
Semoga di tahun 2016 ini ada banyak momen-momen bahagia yang menanti kita semua! (^0^)/



http://indonesian-hijabblogger.com/2015/12/ihb-blogpost-challenge-best-moment-2015/

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blogpost Challenge “The Best Moment of 2015”.

Surat untuk Calon Ibu Mertuaku

|
Image Courtesy of Cas Cornelissen at unsplash.com



Assalamualaikum Calon Ibu mertuaku,

Ibu, beberapa saat lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga besarmu.
Kau mungkin bertanya-tanya seberapa baik aku akan memperlakukan anakmu.
Ketahuilah Bu, aku juga khawatir akankah aku menjadi istri yang baik baginya, meski mungkin kekhawatiranku tidak seberapa dibandingkan kekhawatiranmu.

Bu, aku sering mendengar tentang kebaikanmu.
Tentang bagaimana kau membuatnya merasa dicintai, tentang kesabaranmu, tentang kegigihanmu, tentang senyummu, tentang arti rumah baginya adalah kehadiran Ibu.
Aku tidak mengenalnya sebaikmu mengenalnya karena itu aku akan sering bertanya dan meminta bantuanmu.
Apakah Ibu mau membantuku?

Bu, aku ingin kau tahu meski dia kelak akan lebih sering bersamaku, Ibu tetap cinta pertamanya. Seorang perempuan yang akan selalu memenuhi ruang di hatinya.
Posisimu tidak akan pernah bisa kugantikan.
Bahkan mungkin dia akan sering membandingkanku denganmu.
Apakah aku mirip denganmu?
Apakah aku sebaikmu?
Mungkin kadang-kadang aku akan cemburu melihat bagaimana dia sering mendahulukanmu.
Jika itu terjadi kumohon, Bu ingatkan aku tentang bagaimana dia pergi meninggalkan cintamu yang nyaman untuk memulai hidup denganku, cinta yang kejelasannya masih penuh ketidakpastian.
Ingatkan aku bahwa surga suamiku terletak di bawah kakimu dan kumohon maafkan aku jka aku cemburu.

Bu, menantumu yang menyusahkan ini ingin mengucapkan berjuta terima kasih karena telah membiarkan dia pergi bersamaku, seorang perempuan yang kebaikannya masih kau ragukan.
Terima kasih telah memberiku kesempatan.
Terima kasih telah membesarkannya dengan baik.


Salam hormat dan cinta,


Calon menantumu yang (mungkin akan) menyusahkanmu

Surat ini dibuat dalam rangka ikut lomba surat cinta yang diadakan oleh Fahd tapi ternyata tidak masuk 10 surat cinta terpilih. Hehe. Jadi Hana post di blog aja daripada tersimpan di draft :)

Unduh Gratis Buku Nulis Bareng Ibu: The Writing Project

|
"Untuk Ibuku, yang hujan kata pun takkan sanggup menuliskan kisahmu" - #nulisbarengibu
 
 
Alhamdulillah buku antologi pertama Hana sudah terbit 
\\\ Ù©(๑❛ワ❛๑)Ùˆ ////
Cerita Hana dapat ditemukan di cerita ke-30 berjudul Hadiah, hal 174 :)
Buku ini tersedia dengan format dijital (ebook), bisa diunduh gratis di situs www.nulisbarengibu.com.
 
Update: sekarang tidak bisa diunduh gratis di website
www.nulisbarengibu.com, tapi bisa diunduh di
http://bit.ly/26ztlDH


Selamat membaca :D
 
Nulis Bareng Ibu adalah kegiatan menulis yang mengajak anak untuk memahami ibu lebih dekat. Tidak semua orang mengenal ibunya dengan baik, meski ibu mengenal anaknya dengan baik. Anak kadang memiliki pertanyaan yang malu-malu ditanyakan. Anak memiliki rasa keingintahuan tentang pengalaman yang dimiliki ibunya.
Hubungan anak dan ibu sedekat apapun, kadang ada pertanyaan yang
tak sempat terucap. Nulis Bareng Ibu menawarkan kegiatan antara anak dan ibu yang dapat menciptakan kedekatan lebih dan membantu anak memuaskan rasa keingintahuannya tentang ibu
 

Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Ini Bukan Akhir

|
Assalamu’alaikum Guys

Alhamdulillah Hana ngga lolos seleksi wawancara BPI LPDP tahap 2 2015.
*Sujud Syukur* :D

Kalian pasti bingung:
Han, ngga lolos kok malah seneng sih?
Hehehe..  Tenang kalian ngga sendirian
Pas Hana kabari hal ini ke temen-temen Hana, mereka juga bingung sama reaksi Hana.
Hehehe
Kemarin-kemarin Hana udah berdoa minta dilolosin sama Allah. Selain itu, Hana juga berdoa semoga Allah membuat Hana bersabar dan bersyukur atas keputusannya.
Jadi pas tahu ngga lolos, Hana biasa aja.
Hana sadar gagal lolos BPI LPDP bukanlah kegagalan final. Masih ada banyak cara dan kesempatan untuk mencapai cita-cita perantara menjadi penulis dan Marriage and Family Therapist (Cita-cita utama mah masuk surga).
Yeay!
Mohon doanya ya!
(^0^)/

Pas Hana ngabarin berita ini ke Umi Hana, Umi bilang
“Umi ngga berhenti mendoakan Jeje.  Semoga jeje tambah tangguh menghadapi kekecewaan, Allah begitu cinta pada kita hambaNya diberi nikmatnya keinginan yang tertahan.”
:”)
Alhamdulillah. Hana jadi terharu pas bacanya.

Hana jadi inget kisah para Nabi dan orang-orang shaleh di dalam Al-Quran.
Misalnya Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria yang tidak lelah berdoa meminta kepada Allah untuk meminta keturunan. Mereka ini termasuk orang-orang yang dicintai Allah dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, dan keinginan mereka tidak langsung terkabul. Apalagi Hana yang ngga ada apa-apanya dibanding mereka.
Atau kisah Ibunya Nabi Musa. Beliau berdoa agar Nabi Musa tidak dibunuh Firaun dan dia pun menghanyutkan Nabi Musa ke sungai, tapi alih-alih menjauh dari Firaun, Nabi Musa justru ditemukan oleh istri Firaun. Ibu Nabi Musa tentu saja tidak percaya, dia mendapatkan hal yang berlawanan dengan keinginannya. Tapi justru karena Nabi Musa berada di Istana Firaun lah, Nabi Musa selamat dan malah diangkat anak oleh Firaun.


Intinya Hana mau bilang jangan putus asa akan rahmat Allah.
Sesulit apapun kondisi yang kita alami.
Kalau keinginan kita belum dikabulkan bukan berarti Allah ngga sayang sama kita.
Jangan berhenti berdoa, percaya dan berprasangka baik pada Allah.
Semangat!
(^-^)9


Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 dari 1 Juni-30 Juni 2015

Hadiah

|
Seorang anak tidak bisa memilih lahir dari ibu seperti apa. Tapi jikapun Allah memberiku kesempatan untuk memilih, aku akan tetap memilih umiku (panggilanku untuk Ibu) sebagai ibuku. Bagiku beliau adalah hadiah terindah dari Allah. Ibuku adalah sosok yang menginspirasiku dan menjadi motivasiku untuk tidak menyerah pada keadaan.

Image courtesy of Master isolated images at FreeDigitalPhotos.net

Tahun 1995, bisnis usaha Abi (panggilanku untuk ayah) di Tegal bangkrut dan rumah kami disita. Kami sekeluarga pindah ke rumah Kakek di Karawang. Abi bilang kami akan pindah untuk sementara, tapi ternyata kami tidak tinggal untuk sementara. Aku tidak mengerti kenapa tapi Abi tidak juga mendapatkan pekerjaan atau memulai usaha.

Aku ingat saat itu saking tidak ada uangnya dan adik perempuanku memey jatuh sakit, Umi pun terpaksa menjual cincin nikahnya.  Cincin nikah Abi sudah lebih dulu dijual untuk kebutuhan yang lain.

Temanku bilang bukan tugas seorang anak untuk memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak, tapi aku tahu kondisi keluargaku dan saat kecil aku sering mengkhawatirkan apakah aku bisa makan atau tidak. Aku tahu Umi dan Abi bertengkar saat mengira kami sedang tidur. Aku sebenarnya tidak tidur dan mendengar pertengkaran tersebut, aku cuma bisa menangis. Ada saat dimana ketika mendengar pertengkaran mereka, aku mengira mungkin lebih baik aku tidak dilahirkan sehingga tidak menjadi beban kedua orang tuaku. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku harus sukses dan punya banyak uang mungkin pertengkaran orang tuaku akan berhenti.

Abiku bekerja serabutan menjual majalah, tidur dari masjid ke masjid di Bandung dan jarang pulang. “Setiap keluarga diberi ujian. Ada yang diuji dengan harta, anak yang bermasalah, pasangan, kesehatan dan lain-lain. Alhamdulillah Umi bersyukur dianugerahi anak yang sehat, pinter dan nurut. Dan sepertinya ujian umi adalah suami.” Ujar beliau.  Uang penghasilan abi tidaklah cukup mengingat kebutuhan aku dan adik-adiku makin banyak menginjak usia masuk sekolah, akhirnya Umilah yang pergi bekerja. Awalnya, Umi bekerja menjadi guru honorer di STM Tekmako.  Hal yang aku kagumi adalah meski bekerja, Umi tetap memasak,mengurus rumah, dan mengajari aku dan adik-adikku belajar.

Alhamdulillah saat 2004, Umi ikut tes CPNS dan lolos menjadi guru Bahasa Indonesia di MAN Subang. Semenjak itu, Umi pulang pergi Karawang-Subang. Aku tidak tahu umi dapat kekuatan dari mana. Umi memulai harinya pukul 4, memandikan kakekku, memasak, menyiapkan seragamku, baru berangkat ke Subang. Meski perjalan Karawang-Subang memakan waktu 4 jam, tapi saat pulang ke rumah, Umiku masih sanggup mengajariku dan mendengarkan cerita keseharianku di sekolah.

Umiku sering melihat sisi positif dari masalah. Umiku tidak menyesali bisnis Abi bangkrut. Umi bilang mungkin itu teguran dari Allah karena saat bisnis abi berjalan baik, umi dan Abi jadi lalai shalat. Selain itu, Allah mengingatkan bahwa kekayaan itu titipan sementara, yang bisa diambil sewaktu-waktu, apalagi jika tidak bisa menggunakan titipan tersebut dengan baik.

Kalau aku jadi Umi sepertinya aku tidak akan sanggup bertahan. Aku mungkin ambruk dan ingin bunuh diri dari awal.  Ngomong-ngomong soal ambruk, Umiku akhirnya ambruk juga setelah dua tahun menjalani pulang-pergi Karawang-Subang. Beliau jatuh pingsan di kamar mandi dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Saat itu, aku sangat ketakutan akan kehilangan Umi.  Aku berdoa agar Allah menyelematkan Umi dan aku bilang aku berjanji akan jadi anak yang baik. Alhamdulillah Allah mendengar doaku, Umi selamat dan beliau masih hidup sampai sekarang. Akibat ambruk beliau, Umi pun berusaha mengurus mutasi dari MAN Subang ke MAN Karawang. Alhamdulillah proses mutasi berjalan lancar. Saat ini Umiku mengajar di MAN Karawang.

Saat akhirnya Umi bercerai dari Abi pun,  Umi tidak menyesal pernah menikah dengan Abi. Umi bilang kalau tidak menikah dengan Abi, mungkin umi tidak akan memiliki kami bertiga, aku, adikku Huang dan Memey. Dan Kalian tahu apa? Umi menikah dengan Abi melalui ta’aruf, tapi beliau tidak kapok untuk ta’aruf lagi. Padahal aku sempat berpikir bahwa pernikahan mereka gagal karena menikah melalui ta’aruf, mungkin mereka kurang benar-benar mengenal dan tidak saling mencintai. Saat ini, umiku sudah menikah lagi dengan Ayah Tiriku dan mereka menikah melalui ta’aruf.Kulihat mereka bahagia dan pernikahan mereka mengajariku untuk tetap optimis memandang pernikahan dan ta’aruf.

Umiku juga merupakan sahabatku. Aku sering cerita tentang masalahku pada beliau. Beliau pendengar yang baik. Beliau sering bertanya agar bisa memahami duniaku, seperti ikut buat akun email, facebook, dan twitter.  Beliau tidak menggurui, alih-alih bilang jangan pacaran, beliau bertanya padaku apa keuntungan pacaran dan apa kekurangannya, dan silahkan tentukan sendiri.

Hal yang aneh dari Umi adalah beliau terlalu percaya padaku. Ada juga saat aku mulai kecanduan HP,HP sulit lepas dari genggamanku dan mengganggu konsentrasi belajarku . Teman-temanku yang mengalami hal yang sama, HPnya disita oleh orang tua mereka, sementara umi cuma bilang “Kalau mau pinter dan sukses, ya belajar, kalau ngga mau ya udah, kan yang nanggung resikonya jeje (aku dipanggil jeje di rumah) sendiri.”
Aku bengong tidak percaya dan bertanya “Jadi umi ngga bakal sita HP Jeje?”
 “Ngga. Taruh aja Hpnya di samping jeje, terus buka buku belajar. Jeje bisa kok.”

Pernah juga aku meminta izin untuk pergi malam untuk kursus GO dan kursus bahasa Inggris di CEL dengan teman lelakiku, beliau mengizinkan. Beliau bisa saja mencurigaiku berbohong, tapi tidak. Emang aku tidak bohong juga sih tapi teman-teman perempuanku yang lain ditentang oleh orang tua mereka untuk pergi malam-malam, apalagi perginya sama temen lelaki sehingga aku sering jadi perempuan satu-satunya di kelas kalau ada kursus mendadak atau tambahan yang jadwalnya malam.

Melihat Umi yang hebat, aku skeptis bisakah aku menjadi ibu yang baik seperti Umi. Aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding Umiku. Saat kuutarakan hal tersebut, Umi bilang “Tahu ngga? Umi bisa kayak sekarang karena belajar Umi ngga langsung jago, dulu Umi ngga bisa apa-apa, ngga bisa masak, ngga bisa gendong bayi, dan lain-lain. Umi belajar pelan-pelan saat menikah. Umi yakin jeje juga pasti bisa.”
Mendengar hal tersebut, aku jadi ingat saat masih aku masih kecil, masakan Umi sering kali keasinan. Kalau sekarang? Well, masih sering keasinan juga. Hahaha. Tapi itu tidak seberapa dibading kebaikan dan usaha Umi selama ini. 

Amin. Semoga aku bisa jadi ibu hebat seperti Umi.
Jazakillah khair, Umi.
Alhamdulillah terima kasih telah menghadiahiku Umi sebagai ibuku, ya Allah.

"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”


Post Signature

Post Signature