Top Social

Tampilkan postingan dengan label grateful. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label grateful. Tampilkan semua postingan

My Best Moments in 2015

|
Assalamualaikum Good People
:D

I still can’t believe 2015 has already over.
Aku merasa tahun 2015 berlalu begitu cepat.
Mungkin karena ada banyak momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Biar ngga lupa, aku mau merangkum momen-momen manis dan membahagiakan yang telah terjadi di tahun 2015.
Image Courtesy of backjunsung at pixabay.com, edited by me


Di tahun 2015, setelah setengah tahun bergabung dengan majalah SWA, akhirnya aku mendapatkan kartu pres.
Ngga nyangka bakal dapet soalnya aku bekerja sebagai staf riset bukan jurnalis.
Waktu kecil, aku dulu pernah membayangkan kerja jadi wartawan/jurnalis. Kesannya keren dan pinter gitu. Hihihi
Tapi kata Manajerku, staf riset itu bisa disebut juga jurnalis, lebih tepatnya jurnalis data.
Lalu pada bulan September 2015, alhamdulillah aku diangkat menjadi karyawan tetap majalah SWA.
Yeay!




Di tahun 2014 aku menyadari aku ingin menjadi penulis. Sebenarnya keinginan itu sudah ada dari tahun 2011, tapi aku tidak berani memulai.
Hehe
Di tahun 2015, alhamdulillah aku mulai belajar menulis dan berusaha jadi penulis.

“Twenty years from now you will be more disappointed 
 by the things that you
 didn’t do than by the ones you did do. 
 So throw off the bowlines.
 Sail away from the safe harbor. 
 Catch the trade winds in your sails. 
 Explore. Dream. Discover.”
 Mark Twain

Salah satu strategi yang kulakukan adalah mengurangi jumlah bacaan dan menggunakan waktu membacaku untuk menulis. Soalnya saat aku memperhatikan akun-akun Goodreads Author, kebanyakan dari mereka hanya menerapkan target 50 buku setahun. Jadi di tahun 2015, aku tidak menargetkan untuk membaca 100 buku seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya 36. Alhamdulillah meski hanya menargetkan membaca 36 buku ternyata aku tetap membaca lebih dari 100 buku (41 diantaranya adalah komik).
Baca juga Tips Membaca 100 Buku dalam Setahun 

Untuk menulis sendiri, pencapaian tahun ini adalah dua cerpen dan 3 esai pendekku terbit dalam bentuk buku antologi. Alhamdulillah!
Tertarik ingin membaca? Cara mendapatkannya bisa baca di Publikasi


Selain itu, aku juga rajin update blog The Luckiest ini, membenahi desainnya dan ikut komunitas Blogger Muslimah, Indonesian Hijab Blogger dan juga Blogger Perempuan Network. :D Alhamdulillah aku bersyukur bisa bergabung dalam komunitas ini. Aku mendapat banyak kenalan dan ilmu baru!





Terpengaruh oleh temanku, Retno. Di tahun 2015 lalu, aku sering ikutan kuis dan hasilnya 3 kali memenangkan kuis Elexmedia. Aku mendapat hadiah tas dan komik. Alhamdulilah! Makasih banyak Retno dan Elexmedia!


Di tahun 2015 ini juga aku baru tahu ternyata ada cara mendapatkan buku/novel secara gratis, yaitu dengan ikutan giveaway yang diselenggarakan penerbit, penulis dan blogger buku. Dulu aku tahunya dengan cara ikutan giveaway di Goodreads, tapi belum pernah menang. Aku mencoba banyak giveway novel dan alhamdulillah tahun ini berhasil memenangkan novel Replay dan 100 days.




Momen manis dan menyenangkan lainnya adalah momen reuni dengan teman-teman dekatku semasa kuliah (dan hingga saat ini).


Aku senang bisa bertemu mereka mengingat paska kampus, kami jarang bertemu, padahal dulu bisa bertemu setiap hari.  Jadi ketemu sebentar aja rasanya bahagia sekali, dan sudah bisa mengobati rasa kangen. 

I cannot even imagine where I would be today 
were it not for that handful of friends 
who have given me a heart full of joy. 
Let's face it, friends make life a lot more fun.
Charles R. Swindoll

Nah, untuk momen terbaik di tahun 2015 sendiri adalah saat aku memberikan sebagian uang THRku kepada Umi. Seperti yang pernah aku ceritakan dalam post Hadiah, ketika kondisi keuangan keluarga kami sulit, Umi pernah menjual cincin kawinnya untuk uang berobat adikku, memey. Aku bercita-cita suatu saat nanti ingin membelikan umiku cincin untuk menggantikan cincin yang pernah umi jual tersebut. Alhamdulillah akhirnya niat tersebut terwujud juga di tahun 2015.

Saat aku mengajak umi pergi untuk membeli cincin, umi bilang ngga usah soalnya umi sudah punya cincin kawin dari ayah tiriku. Umi malah menyuruhku untuk menabung uang tersebut untuk keperluan lain. Tapi aku bilang padanya mungkin malah aku gunakan untuk kepentingan yang ngga penting lainnya. Hehe. Akhirnya Umi mau menerimanya dalam bentuk uang.

Meski itu keinginan egoisku, ternyata Umi senang. Tiap ada anggota keluarga besar yang datang, Umi menceritakan bahwa beliau senang dengan pemberianku.
Aku tahu pemberianku tidak sebanding dengan segala jasa Umi tapi aku senang bisa membuat beliau bahagia. Melihat senyuman di wajah umi itu priceless.



Alhamdulillah it's been fun year!
Semoga di tahun 2016 ini ada banyak momen-momen bahagia yang menanti kita semua! (^0^)/



http://indonesian-hijabblogger.com/2015/12/ihb-blogpost-challenge-best-moment-2015/

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blogpost Challenge “The Best Moment of 2015”.

Lingkaran

|
Kemarin teman-teman Liqoku baru saja main ke rumah ke Murrabiku, Kak Ryan. Alhamdulillah. status beliau baru saja berubah menjadi seorang Ibu dari seorang bayi perempuan bernama Aisyah. Barakallah Kak Ryan :) Semoga Aisyah jadi anak sholehah, berbakti pada kedua orang tua :D
Kebetulan aku sudah mengunjungi mereka hari minggu lalu dan teman-temanku ini menyusul datang.
Mereka laporan di group WA Liqo.





Sumpah kemarin nyengir-nyengir sendiri baca percakapan di atas XD
Hehehe
Temen-temen liqo gue kocak-kocak. Alhamdulillah :D
Bersyukur banget Allah memperkenalkan dan mempertemukan kami :)

Tradisi Memberi Uang Salam Tempel

|

Salah satu ciri khas yang tidak lepas dari lebaran adalah pembagian uang salam tempel. Tiap keluarga memiliki ketentuan masing-masing mengenai siapa yang berhak dan berapa besaran uang salam tempel yang diterima. Di keluarga besarku, ada dua syarat mendapatkan uang salam tempel:
1.       Duduk di bangku TK, SD, SMP, dan SMA.
2.       Berpuasa pada bulan Ramadhan.
Biasanya sebelum uang salam tempelnya diberikan, Kakek, Nenek, Uwa, Paman, Bibi, Bude, Pakde, Om, Tante akan bertanya apakah kami berpuasa, jika jawaban kami adalah iya, maka pertanyaan selanjutnya apakah puasanya setengah hari atau seharian (dari subuh sampai magrib), dan berapa hari kami berhasil berpuasanya (sebulan/bukan).

Pembagian nominal uangnya sendiri seperti kurva normal, jika kau adalah anggota keluargaku dan masih berada di TK/SD, kemungkinan kau diberi sedikit karena dianggap belum mengerti uang. Ada kemungkinan kau mendapat banyak lembaran uang tapi nominalnya kecil. Waktu jamanku masih SD dulu, aku bisa dapat banyak lembaran uang tapi nominalnya 100/500 rupiah. Waktu jaman belum bisa berhitung sih senang-senang saja mendapat uang berlembar-lembar karena mengira banyaknya jumlah lembaran uang berarti banyak uang, padahal nominalnya kan berpengaruh juga. Hahaha.

Kurva normal pendapatan uang salam tempel

Bagi yang mampu puasa sebulan penuh dari subuh sampai magrib biasanya mendapat bonus, tapi ini hanya berlaku saat masih SD karena kalau sudah SMP/SMA dianggap harusnya memang sudah mampu berpuasa seharian selama sebulan penuh. Pemberian uang salam tempel akan makin bertambah dan titik tertingginya adalah saat SMP, kemudian ketika SMA, uang yang kau dapatkan akan semakin sedikit. Saat kuliah, kemungkinan besar kau hanya mendapatkan uang salam tempel dari orang tuamu.

Beberapa alasan yang menyebabkanku menyukai tradisi pemberian uang salam tempel ini:
a.       Uangnya. Siapa sih yang tidak suka mendapat uang?
b.      Alasan mendapat uang. Aku mendapat uang karena melakukan hal yang kusukai, tidak makan dan minum (puasa). Bagiku yang waktu kecil dianggap anak susah makan ini bulan ramadhan adalah bulan yang membahagiakan karena tidak ada lagi yang bertanya apakah aku sudah makan atau belum. Di bulan ramadhan juga, aku bisa terhindar dari omelan marah belum makan. Aku menyadari ternyata kebiasaanku susah makan berguna di bulan ramadhan. Hohoho
c.       Arti mendapatkan uang salam tempel. Bagiku, mendapatkan uang salam tempel berarti memiliki kesempatan untuk membeli buku/mainan tanpa syarat. Di bulan-bulan biasa, jika aku menginginkan buku/mainan, aku harus melakukan sesuatu seperti mendapat peringkat pertama di kelas, peringkat pertama di tempat kursus/bimbel, membantu membersihkan rumah, atau karena ada peristiwa khusus seperti ulang tahun.
d.      Pembuktian silaturahmi memperbanyak rezeki karena biasanya semakin banyak sanak saudara dan tetangga yang kau kenal, semakin banyak rezeki dalam bentuk uang yang kau dapatkan. Hehehe

Lebaran tahun ini cukup spesial karena aku mengalami perubahan status. Selama ini aku selalu menjadi penerima uang salam tempel dan untuk pertama kalinya aku akan menjadi pemberi uang salam tempel. Alhamdulillah, sudah hampir setahun aku sudah bekerja dan mendapat THR pertamaku.

Awalnya, aku merasa agak berat hati ketika berpikir THRku berkurang untuk dibagi-bagikan untuk uang salam tempel. Ooops, ketahuan deh kalau aku tuh pelit. Hehehe. Kalian tahu? ketika membagikan uang salam tempel kepada adik kandungku sendiri, Huang dan Memey, mereka menunjukkan reaksi terkejut. Mereka tahu kakaknya ini pelit jadi mereka tidak menduga kalau aku akan memberi mereka uang. Aku bahkan tidak menyangka bisa melihat senyum lebar di wajah mereka, kupikir aku hanya akan mendapat ucapan terima kasih biasa. Membuatku merasa oh begini toh rasanya membahagiakan keluarga sendiri.

Amplop yang kugunakan untuk memberi uang salam tempel

Khusus Huang dan Memey, selain berisi uang,
aku juga menyertakan voucher sodexo yang aku dapat dari kantor.
Hehehe

Ternyata selain saudara kandungku sendiri, sepupu dan keponakanku juga kaget mendapat uang salam tempel dariku. Mereka lupa aku sudah bekerja. Hahaha. Berarti sebenarnya tidak memberi juga bisa ya. Eh? Hehe Bercanda. (^_^)v

Lebaran kali ini aku belajar bahwa tentang kebahagian memberi, terutama memberi kepada keluarga sendiri. Selama ini, aku berpikir menerima lebih membahagiakan, ternyata memberi jauh lebih membahagiakan. Sekarang, aku mengerti mengapa banyak orang berjuang keras mengumpulkan uang agar bisa mudik dan membagikan uang tempel kepada sanak keluarga mereka karena ketika melihat senyuman di wajah orang-orang yang kita cintai, seolah-olah jerih payah kita terbayar lunas. Bahkan, rasanya senyum dan ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah mereka tak ternilai harganya.
Happiness doesn't result from what we get, but from what we give.” ― Ben Carson


Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz 

MSC Reunion (Minus Ikhsan)

|

25 Juli 2015, pukul 10.55 WIB, aku tiba di Kota Kasablanka.
Terlambat! aku berencana tiba pukul 10.30 sehingga aku masih punya waktu untuk membeli goodie bag untuk kado hana talita dan tetap bisa tiba tepat waktu pukul 11.00 ke Zenbu, tempat janjian kami.
Sepertinya aku akan datang terlambat, aku tidak yakin bisa sampai ke Cindy Gift Shop dan memilih goodie bag dalam waktu 5 menit.

Di perjalanan hendak ke Cindy Gift Shop, aku berpapasan dengan Nia dan Kathy di seberang Old Town White Coffee,Food Society.
Mereka berdua terlihat cantik.
“Hi Nia, Kathy” aku setengah berteriak
Mereka melihatku dan tersenyum
“Eh gue mau ke atas dulu ya, kertas kado buat Hanata jelek, gue pengen beli goodie bag biar nutupin kertas kadonya”
“Udah ngga usah, biarin aja. Sayang duit” kata Nia sambil menarikku jalan
Aku mengikuti langkah kaki mereka kemudian mengamati keresek putih besar yang dijinjing Nia.
“Apa itu Nia? Kado tambahan buat Hanata kah?”
“Ada deh, mau tahu aja.” balas Nia
Hm.. jangan-jangan kado buat Kathy. Ultah Kathy tanggal 1 September nanti, aku beberapa kali ingin bertanya pada MSC apakah kami hendak patungan kado sebelum Kathy berangkat ke Belanda nanti. Atau justru itu kado perpisahan? Tapi kalau beneran buat Kathy, sebaiknya aku ngga nanya disini karena ada orangnya.

“Hana, loe tambah gemukan ya?' sahut Nia
Mataku berkaca-kaca. Aku terharu mendengarnya
“Tahu ngga Nia, loe orang pertama yang bilang kayak gitu. Gue capek selama lebaran kemarin, tiap ketemu saudara gue mereka pada bilang gue kurusan, mungkin karena pas bulan pasa kemarin, berat gue 38 kg.”
“Han! Berat badan loe bedanya ** kg sama gue!” kata Nia
“Itu gue nimbangnya seminggu sebelum lebaran, semoga aja sekarang udah nambah. Gue makan agak banyak pas lebaran kemarin.” jelas gue
“Han, tahu ngga ada saudara gue yang usianya masih sekian dan berat dia ** kg, lebih berat dari loe tahu, ngga?” Kathy ikut berkomentar
Gue cuma tersenyum dan mengangguk. Yeah, I heard that a lot.

Untung pembicaraan mengenai berat badan ini terhenti karena kami merasa kami nyasar. Aku membuka handphone dan Hanata bertanya aku sudah sampai mana. Kami berhenti untuk bertanya satpam dan OB mengenai dimana dan bagaimana kami ke Zenbu. Hanata sebenarnya sudah memberi tahu kami bahwa Zenbu di dekat marks and spencer tapi masalahnya kami tidak hapal isi Kota Kasablanka. Hahaha

...

Hana Talita sudah ada di Zenbu saat kami datang. Dia selalu on time. :D
Kami akan ditraktir ultah Hana Talita. Kaget juga sih soalnya Hanata bilang tahun ini dia ngga bakal traktir dan awalnya janjian buat reunian aja. Eh tiba-tiba Hanata bilang dia mau nraktir. Alhamdulillah. Thanks a lot Hana Talita.
(ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧

Sepertinya saat kami datang, Hana Talita baru saja selesai memesan karena aku melihat pelayan baru saja pergi dari meja kami setelah berbincang dengan Hana Talita.
“Vania mana?” tanyaku sambil memilih tempat duduk berseberangan dengan posisi duduk Hana Talita
“Baru berangkat dia” jawab Nia, kemudian duduk di sampingku. Kathy duduk di sebelah Hana Talita.
“Nia, apa kadonya dikasih ke Hanata sekarang?” aku menyondongkan tubuhku ke dekat Nia dan berbicara dengan suara pelan.
“Ntar aja, tunggu Vania datang, biar sekalian” balas Nia

Pelayannya kemudian datang dan membagikan buku menu kepada kami bertiga. Aku membolak-balik buku menu. “Han, ada rekomendasi?” tanyaku
“Mozaru” jawabnya sambil menunjuk mozaru di buku menu kathy.
Aku membolak-balik halaman berusaha mencari gambar mozaru yang ditunjuk Hana Talita
“Loe pernah makan ini, han? Kalau pakai heyhanata rating, ratingnya berapa?” tanyaku, masih mencari halaman buku menu yang memuat penjelasan mozaru. Temanku, Hana Talita adalah food enthusiast, dia sering menulis dan memfoto tentang makanann. Bisa baca di heyhanata.blogspot.com dan follow instragamnya: @heyhanata
“Ya, 4,5 dari 5. Enak dan lagipula ini ditaruh di halaman depan berarti kan signature mereka.” jelasnya.

Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, menghubungkan halaman pertama dengan pengertian bahwa menu yang ditaruh di awal artinya itu menu ciri khas dan rekomendasi. Wow. Harus kucatat dan kuingat.
Aku kemudian memesan beef mozaru dan untuk minumnya strawberry cheesecake shake.
Sambil menunggu makanan, aku pergi shalat zuhur dan saat kembali Vania sudah datang.
Makanan dan minuman yang kupesan alhamdulillah enak tapi kurasa bukan kombinasi yang baik jika dimakan bersamaan. Makanannya masuk kategori makanan berat (butter rice dibalut cheese dan potongan beef di atasnya) terus minumannya strawberry cheesecake shake ternyata kental (padat) dan manis.
Aku merasa strawberry cheese cake ini salah satu minuman yang bisa buat kenyang, kurasa bisa kumasukkan ke dalam list minuman yang kupesan kalau malas makan.

Strawberry cheesecake shake Zenbu

Beef Mozaru


Aku mengunyah makanannya lama sekali dan menjadi terakhir yang habis. Aku meminta maaf dan teman-temanku bilang aku santai saja karena mereka sudah menduganya. Kami kemudian mengobrol mengenai kabar dan kesibukan kami.

Selesai makan, Nia memintaku memberikan kado ke Hanata.
“Ih, jelek apaan, coba! Bagus gitu kertas kadonya” kata Kathy saat melihat kado.
Aku ingin menjelaskan alasan mengapa aku menganggap kertas kadonya jelek tapi masa di depan orang yang dikasih kado.
Alhamdulillah deh kalau kertas kadonya ngga dianggap jelek. :D hohoo
Hanata menunjukkan ekspresi terkejut bahagia saat membuka kado. Dia bilang dia memang menginginkan kado kami. Alhamdulillah, Aku bersyukur kado patunganku, Kathy dan Nia ini membuat Hanata senang.

Selesai dengan kado Hanata, Nia tiba-tiba menghadap ke arahku, mengangkat keresek putih scoop tinggi dan kemudian menyerahkannya paadaku  “Han, ada yang mau kami kasih. Maaf ya kado ulang tahunnya telat.”
Wah. Aku terkejut. Aku tidak menduga akan mendapat hadiah. Kupikir tahun ini aku tidak akan mendapat kado dari MSC. Jadi, keresek putih yang Nia tadi pegang memang kado dan ternyata kado untukku. :')
Aku benar-benar tidak menyangka. O ia, Aku mendapat bantal berbentuk bunga,mug dan notebook.
Aku agak menyesal sepertinya aku tidak menunjukkan ekspresi bahagia seperti Hanata karena kemudian teman-temanku meminta maaf karena kadonya tidak dibungkus.

kado dari MSC


Kathy, Me, Hana Talita, Nia, Vania
MSC (minus Ikhsan)


Kami kemudian ke Shirokuma Cafe karena Hanata ingin makan es krim. Aku tadinya berpikir tidak sanggup makan lagi, tapi melewatkan kesempatan makan es krim? No way! Aku suka es krim! \(^0^)/ (meskipun aku alergi minuman/makanan dingin termasuk es krim, semoga aja ngga bersin.)
Aku memesan snow carapop cone tapi es krimnya milk tea flavor karena kata Hanata, es krim rasa milk tea hanya ada di Shirokuma Cafe yang di Kota Kasablanka. Saat sedang makan es krim. Ikhsan melakukan video call. Ya, reuni kali ini tanpa Ikhsan karena dia baru di terima di Pupuk Kaltim dan belum mendapat jatah cuti.

snow carapop cone milk tea flavor


Selesai makan, kami jalan-jalan keliling mall dan tahu-tahu udah jam 4. Waktu berjalan cepat sekali ya kalau bareng temen, padahal tadinya aku berencana pamit pulang pukul 3.30 WIB. Hahaha
I had fun with them \(^0^)/

UNTUK YANG TIDAK KAU BERIKAN

|
Ketika Tuhan tidak memberikan yang aku inginkan
Aku belajar bahwa kebahagiaan itu bukan karena segala sesuatu berjalan baik
Tapi ketika aku bisa melihat hal baik dari segala hal yang kualami
Terkadang menginginkan sesuatu lebih baik daripada memilikinya.
Kita bebas memilih tapi tidak bebas akan konsekuensinya, mungkin Allah menjaga kita dari konsekuensi pilihan kita. 
Sering kali kondisi hampir lebih baik daripada kondisi sempurna karena memungkinkan untuk berkembang, berjuang meraih yang lebih baik.

Atau apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?
(Tidak)! Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.
(Q.S. An-Najm: 24-25)

Ya Allah, terima kasih untuk segala hal yang tidak KAU berikan
:")
Cukuplah Allah bagiku

Image Courtesy of Lance Anderson at unsplash.com

Alhamdulillah Berkah Ramadhan

|

Alhamdulillah ramadhan kali ini Hana dapet paket parcel dari kantor
Isinya kardusnya kue, batik, dan sirup.
Terus ada undian kue tambahan, Hana dapet kue keju.
Dapet Voucher Sodexo Rp 250.000 juga
(((o(*゚▽゚*)o)))
Katanya bakal ada tambahan lagi beras 10 kg dan big cola.
ヾ(〃^∇^)ノ♪
Makin bersyukur Allah menempatkan Hana di Majalah SWA
(ノ´ãƒ®´)ノ*:・゚✧
Alhamdulillah  ╰(✧∇✧╰)

Today, I Fell in Love with Fictional Character

|
Have you ever read a story and then you suddenly fall in love with the character?
 ⃛ヾ(๑❛ ▿ ◠๑ )




I have fallen in love with many fictional characters, especially in the comic book (manga). (´▽`ʃƪ)♡
I used to think I fall in love with them because they are perfect and ideal. (♥ω♥ ) ~♪

Now, I realize they are actually neither perfect nor ideal. ∑(゚ロ゚〃)
I know, How silly of me!
Alhamdulillah, now I realize it!
Better late than never :p

They have their own strength, weakness, achievement, failure, doubt, and mistake but they still do not give up their dream and things that important to them.
That's what makes their story feels relate-able to me.
They teach me about being real, strong, bold, and optimist.
They are imperfect and I still love them. (*’∀’人)♥

I want to tell you who perfectionist like me, who think people will love you when you are perfect.
You are wrong!
I want you to know that you will never be perfect and that's okay.
It means you are human.
Accept all of you, the good and the bad side.
Being grateful for who you are and share the true you.

ヾ(@⌒ー⌒@)ノ

It does not mean you don't have to be improve.
I want you strive being the best version of your self!
Remember, being the best is not same with being perfect.
 (☆^ー^☆)

“You’re imperfect and you’re wired for struggle 
but you are worthy of love and belonging.” 
~Brene Brown





Ini Bukan Akhir

|
Assalamu’alaikum Guys

Alhamdulillah Hana ngga lolos seleksi wawancara BPI LPDP tahap 2 2015.
*Sujud Syukur* :D

Kalian pasti bingung:
Han, ngga lolos kok malah seneng sih?
Hehehe..  Tenang kalian ngga sendirian
Pas Hana kabari hal ini ke temen-temen Hana, mereka juga bingung sama reaksi Hana.
Hehehe
Kemarin-kemarin Hana udah berdoa minta dilolosin sama Allah. Selain itu, Hana juga berdoa semoga Allah membuat Hana bersabar dan bersyukur atas keputusannya.
Jadi pas tahu ngga lolos, Hana biasa aja.
Hana sadar gagal lolos BPI LPDP bukanlah kegagalan final. Masih ada banyak cara dan kesempatan untuk mencapai cita-cita perantara menjadi penulis dan Marriage and Family Therapist (Cita-cita utama mah masuk surga).
Yeay!
Mohon doanya ya!
(^0^)/

Pas Hana ngabarin berita ini ke Umi Hana, Umi bilang
“Umi ngga berhenti mendoakan Jeje.  Semoga jeje tambah tangguh menghadapi kekecewaan, Allah begitu cinta pada kita hambaNya diberi nikmatnya keinginan yang tertahan.”
:”)
Alhamdulillah. Hana jadi terharu pas bacanya.

Hana jadi inget kisah para Nabi dan orang-orang shaleh di dalam Al-Quran.
Misalnya Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria yang tidak lelah berdoa meminta kepada Allah untuk meminta keturunan. Mereka ini termasuk orang-orang yang dicintai Allah dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, dan keinginan mereka tidak langsung terkabul. Apalagi Hana yang ngga ada apa-apanya dibanding mereka.
Atau kisah Ibunya Nabi Musa. Beliau berdoa agar Nabi Musa tidak dibunuh Firaun dan dia pun menghanyutkan Nabi Musa ke sungai, tapi alih-alih menjauh dari Firaun, Nabi Musa justru ditemukan oleh istri Firaun. Ibu Nabi Musa tentu saja tidak percaya, dia mendapatkan hal yang berlawanan dengan keinginannya. Tapi justru karena Nabi Musa berada di Istana Firaun lah, Nabi Musa selamat dan malah diangkat anak oleh Firaun.


Intinya Hana mau bilang jangan putus asa akan rahmat Allah.
Sesulit apapun kondisi yang kita alami.
Kalau keinginan kita belum dikabulkan bukan berarti Allah ngga sayang sama kita.
Jangan berhenti berdoa, percaya dan berprasangka baik pada Allah.
Semangat!
(^-^)9


Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 dari 1 Juni-30 Juni 2015

Rizqi Kesempatan

|
Salim A Fillah pernah bilang kalau Rizqi itu bukan hanya yang tertulis di slip gaji dan bukan soal apa yang sanggup dibeli. Hakikat Rizqi itu bukan soal berapa tapi apa nikmat yang kita rasa. (bisa baca artikel lengkapnya disini)

Hana jadi menyadari satu hal, Alhamdulillah karena kerja di majalah SWA, Hana berkesempatan bisa baca majalah-majalah dari Amerika Serikat seperti Times, Harvard Bussiness Review, Fast Company dan Bloomberg Bussiness Week, tanpa harus merogok kocek pribadi.
Kalau rizki hanya sebatas gaji, mungkin sulit bagi Hana membaca majalah-majalah tersebut karena uangnya udah keburu dipakai untuk kebutuhan primer yang lebih mendesak. Hehe



Alhamdulillah terima kasih atas kesempatannya ya Allah. (^0^)/






Tak Terbayangkan

|
Tidak pernah terbayang sekalipun di benakku bahwa aku akan bekerja di majalah bisnis setelah lulus kuliah. Beberapa temanku pun bertanya hal yang sama, bagaimana aku yang lulusan psikologi ini masuk majalah bisnis. Aku pernah membayangkan diriku bekerja di media, tapi di salah satu koran besar ternama di Indonesia, di majalah remaja putri atau justru majalah wanita islami. Bahkan aku baru tahu keberadaan majalah ini karena lowongan kerja yang kulamar dan aku pertama kali membacanya saat duduk di lobi kantor majalah SWA menunggu panggilan wawancara. Hahahaa
Ajaibnya aku diterima di sini!
Alhamdulillah. \(^0^)/


Masuk dunia pasca kampus membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar rencana dan di luar kendaliku. I mean kalau di kampus, hal-hal lebih mudah diprediksi, seperti kalau ingin dapat nilai bagus ya belajar yang rajin dan benar. Biasanya melencengnya pun tidak terlalu jauh, aku masih dapat nilai yang cukup baik.
Tapi di dunia paska kampus, usaha, rencana dan prediksiku banyak yang melenceng. Awalnya aku terkaget-kaget dan mudah merasa sedih. Tapi kemudian aku tersadar bahwa aku sepertinya masih terlalu mengandalkandiriku sendiri. Aku harus belajar mengandalkan Allah, menyeimbangkan doa dan usaha.

Dan kalian tahu apa? Bekerja di SWA membuatku makin percaya bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur. Aku merasa ritme kerja majalah dwi mingguan ini cocok denganku. Aku juga dianugerahi rekan-rekan kerja yang baik. Aku bersyukur aku bisa bekerja di tempat yang memiliki nilai yang sama denganku. Aku kurang suka membaca berita atau tulisan yang setelah memaparkan masalah tapi tidak memberi solusi atau membuatku merasa pesimis.  Untungnya, Jurnalisme yang dianut SWA itu adalah jurnalisme positif, jurnalisme yang berusaha menggali hikmah dan menghembuskan optimisme.

Salah seorang temanku bilang kalau yang dilakukan majalah SWA adalah menjual mimpi. Kurasa dia ada benarnya. Biasanya yang kurasakan setelah membaca SWA adalah kagum, merasa “hei dia bisa lho, kenapa aku tidak? Aku juga pasti bisa”. Aku juga belajar ada berbagai cara dalam meraih mimpi, dan selama kau tahu apa yang kau inginkan, go for it! Terlepas orang bilang kau tidak cocok, kondisimu ngga mendukung dan segudang alasan yang bilang mimpimu ngga mungkin. Berusahalah yang terbaik.

Tapi kalau menurut Pak Kemal, pemimpun umum, bahwa yang Majalah SWA jual adalah knowledge karena sekarang SWA menyediakan hasil reportase dan riset dalam berbagai bentuk, mulai dari media, seminar, pelatihan.

By the way, tanggal 16 April lalu, majalah SWA berulang tahun ke-30 dan aku berkesempatan nonton Fast Furious 7 dan dapet snack gratis dari majalah SWA. Kalian tahu, awalnya aku berencana membujuk panitia ulang tahun majalah SWA agar memberiku  tempat duduk di baris D/E karena aku tidak tahu kalau panitia sudah menentukan tempat duduk. Kupikir aku bisa memilih dan ternyata meski tempat duduknya dipilih oleh panitia, alhamdulillah aku dapet posisi yang enak.


Aku dapet posisi di baris A.  Tidak pernah terbayang dibenakku kalau aku akan dapet posisi di baris A, habis selama ini kalau pergi ke bioskop pas beli tiket, posisi itu udah penuh mulu.
Aku terharu. Allah baik banget :')

Hidupku mungkin tidak berjalan sesuai yang kuharapkan atau yang kubayangkan, tapi sesuai yang Allah inginkan dan itu jauh lebih baik. \(^0^)/

Way Back Into Love

|

Image Courtesy of Openclips at pixabay.com


Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita
Mengirimmu masuk dalam hidupku
Tadinya aku sudah memutuskan untuk menyerah
Untuk berhenti memulai dan berharap
Aku bertanya pada diriku sendiri
mungkinkah aku bisa kembali mencintai
Kemudian kamu melompat masuk dalam hidupku
Mengjungkirbalikan rasa pesimisku
Menyadarkanku bahwa sepertinya Tuhan tidak mau aku menyerah
dan ingin bilang bahwa aku masih mampu mencintai
Tidak peduli sudah sehancur apapun hatiku
Harapan itu masih ada
Terima kasih telah berperan sebagai pengantar pesan yang baik




Being 23 on 23rd April: Unexpected

|
Pada 23 April kemarin, alhamdulillah usiaku genap 23 tahun. Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan hidup. Berbeda dengan ulang tahun sebelumnya yang dimana aku lupa kalau aku menyembunyikan ulang tahunku di facebook, bisa baca disini.



Tahun ini aku ingat kalau aku menyembunyikan ultahku dan tidak berniat mengubahnya. Belajar dari tahun kemarin, ada untungnya juga ultah “dilupakan”. Aku tidak perlu membalas banyak ucapan ulang tahun, yang biasanya cukup menghabiskan banyak waktu. Setelah dipikir-pikir yang buat aku bahagia sebenarnya dapat kado dan doanya sih. hehehe

Image courtesy of blickpixel from pixabay.com

 Kalian tahu apa? Karena tidak berharap, aku justru lebih bahagia menerima ucapan selamat dari teman-temanku yang ingat atau yang aku ingatkan. Tahun ini, teman dekatku Nova dan kame kembali mengucapkan paling awal. Nia mengirim pesan suara berisi lagu selamat ulang tahun jamrud yang dia nyanyikan sendiri. Aku terkejut, awalnya kupikir dia mengirim pesan suara seperti yang dilakukan Hana Talita dan Vania tahun lalu, ternyata Nia nyanyi satu lagu full. :’)
Pernah ngayal dinyanyiin lagu sama orang yang disayang dan ngga nyangka itu terwujud di ultah ini. Thanks to Nia!

Ada banyak kejutan lainnya.
Salah satunya Chibe bilang met ultah di group WA forum muslim Psikologi UI angkatan 2010.
Beberapa teman dekatku yang lupa mengucapkan pas hari H, akhirnya ingat sendiri mengucapkan juga beberapa hari setelahnya. :')
Terus pas lagi kepikiran pengen beli tas, temen dekatku Afa menghadiahiku tas.
Masya Allah, Allah baik banget menggerakkan hati Afa untuk memberi kado pahadal aku ngga kasih kado lho pas ultah dia Januari kemarin dan  tas ngga masuk note facebook April wish list yang kutag ke sahabat-sahabatku.


 Makasih ya buat semua temen-temen yang udah ucapin, ngasih doa dan kado \(^0^)/
Jazakumullah khairan katsiran.


Berusia 23 tahun membuatku sadar kalau kayaknya aku udah ngga layak disebut girl lagi. Hehe
Jadi kayaknya aku harus dan mau ganti nama blog ini.
Mulai saat ini, blog ini akan bernama...
*drumroll*
 *drumroll*
 *drumroll*
*gunting pita*

  The Luckiest

*ketok palu*

:D

Intinya meski ultah kali ini lebih sepi, somehow aku benar-benar bersyukur atas segala yang terjadi
:)
Alhamdulillah

Expect nothing and you will be happy with everything

Bagaimana rasanya?

|
Kadang saat melihat orang yang kita anggap sukses dan bahagia,
kita bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi dia?

Image courtesy of stockimages at FreeDigitalPhotos.net


Nah, baru-baru ini Hana membaca artikel yang membuka mata Hana tentang jawaban bagaimana rasanya menjadi orang yang dianggap sukses.
Artikel tersebut adalah "The Art of being Dian" di Majalah ELLE Indonesia edisi Februari 2015.


Selama ini Hana kagum sama Dian Sastro, suka sama aktingnya, cantik, pinter lagi. I am a fan of AADC, too. It was the first movie I watched with my mom in Cinema!

Tapi ternyata dalam artikel tersebut, menjadi sukses menjadi beban buat Dian. Saat awal main film, dia tidak main untuk mencari ketenaran. Dia tidak mengira kalau film AADC bakal happening dan membuatnya menjadi icon kebangkitan film Indonesia. Akibatnya, orang-orang pun mulai kasih harapan besar padanya dan menanti langkah dia selanjutnya. Dia merasa orang-orang menaruh harapan terlalu besar pada gadis muda yang saat itu bahkan baru tahun pertama kuliah. Dampaknya Dian menjadi serius, dia melihat dirinya dari kacamata orang karena dia sadar orang punya ekspektasi besar padanya: mengambil film harus hati-hati, perannya harus menantang. Semuanya jadi dia pikirin banget.

Ketika membaca hal tersebut, Hana merasa ada benarnya. 

"The greatest prison people live in, is the fear of what other people will think" 

Hana termasuk orang yang menaruh harapan besar pada Dian Sastro dan tidak menyangka bahwa harapan besar itu malah membebaninya dan membuatnya tidak bahagia. Ironis menyaksikan betapa kesuksesan yang mungkin didambakan oleh kebanyakan remaja, justru membawa banyak kekecewaan pada orang yang menerimanya.


Kita kadang lupa bahwa kehidupan manusia tidak ada yang sempurna.  Life is not wonderful as it seems to be.  Sesuatu yang kita lihat sebagai berkah bagi seseorang belum tentu dianggap berkah bagi orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, hal yang kita anggap musibah belum tentu dianggap musibah bagi orang lain.

Mungkin karena itu sebaiknya kita bersyukur atas kondisi apapun yang kita miliki saat ini. Ketetapan Allah selalu tepat. Allah lebih tahu yang dibutuhkan hambaNya.

Nah, berita baiknya adalah Dian berhasil mengatasi hal tersebut. Alhamdulillah. Allah ngga pernah kasih ujian melebihi kemampuan hambaNya.

Di artikel tersebut, Dian mengakui bahwa sekarang dirinya mengerjakan apa-apa tanpa harapan berlebihan dari orang. Dia menemukan identitas diri jauh lebih memuaskan demi naskah peran paling menantang manapun. Ia menceritakan kesuksesannya justru terjadi saat ia melupakan ia adalah icon kesuksesan perfilman. Dia tidak lagi over controlling terhadap hal-hal sederhana. Dia mencoba melakukan hal yang ada di depan mata. Dia percaya kalau memang jalannya, akan kejadian dengan baik. Kalau tidak toh masih ada option lain. Kalau saat lajang, dia mendefiniskan diri dengan karier dan pencapaian, dan kalau tidak berprestasi rasanya bukan apa-apa. Sekarang dia menemukan arti kehidupan yang lebih besar.

I am happy to read that. I hope Dian Sastro live happy and meaningful life.
Barakallah!
\(^0^)/

Fida

|

Pido~ begitulah orang-orang bilang bagaimana aku biasa memanggil sahabatku, Fida. Sumpah, sejujurnya aku merasa memanggilnya Fida, pakai F, tapi orang-orang bilang aku pakai P.  Hehehe

Sahabatku yang bernama Hafida Dewi Kusuma ini sering disangka sebagai saudara kembarku atau adikku padahal aku tidak pernah mengklaim demikian.

 
Aku dan Fida

Menurutku dari segi fisik kesamaan kami adalah: kurus dan pakai kerudung. Selebihnya ngga ada, jadi kenapa orang-orang sering menyangka kami saudara kembar atau bersaudara? It still mystery to me.

Meski kuakui, Fida sudah seperti saudara bagiku. Selama 3,5 tahun kuliah di UI, kami “tumbuh” bersama.  Aku pertama kali kenal Fida pas jaman mahasiswa baru di asrama UI, kamar kami kebetulan berhadapan-hadapan.  Dan ternyata ketika kami pindah dari asrama ke kosan pun, kamarku dan Fida tetap berhadap-hadapan.

Kalau pakai teori psikologi, mungkin kami dekat karena faktor proximity (kedekatan lokasi). Apapun itu, aku jadi sering ngobrol dengannya. Fida bilang bahwa aku adalah psikolog pribadinya, tapi jujur saja aku justru merasa dia psikolog pribadiku karena dia pendengar yang baik dan aku merasa intensitas aku bercerita padanya lebih banyak dibanding dia cerita padaku. Aku bisa menceritakan apa saja padanya: ringkasan kegiatan sehari-hariku, hal baru yang kupelajari di psikologi, SALAM, kisah cintaku, buku-buku yang aku baca, film yang aku tonton, dan lain sebagainya.

Fida itu editor pribadiku. Tiap kali membuat tugas esai psikologi, aku sering meminta tolong padanya untuk memberikan umpan balik dan memberi tahu bagian mana yang dia tidak pahami. O ia aku lupa bilang, (bagi yang belum tahu) Fida itu jurusannya akutansi. Thanks to her, aku jadi belajar tentang ekonomi dan akuntasi kalau dia lagi cerita tugas-tugas dan mata kuliahnya.

Fida juga teman seperjuanganku dalam hal akademik. Aku bersyukur dia mengambil keputusan untuk mengambil Semester Pendek dan juga lulus di semester 7 sehingga aku tidak merasa sendirian dan memiliki teman yang menyemangati dan bertukar informasi.  Hal lain yang aku kagumi dari Fida adalah kemampuan manajemen waktunya. Meski kegiatannya seabrek, FSI FE UI, Kepanitiaan, dan jadi Asdos, IPKnya tetap bagus.  Dia sepertinya sudah mengenal dirinya sendiri dan juga gaya belajar yang cocok untuknya.

Hal lain yang aku sukai dari Fida adalah dia itu orangnya murah (dia mudah diajak pergi, pinjam istilah Kak Randy). Misal aku sedang ingin pergi ke suatu tempat, entah Mal, Toko buku, biasanya Fida mudah menggiyakan ketika aku meminta menemani.

Aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya yang tetap bertahan dan bersabar menghadapiku. Misal: saat kami makan malam bersama, sering sekali aku yang menentukan tempat, dia selalu bilang terserah. Saat aku bertanya mengapa, dia jawab bahwa dia tahu aku picky eater, kalau dia yang memilih tempat, takutnya nanti aku ngga bisa makan atau makanannya ngga habis. Dia sendiri bukan tipe pemilih dalam hal makanan. Aku terharu mendengarnya.  

Ada banyak kekuranganku yang lain dan Fida tetap bersabar menghadapiku. Aku merasa benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertinya. Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah telah mempertemukan aku dengan Fida. Terima kasih Fida karena telah menjadi sahabatku. \(^0^)/




Veritas, Probitas, Iustitia

|

When I entered into the Balairung University of Indonesia hall as a graduate, I felt embarrassed.

Although managed to pass the 3.5 years, I regret my undergraduate thesis did not get an A and my last semester GPA is not cumlaude. (My total GPA is cumlaude)


In my final semester, I get sudden realization that  I had the lack of achievement and contribution to UI. What have I done for these past year?

I remembered the reason why I wanted to join UI, It is when I was 6 years old. The riots in May 1998 caused a lot of activity stopped. Although I was small, I remembered the atmosphere were tense, scary because I live in the
Mbah's house  (grandpa) that is located right next provincial road where frequent intercity buses went back and forth. The front porch of the Mbah's house often became a place for people who wait for intercity bus.  

At that time.the road were so quiet, people are afraid to leave the house and a lot stalls were closed. I remembered my mom asked me to cut corners since it was dangerous to go to market. The worst news for me was preschool also closed. I really like the school, the May riots seize my greatest happiness: the school.

"Je, wear your jackets. If the situation deteriorates, we will go through the back door. Umi has prepared important documents such as birth certificates and some clothes. "

"We will go, Mi? Leave the house? "

"Yes, if the situation is getting serious (dangerous). "

"When?"

"Umi not sure yet, but if Umi says we go, we go."

Immediately I felt anxious and sad

I did not want to leave the house. I pray that this unrest over so I can go back to school and do not need to leave the house.

Thank God my prayers were answered.

When I heard the news, I know that the UI students successfully entered the House of Representative Building.

At that time, I consider UI students as heroes, and I promised myself that time, I'll go in the UI and want to be like them.

Time pass and I forgot promise that I made when I was 6 years old


 Now, I wonder what have I done in UI? for UI? Have I Managed to be a hero?

I shook my head.

It felt so ashamed at myself.

How could I forget and do not utilize my time well.



"Veritas, Probitas, Iustitia. Truth, Honesty, Justice. You'll often hear in college. You as a UI alumni, should remember and apply them wherever you are. "*

I was stunned to hear what prof. Anis, Rector of UI said during a speech.

He does not discuss the GPA as a measure of success or characteristic UI alumni.

he did not mention winning trophy as proof to be hero or UI alumni.


I felt I was given a second chance.

I still can improve myself and do not embarrass University of Indonesia.

Yes there is a chance, if I can remember and
always apply Veritas, Probitas, Iustitia

Alhamdulillah

Thank God and Thanks to Prof. Anis!


I hope I can apply  Veritas, Probitas, Iustitia

 

Btw, congratulations on the election and
inauguration of  Prof. Anis as Rector of UI.  
Barakallah! 
Good Luck Sir!





Ingin baca versi bahasa Indonesia? bisa dibaca di sini

Dream Dress

|
Alhamdulilah \(^o^)/ 
The fortune that has been written belong to me will come to me, no matter the circumstance  
There is a dress that I want when I went shopping to Matahari Depok Town Square back in the February.



I want to wear the dress for faculty graduation
But when I check my wallet, I did not have that much money so I let it go with heavy heart
Hehehe
Then at 6th Sep, I went shopping to Matahari Supermall Karawang and I found the dress that I wanted back in February
And It is discounted 50%+20%!
I asked my mom to buy it for me :D
Thankfully she agreed! 
Alhamdulillah :D
I am really lucky 

Baca versi bahasa Indonesianya juga disini

Surprised

|
At my second day at work I find my self surprised and moved (#´ãƒ¼´)æ—¦ when I saw a glass of water on my desk.
 It made me think "Whoaa! I am really part of SWA now! I am an employee" (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
 I mean I often found a glass of water on the lecturer's desk
and at that time, I did not imagine I will get something similar someday (At Indian Embassy, I have to bring my own tumbler but I can refill it).
 Another surprise is that the operator system that my computer use is Linux (I have tried use Linux at middle school and I remembered it hard to operate).
I hope I can adapt.
(Using Linux is not that hard as I remember back then in the middle school)
My Assistant Manager, Mas Aswin has come back from Eid Leave. he told me the job description. he seems nice and fun but he looks puzzled when I did not asked any question after his explanation finished. But I really did not know what to ask, maybe because I already asked several question to Mas Rizki and Mas Armi yesterday so I kinda get the picture of Mas Aswin's description.
I also get human resources tour for second time because some people just got back from Eid leave.

And before I knew it,  It’s been a month I worked at SWA
Alhamdulillah :D
I like working here
Things I like in SWA:
-I have nice coworkers
-I can read several magazine and newspaper like HBR, Gatra, Tempo, Times, Fast company, dewi, Kompas, Republika, Wallstreet Journal, Asia Forbes,etc
-I can pray duha and read quran during work hours
-I can wear casual clothes at work
-Working at SWA made realize that I knew little/nothing. At first I felt stupid because there are many things I do not know. Then I remembered
 
"If we knew what it was we were doing, it would not be called research, would it?"  - Albert Einstein

If I already knew the answer, what is the point of doing research? : D  

Other positive sides of the fact that I did not know a lot of things are that I learned so many things every day and I learned to stay foolish stay hunger, I must have the courage to ask my co-workers or find out for yourself.
 -It allow me to meet a lot new people (SWA Research and Documentation Departemenrt often held competition, such best CEO, HR Excellence, etc )

Mau baca dalam versi bahasa Indonesia? Disini!

Post Signature

Post Signature