Top Social

Yang berhak menentukan benar dan salah

|




Kalian mungkin udah tahu kalau dalam Islam sendiri ada berbagai perbedaan pendapat. Pernahkah kalian merasa bingung dan bertanya-tanya. Misalnya kenapa ada yang shalat subuh pake qunut, ada juga yang ngga? Kenapa ada yang pake celana ngatung? Kenapa ada yang pake cadar, pake kerudung ma yang ngga pake kerudung? Kenapa ada yang manjangin jenggot tapi ada juga yang ngga? Kenapa ada kenapa umat islam yang ketika melakukan pengeboman berkata bahwa itu adalah jihad? sementara sebagian lagi mengatakan itu bukan jihad?  Kenapa NII, ahmadiyah dan syiah dianggap aliran sesat?  Kenapa… ? Kenapa..? Dan banyak pertanyaan kenapa lainnya…  Siapa yang sebenernya benar di antara mereka? yang tambah bingung adalah semuanya mengaku bener.
 \( °°)/
Siapa sih yang berhak menentukan benar dan salah?  (゚ペ)

dan Hana secara tidak sengaja menemukan jawabannya di buku Fiqih Dakwah karya Jum’ah Amin Abdul Azis . buku tsb merupakan buku yang wajib dibaca peserta TOS (Training Orientasi SALAM) 3 . Buku itu ngga menjawab semua pertanyaan di atas sih. Tapi buku itu menjawab pertanyaan mendasar “Siapa sih yang berhak menentukan benar dan salah?  “. Hana jadi bersyukur dapet kesempatan baca buku tersebut karena jujur aja judul bukunya ngga menjual buat gue. Judulnya Fiqh Dakwah, bukan tipe buku yang bakal Hana beli. Beda ceritanya kalau judulnya “Solusi Permasalahan Muslim Indonesia”, mungkin Hana beli. hehe.. Tapi pas baca beberapa halaman pertama Hana langsung memutuskan untuk membeli buku tersebut :D Buku ini tuh bener-bener salah satu buku yang ngajarin “Don’t judge book by its cover


 Dari buku itu, Hana  menyimpulkan bahwa sebenarnya kita tidak berhak menuduh/memvonis seseorang itu benar ataupun salah. Kita boleh merasa benar tapi bukan berarti hal tersebut membuat kita  boleh memaksakan kehendak/pendapat kita kepada orang lain, apalagi sampai menganggap yang berbeda pendapat dengan kita itu kafir. Kalau seseorang berbuat hal yang menurut kita salah, kita boleh membenci perbuatannya tapi jangan sampai membenci orangnya, apalagi menganggap orang tersebut kafir. Kita tidak boleh mengkafirkan seorang muslim yang mengucapkan syahadatain dan melaksanakan segala konsekuensinya, melaksanakan kewajiban-kewajiban, kecuali ia menyatakan dengan terang-terangan kata-kata kekufuran atau mengingkari sesuatu yang jelas dari masalah agama atau mendustakan sharih-nya Al-Quran, atau menafsirkan Al-Quran dengan penafsiran yang tidak sesuai dengan uslub-uslub bahasa arab, atau karena suatu perbuatan yang tidak ada pengertian lain kecuali kufur.


Perbuatan kita mengkafirkan seseorang justru membuat saudara sesama muslim menjauh padahal Allah menyuruh kita menyeru pada kebaikan dan serahkan hasilnya pada Allah. Ya, menyerahkan hasilnya pada Allah. Ketika tidak menyerahkan hasilnya pada Allah, kita sering sekali menjadi kecewa dan memaksakan kehendak kita pada orang yang kita ajak pada kebenaran menurut kita. Kita hanya mampu mengajak seseorang berubah tetapi kita tidak bisa mengubah seseorang. Selain itu, kita seolah lupa bahwa untuk manusia, Allah masih membuka pintu tobat sebesar-besarnya. Berbeda dengan syetan yang pintu tobatnya sudah tertutup. Jangan sampai mengkafirkan seorang muslim justru malah membuat kita bersekutu dengan syetan.

Oleh karena itu wajib bagi kita umat muslim untuk mendalami Islam, mengetahui nilai amal dan hukumnya, apakah termasuk fardu ain, fardu kifaya, sunnah, sunnah muakad. Perbedaan hukum dalam masalah-masalah cabang tidak berbahaya selama didasarkan ijtihad syar’i yang benar. Bahkan perbedaan tersebut adalah rahmat bagi umat , fleksibilitas dalam syariat, dan keleluasaan dalam fiqh. Kita tidak boleh tergesa-gesa menetapkan seseorang kafir pada setiap orang yang melanggar hukum tanpa membedakan yang ditetapkan dengan nash dan yang ditetapkan dengan ijtihad, antara nash yang qath’i dan yang zhani, dan antara yang penting dan kurang penting dalam masalah agama.

“Saya tidak senang jika para sahabat Nabi itu tidak berbeda pendapat. Karena andaikan hanya satu pendapat saja, niscaya manusia berada dalam kesempitan. Mereka adalah para imam yang diikuti. Kalau ada seseorang yang mengambil kata-kata dari salah seorang diantara mereka itu termasuk sunnah.” –Umar bin Abdul Azis


Dalam Dekapan Ukhuwah
by Salim A. Fillah

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kerhomatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat sang Nabi rasanya berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Kubaca Firman Persaudaraan
by Salim A. Fillah


ya, kubaca lagi Firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu persaudaran tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
aku tahu yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan Akhi sayang
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan:
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
kecuali orang-orang yang bertaqwa”


Jika kau merasa besar, periksa hatimu
mungkin ia sedang bengkak
jika kau merasa suci, periksa jiwamu
mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
jika kau merasa tinggi, periksa batinmu
mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya
- Salim A. Fillah


intinya perbedaan pendapat itu ngga masalah selama bukan masalah ajaran pokok dalam Islam :D
jadi, untuk urusan yang cabang, bukan pokok ajaran islam, tidak ada manusia yang berhak menentukan seseorang itu benar ataupun salah.  Yang Hana tangkep sih gitu, semoga aja ngga salah. Kalau salah, mohon koreksinya :D


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Wahai manusia!  Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang mulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al Hujurat: 13)

“…. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahu-Nya kepadamu terhadap apa yang dulu kamu perselisihkan.” (Q.S. Al-Maidah: 48)


Daftar Pustaka

Azis, J. A. A. (2011). Fiqih dakwah: Studi atas berbagai prinsip dan kaidah yang harus dijadikan acuan dalam dakwah islamiah. Surakarta: PT. Era Adicitra Intermedia.

Fillah. S.A. (2010). Dalam dekapan ukhuwah (5th  ed). Jogjakarta: Pro-U media.

25 Desember ..........

|



Tanggal 21 Desember 2012 kemarin diadakan ekplorasi ketua salam ui 16 di perpus pusat.  Para calon ketuanya itu ada Ari ( @ariemaulana4 , sosiologi 2010); arief ( @ariefadit_ya , akutansi 2009), Muhammad Kautsar ( @tsaross , psikologi 2009); dan Fitrah Subarkah ( @fitrahsubarkah , Sastra Arab 2009). Ada dua hal yang tidak terduga terjadi. pertama salah satu panelisnya adalah, bang jonas (semoga penulisan namanya ngga salah,  karena hana denger nama dia, ngga liat cara penulisannya)  non muslim dari FH UI dan yang kedua adalah kedatangan Gery Respati (non muslim) Prodi Perancis FIB 2010. Kedatangan kedua orang ini tentu saja membuat hana terharu karena Hana tidak menyangka mereka peduli terhadap SALAM UI. :’)

Nah ketika sesi eksplorasi, bang Jonas bertanya kepada para calon ketua salam apakah mereka berani membuat spanduk ucapan selamat natal/perayaan keagamaan lainnya di depan MUI jika mereka menjabat nanti. Mereka semua menjawab tidak. Lalu bang jonas mengubah pertanyaannya menjadi jika ucapan tersebut diubah dalam bentuk poster foto di media social ataupun kartu ucapan, apakah mereka akan bersedia? mereka berempat masih menjawab tidak. Kemudian bang jonas mengubah pertanyaannya apakah mereka mau mengucapkan ucapan selamat natal/perayaan keagamaan lainnya secara personal, bukan atas nama salam ui. Ari dan Kak Kautsar menjawab bersedia sementara Kak Fitrah dan Kak Arief menjawab tidak.

Setelah itu, hana mendekati Gery dan menyapanya karena kupikir Gery sudah kenal ketua SALAM i5 Kak Gun (mereka berdua duduk bersebelahan). pas dikonfirmasi ke Gery, ternyata mereka berdua baru berkenalan. XD

Lalu hana menanyakan apakah kedatangannya untuk memberi dukungan kepada kak Fitrah (karena sama2 dari FIB) dan dia menjawab ya.. tadinya begitu. tapi setelah denger jawaban kak fitrah, dia merasa kecewa. Wajah gery menunjukkan wajah sedih. Hana juga jadi ikut merasa sedih melihatnya karena sebenernya akhir-akhir ini hana lagi kebingungan tentang bagaimana menjelaskan ke temen-temen baik Hana yaitu Nia, Hanata, Vania, (protestan) dan Kathy (katolik), bahwa Hana tidak bisa mengucapkan selamat natal kepada mereka. Melihat kesedihan Gery membuat Hana merasa khawatir akankah temen-temen baik Hana menunjukkan ekspresi wajah sedih yang sama?  

Gery meminta penjelasan padaku tapi Hana takut penjelasan Hana malah membuat dia makin sedih karena Hana setuju sama pendapat Kak Fitrah dan Kak Arief. Akhirnya Hana memilih diam dan tersenyum. Sepertinya Gery mengerti dan kemudian memilih mengalihkan topik pembicaraan ke buku yang kami pegang. (Kebetulan kami berdua sama-sama sedang memegang buku di tangan kami. Hana pegang buku toto-chan dan Gery memegang buku berjudul War, sayangnya hana ngga inget nama pengarangnya siapa).

Malemnya pas buka facebook, nemu status ucapan selamat natal menurut Ustaz Felix Siauw dan akhirnya Hana pun share ke Nia, Hanata, Vania, dan Kathy.
01. Termasuk hal yang buat saya deg-degan saat baru masuk Islam 10 tahun lalu | adalah saat mengkaji hukum ucapkan selamat natal 
02. Karena natal sejatinya perayaan lahirnya Yesus, yang Nasrani akui sebagai Tuhan | yang jelas kita Muslim tidak mengakuinya | Yesus Nabi bukan Tuhan 
 03. Karenanya perayaan natal itu bagian aqidah (keyakinan dasar) Nasrani | yaitu merayakan hari lahir Tuhan Yesus, begitulah adanya  
04. Belum lagi mention perayaan 25/12 setiap tahunnya yang tercampur dengan budaya pagan  
05. Nah | memang berat sekali pada awal saya jadi Muslim | harus "menyakiti" hati orangtua dengan tidak mengucapkan "selamat natal"  
06. Deg-degan, campur perasaan sungkan, nggak enak, nggak nyaman, rikuh, bimbang | pilih perasaan nggak enak atau pilih ketentuan syar'i ..?  
07. Pikiran yang memantapkan saya "saya ingin kedua orangtua saya Muslim satu saat nanti, karenanya saya ingin tampilkan Islam apa adanya"  
08. Diluar dugaan | ayah saya -semoga Allah menunjukinya- memahami saat saya sampaikan | "toleransi Islam adalah biarkan papi-mami natalan" 
 09. Saya sampaikan | "toleransi Islam adalah membiarkan papi-mami natalan, tapi felix nggak bisa ucapkan natal, karena beda yang diyakini"  
10. Saya lanjutkan | "posisi Yesus (Isa) dalam Islam sangat terhormat, disebut dalam ayat yang dimuliakan, tapi dia Nabi, bukan Tuhan"  
11. Kembali saya lanjutkan | "dan Yesus (Isa) Nabi yang felix pahami dalam Islam, tidak lahir pada 25/12 dan kelahirannya bukan sebagai Tuhan"  
12. Alhamdulillah, ayah saya memahami | silaturahim tetap terjaga | semua ketakutan ternyata hanya "unreasonable fear"/ kekhawatiran yang gak masuk akal 
 13. Terkadang kita takut dan khawatir berlebihan | padahal orang Nasrani juga bisa memahami kok | ini urusan akidah, harus tegas ...... 
 14. Takut merusak hubungan antarmanusia (yang belum tentu rusak) | tapi nggak takut merusak akidah kita / hubungan kita dengan Allah ..? | aneh ya ...  
15. Saya juga manfaatkan hari libur berkunjung ke ortu | tgl 26 atau 27nya biasanya | silaturahim jalan, akidah jalan hehe.. nggak masalah  
16. Ketegasan kita dalam Islam justru dihargai | prinsip Islam yang kita pegang justru membuat kita dihormati  
17. Ayah-ibu saya maklum | ada banyak hal yang mereka tak mau ikuti cara saya, ada juga hal yg saya tak ikut mereka  
18. Awalnya saja yang agak susah untuk katakan yang benar | tapi setelah itu hati plong | tenang dan kalem hehe..  
19. Kadang2 kita yang lebay, anggep temen2 kita yang Nasrani bakal anggap kita gak toleran | padahal mereka paham kok, mereka ok-ok aja tuh .....  
20. Lakum diinukum wa liya diin | urusan agama mereka untuk mereka, urusan agama kita masih banyak, itu dulu aja yang diperhatikan :D  
21. "Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku" (QS 5:44) | biarlah ayat ini menjadi perenungan kita :) By : Ustadz Felix Siauw 

atau kalian juga bisa baca kultwit  #toleransi ketua SALAM UI i5 kak @ysgunawan disini :)

Hana tahu mungkin kalian berpikir “Na, bukannya ngucapin selamat natal tu boleh demi toleransi dan menteri agama juga bilang boleh kok (baca di sini)?” 

: )

Ya, hana tahu kok dalam umat islam di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua, yang mengatakan boleh/tidak mengucapkan selamat natal. Penjelasan tentang perbedaan tersebut bisa dibaca disini.http://www.hidayatullah.com/read/2011/12/22/3962/ucapan-selamat-natal-dan-syubhat-akidah.html Bagi Hana sendiri, Hana sudah memilih lebih mempercayai pendapat yang melarang ucapan selamat natal. Hana tidak meminta kalian setuju dengan pendapat Hana tapi harap kalian dapat memahami/mengerti keputusan yang Hana ambil. Makasih banyak ya 


((y)^^)(y)



Happy Holiday Guys  :D Semangat UAS nya buat yang masih UAS :D (gue juga termasuk masih UAS) ^^v

Jika Kau Punya Masalah....

|



Saya rasa saya pernah memberi tahu kalian bahwa saya pernah ingin bunuh diri waktu saya kecil? (buat yg belum tahu, bisa baca disini) well, semester tiga lalu  atau tepatnya tahun 2011, aku pernah kembali ingin bunuh diri.  Saya menduga keinginan bunuh diri saya muncul karena sifat perfeksionis saya. Selama ini saya percaya kelebihan saya adalah kepintaran saya dan saya tidak punya kelebihan apa-apa selain itu. Di setiap semester, saya menargetkan untuk mendapat IP 4. Awalnya saya merasa yakin untuk meraihnya. Terlebih lagi ketika saya melihat para mahasiswa berprestasi ketika OKK UI. Mereka berkata mereka saja bisa. Saya kemudian melakukan social modelling. Walaupun begitu, pada prosesnya self-efficacy saya menurun. Hal ini disebabkan saya gagal mengerjakan tugas dengan baik, perencanaan saya kacau, dan hasil kuis saya buruk. Saya sendiri  menjadi tidak yakin dapat mencapainya kemudian malas belajar. Saya justru merasa sedih dan tertekan karena gagal memeroleh IP 4. Saya gagal memenuhi standar yang saya tentukan sendiri. Kegagalan tersebut membuat saya sering memaki dan membenci diri saya, seperti “i hate my self” atau “Tolol banget sih loe, Na”.. saya merasa diri saya gagal sebagai a person

Kondisi tersebut diperparah di semester 3 lalu, saya mendapati nilai UTS mata kuliah favorit saya, psikologi industri dan organisasi saya adalah 65. Selama ini, saya tidak pernah mendapat nilai jelek di mata kuliah favorit saya. Ketika mengetahui nilai UTS saya jelek, saya menangis dan berpikiran untuk mengakhiri hidup saya karena saya merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang membuat diri saya bangga ataupun berharga. 

Menurut Santrock (2011), seorang perfeksionis melihat kesalahan sebagai tanda bahwa ia tidak berharga, menjadi depresi dan kecewa berat   saat mengalami kegagalan, dan memasang standard terlalu tinggi dan diluar kemampuan. Saat menangis, terlintas di benak saya untuk meminta teman saya membunuh saya karena saya tahu Islam melarang bunuh diri. Mungkin mati karena dibunuh tidak dilarang.  Saat itu saya menangis di toilet kampus. Selesai menangis, saya pun berjalan pulang ke kosan dengan  berpikir tentang cara-cara mengakhiri hidup saya.  Ketika hendak menyebarang jalan, saya hampir tertabrak motor dan tubuh saya mendadak lemas. Saya merasa sangat ketakutan.

Peristiwa tersebut menyadarkan saya bahwa saya masih ingin hidup dan tidak ingin mati. Saya benar-benar bersyukur Allah masih menyadarkan dan mengingatkan saya.  Kalian tahu peristiwa tersebut juga membuat saya “kembali”ke islam? Saya benar-benar menyesal dan  mulai sering berdoa meminta maaf kepada Allah karena telah berpikir untuk bunuh diri.  Saya pun berusaha mengingat kembali hal apa yang dulu membuat saya bertahan untuk tidak bunuh diri, dan jawabannya adalah  dulu saya menjadikan Rasullullah SAW sebagai role model saya. Ketika sedang mengalami kesulitan, saya akan mengingat peristiwa buruk yang dialami Rasulullah SAW dan bagaimana beliau tetap bersabar. Namun, tidak kali ini. saya sudah lama melupakannya. Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai  melupakan beliau.  Salah satu hikmah dibalik keinginan saya ingin bunuh dirimembuat saya sadar bahwa saya berusaha kembali mencintai Rasulullah SAW dan menjadikannya panutan hidup saya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al Ahzab : 21.)



        SULIT, MUDAH , RIDHONYA

        by Salim A. Fillah

        Satu waktu, sudah lama sekali.

        Seseorang berkata dengan wajah sendu.

        “Alangkah beratnya… alangkah banyak rintangan… alangkah berbilang sandungan… alangkah rumitnya.”

        Aku bertanya, “Lalu?”

        Dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk.

        “Apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

        “Hanya karena itu kau menyerah kawan?” aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya.

        “Yah, bagaimana lagi? Tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

        Aku membersamainya menghela napas panjang.

        Lalu bertanya, “Andai Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah Islam di muka bumi?”

        “Maksudmu, akhi?” Ia terbelalak

        “Ya, andai Muhammad SAW berpikir bahwa banyaknya kesulitan berarti tak

        diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

        “Ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad SAW bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar.

        Mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher.

        Mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta.

        Mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu.

        Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir.

        Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib.

        Mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata.

        Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang.

        Atau justru saat dunia ditawarkan padanya ; tahta, harta, wanita…”

        “Jika Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

        “Tapi Muhammad SAW tahu, kawan.

        Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya,

        berat atau ringannya, bahagia atau deritanya,

        senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya..”

        “ Ridha Allah terletak pada

        Apakah kita mentaati-Nya

         dalam menghadapi semua itu?

        Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larang-Nya

        dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan? ”

        “Maka selama di situ engkau berjalan,

        bersemangatlah kawan…”

lalu di semester  ini, hana sempat kembali stres. di post yg lalu (klik di sini), hana pernah cerita kalau hana sempet ngerasa ngga bisa senyum selama seminggu. 

well, hana masih bisa senyum sih tapi senyumnya ngga tulus dari hati alias senyum sosial. hana juga sempet kaget hana bisa senyum di saat hana sedih. selama ini kalau hana sedih, semua orang kena getahnya karena hana akan menampakkan wajah murung hana ke semua orang. Tapi Alhamdulillah kali ini, hana bisa menyembunyikan hal tersebut.  

Nah, pas Hana lagi sedih tersebut, dosen Klinis Kesehatan Hana, Mba Sherly cerita tentang dampak bunuh diri bagi orang-orang di sekitarnya, banyak yang merasa menyesal tidak dapat dapat menolong dan tidak menyadari tanda-tandanya, dan rasa penyesalan tersebut bisa bertahan lama. Mba sherly bilang perumpaan kalau  mahasiswa psikologi yang bunuh diri itu kayak tikus mati di lumbung padi. Soalnya sekitar 80% dosen di psikologi tuh psikolog, kalau kami punya masalah harusnya kami minta tolong mereka. Terlebih lagi khusus mahasiswa psikologi, biaya ikut konseling tuh gratis. Jadi, kata mbak sherly kalau punya masalah tuh minta tolong, jangan diem aja. 

Omongan mba sherly membuat hana menangis. hana jadi mikir apa jadinya kalau semester 3 lalu, hana jadi bunuh diri? hana saat itu memang merasa tidak berguna dan gagal sebagai seorang manusia, tapi hana juga tidak mau kematian hana membuat orang-orang di sekitar hana, keluarga, dosen-dosen dan temen-temen merasa bersalah karena tidak menolong hana.

Gara-gara omongan mba sherly, hana pun memutuskan ikut konseling. Hana saat itu stress biasa sih tapi Hana takut Hana kepikiran ingin bunuh diri lagi. Jadi niat hana ikut konseling tuh lebih ke pencegahan, untuk mengetahui cara mengatasi depresi jika hana nanti mengalaminya lagi.. 

Sebenernya dari semester 1, hana udah pengen ikut konseling tapi hana selama ini takut, takut masalah hana ternyata sepele, takut hana ngga bisa membuka diri ke psikolognya, takut hana merasa ngga nyaman, dll.  Banyak takutnya deh pokoknya dan akibatnya hana jadi sering mengurungkan niat hana tuk pergi ke psikolog . 

Hana jadi mikir padahal hana mahasiswa psikologi ya, tapi masih punya rasa  takut ke psikolog, gimana yang orang awam? *nyegir* Anyway, hana pun memberanikan diri untuk ikut konseling. Hana ngga mau  keinginan bunuh diri itu muncul lagi, mengingat di Islam pun bunuh diri dilarang. Kalian tahu hana udah ikut lima sesi konseling. Nanti insya allah hana bakal post insight-insight yang Hana dapet selama konseling :D

Intinya: kalau  punya masalah, selesaikan :D  minta bantuan sama Allah :D minta bantuan sama  manusia juga :D dalam kasus ini, kalau depresi/stres, datengi psikolog :D nah, minta bantuan ke psikolog tuh salah satu bentuk ikhtiar (usaha) menyelesaikan masalah :D





Daftar Pustaka

Santrock, J.W. (2011). Educational psychology. (5th ed). New York:McGraw-Hill.
Fillah. S.A. (2010). Dalam dekapan ukhuwah (5th  ed). Jogjakarta: Pro-U media.
gambar diunduh dari https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/537495_10151300005354800_383539441_n.jpg

Berani karena pygmalion effect?

|

Latar: kamar mandi perempuan WAMY jam 23.00 WIB

“Kak Han, yakin ditinggal?” Tanya fudla, salah satu junior di SALAM UI,
“Ngga takut ka?” Tanya Kania
“Udah ngga apa-apa. Kalau mau duluan, duluan aja. Kakak bisa kok sendiri.” jawabku.
Setelah mereka pergi hana jadi mikir, kok Hana berani ya sendirian?emang Hana seberani itu?

dan tiba-tiba………………………….
tenang aja ini bukan cerita horror. lagian Hana ngga suka cerita Horror…
hehehe


tiba-tiba Hana jadi inget pengalaman waktu Hana kecil, sebenernya waktu kecil ada masa-masa dimana Hana takut pergi ke Toilet sendiri tapi Umi selalu bilang kalau Hana berani. Bahkan kalau lagi kumpul keluarga besar, umi suka membangga-banggakan Hana kalau Hana tuh berani ke kamar mandi sendiri. Mau nggamau Hana jadi berusaha menampilkan sisi Hana yang berani ke toilet malem-malem sendiri. I mean malu ngga sih kalau keluarga besar tahunya kalau Hana berani tapi kalau ternyata kenyataannya ngga begitu. Alhamdulillah, lama-lama Hana percaya kalau Hana tuh berani ke kamar mandi sendiri. Selain itu, kalau ngaku takut, Umi bakal  bilang “masa lebih takut sama Setan dibanding Allah.” :D hahah iya bener juga

Selain itu, Hana juga percaya kalau setan ada tapi hana ngga bisa liat jadi ngga usah takut. :D

Kalian tahu yang dilakukan umi Hana tuh kalau dalam ilmu psikologi dikenal sebagai Pygmalion effect atau disebut juga self-fullfilling propechy.  Apa itu?

Pygmalion effect atau self-fullfilling propechy adalah harapan dan asumsi  tentang seseorang akan memengaruhi interaksi kita dengan orang tersebut sehingga mengubah perilaku orang tersebut sesuai dengan harapan kita. (Vaughan dan Hogg, 2011). Nama pygmalion effect sendiri didasari oleh cerita dalam mitologi yunani mengenai Pygmalion, seorang pematung yang membuat patung wanita. Pygmalion jatuh cinta terhadap patung yang dibuatnya sehingga hampir tiap hari dia mengajak patung tersebut berbicara. Pygmalion berdoa kepada dewi Aphrodite agar patung wanita tersebut dapat menjadi manusia. Dewi Aphrodite yang tersentuh mendengar doa Pygamlion mengabulkan permintaan Pygmalion. Ketika Pygmalion pulang ke rumah, dia menemukan patung wanita tersebut hidup dan kemudian menikah dengan patung tersebut.

Studi paling terkenal tentang self-fullfilling propechy adalah studi yang dilakukan Rosenthal dan Jacobson (1968, dalam Vaughan dan Hogg, 2011) tentang ekspektasi guru di kelas terhadap muridnya. Rosenthal dan Jacobson melakukan tes terhadap sekelompok murid.  Hasil tes Rosenthal dan Jacobson dipercaya dapat memprediksi anak-anak yang akan 'bloomers' (menunjukkan perkembangan intelektual yang pesat dalam waktu dekat). Para guru diberi nama-nama dua puluh bloomers, (dua puluh nama dipilih secara acak oleh para peneliti) dan tidak ada perbedaan IQ yang signifikan antara bloomers dan non-bloomers. Setelah itu dengan  cepat, para guru menilai non-bloomers sebagai murid yang kurang penasaran, kurang tertarik dan kurang bahagia dibandingkan dengan bloomers. Dengan kata lain, guru mengembangkan harapan stereotip terhadap dua kelompok.  Kemudian Rosenthal dan Jacobson mengukur IQ anak-anak pada akhir tahun pertama, dan pada awal dan akhir tahun kedua. Mereka menemukan bahwa dalam kedua tahun bloomers menunjukkan kenaikan IQ secara signifikan lebih besar daripada non-bloomers.

intinya sih harapan seseorang buat kita bisa terwujud atau justru malah harapan kita sama seseorang   yang jadi kenyataan :D

o ia lupa bilang kalau hari ni hana lagi ikut training orientasi SALAM UI 3 di WAMY.
Btw, ni foto Hana pas di WAMY (tapi fotonya sore-sore pas dateng)... ga penting ya? hahahah





daftar pustaka

Vaughan, G.M., & Hogg, H. A. (2011). Social psychology. (6th ed.). London: Pearson Education.


Post Signature

Post Signature