Top Social

Bagaimana rasanya?

|
Kadang saat melihat orang yang kita anggap sukses dan bahagia,
kita bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi dia?

Image courtesy of stockimages at FreeDigitalPhotos.net


Nah, baru-baru ini Hana membaca artikel yang membuka mata Hana tentang jawaban bagaimana rasanya menjadi orang yang dianggap sukses.
Artikel tersebut adalah "The Art of being Dian" di Majalah ELLE Indonesia edisi Februari 2015.


Selama ini Hana kagum sama Dian Sastro, suka sama aktingnya, cantik, pinter lagi. I am a fan of AADC, too. It was the first movie I watched with my mom in Cinema!

Tapi ternyata dalam artikel tersebut, menjadi sukses menjadi beban buat Dian. Saat awal main film, dia tidak main untuk mencari ketenaran. Dia tidak mengira kalau film AADC bakal happening dan membuatnya menjadi icon kebangkitan film Indonesia. Akibatnya, orang-orang pun mulai kasih harapan besar padanya dan menanti langkah dia selanjutnya. Dia merasa orang-orang menaruh harapan terlalu besar pada gadis muda yang saat itu bahkan baru tahun pertama kuliah. Dampaknya Dian menjadi serius, dia melihat dirinya dari kacamata orang karena dia sadar orang punya ekspektasi besar padanya: mengambil film harus hati-hati, perannya harus menantang. Semuanya jadi dia pikirin banget.

Ketika membaca hal tersebut, Hana merasa ada benarnya. 

"The greatest prison people live in, is the fear of what other people will think" 

Hana termasuk orang yang menaruh harapan besar pada Dian Sastro dan tidak menyangka bahwa harapan besar itu malah membebaninya dan membuatnya tidak bahagia. Ironis menyaksikan betapa kesuksesan yang mungkin didambakan oleh kebanyakan remaja, justru membawa banyak kekecewaan pada orang yang menerimanya.


Kita kadang lupa bahwa kehidupan manusia tidak ada yang sempurna.  Life is not wonderful as it seems to be.  Sesuatu yang kita lihat sebagai berkah bagi seseorang belum tentu dianggap berkah bagi orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, hal yang kita anggap musibah belum tentu dianggap musibah bagi orang lain.

Mungkin karena itu sebaiknya kita bersyukur atas kondisi apapun yang kita miliki saat ini. Ketetapan Allah selalu tepat. Allah lebih tahu yang dibutuhkan hambaNya.

Nah, berita baiknya adalah Dian berhasil mengatasi hal tersebut. Alhamdulillah. Allah ngga pernah kasih ujian melebihi kemampuan hambaNya.

Di artikel tersebut, Dian mengakui bahwa sekarang dirinya mengerjakan apa-apa tanpa harapan berlebihan dari orang. Dia menemukan identitas diri jauh lebih memuaskan demi naskah peran paling menantang manapun. Ia menceritakan kesuksesannya justru terjadi saat ia melupakan ia adalah icon kesuksesan perfilman. Dia tidak lagi over controlling terhadap hal-hal sederhana. Dia mencoba melakukan hal yang ada di depan mata. Dia percaya kalau memang jalannya, akan kejadian dengan baik. Kalau tidak toh masih ada option lain. Kalau saat lajang, dia mendefiniskan diri dengan karier dan pencapaian, dan kalau tidak berprestasi rasanya bukan apa-apa. Sekarang dia menemukan arti kehidupan yang lebih besar.

I am happy to read that. I hope Dian Sastro live happy and meaningful life.
Barakallah!
\(^0^)/
Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung :D
Yang menulis belum tentu lebih pintar dari yang membaca
Jadi, silahkan kalau mau memberikan kritik, saran, umpan balik & pujian.
:D

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature