Top Social

Tampilkan postingan dengan label Pikiran hana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran hana. Tampilkan semua postingan

Celebrating Failure

|

Happy Friday Good People ✨✨

I am really happy that weekend is near.  I can't wait another time for me to read ✨✨😊📖
Btw, I have read an inspiring article entitled "Billionaire CEO Sara Blakely Says These 7 Words Are the Best Career Advice She Ever Got" 

The article told us that during Sara Blakely's childhood, her father would sit her down at the dining room table and ask her the same question: "What did you fail at this week?" And when she told him, he high-fived her.

Every week growing up, her father made her reflect on something she'd failed at, then showed her that not only was she still loved after failing, but she was celebrated for it. Her dad taught her that failing simply just leads you to the next great thing.

I really love this article. I used to believe that I only will be loved if I am perfect/get all A on my report card. I was even thinking to kill myself for the bad score/grade that I got. Now, I knew that I did not need to be perfect/get all A on my report to be love. Failure is not the end of me or my world. It is part of the process. It is part of life. Something that I have to go through. I like this article's message because it is aligned with I have learned in life and I even got parenting technique how to tell my children (if I become parent someday), that I still love them despite the failure they make 😊
.
.
Have great day for all of you.
Hope all is well 💕💕

STOP WORRYING ON BEING LIKED

|

Once upon a time
There was a girl who wants to be loved and admired by everyone else
She wants to be seen perfect
So she tried everything to make everyone happy
She constantly worrying what other people said about her
And she apologizes whenever people seem to disagree or hate her
But no matter how hard she tried, she couldn't please everyone.
She was devastated at first
But then she read and reviewed a lot of books
She made friend with another book blogger
She began to notice that she always choose particular genre and loathe some other
Sometimes, a book that perfect for her could be disastrous for the others
And sometimes, she will find other people who love the same book but for different reasons
She found out that no book is perfect and liked by everyone else
She began to think that maybe people are like books
No book that appeals to everyone
And that is okay
Maybe she can't fit everyone's taste 
But there will be someone who likes her as she is and considered her enough
Then she decides to embrace the fact that "it is impossible to be like by everyone" 
She did not have to worry on being liked and apologize over little things anymore


Image courtesy: Wild Herbs by julianaapina, modified by me


Tentang #DokterIndonesiaProRakyat

|


“ Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan berusaha sesuai martabat pekerjaan saya.  Dalam menunaikan pekerjaan terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial.” Sumpah Dokter
 
Pada hari Senin tanggal 24 Oktober 2016, bertepatan dengan hari dokter nasional dan hut IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 66, ribuan dokter yang tergabung dalam IDI melakukan demonstrasi (aksi damai) di berbagai kota di Indonesia. IDI meminta segenap komponen masyarakat mendorong pemerintah untuk mereformasi sistem kesehatan dan reformasi sistem pendidikan dokter. 



IDI melihat ada harapan tinggi dari masyarakat kepada profesi dokter, dan ketika harapan tersebut tidak sesuai kondisi di lapangan, sering kali dokter menjadi sasaran kemarahan/pihak yang disalahkan. Padahal masalah kesehatan dan pelayanan kedokteran itu kompleks, dokter bukan satu-satunya faktor yang berperan dalam keberhasilan ataupun masalah pelayanan kesehatan. Keberhasilan profesi dokter adalah tanggung jawab bersama.

Ada 3 krisis yang menurut IDI perlu perhatian serius:

1.       Krisis Pelayanan Kedokteran di Era Jaminan Kesehatan
IDI melihat beberapa faktor dapat menyebabkan ketidakmasimalan pelayanan kesehatan, seperti alokasi pembiayaan obat yang terlalu kecil sehingga menyulitkan dokter memberikan obat terbaik kepada rakyat miskin, ada kendala dalam hal pengawasan dan pelaksanaan antara otonomi daerah dengan kebijakan JKN, belum sinkronnya aturan standar BPJS dengan standar profesi kedokteran, dan masih minimnya fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) menyulitkan dokter menegakkan diagnosis.

2.       Krisis Pendidikan Dokter
IDI melihat pendidikan dokter semakin mahal dan tidak pro rakyat. Institusi pendidikan kedokteran saat ini bergeser menjadi profir oriented. IDI berpendapat jika ingin meningkatkan kualitas dokter di pelayanan primer, pemerintah tidak perlu membuka program studi baru. Program studi DLP menambah panjang masa studi pendidikan seorang dokter. Jika program studi ini diterapkan, diperkirakan butuh tambahan 2 tahun untuk seseorang untuk menjadi dokter. IDI mengkhawatirkan semakin lamanya durasi pendidikan dokter membuat pendidikan dokter semakin mahal dan akan berdampak kepada biaya berobat. Selain itu, program ini tumpang tindih dengan pendidikan spesialis sehingga dinilai tidak tepat sasaran dan akan menjadi pemborosan. Alokasi anggaran bisa digunakan untuk pengadaan fasilitas layanan kesehatan di daerah.  IDI berharap pendidikan dokter mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan.

3.       Krisis Penyebaran dokter yang tidak merata dan kurangnya dokter spesialis
Minimnya infrastuktur dan dukungan sarana prasarana untuk mencapai standar pelayananan kesehatan menjadi salah satu penyebab disparitas penyebaran dokter di Indonesia. IDI juga melihat jumlah dokter spesialis di Indonesia selalu kurang karena mahalnya biaya pendidikan dan terbatasnya kursi pendidikan spesialis di Indonesia yang sifatnya University based. IDI melihat sitem hospital based dapat menjadi alternatif solusi bagi Indonesia untuk memenhuhi kebutuhan dokter spesialis. Hal ini dikarenakan dalam sistem hospital based, dokter umum yang ingin memperdalam spesialisasi tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun, mereka justru dibayar karena kerjanya selama proses pendidikan.

Ketika mendengar dan membaca mengenai aksi damai #DokterIndonesiaprorakyat yang dilakukan IDI di sosial media dan media cetak, membuatku sadar bahwa masalah kesehatan di Indonesia itu kompleks dan  dokter  mengalami  kesulitan dalam menjalankan profesinya. Aksi ini mengingatkanku bahwa dokter juga manusia, mereka memiliki keterbatasan dan tidak sempurna. Mereka menginginkan yang terbaik, namun terkadang kebijakan dan fasilitas tidak mendukung. Ketika mendengar pelayanan kualitas kesehatan yang buruk, seringkali opini di sosial media atau berita membuat seolah-olah itu salah dokter sepenuhnya, padahal sebenarnya bukan seperti itu. Kita seringkali menyalahkan dokter tanpa mengetahui masalah yang terjadi. Semoga kita bisa belajar lebih menghargai dokter.

Hal yang paling membuatku jleb saat mendengar aksi damai IDI adalah saat IDI memprotes mahalnya biaya pendidikan dokter. IDI menginginkan pendidikan dokter dapat diakses semua kalangan. Aku menganggap mahalnya pendidikan dokter sebagai hal biasa dan wajar sehingga tidak mempermasalahkan pendidikan dokter hanya bisa diakses oleh sebagian kalangan yang ekonomi mampu. Aksi Damai IDI mengingatkanku tentang pendidikan seharusnya bisa diakses oleh semua, termasuk pendidikan dokter. Aksi Damai IDI juga menyadarkanku bahwa para dokter ini masih peduli dengan rakyat kecil dan bahwa ketika melihat hal yang tidak sesuai, kita dapat bergerak meminta dan menyuarakan perubahan.




Semoga masalah pelayanan kesehatan dan pendidikan dokter ini menemukan jalan keluar. Semoga maksud dan tujuan baik aksi damai IDI dapat diterima dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat.

Haruskah Aku Menyerah?

|
Adegan paling berkesan bagiku dalam drama Korea Descendant of The Sun (DOTS) ada di episode 2 saat dokter Kang Mo Yeon gagal untuk ke-4 kalinya menjadi professor dan menempati posisi senior di RS tempat dia bekerja. 



Padahal para dokter senior bilang kali ini adalah giliran dia yang akan lolos. Namun, saat pengumuman alih-alih namanya yang terpampang, yang mendapat gelar dan jabatan tersebut adalah dokter Kim yang tidak lebih kompeten dibanding dirinya. Ternyata dokter Kim mendapat jabatan tersebut karena koneksi.

Kang Mo Yeon marah pada dokter senior yang membimbingnya dan bertanya atas alasan apa lagi dia gagal kali ini. Dulu dia tidak lulus karena dianggap masih terlalu muda, sekarang alasan apa lagi. Dokter yang membimbingnya malah balik memarahi Kang Mo Yeon dan berkata kalau dia memang benar-benar menginginkan gelar dan jabatan tersebut, seharusnya dia tidak menyerah dan tetap berjuang untuk meraihnya.

Tiba-tiba dr. Kim datang ke ruangan tersebut dan langsung menyuruh dr. Kang untuk menggantikannya menghadiri wawancara di TV karena dia hendak berpesta merayakan promosi gelar dan jabatan yang baru diraihnya sehingga kemungkinan akan mengalami hang over dan akan bangun siang.

Tidak terima diperintah seperti itu oleh dr. Kim, dr. Kang marah dan menjambak rambuknya. dr. Kim kemudian membalas menjambak dr. Kang. Melihat hal tersebut, staf rumah sakit berusaha merelai pertengkaran mereka.

Setelah itu, dr. Kang pun pergi menyendiri di salah satu lorong rumah sakit untuk menghapalkan materi yang akan dibawakan di acara TV. dr. Kang menghapalkan materi tersebut sambil menangis, merasa lelah dengan semua yang terjadi.



Pernah mengalami hal serupa dengan dr. Kang? Kau menginginkan sesuatu dengan amat sangat dan kau memiliki kualifikasi yang layak untuk memeroleh hal tersebut? Namun ternyata kau tidak mendapatkannya.

Kau bertanya-tanya apakah ini pertanda untuk berhenti dan menyerah?
Atau justru ini adalah pertanda agar berjuang dan berdoa lebih keras?

Kau bertanya pada Allah, ada hikmah apa dari kejadian ini?
Meski kau tahu jawaban Allah atas doa ada 3: Ya, Ya tapi nanti, Ya tapi lebih baik.
Namun, ketika mengalami kegagalan untuk kesekian kalinya, kau kembali bertanya-tanya ini termasuk ya nanti atau ya tapi lebih baik?

Saranku: Jika bingung, shalatlah istikharah meminta petunjuk dari Allah.
Jangan berhenti berprasangka baik dan memohon bantuan Allah.
Saat-saat penantian jawaban tersebut mungkin sulit tapi ingatlah Allah tahu yang terbaik untukmu dan tahu kapan waktu yang tepat bagimu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.

Kau tahu  mungkin ada hikmah dibalik penundaan tercapainya keinginan dan mimpimu.

Kau tahu apa yang terjadi pada Kang Mo Yeon?
Setelah menggantikan dr. Kim dalam acara TV, dia mendapat tawaran kontrak acara TV. Dia menjadi dokter artis dan terkenal. Poster wajah dirinya ada dimana-mana :D



Dan di akhir episode, akhirnya dr. Kang berhasil menjadi professor dan menempati jabatan senior :)
Yeah!! Alhamdulillah :D

Mungkin jalan meraih mimpimu berputar dulu, tidak langsung lurus atau melalui jalan yang kau ketahui tapi percayalah rencana Allah jauh lebih baik :D


Btw, aku menemukan tulisan berjudul Putaran Ketujuh oleh Hilmi Sulaiman Rathomi yang mungkin akan membuatmu merenung kembali dan menginspirasimu :)

Putaran Ketujuh

Dua minggu yang lalu anak saya yang kedua sempat kurang sehat. Napasnya cepat dan berbunyi khas anak yang punya bakat asma. “Kambuh nih”, pikir saya. Biasanya kami biarkan karena gejala macam ini sering sembuh sendiri.

Menjelang hari ketiga, kondisinya memburuk. Napasnya makin cepet, bunyi napasnya makin kenceng, dan nggak mau makan/minum. Saya dan istri punya pengalaman menangani anak meninggal karena asma di Rumah Sakit. Jadi karena kuatir makin kenapa2, pagi2 sebelum mulai kerja kami beli alat nebulizer. Harganya lumayan.

Waktu sampai di rumah setelah beli nebu, si adek lagi tidur. Yang nggak terduga, waktu saya periksa, bunyi wheezingnya sudah hilang sama sekali, dan napasnya juga udah normal!
Saya antara senang dan sedih. Senang karena si adek udah sehat. Sedih karena udah terlanjur beli nebulizer, hahaha. Sampai sekarang si nebulizer ini belum kepakai sama sekali. 

Waktu saya ceritakan kejadian itu ke mertua pas main ke bekasi, sambil ketawa mertua saya bilang,”Nah itu, berarti sa'i putaran yang ketujuhnya adalah sampai beli nebu. Usaha maksimalnya adalah sampai beli alat nebu, tapi sembuhnya bukan karena itu.”

Tanpa kita sadari, tidak sedikit kejadian di hidup kita yang merefleksikan peristiwa sa'i yang dilakukan oleh ibunda Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya Ismail.
Beliau usaha mati-matian, lari bolak-balik bukit Shofa-Marwah tapi nggak dapet2 air yang dicari. Sampai akhirnya di putaran ketujuh, barulah air itu muncul. Dan ketemunya bukan di jalur Shofa-Marwah rute beliau lari, tapi di dekat kakinya Ismail, yang sekarang jadi sumur zam-zam.

Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Ketika kita sudah sa'i 7 putaran, sudah berusaha maksimal untuk mencapai sesuatu, pasti hasil yang sesuai akan Allah berikan. Tapi, darimana sumber rejekinya, tentu terserah Allah. Ada sales yang mati2an mendekati calon pembeli A, ternyata justru yang akhirnya closing adalah pembeli B. Ada orang yang banting tulang merintis usaha bengkel mobil, pelanggannya nggak nambah2, tapi tetap dijalani terus dari pagi sampai sore... dan bisa sukses justru dari bisnis ayam bakar yang modalnya dikasih sama salah satu customer bengkel mobil. Yang seperti ini kasusnya nggak sedikit.

Trus bagaimana kalau kita sudah belajar mati2an, tapi nilai ujian tetep jelek? Ngelamar kerjaan sana-sini, tapi masih belum ada yang mau nerima? Udah kerja abis2an, tapi rejeki tetap seret? Udah banting tulang, tapi hasil nggak sesuai harapan?

Sederhana saja, mungkin kita baru sa'i sampai di putaran keenam. Tinggal 1 putaran lagi, air zamzamnya akan muncul dari arah yang tidak diduga-duga. Apa tandanya kita udah di putaran ketujuh? Cuma Allah yang tau, dan sengaja dirahasiakan.

Ayo terus berlari, sampai putaran ketujuh!


Jika kau memilih untuk tidak menyerah, kuharap Allah memberimu kekuatan untuk dapat memulai kembali perjuanganmu dalam meraih mimpi! Semangat! :D

Diunduh dari FB Motivation for smart people

Empek-empek dan Kesabaran

|
Image courtesy of  laurentvalentinjospi0 at pixabay.com


Tetangga kosanku mengkritik caraku menggoreng empek-empek. Aku menggoreng empek-empek dengan menyalakan api kompor hingga besar dengan harapan cepat matang. Menurutnya, jika menggunakan caraku, empek-empeknya akan cepat matang dan hangus di luar tapi tidak merata hingga ke dalam. Dia menyarankanku untuk menggunakan api sekecil mungkin, menunggu hingga minyaknya panas, memasukkan empek-empeknya dan menunggu hingga 3 menit baru membalikan empek-empeknya. Cara masak tersebut jauh lebih lama dibandingkan menggunakan api yang besar.

Aku hendak protes karena jujur aku lebih suka empek-empeknya garing hingga nyaris gosong/tutung. Tapi tetangga kosanku benar, selama ini empek-empek yang kumasak hanya garing di luar, tidak sampai ke dalam. Jadi, aku mencoba menuruti sarannya.

Jika mengikuti sarannya, warna empek-empek yang kumasak berwarna kuning atau cokelat muda, tidak lagi cokelat tua.  Aku sempat ragu apakah benar hasilnya akan garing hingga ke dalam. Setelah kucoba, ternyata benar! Empek-empeknya garing hingga ke dalam. Aku tidak menyangka.

Sambil makan empek-empek, aku berpikir. Mungkinkah itu juga yang Allah lakukan pada hambaNya?  Pernah tidak merasa kau terjebak begitu lama dengan masalah yang membuatmu mendidih? Membuatmu bertanya-tanya mengapa masalah ini bertahan begitu lama? Bagaimana jika sebenarnya Allah hanya ingin membuatmu menjadi pribadi yang matang luar dan dalam? Allah ingin pelajaran dari ujian yang Dia berikan meresap hingga ke dalam hatimu.


Mungkin jika masalahnya cepat berlalu, kita hanya memahaminya di kepala, belum meresap di jiwa. Mungkin jika kita bersabar menghadapi semua ini, bersabar sebentar lagi, masalah yang kita hadapi mampu mengubah kita menjadi pribadi yang matang luar dalam.
Mungkin...

Kencan Ideal: Membaca Bersama Pasangan

|
Fantasiku tentang kencan ideal dengan suamiku adalah menghabiskan akhir pekan dengan membaca buku bersama. 

Image Courtesy of news.asiaone.com

Nah setiap kali aku mengutarakan ide tersebut, keluarga dan teman-temanku biasanya memberiku tatapan “are-you-crazy”, memutar bola mata mereka ke atas, menertawakanku, atau menepuk pundakku kemudian mengatakan mereka prihatin denganku.

Menurut mereka menghabiskan waktu dengan aktivitas membaca bersama pasangan tidaklah romantis. Saking seringnya mendapat reaksi tidak menyenangkan ketika menceritakan fantasi kencan idealku membuatku bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan ideku. Jangan-jangan ideku memang buruk.  Kondisi tersebut membuatku tidak lagi menceritakan fantasi kencan idealku pada siapapun.

Meski begitu, aku diam-diam masih berharap bisa mewujudkan keinginanku tersebut jadi  setiap kali ada anggota keluarga besar atau teman yang menjodohkanku dengan seseorang, salah satu pertanyaan yang sering aku tanyakan adalah “Is he a reader?” atau “Apakah dia suka membaca?”.

Image Courtesy of mask9.com


Mungkin keinginanku ini ada hubungannya dengan salah satu pemandangan yang paling sering aku lihat saat aku tumbuh besar: aktivitas Abi membaca. Beliau akan duduk di bangku depan teras rumah kami dan  menghabiskan waktunya dengan membaca. Kadang-kadang aku mendekati beliau dan bertanya buku apa yang beliau baca. Kemudian beliau akan memberiku rekomendasi buku/majalah/artikel yang sebaiknya aku baca. Kadang-kadang, beliau bertanya apakah aku sudah membaca buku/majalah yang ada di rumah. Mungkin aku menikmati momen anak-ayah yang langka tersebut sehingga berharap dapat mengulanginya dengan suami nanti. Mungkin. I don’t know for sure.

Hal yang aku ketahui adalah aku suka membaca. Aku membaca apa saja, fiksi dan non fiksi, tapi sebagian besar bacaanku adalah novel romance, mystery, komik shoujo, buku self-help, buku tentang Islam  dan apapun yang sedang populer.

Nah, tadi pagi aku menemukan article dari Mic tentang Science Has Good News for Couples Who Read Together . Artikel tersebut menyebutkan manfaat bagi pasangan yang melakukan aktivitas membaca bersama seperti dapat membicarakan hal yang menyenangkan, dan mengungkapkan sisi lain dari pasangan kita. Vouge bahkan menyebut membaca bersama pasangan sebagai aktivitas kencan malam yang terseksi (Sexiest Date Night Activity Date Night: Why Reading Together Can Be the Sexiest Date Night Activity). Sementara itu Lifehack menyebutkan 13 alasan kenapa pasangan yang melakukan aktivitas membaca bersama, tetap bersama (13 Reasons Why Couples Who Read Together, Stay Together) .

Aku sangat bahagia menemukan artikel-artikel di atas. Membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri dalam memiliki keingingan membaca bersama pasangan dan ide kencanku bukanlah ide yang aneh. Alhamdulillah :D


Ngga Sayang

|
Salah satu pemandangan yang tak asing kalau jalan ke Mall tuh melihat anak kecil merengek minta dibelikan sesuatu. Mereka menangis, meronta, berteriak.
Mereka melakukan segalanya agar keinginan mereka dipenuhi 
Dan kalau ngga dipenuhi, beberapa diantara mereka akan berteriak "Mama/Papa, ngga sayang sama aku!"
Image courtesy of Phaitoon at FreeDigitalPhotos.net

okay, biasanya anak kecilnya lebih besar dari ini.
gambar ini dipakai karena sumpah bayi ini lucu banget meski lagi nangis :3

Pas lihat adegan kayak gitu, pengen deh bilang ke anak tersebut kalau orang tuanya tuh sayang sama dia dan tidak mengabulkan keinginan bukan berarti ngga sayang.
Mungkin orang tuanya melihat hal yang dia inginkan ngga baik buat dia, lagi ngga punya uang dan pertimbangan lainnya.
Bagaimanapun, orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya

Tapi kalau diingat-ingat dulu, gue waktu kecil kayak gitu. Hahahah
Untungnya Umi ngga nurutin semua keinginan Hana :D


Ternyata mengabulkan semua keinginan anak bisa berdampak buruk juga sama anak tersebut, mereka bisa jadi manipulatif, mereka belajar jika menangis sekeras mungkin, keinginan mereka akan dikabulkan.
Atau mereka jadi anak manja dan kurang tangguh dalam menghadapi hidup.
Life is tough afterall.


Pas lagi mikir kayak gitu tiba-tiba jadi inget sama diri sendiri, kadang-kadang masih kayak anak kecil tersebut dalam berhubungan sama Allah.
Sering merengek minta sesuatu dan kalau tidak dikabulkan mengira Allah tidak sayang. Astagfirullah!


Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya 
lalu dia dimuliakan-Nya 
dan diberi-Nya kesenangan, 
maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". 
Adapun bila Tuhannya mengujinya 
lalu membatasi rezekinya 
maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".
(Q.S. Al Fajr: 15-16)


Sering kali kita mengira mendapat apa yang kita inginkan adalah nikmat dan tidak mendapat yang kita inginkan adalah musibah.
Padahal Allah Maha Mengetahui ya? 
Bahkan rasa sayangNya lebih besar dari pada rasa sayang orang tua kita.
Allah ingin yang terbaik untuk hambaNya.
Hanya saja kita tidak tahu karena pemahaman kita terbatas

Semoga Allah SWT memberikan kita hati yang mudah berprasangka baik terhadap-Nya, Aamiin.




Paradox

|

Terkadang aku bertanya-tanya,
Orang-orang bisa nyaman cerita padaku karena aku memang pendengar yang baik atau karena aku lulusan psikologi?
Kau tahu, terkadang ketika mereka tahu bahwa aku lulusan psikologi, mereka langsung menganggap aku bisa jadi tempat curhat penyelesaian masalah.
Atau justru belajar psikologi membuat aku menjadi pendengar yang baik?
Atau malah karena aku pendengar yang baik, aku memilih psikologi?

Image courtesy of By Camila Damásio at unsplash.com


Tapi temanku Kame pernah bilang “Han, I want to talk you because I do not need typical psychological advice. I can go to other psychology student. I need your advice.”

:")
kame bisa banget ya
Omongan ya bikin gue lumer.
Allhamdulillah punya temen kayak kame :D


Aku meminta cinta, 
tetapi Dia menghadirkan kepadaku 
orang-orang yang bermasalah untuk dibantu

Post Signature

Post Signature