Top Social

Tampilkan postingan dengan label pemikiran hana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran hana. Tampilkan semua postingan

Lie I Told Myself

|


Assalamualaikum Guys! 😊💕❤️⁣⁣
⁣⁣
QOTD: What lies that you told yourself but you don't realize it is lies later on? ⁣⁣
⁣⁣
I read What I know for sure by Oprah Winfrey and she quotes Don Miguel - The Four Agreements⁣⁣
“Ninety-five percent of the beliefs we have stored in our minds are nothing but lies, and we suffer because we believe all these lies.”⁣⁣
⁣⁣
Reading the quotes remind me that I used to believe my background come from Broken homes family as weakness/imperfections. ⁣⁣
⁣⁣
If you knew/follow me long enough, you probably knew my parents divorced. ⁣⁣
⁣⁣
So, Whenever I got rejected in taaruf (Arranged marriage) process, I often wonder "Do they reject me because I am from Broken Home family and worry that if marry me, the marriage will end up in divorce?"
While I have accepted my parents divorce and became peace with it after long process denial, somehow I still felt ashamed and worried about others people's opinions. ⁣⁣
⁣⁣
Until I met my husband. ⁣⁣
My husband read my personal blog ⁣⁣
,where it is basically my online diary, so he knew my parents are divorced. ⁣⁣
I asked him "Why you want to be with me if you knew my parents divorced/I came from broken home family?" ⁣⁣
⁣⁣
He said "You can't have perfect partner/You can't have it all. So after thinking hard, I decided 5 important qualities that my partner must have, and you have those qualities, the rest doesn't matter" ⁣⁣
⁣⁣
When my husband said that it like there is light in my head, like "So all these time, I worry over nothing. My broken home family background doesn't matter at all. Why I considered them as weakness? All these time I was suffering because I have false believe/lies I told my self. Is not it funny?"😂🤣🤣⁣⁣
⁣⁣
Now, I am really thankful that Allah has opened my eyes and show me that I had false beliefs that made me suffer and relieve me from the suffering.⁣⁣
⁣⁣
So, I hope you guys are relieved from any suffering that you are going through. Hope Allah give you strength to go through all of this. Wish you all the best. Sending you guys love hug ❤️💕💕💕⁣⁣
⁣⁣
Hope you have a great day! 😘⁣⁣

Not a Lie but an Illusion

|


Aku baru selesai menonton Film Me and Earl and The Dying Girl. Me and Earl and The Dying Girl adalah adaptasi film dari novel berjudul sama karya Jesse Andrews. Film ini menceritakan bagaimana hidup Me (Greg) berubah setelah ibunya memaksa dia untuk berteman dengan cewek sekara atau The Dying Girl (Rachel Kusher).

Kalian bisa membaca review bukunya disini.

Salah satu adegan yang berkesan dalam film itu adalah saat Earl menjelaskan kepada Rachel mengapa Greg jarang menyebut seseorang sebagai teman.
Earl menjelaskan bahwa ibu Greg menyebut Greg tampan dan Greg menganggap ibunya berbohong karena
a. Ibu mana yang tidak bilang anaknya tampan
b. Greg tidak merasa tampan dan membenci dirinya sendiri.

Melihat adegan tersebut membuatku berefleksi akan pengalamanku. Karena sama seperti Greg, aku juga tidak percaya ketika Umiku bilang aku cantik.

Aku pernah cerita panjang lebar mengenai pengalamanku tidak merasa cantik disini.

Melihat kondisi Greg membuatku sadar bahwa ibu Greg maupun umiku tidak berbohong. I mean seseorang disebut bohong ketika berbicara tidak sesuai fakta/realita, bukan? (bukan berarti Greg tampan dan aku cantik). Hanya saja di mata Ibu Greg, Greg tampan dan di mata umiku, aku cantik. Mereka mencintai kami sehingga melihat kami dalam kacamata yang lebih positif. Bagi Ibu Greg, Greg tampan adalah realita.
Fenomena tersebut tidak tepat disebut sebagai kebohongan tapi ilusi. Psikologi menyebutnya positive illusion atau ilusi positif. Ketika kita mencintai seseorang, kita melihat mereka dalam positive light.

Sama saat kita jatuh cinta, sering kali kita melihat orang yang kita cintai lebih tampan/cantik sementara teman-teman kita sering kali tidak paham apa yang membuat kita merasa dia lebih tampan/cantik. Mungkin karena itu ya orang sering bilang kalau cinta itu buta. :)

Untuk tahu lebih lanjut mengenai positive illusion bisa baca:
Positive Illusions in Romantic Love: "You're the Nearest Thing to Heaven"
dan
The Eyes of Love


Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


Cantik

|
Kalau diminta menjelaskan diriku.
Salah satu kalimat yang akan kugunakan adalah:
Aku ini cantik.
Bukannya aku narsis atau apa.
Tapi setelah menghabiskan masa sekolah dasarku dengan merasa tidak cantik.
Aku belajar untuk bersyukur atas apa yang kumiliki, alih-alih menghabiskan waktu merasa tidak cantik dan melakukan usaha menjadi cantik yang irasional seperti dengan tidak mau makan dan melapar-laparkan diri.
Aku belajar bahwa setiap ciptaan Tuhan memiliki kecantikan, hanya karena seseorang tidak bisa melihat kecantikan tersebut karena tidak sesuai dengan standar kecantikan di masyarakat yang ada, bukan berarti kecantikan itu tidak ada.



You can't tell

|

Aku sedang melihat foto teman-teman dan kemudian menyadari satu hal: teman-temanku yang berasal dari keluarga broken home terlihat normal. Dari luar, mereka tampak baik-baik saja. Jujur, aku tidak akan menganggap atau mengetahui mereka anak broken home, kecuali mereka mengakuinya.

Mengingatkanku pada diriku sendiri. Dulu aku takut menjadi anak dari keluarga broken home. Aku takut mengalami berbagai dampak buruk jika memiliki keluarga broken home seperti yang tertulis dalam buku teks ataupun artikel psikologi. Aku juga takut persepsi orang terhadapku.

Tapi kalian tahu apa? Tidak ada yang mengira aku memiliki latar belakang keluarga broken home. Jika aku bercerita orang tua kandungku telah bercerai, mereka sering membelalakan mata. Menatapku dengan terkejut.

Tidak kelihatan kan?


Apa kalian juga teman yang berasal dari keluarga broken home? Apakah kalian bisa mengetahui bahwa mereka berasal dari keluarga broken home hanya dengan sekali lihat?

Post Signature

Post Signature