Top Social

Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Bulan Terbelah di Langit Amerika 2

|




Jika dalam film pertama pertanyaannya adalah “Bagaimana dunia tanpa islam?” kali ini di film kedua, pertanyaannya juga menarik “Apakah muslim penemu Amerika?”. Pertanyaan yang dilontarkan di akhir trailer Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (BLTDA 2) ini menggugah rasa penasaranku. Sebelum mendengar pertanyaan yang dilontarkan di trailer film ini, aku tidak tahu kalau ada pendapat bahwa muslim adalah penemu Amerika. Aku selama ini tahunya Christoper Columbus. Aku pun jadi penasaran dengan bukti dan penjelasan seperti apakah yang akan disodorkan oleh film ini.

Sumber gambar: movie.co.id

Alhamdulillah aku berkesempatan menonton film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 lebih awal karena mendapat undangan premiere Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 pada tanggal 3 Desember 2016 di Plaza Indonesia. Terima kasih undangannya IHB Blogger dan Hanum Rais Management. :D

Film ini dibuka dengan cerita tentang Laksamana Cheng Ho yang diperintahkan untuk mengelilingi dunia dengan armada yang lebih besar dibanding Columbus. Ada dugaan armada kapal Cheng Ho mendarat di suatu tempat di Amerika yang kini disebut San Fransisko.

Adegan kemudian berpindah ke tahun 2009 dimana Hanum yang hendak pulang kembali ke Wina mendapat tugas tambahan dari Getrude untuk mencari bukti bahwa Muslim Penemu Amerika. Berhasilkah Hanum menemukan bukti? Apakah benar muslim penemu Amerika? Ingin tahu? Ngga mau spoiler ah. Nonton di Bioskop ya tanggal 8 Desember nanti. Peace

Yang jelas aku suka isu toleransi yang diangkat dalam film ini. Pas banget ya momennya saat di sosmed sering perang pendapat dan juga kekhawatiran setelah terpilihnya Donal Trump.

“Perbedaan-perbedaan keyakinan bukan alasan untuk membenci”

Bagian favorit ku yang lain dari film ini adalah romancenya. Bagi yang sudah menonton BLTDA 1 pasti tahu kalau cerita Stefan gantung diakhir, nah di film ini kalian bisa melihat kelanjutannya. Apakah Stefan dan Jasmine kembali bersama?

“Tahu kenapa Jasmine ngga mau sama kamu?
Karena hidup kamu berantakan. Pakai hati kamu.” - Rangga

Enaknya menonton film yang memiliki pesan positif seperti BLTDA 2 ini adalah kita merasa tidak digurui ketika menontonnya.

“Kita manusia selalu berpikir kita sudah dekat dengan Tuhan tapi setan selalu punya cara agar kita memikirkan dunia.” -Rangga
Aaarg Sumpah jleb banget :')

Selamat menonton Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 ya. :D
Filmnya bisa disaksikan di bioskop-bioskop kesayangan Anda mulai tanggal 8 Desember nanti. :)

Sumber: bintang.com


Data Film:
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis naskah: Hanum Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio, Baskoro Adi
Pemain: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright, Hannah Al Rasyid, Ira Wibowo, Boy William, Yeslin Wang
Produksi: Falcon Pictures dan Max Pictures
Durasi film: 118 menit

Death Note: Light Up The New World (2016)

|
Death Note Light Up The New World
Sumber: CGV blitz fanpage

Siapa disini fans manga Death Note tapi kecewa sama adaptasi filmnya?

Sama. Aku juga. Meski sebenarnya harusnya aku yang tidak berharap banyak mengingat 12 komik dipadatkan jadi 2 film tentu saja akan banyak adegan yang dibuang.

Nah, ketika di tahun 2016 ini ada berita film Death Note baru, aku tidak begitu antusias karena sempat mengira bahwa film tersebut adalah remake, hanya ganti pemeran saja namun ceritanya tetap sama.

Ketika tanpa sengaja melihat poster dan membaca sinopsis Film Death Note Light Up The New World, aku jadi tahu bahwa ini kisah berbeda dan baru.




Aku pun penasaran dan berniat hendak menonton ketika filmnya tayang. Alhamdulillah untungnya aku berhasil memenangkan tiket premiere Death Note Light Up The New World dari kuis Facebook CGV Blitzs dan Moxienotion sehingga bisa nonton gratis.  Terima kasih CGV Blitzs dan Moxienotion. :D

Film Death Note Light Up The New World mengisahkan peristiwa 10 tahun setelah kematian Kira dan L.  Dewa merasa senang dengan tindakan Kira sehingga mengirim kembali Death Note ke bumi, berjumlah 6 buah.  FYI jika kamu belum tahu tentang death note, Death Note adalah buku catatan dimana kita bisa membunuh seseorang hanya dengan menulis nama orang tsb sambil membayangkan wajahnya.

Setelah turunnya Death Note,  terjadi banyak peristiwa kematian aneh dan mendadak para pelaku kriminal. Kepolisian Jepang dan Interpol menduga hal tersebut ada kaitannya dengan Death Note karena polanya mirip. Dugaan tersebut terkonfirmasi ketika virus Kira tersebar di seluruh Dunia dan menyatakan dia meminta agar pemilik Death Note yang lain menyerahkan Death Note kepada penerus Kira.

Kepolisian Jepang sudah memiliki tim pasukan khusus yang menangangi masalah Death Note. Mereka ditugaskan menangkap pemilik Death Note dan mengamankan Death Note sehingga tidak lagi disalahgunakan. Detektif Ryuzaki yang merupakan penerus L juga terlibat dalam penyelidikan ini.

Berhasilkah tim pasukan khusus mengamankan keenam death Note? Atau justru penerus Kira yang menang?

Kalian tahu, aku suka dengan Film Death Note yang ini. Ada banyak plot twist yang membuatku terkejut. Hal ini mungkin disebabkan hanya konsep death note yang sama, namun ceritanya sendiri sama sekali baru sehingga aku bisa menikmati film ini tanpa harus membandingkan apakah filmnya mirip dengan versi manganya.

Aku juga suka karakter-karakter dalam film ini. Masahiro Higashide yang memerankan Tsukuru Mishima, salah satu anggota pasukan khusus untuk penanganan Death Note, tampan dan keren sekali. Selain itu, dia digambarkan sebagai otaku (fan boy) nya Death Note. Whoaa~ Ketampanannya mendadak naik beberapa kali lipat di mataku. Hihihi

Penerus L, Detektif Ryuzaki yang diperankan oleh Sosuke Ikematsu juga menarik. Tingkah lakunya tidak terduga, aneh dan berani berhasil mengundang tawa.   Dia lucu sekali.

Bagiku, pelajaran paling berkesan dari manga Death Note adalah Don't play God. Aku dapat mengidentifikasi diriku dengan Kira. Dulu aku juga bertanya-tanya mengapa para perilaku kriminal tidak mendapat hukuman berat.

Membaca manga Death Note membuatku sadar bahwa hal yang adil dan benar menurutku belum tentu adil dan benar. Pengetahuanku terbatas. Mungkin saja para terdakwa tersebut adalah orang yang sebenarnya tak bersalah. Atau bahkan bisa jadi dia bertobat setelah mendapat hukuman dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang. Kita tidak sebaiknya memaksakan keadilan dan kebenaran versi kita.

Sementara itu, setelah menonton film kali ini, aku jadi dibuat merenung mengenai penggunaan death note.  Jika aku memiliki Death Note, akankah aku menggunakan Death Note tersebut?  Akankan aku tergoda untuk menggunakannya?

Menonton film ini seolah diingatkan ketika niat baik tapi dengan cara yang salah juga dapat berakhir salah.

"Death note membuatmu gila.
Kau menjustifikasi perbuatanmu.
Kau membunuh demi melindungi dirimu".

Yang jelas Death Note kali ini seru!
Aku merekomendasikannya,terutama penggemar Death Note.

Peringatan: banyak aksi menegangkan dan kekerasannya juga, jadi aku tidak merekomendasikan ditonton untuk anak-anak.

Btw, apakah kalian sudah menonton film ini? Apa pendapat kalian? :)


Data Film
Judul: Death Note: Light Up The New World
Sutradara: Shinsuke Sato
Penulis: Tsugumi Ohba (manga)
Produser: Tadashi Tanaka, Nobuhiro Iizuka, Yuzuru Sato
Cinematografer: Taro Kawazu
Durasi: 135 menit
Distributor: Warner Bros.

Not a Lie but an Illusion

|


Aku baru selesai menonton Film Me and Earl and The Dying Girl. Me and Earl and The Dying Girl adalah adaptasi film dari novel berjudul sama karya Jesse Andrews. Film ini menceritakan bagaimana hidup Me (Greg) berubah setelah ibunya memaksa dia untuk berteman dengan cewek sekara atau The Dying Girl (Rachel Kusher).

Kalian bisa membaca review bukunya disini.

Salah satu adegan yang berkesan dalam film itu adalah saat Earl menjelaskan kepada Rachel mengapa Greg jarang menyebut seseorang sebagai teman.
Earl menjelaskan bahwa ibu Greg menyebut Greg tampan dan Greg menganggap ibunya berbohong karena
a. Ibu mana yang tidak bilang anaknya tampan
b. Greg tidak merasa tampan dan membenci dirinya sendiri.

Melihat adegan tersebut membuatku berefleksi akan pengalamanku. Karena sama seperti Greg, aku juga tidak percaya ketika Umiku bilang aku cantik.

Aku pernah cerita panjang lebar mengenai pengalamanku tidak merasa cantik disini.

Melihat kondisi Greg membuatku sadar bahwa ibu Greg maupun umiku tidak berbohong. I mean seseorang disebut bohong ketika berbicara tidak sesuai fakta/realita, bukan? (bukan berarti Greg tampan dan aku cantik). Hanya saja di mata Ibu Greg, Greg tampan dan di mata umiku, aku cantik. Mereka mencintai kami sehingga melihat kami dalam kacamata yang lebih positif. Bagi Ibu Greg, Greg tampan adalah realita.
Fenomena tersebut tidak tepat disebut sebagai kebohongan tapi ilusi. Psikologi menyebutnya positive illusion atau ilusi positif. Ketika kita mencintai seseorang, kita melihat mereka dalam positive light.

Sama saat kita jatuh cinta, sering kali kita melihat orang yang kita cintai lebih tampan/cantik sementara teman-teman kita sering kali tidak paham apa yang membuat kita merasa dia lebih tampan/cantik. Mungkin karena itu ya orang sering bilang kalau cinta itu buta. :)

Untuk tahu lebih lanjut mengenai positive illusion bisa baca:
Positive Illusions in Romantic Love: "You're the Nearest Thing to Heaven"
dan
The Eyes of Love


My Neighbor Totoro: Menjadi Bahagia itu Sederhana

|
Sahabatku Hana talita sangat suka Totoro. Dia suka mengoleksi aksesoris Totoro. Bahkan, ketika membaca artikel tentang anime, My Neighbor Totoro termasuk yang sering disebut. Seringnya terpapar dengan Totoro ini, membuatku  jadi penasaran sama Totoro  tapi entah kenapa aku mendapati diriku terlalu malas untuk mencari tahu. Hehehe

Rasa penasaranku kembali digugah saat membaca The Journey of Song Triplets oleh Shandy Claws. Dia menggambar ilustrasi Song triplets memerankan tokoh-tokoh dalam  My Neighbor Totoro.

Membuatku bertanya-tanya apa sih yang membuat orang-orang suka atau jatuh cinta dengan My Neighbor Totoro ?

Alhamdulillahnya hari Sabtu kemarin, aku berkesempatan menonton My Neighbor Totoro.
Image source: http://studio-ghibli.wikia.com/


My Neighbor Totoro ini adalah film animasi tahun 1988 dan mengisahkan tentang dua orang anak perempuan Mei dan Satsuki yang berteman dengan penjaga hutan, Totoro.



Selama menonton film ini aku dibuat takjub dan jatuh cinta dengan karakter Mei, Satsuki dan Totoro. They are adorably cute. :3

Aku kagum bagaimana Mei dan Satsuki melihat hal-hal sehari-hari dan lingkungan sekitar dengan penuh ketakjuban. Melihat betapa mudahnya Satsuki dan Mei tertawa membuatku berpikir ternyata menjadi bahagia itu sederhana ya?


Waktu menonton aku tidak tahu kalau setting dalam film ini adalah Jepang pada tahun 1958. Jadi saat melihat adegan Satsuki bersiap-siap pergi sekolah, aku mengira Mei juga akan pergi sekolah, ke semacam TK/PAUD. Ternyata tidak. Mei menghabiskan waktu bermain di halaman belakang rumah.

Membuatku berpikir bahwa sekarang pandangan masyarakat berubah dalam hal pendidikan anak.
Hal yang sekarang aku anggap wajar, yaitu anak kecil ke TK/PAUD, dulu bukan suatu kebiasaan.

Selama menonton My Neigbor Totoro, aku sering dibuat heran dengan tingkah laku keluarga Kusakabe ini. Misal dalam salah satu adegan diceritakan bahwa ayahnya Mei dan Satsuki, Prof Tatsuo Kusakabe pernah bercita-cita memiliki rumah berhantu. Sumpah bagiku itu adalah cita-cita yang aneh. Jadi ketika mendegar kemungkinan bahwa rumah barunya berhantu, Pak Kusakabe bukannya takut, dia malah menunjukkan ekspresi senang.

Melihat adegan tersebut membuatku berpikir ulang tentang definisi kebahagiaan. Hal-hal yang menakutkan (hantu) bagi sebagian orang ternyata bisa menjadi hal yang membuat senang bagi sebagian orang.

O ia, aku paling suka adegan Totoro lompat-lompat dan menari untuk menumbuhkan tanaman di halaman belakang Mei dan Satsuki.

It is really cute and heart warming story, no wonder lots of people fall in love with My Neighbor Totoro. :D

Apa kalian pernah menonton My Neighbor Totoro juga? Adegan apa yang paling kalian sukai? :D

Wonderful Nightmare (2015): Too Sweet to Wake up

|
Image Courtesy of http://asianwiki.com/

Judul: Wonderful Nightmare

Sutradara: Kang Hyo-Jin

Penulis naskah: Kim Je-Young, Kang Hyo-Jin

Produser: Cha Sang-Min

Pemain:
Uhm Jung-Hwa sebagai Yeon-Woo,
Song Seung-Heon sebagai Sung-Hwan
Seo Shin-Ae sebagai Ha-Neul,
Jung Ji-Hoon sebagai Ha-Roo
Kim Sang-Ho sebagai Director Kim

Durasi: 125 menit

Sinopsis:
Sejak kecil, Yeon-Woo belajar hidup mengandalkan dirinya sendiri karena ditinggal kedua orang tuanya (menjadi yatim piatu). Dia pun tumbuh tidak percaya cinta dan menganggap urusan cinta hanyalah buang-buang waktu.  Dia fokus pada studi dan karirnya sehingga sekarang berhasil menjadi pengacara sukses.

Suatu hari, dia mengalami kecelakaan mobil dan terbangun menemukan dirinya berada di transit surga. Yeon-Woo tidak percaya usia hidup dia ternyata begitu singkat.

Untungnya, ternyata kematiannya merupakan kesalahan administrasi. Namun untuk dapat kembali ke tubuhnya, memerlukan proses sehingga Yeon Woo diminta menjalani kehidupan sebagai orang lain, lebih tepatnya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak selama satu bulan.



Mampukah Yeon Woo menjalani hidup barunya? Apakah dia bisa kembali ke kehidupannya yang lama?


Review:
*Spoiler alert*

Menurutku cerita Wonderful Nightmare seru dan menyentuh.
Meski sebenarnya alurnya dapat ditebak tapi berhasil membuatku menitikan air mata.

Alurnya:
Yeon-Woo awalnya berpikir bahwa kekayaan adalah parameter kesuksesan hidup seseorang. Menjalani hidup yang berbeda di kesempatan kedua, membuat dia menyadari ada yang lebih berharga daripada uang.
 

Mudah ditebak kan?

Mungkin aku menangis karena aku dengan mudah mengidentifikasi diri dengan karakter Yeon-Woo. Pernahkah kau disakiti/terluka dan kemudian kau menutup diri agar tidak disakiti lagi? Nah, karakter Yeon-Woo kira-kira seperti itu. Dia tipe perempuan yang berusaha tegar, dan berusaha tidak bergantung kepada orang lain.

Hal lain yang membuatku menangis adalah saat  Yeon-Woo berhasil ingat wajah ayahnya. Yeon-woo lupa wajah ayahnya karena meninggal saat kecil dan berusaha melupakannya agar tidak sedih. Di akhir cerita, Yeon-Woo memberanikan diri melihat foto ayahnya.

Hal yang menghibur dalam film ini dan membuat betah nonton berlama-lama adalah karakter Sung-Hwan, yang diperankan oleh aktor Song Seung-Heon.
Image Courtesy of http://www.kmovietalk.com


Selain cakep, karakternya adorable. Dia memerankan suami yang sabar, pengertian dan bertanggung jawab.  Awww~ So sweet banget. <3

Image Courtesy of http://www.kmovietalk.com


Jadi inget obrolan waktu rapat redaksi majalah SWA, salah satu redaktur bilang kalau suami idaman cuma ada di drama korea. Hahahahha

Adegan yang membuat tertawa adalah adegan saat Yeon woo berada di transit surga. Menonton adegan tersebut membuatku bersyukur karena aku percaya Tuhan tidak mungkin membuat kesalahan seperti itu. '

Bagian lain yang membuatku tertawa adalah saat Ha-Roo mengira perubahan ibunya disebabkan oleh menopause dan berusaha memberi Yeon-woo obat menopuase.

Hahaha

O ia, adegan favoritku adalah saat Yeon-Woo membela anaknya, Ha-Neul yang selamat dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Menurutku cara yang digunakan Yeon Woo mungkin bisa jadi bahan pembelajaran.

Image Courtesy : koreatimes.co.kr
Overall, wonderfull nightmare lumayan menghibur. :D  It is cute rom-com film :D


Spotlight

|



Sutradara
Tom McCarthy

Penulis Naskah  
Josh Singer dan Tom McCarthy

Aktor:
Mark Ruffalo sebagai Mike Rezendes
Michael Keaton sebagai Walter 'Robby' Robinson
Liev Schreiber sebagai Marty Baron
John Slattery sebagai Ben Bradlee, Jr.
Rachel McAdams sebagai Sacha Pfeiffer
Brian d'Arcy James sebagai Matt Carroll
Stanley Tucci sebagai Mitchell Garabedian

Durasi: 
2 jam 8 menit

Sinopsis:
Spotlight adalah Film yang diambil dari kisah nyata tentang bagaimana tim jurnalis Spotlight di surat kabar Boston Globe menguak skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastur kepada anak-anak



Review:

Waktu aku SD, aku pernah membaca artikel di sebuah majalah tentang pastur yang melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak. Saat membacanya, aku terkejut dan antara percaya tidak percaya. Karena masih kecil dan saat itu aku belum tahu langkah berpikir kritis, aku tidak mencari tahu lebih lanjut ataupun memverifikasi kebenaran artikel tersebut.

Sampai kemudian seorang teman bercerita tentang film Spotlight ini. Eh??? Jadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastur itu beneran ada. :O

Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk menonton film ini.

Film dibuka dengan adegan mediasi tertutup antara pengacara, pastur dan korban pelecehan seksual di kantor polisi.

Kemudian adegan berpindah ke Kantor Boston Globe dengan setting waktu 2001. Saat itu sedang diadakan pesta perpisahan kepada Stewart editor Boston Globe yang hendak pensiun. 

Marty Baron, editor Boston Globe yang baru, adalah seorang yahudi dan baru pindah dari Miami ke Boston. Dia meminta tim Spotlight menyelidiki lebih lanjut apakah Kardinal (pejabat senior dalam gereja Katolik Roma) mengetahui pelecehan seksual kepada anak-anak yang dilakukan oleh Pastur Geoghan. Awalnya redaksi tidak setuju dengan ide tersebut karena merasa sudah meliput kasus Geoghan.

Pengacara salah satu korban, Garabedian, mengklaim bahwa Kardinal mengetahui yang dilakukan Pastur Geoghan tapi tidak melakukan apa-apa dan memiliki dokumen untuk membuktikan pernyataannya.

"Jika perlu satu desa untuk membesarkan seorang anak, diperlukan satu desa juga untuk melecehkannya"- Pengacara Mitchell Garabedian

Bagi Baron, pernyataan tersebut masuk akal mengingat Pastur Geoghan melakukan pelecehan seksual kepada 80 anak di 6 paroki berbeda. Sayangnya dokumen tersebut rahasia/tidak dibuka untuk umum. Oleh karena itu, Baron menyarankan agar Boston Globe mengajukan tuntutan agar dokumen kasus Pastur Geoghan dibuka untuk umum.

Saran Baron mendapat reaksi tidak bersahabat dari tim redaksi Boston Globe (yang kebanyakan katolik): "Kamu mau menuntut gereja?"
Menurut Baron secara teknis tindakannya tidak sama dengan menuntut gereja. Dia hanya meminta dokumen tsb dibuka untuk umum.
Sementara menurut salah satu editor, Ben Bradlee, Jr. , Gereja akan menganggap tindakan tsb sebagai tuntutan kepada mereka.

Tindakan Baron juga mendapat peringatan dari Orang dari percetakan. Dia mengingatkan Baron bahwa gereja akan melakukan perlawanan keras dan khawatir akan diketahui oleh pembaca Boston Globe mengingat mayoritas pembaca Boston Globe (53%) adalah penganut agama Katolik.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah klaim Garabedian benar? Bagaimana tim spotlight melakukan penyelidikan? Fakta apa yang mereka temukan?




*Spoiler alert*

Bagi yang tertarik dengan investigasi jurnalistik dapat belajar dari film ini. Kalian akan mendapat gambaran bagaimana tim Spotlight yang terdiri dari Walter 'Robby' Robinson, Mike Rezendes, Sacha Pfeiffer, dan Matt Carroll melakukan penyelidikan, mewawancarai pihak-pihak yang terlibat seperti pelaku, korban, pengacara, dan menyambungkan kepingan informasi hingga menemukan kesimpulan.

Menonton Film ini membuatku memikirkan dampak buruk terlalu mementingkan citra baik. Berulang kali tim Spotlight dan Baron berusaha dihambat penyelidikannya. Mereka diminta bungkam dan tidak mencari tahu lebih lanjut. Mereka diminta melupakan kasus ini karena merasa orang-orang butuh gereja dan gereja sudah melakukan banyak hal baik. Jadi, jangan sampai image baik gereja rusak karena beberapa apel busuk. Mereka mengira cara peduli adalah dengan menutup mulut dan tetap membiarkan image gereja tetap baik. 


Akan tetapi cara tersebut malah memakan lebih banyak korban. Pastor yang melakukan pelecehan seksual justru merasa dilindungi dan jadi tidak jera. Menonton film ini membuatku teringat bahwa kejahatan merajalela bukan karena banyak orang jahat akan tetapi orang yang baik diam saja.

"Everybody knew something happened in this town and no one did a thing"


Salah seorang yang berusaha mengungkap skandal ini adalah Phil Saviano, pendiri SNAP (Survivors Network of Those Abused by Priests). Hatiku terenyuh ketika mendengar penjelasannya,

 "Para pastur tidak melakukan diskriminasi dalam hal pencabulan dan ini tidak ada kaitannya dengan menjadi gay. Ini soal pastur memanfaatkan seragam mereka untuk memperkosa anak-anak, lelaki maupun perempuan. 
Penting untuk dipahami bahwa ini bukan hanya pelecehan secara fisik, tapi juga pelecehan secara spiritual. Lalu saat seorang pastur melakukan ini padamu, dia merampok imanmu.  Lalu pelariannya ke minuman keras atau jarum suntik. Jika itu tak berhasil, kau terjun dari jembatan. Itu sebabnya kami sebut diri kami korban yang selamat."

Shock dan sedih banget pas dengernya. 

Tapi membuatku berpikir...
Atau bisa juga masalah ini menjadi besar karena orang-orang baik yang melawan tidak teroganisir sementara pelaku kejahatan justru teroganisir? 80 korban pelecehan seksual Pastur Geoghan melakukan tuntutan secara sendiri-sendiri, tidak bergerak bersama. Selain itu, ada pihak-pihak (rekan sesama pastur, pengacara, psikiater) yang berusaha mengungkapkan masalah ini ke publik. Sayangnya karena mereka bergerak sendirian/tidak teroganisir, suara mereka tidak didengar. Mereka dianggap hendak mencemarkan nama baik gereja.

Salah satu kutipan favoritku dalam film ini adalah ucapan Baron ketika berusaha menghibur tim Spotlight yang merasa bersalah karena tidak mengungkap skandal ini lebih cepat "Terkadang mudah untuk melupakan bahwa kita habiskan sebagian besar waktu kita tersandung dalam gelap. Tiba-tiba lampu menyala dan ada rasa bersalah yang menyebar. Aku tak bisa komentar atas apa yang terjadi sebelum aku datang tapi kalian semua telah lakukan peliputan yang sangat bagus. Liputan yang aku yakini akan berdampak langsung dan luas."

O ia, buat yang tertarik membaca artikel hasil liputan tim Spotlight bisa baca ini: Church allowed abuse by priest for years. 

Selamat membaca dan selamat menonton!

Kung Fu Panda 3: Sebuah Akhir yang Manis

|


Sinopsis:
Po, Sang Ksatira Naga (Dragon Warior) kembali hadir dalam Kung Fu Panda 3.

Film ini dibuka dengan kemunculan sosok Kai yang merupakan musuh master Ooogway dan berusaha mengambil chi (energi) master Oogway.

Saat chi master Oogway berhasil diambil, master Oogway memperingatkan bahwa dia telah menyiapkan seseorang yang akan mengalahkan Kai.

Sementara itu, Master Shifu mengejutkan Po dengan memintanya mengambil alih peran menjadi guru bagi rekan-rekannya. Po yang masih terkejut dengan permintaan Master Shifu, kembali dikejutkan dengan kedatangan ayah kandungnya, Li Shang.

Saat reuni Po dan ayah kandungnya berlangsung, desa diserang oleh zombie gioknya Kai. Untuk dapat mengalahkan Kai, Po harus belajar menguasai chi.  Ayah Po, Li Shang, mengajak Po ke desa Panda rahasia dan berjanji akan mengajarkan cara mengusai Chi.

Mampukah Po menguasai Chi dan mengalahkan Kai? 




Review:

Animasi dari Dreamwork animation yang terakhir kutonton adalah Penguin of Madagascar The Movie dan ceritanya biasa sehingga saat hendak menonton Kung Fu Panda 3, bisa dibilang ekspektasiku rendah. 

Aku senang sekali ketika menemukan cerita Kung Fu Panda 3 berhasil melebihi ekspektasiku. Dreamwork animation berhasil menyuguhkan cerita keren, menghibur, ringan, mendidik dan mengundang tawa. Dapat dibilang Kung Fu Panda 3 adalah akhir yang manis untuk Kung Fu Panda.

Buat kamu yang bertanya-tanya mengapa Po dipilih sebagai Ksatria Naga dan apa artinya menjadi Ksatria Naga, kamu akan menemukan jawabannya di film Kung Fu Panda 3 ini.

Aku suka karakter Po dalam Kung Fu Panda. Karakter Po mengingatkanku akan antusiasme dan rasa penasaran anak-anak. Dia mudah merasa takjub dan antusias akan banyak hal.

Aku juga suka pesan-pesan yang ada di Kung Fu Panda 3. Kung Fu Panda mengajarkan tentang pencarian jati diri, 

I've been asking myself that question. Am I the son of a panda? The son of a goose? A student? A teacher? -Po

untuk berani keluar dari zona nyaman, 

If you only do what you can do, you'll never be better than what you are. -Master Shifu

menjadi versi terbaik dari diri kita 

Kekuatan sejati kalian datang dari segala keahlian kalian. Jadi siapa kalian? Apa keahlian kalian? Apa yang kalian sukai? Apa yang menjadikan diri kalian? -Po


dan agar kita tidak serakah. 

The more you take, the less you have -Master Oogway


Pesan-pesannya disampaikan dengan baik dan tersurat sehingga mudah cerna bahkan untuk anak-anak. Tak heran kategori penontonnya adalah semua umur, bukan bimbingan orang tua.


Adegan favoritku adalah saat Po belajar menjadi Panda. Salah satu nya adalah saat Po belajar bahwa Panda tidak naik tangga, tapi naik semacam lift dan saat Panda tidak berjalan melainkan berguling. XD

Kurasa aku tidak keberatan menonton ulang Kung Fu Panda 3! (^0^)/

A Must Watch Film: Zootopia (2016)

|


Sutradara: Byron Howard, Rich Moore & Jared Bush (Co-Director)

Produser: Clark Spencer

Penulis: Byron Howard (Story), Rich Moore (Story), Jared Bush (Story and Screenplay), Phil Johnston (Story and Screenplay), Jennifer Lee (Story), Joshie Trinidad (Story) & Jim Reardon (Story)

Pengisi suara: Ginnifer Goodwin sebagai Judy Hopps, Jason Bateman sebagai Nick Wilde, Shakira sebagai Gazelle, Idris Elba sebagai Chief Bogo

Studio: Walt Disney Pictures & Walt Disney Animation Studios

Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures

Durasi : 108 menit


Klasifikasi  Penonton: Bimbingan Orang tua

Sinopsis:

Judy Hopps (seekor kelinci betina) yang tinggal di Bunny Burrow memiliki mimpi yang tak biasa untuk seekor kelinci yaitu menjadi polisi. Mendengar hal tersebut, keluarga dan teman-temannya menertawakan mimpi Judy karena biasanya kelinci berprofesi sebagai petani.

Meski ditertawakan, Judi tetap percaya pada mimpinya dan berusaha membuktikan diri. Dengan tekad yang kuat dan usaha yang keras, akhirnya Judi berhasil menjadi kelinci pertama yang lulus dari akademi polisi dan menyandang predikat lulusan terbaik.

Sebagai lulusan terbaik, Judy mendapat penempatan di Zootopia, sebuah kota metropolitan, tempat berkumpulnya berbagai jenis hewan mamalia.


Sayangnya, ketika tiba di Zootopia, Judy menemukan ternyata menjadi polisi kelinci pertama tidaklah mudah. Chief Bogo, Kepala Polisi Zootopia tidak percaya pada Judy dan malah memberinya tugas ringan sebagai petugas meteran parkir.


Judi pun berusaha membuktikan kemampuan dirinya dengan mencoba menyelesaikan kasus hilangnya belasan mamalia meski pembuktian diri ini memiliki harga yang mahal: resiko pemecatan jika dia gagal menyelesaikan kasus tsb dalam 48 jam.

Dalam menangani kasus tersebut, Judy terpaksa berpartner dengan saksi mata, seorang rubah penipu ulung Nick Wilde. Mampukah Judy dan Nick menyelesaikan kasus tersebut? Atau dia justru harus kehilangan pekerjaannya?



Review

Tokoh animasi kelinci yang melekat dalam ingatanku adalah Bugs Bunny dari Looney Tunes dan dia bisa menjadi apa saja. Jadi ketika tokoh utama kita, Judy Hopps bilang kalau dia ingin jadi polisi.  Reaksiku adalah “Ooh.. Terus? Kenapa memangnya? Bisa-bisa saja”

Ternyata aku salah besar. Dalam cerita ini, belum pernah ada satupun kelinci yang menjadi polisi. Hewan yang menjadi polisi adalah hewan-hewan besar seperti kerbau, beruang, gajah, badak, anjing, serigala, macan, dll.
Aku seketika tersentuh ketika melihat kegigihan Judy Hopps dalam meraih cita-citanya menjadi polisi, terlepas banyak orang yang meremehkan. Karakter Judy Hopps ini mengingatkanku akan karakter Fa Mulan (dari Mulan 1998) dan Vannelope (dari Wreck it Ralph). 




Aku juga kagum dengan sikap optimis Judy ketika mengetahui bahwa dirinya malah mendapat penempatan sebagai petugas meteran parkir. Dia berusaha membuktikan bahwa dia bisa menjadi petugas meteran parkir yang baik dan bekerja melebihi ekspektasi.


Tentu saja optimisme tersebut tidak bertahan lama. Judy mulai menyadari bahwa ternyata lulus dari akademi polisi hanyalah awal dari mimpinya. Di Zootopia, dia masih harus berjuang membuktikan diri kepada rekan-rekannya.


Semua orang datang ke Zootopia, berpikir bahwa mereka bisa menjadi apapun yang mereka mau. 
Tapi kamu tidak bisa. Kamu hanya bisa menjadi dirimu sendiri. 
Rubah licik. Kelinci bodoh.
-Nick Wilde






Berbeda dengan Judy yang optimis, Nick adalah seorang yang realistis. Dia pernah mencoba menjadi baik, keluar dari steoreotipe bahwa seekor rubah itu jahat dan penipu tapi sayangnya orang-orang lebih percaya kepada stereotipe dibanding berusaha mengenal diri yang sebenarnya.

Labeling dan steoreotipe menjadi salah satu isu yang terus-menerus dibahas dalam film ini. Dari luar, Zootopia terlihat seperti kota yang dapat menyatukan berbagai hewan dalam hidup damai. Namun sebenarnya kedamaian itu rapuh, para penduduknya dengan mudah melabel satu sama lain. Ternyata untuk hidup damai butuh usaha, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Selain itu, film ini mengajarkan bahwa kita harus berani membuka diri untuk saling mengenal dan memilih kedamaian diatas konflik dan perpecahan.


Kerennya isu berat tersebut dibalut dengan jalinan cerita yang bagus dan humor. Saat menonton, aku tidak merasa sedang digurui.

Salah satu adegan yang menarik adalah saat Judy dan Nick mengunjungi kantor pelayanan lalu lintas dan menemukan fakta petugasnya adalah Sloth.




Judy Hopps: Uh, saya perlu data tersebut cepat
Nick Wilde: Flash adalah orang tercepat di sana. Dia bisa mendapatkan data dengan cepat.
Judy Hopps: [melihat bagian dalam kantor pelayanan lalu lintas] Tunggu. Mereka semua sloth?
Nick Wilde: [heran] Apa? Apakah Anda mengatakan bahwa karena dia Sloth, ia tidak bisa cepat?


Pesan lain dalam film ini adalah jangan biarkan orang lain mendefinisikan dirimu. Orang lain mungkin memiliki pendapat tentang kita tapi jangan biarkan pendapat mereka mendefinisikan diri kita. Kita memiliki kendali untuk mendefinisikan diri kita dan menjadi apapun yang kita mau.




Btw, I really like the soundtrack :D

Kalau kamu mencari film lucu dan mengandung banyak pesan moral, film ini sangat aku rekomendasikan untuk ditonton :)

Pelajaran Cinta dari Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie (2015)

|

*Spoiler Alert*
Jika kamu belum menonton Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie (2015) dan tidak suka spoiler, kusarankan sebaiknya tonton dulu filmnya kemudian melanjutkan membaca post di bawah ini. Hehehe


Dalam film The Peanuts Movie (2015), Charlie Brown jatuh cinta kepada murid baru sekaligus tetangga depan rumahnya, Little Red-Haired Girl.


Charlie Brown berpikir bagaimana mungkin gadis idamannya mau bersama dengannya jika dia adalah seorang yang insecure dan sering mengalami kegagalan?

Ada yang berpikiran sama dengan Charlie Brown?


She is everything and I am nothing.  
So I just can’t talk to her.
Charlie Brown



Image Source: www.peanutsmovie.com

Charlie kemudian berpikir dia harus membuat dirinya hebat terlebih dahulu agar Little Red-Haired Girl  menyukainya. Charlie Brown pun berjuang untuk menarik perhatian dan menaklukan hati Little Red-Haired Girl. Dia membaca buku 10 ways to be a winner, mengikuti talent show, belajar menari, dan mengerjakan sendiri laporan membaca buku untuk tugas berdua Charlie dan Little Red-Haired Girl.

Image Source: www.peanutsmovie.com

Sayangnya, alih-alih berhasil, usahanya justru berakhir dengan kegagalan. Pupus sudah harapan Charlie.

Namun ternyata di di akhir film, saat pemilihan partner untuk tugas kelompok selama musim panas. gadis idaman Charlie Brown, Little Red-Haired Girl, bersedia menjadi partner Charlie. 
Charlie tentu saja terkejut!
Dia kemudiaan bertanya mengapa gadis itu mau menjadi partnernya padahal dirinya adalah seorang yang insecure dan sering mengalami kegagalan.

Image downloaded from www.maximumpop.co.uk


Little Red-Haired Girl menjelaskan bahwa dia tidak melihat Charlie sebagai seorang yang gagal. Dia menyukai Charlie yang perhatian terhadap adiknya. Charlie membantu menyelamatkan talent show adiknya, Sally ketika talent shownya berubah kacau.

Little Red-Haired Girl juga menyukai Charlie yang jujur saat bermain bersama teman-temannya.  Dia merasa Charlie berani saat winter dance dan menganggap tariannya lucu. Dia juga tersentuh ketika Charlie mengerjakan sendiri tugas kelompok untuk mereka berdua ketika Little Red-Haired Girl izin pergi tidak masuk sekolah karena neneknya sakit.  Gadis tersebut menganggap perbuatan Charlie Brown manis.


Film ini mengajarkanku bahwa terkadang kita mengira hal-hal besar yang kita lakukan yang membuat seseorang yang menyukai kita, tanpa kita sadari justru hal-hal kecil yang kita lakukanlah yang membuat seseorang yang menyukai kita.
In this life we cannot always do great things. 
But we can do small things with great love.
 -Mother Teresa





Flying Colors (2015)

|
Assalamualaikum
Happy Holiday Good People :D
Liburan long weekend kemana nih?

Btw, biar ngga bosen, aku mau kasih rekomendasi film!

Judulnya Flying Colors (2015) atau Birigyaru.
Film ini seru dan menginspirasi! Aku sampai rela menonton ulang :D

Image Courtesy of drama-max.com


Sutradara
Nobuhiro Doi

Produser
Jun Nasuda, Junichi Shindo

Durasi
117 menit

Aktor dan Aktris
Kasumi Arimura, Atsushi Ito,
Shuhei Nomura, Yuhei Ouchida,
Kokoro Okuda

Penonton
15 tahun ke atas (Bimbingan Orang Tua)

Genre
Drama

Sinopsis Singkat:
Flying Colors adalah adalah film Jepang yang mengisahkan Kudo Sayaka, seorang siswi kelas 2 SMA dengan kemampuan akademik setara kelas 4 SD, yang bertujuan masuk Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.

Sinopsis panjang:
Saat kecil, cita-cita Sayaka adalah memiliki teman. Dia sering dibully dan tidak memiliki teman sehingga dia sering pindah-pindah sekolah. Suatu hari, Sayaka melihat segerombolan siswi dan menurutnya seragam sekolah siswi tersebut cute. Ternyata seragam yang dikenakan adalah seragam sekolah swasta khusus untuk anak perempuan. Sekolah swasta tersebut memiliki lembaga pendidikan hingga tingkat Universitas sehingga yang bersekolah disana, otomatis bisa langsung melanjutkan hingga tingkat Universitas.  Ibunya pun memasukkan seorang Sayaka ke sekolah tersebut dan menyuruh Sayaka untuk bersenang-senang. Maka Sayaka pun menghabiskan waktu di sekolah untuk berteman dan bersenang-senang.

Namun Sayaka berlebihan dalam bersenang-senang. Saat SMA, Sayaka masuk kelas yang berisi kumpulan siswi dengan peringkat terbawah di sekolahnya. Selain itu, Sayaka kerap membuat masalah. Gurunya menemukan rokok di tasnya, membuat dia terkena hukuman skors dan terancam drop out 
Image Courtesy of japanesefilmfestival.net

Menyadari masa depan anaknya terancam suram, Ibu Sayaka pun akhirnya meminta Sayaka untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas. Dari hasil tes penempatan bimbingan belajar ternyata diketahui bahwa Sayaka memiliki kemampuan akademik setara kelas 4 SD.  Sayaka bahkan tidak tahu peta Jepang dan arah utara/selatan.  Meski begitu, Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka meminta Sayaka untuk berjuang masuk salah satu Universitas terbaik di Jepang. Sayaka pun memilih Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.

Perjuangan Sayaka untuk masuk Universitas Keio tidaklah mudah. Dia harus mengejar ketertinggalannya. Di sekolah, Sayaka berada di ranking terbawah dengan nilai standar deviasi 30 sementara yang masuk Keio biasanya memilki nilai standar deviasi 70. Selain masalah akademik, Sayaka juga memiliki masalah di rumah. Ayah dan adik lelakinya tidak percaya ketika mendengar Sayaka ingin masuk universitas Keio. Ayahnya mengira ibu Sayaka ditipu oleh lembaga bimbel dan beliau tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun untuk keperluan bimbel sayaka. Sayaka pun termotivasi untuk membuktikan diri kepada ayahnya bahwa dia bersungguh-sungguh dengan tujuannya.

Berhasilkah Sayaka masuk Universitas Keio?



Review:

Aku suka pesan-pesan yang ada dalam film ini.  Dari karakter  Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka dan Ibu Sayaka, kita belajar  untuk melihat sisi positif dari segalanya

Cukup mudah untuk percaya dan berpikir positif ketika semua berjalan lancar, murid yang penurut, berprestasi dan taat pada aturan tapi bagaimana jika kau memilliki murid yang justru sering membuat masalah? Masih bisakah kau tetap berpikir positif dan percaya padanya?
Ternyata bisa! Itu yang ditunjukkan oleh Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka. Beliau bisa melihat sisi positif Sayaka. Menurutnya meski jawaban Sayaka di tes kemampuan akademik salah semua tapi Sayaka berusaha menjawab semua soal, tidak membiarkannya kosong. Saat membimbing Sayaka dalam belajar pun, dia mampu melihat kelebihan Sayaka dan membantu Sayaka untuk belajar dan berkembang.
Sometimes, you just need one person to believe in you.

Image Courtesy of sankei.com


Aku juga kagum dengan sikap positif yang ditunjukkan Ibu Sayaka. Berkali-kali Ibu Sayaka harus dipanggil ke Sekolah karena Sayaka membuat masalah tapi Ibu Sayaka tetap membela Sayaka dan tidak berhenti percaya bahwa sebenarnya Sayaka adalah anak yang baik.

Image Courtesy of japanesefilmfestival.net


Bagian yang paling berkesan bagiku adalah saat Sayaka bertanya pada Ibunya mengapa mau menikah dengan Ayahnya. Selama menonton film ini, jujur aku punya pertanyaan yang sama dengan Sayaka. Ayahnya Sayaka sering mengistimewakan adik lelakinya, Ryota dan marah ketika istrinya hendak ikut campur.

Ibunya menjawab kalau ayahnya Sayaka (suaminya) suka menolong orang dan tidak tahan jika melihat orang kesusahan.

Menonton film ini membuatku merenung akankah aku bisa berpikir positif dan mengingat kebaikan pasanganku jika pasanganku berubah menjadi tidak menyenangkan dan melakukan hal yang tidak kusukai?

Karakter lain yang aku suka dari film ini adalah adik perempuan Sayaka, Mayumi. Dia mau mengalah menonton acara TV yang disukainya agar Sayaka bisa menonton berita untuk belajar. Mayumi juga bersedia membantu melakukan perkerjaan rumah tangga dan ditinggal sendiri ketika ibunya bekerja sambilan untuk membayar uang bimbel Sayaka.

Dan tentu saja aku kagum dengan tokoh utama, Sayaka. Meski mengeluh dia tidak menyukai tes, toh dia tetap mengerjakan soal. Dia bahkan menyambi belajar di sela-sela waktu main dan karaoke bersama teman-temannya. Aku tersentuh dengan kesungguhan Sayaka belajar.

Pesan lain dari film ini adalah jangan menyerah. Akan ada saat kita merasakan bahwa setiap usaha yang kita lakukan tidak membawa perubahan apa pun! Kita pun merasa putus asa. Jika hal tersebut terjadi, jangan menyerah karena sebenarnya itu adalah bagian dari proses.  If there is a will, there is a way!


Selamat menonton dan terinspirasi!


A Must-Watch Film: Bulan Terbelah di Langit Amerika

|
http://jakarta.coconuts.co/2015/11/11/bulan-terbelah-di-langit-amerika-movie-posters-look-extremely-similar-social-network 
Sutradara
    Rizal Mantovani   
Penulis Novel
    Rangga Almahendra, Hanum Rais 
Produser
    Ody Mulya Hidayat   
Pemain
    Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright, Hana Al-Rashid 
Durasi
    109 menit
 

Sinopsis:
Untuk memperingati tragedi 9/11, Hanum yang diperankan oleh  Acha Septriasa  diminta menulis artikel “Would the world be better without Islam?” dari sudut pandang Azima (Rianti Cartwright) dan anaknya, Sarah Collins. Suami Azuma, Ibrahim Hussain dituduh terlibat dalam tragedi 9/11.

Di saat yang sama, suami Hanum, Rangga (Abimana Asyasatya) juga mendapat tugas dari professornya untuk pergi ke New York mewawancarai Philipus Brown, seorang billionaire yang awalnya terkenal rakus namun kemudian berubah menjadi dermawan. Professor meminta Rangga mencari tahu titik balik perubahan Philipus Brown dan mengundangnya untuk mengadakan kuliah umum di Wina.

Misi Hanum dan Rangga tidaklah mudah mengingat baik Azima, Sarah Collins, dan Philipus Brown selama ini menutup diri dan sering menolak tawaran wawancara. Mengambil setting di New York tahun 2009, misi Hanum dan Rangga dimulai. Berhasilkah Hanum dan Rangga menyelesaikan misi mereka? Apa jawaban atas pertanyaan “Would the world be better without Islam?”



My Review:
Film ini diangkat dari novel dengan judul sama Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Rangga Almahendra dan Hanum Rais.  Film ini berusaha menggambarkan bagaimana sikap masyarakat Amerika kepada muslim menjadi terbelah setelah tragedi 9/11 seperti bulan yang terbelah. Meski belum membaca novelnya, saya telah memasukkan film ini ke daftar film yang akan saya tonton Desember ini. Hal ini disebabkan saya sudah menonton Film 99 Cahaya Langit Eropa part 1 & part 2 serta membaca novel 99 Cahaya Langit Eropa. Saya merasa puas dan menyukainya sehingga saya berasumsi Film Bulan Terbelah di Langit Amerika tidak akan kalah keren!

Pertanyaan besar dalam film ini “Would the world be better without Islam? " mengingatkan saya akan buku A World Without Islam oleh Graham E. Fuller. Jika Graham E. Fuller menggunakan pendekatan sejarah, saya bertanya-tanya bagaimana film ini menjawab pertanyaan tersebut.

Rasa penasaran saya ternyata tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawaban. Alhamdulillah, saya bersama rekan-rekan Indonesia Hijab Bogger berkesempatan menghadiri premiere Bulan Terbelah di Langit Amerika pada 15 desember 2015 pukul.18.30 WIB di Epicentrum XXI Kuningan, Jakarta Selatan.

Dugaan saya tidak meleset. Film yang berusaha mengangkat isu Islamophobia ini lembut dan menyentuh serta dikemas dengan akting dan alur cerita yang baik. Saya merasa terharu menonton video Sarah Collins bertanya tentang ayahnya. Bahkan, saya ikut meneteskan air mata ketika Azima menjawab pertanyaan Hanum tentang mengapa ia melepas hijabnya.

Saya juga menyukai adegan selingan pembahasan perbedaan lelaki dan perempuan, humornya mengena. Saya rasa isu perbedaan lelaki dan perempuan selalu menarik untuk dibahas.

Hal lain yang saya sukai dari film Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah film ini sarat makna. Film Bulan Terbelah di Langit Amerika mengajarkan untuk jangan berhenti percaya dan berharap kepada Allah. Kita sebagai muslim diharapkan agar tidak kehilangan kebanggaan menjadi muslim karena Islamophobia. Selain itu, film ini mengajak penonton untuk menjadi agen muslim yang baik dan dapat menjembati kesalahpahaman, bahwa perbedaan jangan membelah kita. Islam mengajarkan kedamaian. Salah satu buktinya dapat dilihat dari salam yang biasa muslim ucapkan "Assalamualaikum" yang berarti May Peace Be Upon You. 


Diunduh dari Facebook Fanpage Hanum Rais

Kuharap kalian tidak melewatkan film bagus ini :)
Film Bulan Terbelah di Langit Amerika mulai tayang di bioskop-bioskop di Indonesia tanggal 17 Desember 2015! 
Save the date!

https://twitter.com/cinema21/status/676953661029748736

Post Signature

Post Signature