Top Social

Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan

Something wrong

|

“Chris, what should I do if my husband jealous of our friendship?”
“Don't worry about it. You will not need me any more when you get married. You can talk all your problems to your husband.”
I stare at Chris and gave him “Are you sure?” look.
I hesitated a little bit then opened my mouth “But you are my best friend. I think I still want to talk you”
“Han, if you are still looking for me to tell your problem after you get married, there is something wrong in your relationship. Your husband should be your best friend.”
For a moment, I could not talk back at him because I realized there is truth in his words.
 
Image Courtesy of Alexas_Fotos at pixabay.com
 

Paradox

|

Terkadang aku bertanya-tanya,
Orang-orang bisa nyaman cerita padaku karena aku memang pendengar yang baik atau karena aku lulusan psikologi?
Kau tahu, terkadang ketika mereka tahu bahwa aku lulusan psikologi, mereka langsung menganggap aku bisa jadi tempat curhat penyelesaian masalah.
Atau justru belajar psikologi membuat aku menjadi pendengar yang baik?
Atau malah karena aku pendengar yang baik, aku memilih psikologi?

Image courtesy of By Camila Damásio at unsplash.com


Tapi temanku Kame pernah bilang “Han, I want to talk you because I do not need typical psychological advice. I can go to other psychology student. I need your advice.”

:")
kame bisa banget ya
Omongan ya bikin gue lumer.
Allhamdulillah punya temen kayak kame :D


Aku meminta cinta, 
tetapi Dia menghadirkan kepadaku 
orang-orang yang bermasalah untuk dibantu

Kenapa Bukan Buku?

|
Beberapa waktu lalu sempat keheranan karena sahabatku tidak memberiku hadiah buku terlepas mengetahui aku menyukai buku.
Hal tersebut menjadi misteri (yang ingin kuketahui tapi terlalu malas untuk kucari tahu jawabannya) untuk beberapa waktu.
Sampai kemudian aku sendiri mengalami berada di posisi sahabatku.
Seorang teman yang aku ketahui menyukai buku hendak menikah dan tentu saja aku pada awalnya berniat memberi dia buku tentang pernikahan atau pendidikan anak tapi kemudian aku sadar satu hal: dia suka buku!
Dia suka membeli dan membaca buku.
Bahkan dia suka membaca buku tentang pernikahan atau pendidikan anak.
Huft..
Takutnya buku yang akan kuberikan justru sudah dia miliki.
Jadi alih-alih memberi buku, aku memberinya hal lain.

Jangan-jangan pikiran sahabatku juga seperti itu?
Image Courtesy of Maliha Mannan at unsplash.com



Note: Tulisan tentang buku sekarang pindah ke blog Hana Book Review (hanabilqisthi.wordpress.com)

Selingkuh!

|
Aku tidak mengerti dengan wanita yang membenci selingkuhan suaminya. 
Seharusnya mereka membenci suaminya juga, selingkuh kan melibatkan dua pihak.
Bukankah berarti suaminya terlibat?
Kenapa sering kali hanya pihak perempuan yang disalahkan? 
Selama ini itulah anggapanku dan disinilah aku sedang menjilat ludahku sendiri. 
Aku baru saja menampar gadis selingkuhan suamiku di rumahnya. 
Gadis itu memegangi pipinya dan memicingkan matanya seolah tidak percaya apa yang baru saja dia alami. 
Suamiku tiba-tiba masuk, datang entah dari mana. Wajahnya merah karena marah, dia berbicara sambil menunjuk-nunjukku tapi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. 
Apakah dia malah marah padaku? Apakah dia menyalahkanku?
Semuanya terasa blur, badanku lemas, dan telapak tanganku berkeringat. 
Aku selama ini tidak pernah menampar seorang pun dalam hidupku.
Apakah ini mimpi? Mimpi yang buruk?
Seolah kehilangan kendali, tawa histerisku menggema memenuhi ruangan.

Mengapa Kau Tak Percaya

|
Image Courtesy of Luke Chesser at unsplash.com



A: "Kupikir kau menyukainya"
B: "Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
A: "Karena Rani bilang begitu padaku."
B: "Apakah Rani sahabatku? Apakah aku sering bersama dengannya?"
A: (Menggeleng)
B: "Mengapa tidak bertanya padaku? Aku hanya memberi tahu pria yang kusukai pada sahabatku." Mengapa kau tidak tanya mereka? 
A: ...
B: "Ya, aku menyukainya tapi karena dia sahabatmu dan rasa suka itu tidak lebih dari sekedar teman."
A:  "Sebaiknya kau tidak bersikap baik padanya"
B:  Apakah dia salah paham? "Aku hanya mengirim surat padamu, yang aku suka itu kamu." 
A: ...
B: Apakah kamu berpikir aku berbohong? Mengapa kau tak percaya?

Bisnis Emosi

|
Jika perasaan bisa diperjualbelikan,
berapa harga perasaan yang baik, enak?
seperti cinta, bahagia?
Apakah mereka akan menjadi barang mahal karena banyak orang menginginkannya?
Atau justru jadi murahan?
Akankah muncul cinta tiruan, cinta KW sekian?

Berapa harga untuk perasaan yang tidak mengenakkan?
Seperti galau, sedih, putus asa?
Kurasa akan banyak orang yang menjualnya,
tapi apakah ada yang mau membelinya?


Dear my future husband

|
Dear my future husband,


Image Courtesy of David Mao at unsplash.com


Sedang apa kau disana?
Meski saat ini aku tidak tahu kau siapa dan dimana.
Semoga saat ini kau baik-baik saja.
Aku berharap Allah selalu melindungimu.


Aku selalu suka cara Allah menghiburku.
Kau tahu aku punya satu keinginan
aku berharap maharku nanti komik yotsuba
Dan kemarin saat ke gramedia Grand Indonesia, aku menemukan komik yotsuba volume 1-2.
Ternyata Elex mencetak ulang komik tersebut. \(^0^)/
Alhamdulillah. Yuhu! Yippie! Yeah!
Aku senang melihatnya.
Akan kuanggap ini sebagai pertanda
bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dirimu,
Amiin
Eh, kau tidak keberatan kan kalau aku meminta maharnya komik atau buku?


O ia, aku baru saja selesai membaca buku The Secret of Happy Families oleh Bruce Feiler.
Apakah kau sudah membacanya juga?
Buku ini benar-benar bagus.
Aku tidak menyangka dapat menemukan buku yang masuk tipe buku yang ingin kutulis dan kubaca sekaligus.
Aku tidak sabar mempraktikan bersamamu.
Tentu saja ada beberapa hal yang harus dimodifikasi sesuai nilai, kondisi dan kesepakatan kita.
Semoga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia.

Terima kasih sudah membaca suratku.



Love,

Your future wife

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 dari 1 Juni-30 Juni 2015

6 Alasanku Menyukai Mike Wazowski di Monster University

|

Pernahkah kalian menonton film dan merasa karakter filmnya mirip dengan kalian?
Well, itu yang aku alami saat melihat Mike Wazowski di Monster University


Image Courtesy of Disney.co.uk

*Aku dan dia memutuskan universitas yang kami inginkan saat kami masih kecil.
Di dalam film, Mike  saat TK pergi ke Monster Inc dan bertemu dengan seorang Scarer alumni Monster University, dia menginspirasi Mike untuk masuk Monster University.
Waktu masih TK, aku juga menganggap mahasiswa UI keren karena aksi mereka waktu 98, meski tidak bertemu langsung seperti yang Mike alami dan bertekad masuk UI.
Nah, setelah masuk UI aku menemukan banyak teman-temanku bercita-cita masuk UI dari kecil juga, ada yang dari TK, SD.

*Fokus belajar untuk mencapai tujuan
Mike rela mengorbankan banyak hal demi meraih tujuannya. Dia menyicil belajar. Jadi inget Hana juga pernah kayak gitu. Hana sebut pernah karena Hana ngerasa rajinnya pas semester-semester awal aja, kayaknya motivatasi Hana menurun pas semester akhir. Kagum sama Mike yang bisa konsisten.

*Persistence.
Mike tetap maju dan tidak mudah menyerah meski banyak orang yang bilang mike tidak bisa dan percaya kerja keras akan terbayar. Hana ngerasa mirip juga soal hal ini, Hana tipe yang kalau Hana mau sesuatu, I will work hard to get it dan ngga akan menyerah, ngga peduli orang ngomong apa. Lalalala~

*Mike awalnya bukan team player, dia berpikir dia bisa sukses sendiri dan membawa teman-temannya ikut sukses, ternyata dia belajar pentingnya kerja sama tim dan berjuang bersama-sama.
Ini juga! Awalnya waktu awal masuk kuliah hana juga bukan team player, banyak ngerjain tugas sendiri. Alhamdulillah di kuliah belajar percaya sama temen satu tim dan kerja sama dengan teman satu tim.

*Fearless, jika Mike berpikir sesuatu harus dilakukan untuk mencapai tujuan, dia akan melakukannya.
Mike berani bernegosiasi dengan Dekan Hardscrabble agar dia diizinkan masuk kembali ke Scaring Program jika dia berhasil menang Scare Game.

*Hal yang paling aku sukai dari Mike adalah dia sadar tiap orang itu unik, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kekurangan bukanlah alasan untuk menyerah dan berhenti meraih mimpi.

Tidak ada satu jenis scarer, mereka beragam, mereka memanfaatkan kelebihan dan kekurangan mereka.

Aku menyadari hal yang sama saat mengambil mata kuliah psikologi kepribadian, ada berbagai tipe psikolog, keunikan dan kelebihan mereka membuat mereka bisa berkontribusi dalam ilmu psikologi. Siapa bilang hanya ada satu cara dalam meraih sukses?
Jika kamu benar-benar tahu apa yang kamu inginkan, percayalah pada mimpimu dan dirimu sendiri.
Berusahalah menggapainya.
Mungkin akan tidak mudah, banyak hambatan dan rintangan, tapi suatu saat nanti kau akan meraihnya.

Thank you Mike Wazowski untuk inspirasinya! :D


Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 yang berlangsung sejak 1 Juni hingga 30 Juni 2015



Post Signature

Post Signature