Top Social

Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan

Celebrating Failure

|

Happy Friday Good People ✨✨

I am really happy that weekend is near.  I can't wait another time for me to read ✨✨😊📖
Btw, I have read an inspiring article entitled "Billionaire CEO Sara Blakely Says These 7 Words Are the Best Career Advice She Ever Got

The article told us that during Sara Blakely's childhood, her father would sit her down at the dining room table and ask her the same question: "What did you fail at this week?" And when she told him, he high-fived her.

Every week growing up, her father made her reflect on something she'd failed at, then showed her that not only was she still loved after failing, but she was celebrated for it. Her dad taught her that failing simply just leads you to the next great thing.

I really love this article. I used to believe that I only will be loved if I am perfect/get all A on my report card. I was even thinking to kill myself for the bad score/grade that I got. Now, I knew that I did not need to be perfect/get all A on my report to be love. Failure is not the end of me or my world. It is part of the process. It is part of life. Something that I have to go through. I like this article's message because it is aligned with I have learned in life and I even got parenting technique how to tell my children (if I become parent someday), that I still love them despite the failure they make 😊
.
.
Have great day for all of you.
Hope all is well 💕💕

Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


My Neighbor Totoro: Menjadi Bahagia itu Sederhana

|
Sahabatku Hana talita sangat suka Totoro. Dia suka mengoleksi aksesoris Totoro. Bahkan, ketika membaca artikel tentang anime, My Neighbor Totoro termasuk yang sering disebut. Seringnya terpapar dengan Totoro ini, membuatku  jadi penasaran sama Totoro  tapi entah kenapa aku mendapati diriku terlalu malas untuk mencari tahu. Hehehe

Rasa penasaranku kembali digugah saat membaca The Journey of Song Triplets oleh Shandy Claws. Dia menggambar ilustrasi Song triplets memerankan tokoh-tokoh dalam  My Neighbor Totoro.

Membuatku bertanya-tanya apa sih yang membuat orang-orang suka atau jatuh cinta dengan My Neighbor Totoro ?

Alhamdulillahnya hari Sabtu kemarin, aku berkesempatan menonton My Neighbor Totoro.
Image source: http://studio-ghibli.wikia.com/


My Neighbor Totoro ini adalah film animasi tahun 1988 dan mengisahkan tentang dua orang anak perempuan Mei dan Satsuki yang berteman dengan penjaga hutan, Totoro.



Selama menonton film ini aku dibuat takjub dan jatuh cinta dengan karakter Mei, Satsuki dan Totoro. They are adorably cute. :3

Aku kagum bagaimana Mei dan Satsuki melihat hal-hal sehari-hari dan lingkungan sekitar dengan penuh ketakjuban. Melihat betapa mudahnya Satsuki dan Mei tertawa membuatku berpikir ternyata menjadi bahagia itu sederhana ya?


Waktu menonton aku tidak tahu kalau setting dalam film ini adalah Jepang pada tahun 1958. Jadi saat melihat adegan Satsuki bersiap-siap pergi sekolah, aku mengira Mei juga akan pergi sekolah, ke semacam TK/PAUD. Ternyata tidak. Mei menghabiskan waktu bermain di halaman belakang rumah.

Membuatku berpikir bahwa sekarang pandangan masyarakat berubah dalam hal pendidikan anak.
Hal yang sekarang aku anggap wajar, yaitu anak kecil ke TK/PAUD, dulu bukan suatu kebiasaan.

Selama menonton My Neigbor Totoro, aku sering dibuat heran dengan tingkah laku keluarga Kusakabe ini. Misal dalam salah satu adegan diceritakan bahwa ayahnya Mei dan Satsuki, Prof Tatsuo Kusakabe pernah bercita-cita memiliki rumah berhantu. Sumpah bagiku itu adalah cita-cita yang aneh. Jadi ketika mendegar kemungkinan bahwa rumah barunya berhantu, Pak Kusakabe bukannya takut, dia malah menunjukkan ekspresi senang.

Melihat adegan tersebut membuatku berpikir ulang tentang definisi kebahagiaan. Hal-hal yang menakutkan (hantu) bagi sebagian orang ternyata bisa menjadi hal yang membuat senang bagi sebagian orang.

O ia, aku paling suka adegan Totoro lompat-lompat dan menari untuk menumbuhkan tanaman di halaman belakang Mei dan Satsuki.

It is really cute and heart warming story, no wonder lots of people fall in love with My Neighbor Totoro. :D

Apa kalian pernah menonton My Neighbor Totoro juga? Adegan apa yang paling kalian sukai? :D

Anime Recommendation: The Anthem of the Heart (2015)

|
Image source: imdb

Sinopsis:


Ketika Jun berada di sekolah dasar, Jun adalah sosok yang bawel dan sangat suka dengan kastil yang ada di gunung, dekat kota tempat dia tinggal. 


Suatu hari, dia pun bermain kesana dan mendapati ayahnya dan seorang perempuan keluar dari kastil tersebut. Jun pun mengira jangan-jangan ayahnya seorang pangeran

Jun yang tidak tahu kalau kastil tersebut adalah love hotel, menceritakan kejadian yang dia lihat kepada ibunya. Ibunya kemudian meminta Jun untuk menutup mulutnya. Jun yang naif tidak memahami bahwa ayahnya berselingkuh. Tak lama kemudian, ayah dan Ibu Jun berpisah. Ketika ayahnya hendak pergi, Jun bertanya mengapa ayahnya pergi? Jika ayah dan ibunya bertengkar, Jun bisa membantu ayahnya untuk membujuk ibunya. Ayah Jun malah menjawab kalau ini semua salah Jun karena Jun bawel.

Jun pun menangis mendengar perkataan ayahnya dan berharap seorang pangeran datang menyelamatkannya. Tiba-tiba muncul pangeran dari telur yang memberi tahu Jun bahwa kata-kata Jun menyakitkan dan dia memberi resleting untuk menutup mulut Jun sehingga Jun tidak lagi menyakiti orang lain. 



Pangeran telur itu memperingatkan jika Jun membuka mulutnya maka Jun tidak akan pernah bertemu pangeran. Sejak saat itu, Jun tidak pernah lagi berbicara.

Semuanya berubah ketika tiba-tiba wali kelas Jun di SMA menunjuk Jun dan 3 teman lainnya (Takumi Sakagami, Natsuki Nitō dan Daiki Tasaki )  untuk menjadi komite event outreach community. 
Sumber: http://anthemoftheheart.com/


Apa yang terjadi dengan Jun? Mampukah dia menolak perintah wali kelasnya? Jika tidak, bagaimana caranya menjalan tugas menjadi komite sementara dia terikat kutukan untuk tidak membuka mulut?






Judul Anime : The Anthem of the Heart/ Beautiful Word Beautiful World / The Heart Wants to Shout/ Kokoro ga Sakebitagatterunda (心が叫びたがってるんだ。)
Sutradara : Tatsuyuki Nagai
Produser: Shunsuke Saito
Penulis naskah :  Mari Okada
Musik :      Mito dan Masaru Yokoyama 
Durasi : 120 menit
Pengisi Suara:
Inori Minase sebagai Jun Naruse
Kōki Uchiyama sebagai Takumi Sakagami 
Sora Amamiya sebagai Natsuki Nitō 
Yoshimasa Hosoya sebagai Daiki Tasaki 



Review:

*Spoiler alert*

Aku mengetahui keberadaan anime ini setelah membaca Anime Review:Kokoro ga Sakebitagatterunda oleh Amanda Nadhira.

Waktu awal nonton dan melihat ayahnya dengan tega bilang kalau itu salah Jun. Hati gue sakit dan rasanya pengen teriak marah ke ayahnya Jun terus bilang “Tidakkah kamu tahu kalau jika terjadi sesuatu (terutama perceraian) pada orang tuanya, anak kecil sering berpikir itu adalah salahnya?!  Yang kamu lakukan hanya memperparah keadaaan! Mengapa ayahnya bersikap kenak-kanakan dengan menyalahkan anak kecil? 

Tapi kemudian aku tertawa getir... bagaimana mungkin aku berharap hal seperti itu pada Ayah Jun?  I mean kalau ayahnya Jun benar-benar dewasa, mungkin dia tidak akan selingkuh.

Kemudian waktu pangeran telur muncul, aku menduga-duga bahwa itu hanya terjadi dalam khayalan Jun. Pangeran telur adalah cara Jun untuk coping atau mengatasi keadaan. Perpisahan orang tua itu berat, terlebih lagi bagi anak kecil seperti Jun. Soalnya waktu SMP, aku juga pernah menciptakan karakter teman khayalan untuk menemaniku yang kesepian karena dimusuhi satu sekolah. Tapi tentu saja aku sadar karakter tersebut tidak ada. Hanya saja it really hurts to did not have any friends, so I tried to cope by having imaginary friends.

Dugaanku diperkuat dengan setiap kali Jun berbicara, Jun sakit perut. Sakit perut tuh salah satu hal yang sering terjadi kalau stress.

Apakah tebakanku soal pangeran Telur-nya Jun benar? Well, nonton aja filmnya ya! ;)

Hal lain yang terlintas di benakku saat tahu bahwa Jun tidak akan membuka mulutnya adalah kasihan ibunya. Aku rasa masa-masa setelah perceraian juga berat bagi Ibunya. Perempuan suka berbicara dan sering komunikasi melalui percakapan. Aku kemudian membayangkan diriku berada dalam posisi Ibu Jun, jika setelah bercerai, anakmu tiba-tiba diam dan tidak mau berbicara, maka aku mungkin berpikir anakku membenciku dan hendak menghukumku.

Why do you do these? Do you hate me so much? Never saying a word!What are you trying to do? Are you doing this to spite me? Jun Mother

Pas liat adegan ini, hati gue kembali sedih. Jun berusaha menutup mulut agar orang-orang di sekitarnya tidak terluka. Namun justru diam juga membuat orang-orang di sekitarnya terluka.
Membuatku ingat pesan di manga Piece oleh Hinako Ashihara bahwa sebenarnya banyak orang yang buruk dalam mengkomunikan maksud dan pikirannya sehingga malah berakhir salah paham dan menyakiti orang lain.

Word can hurts people. You can’t ever take them back.
Even if you regret, you can never take them back. 

–Jun


Gue suka anime ini, tema yang diangkat realistis: tentang keluarga, persahabatan dan cinta. Gue suka melihat bagaimana karakternya berkembang menjadi lebih baik setelah menyadari kesalahan mereka. Alur dan gambarnya juga bagus bikin betah nonton. Musik-musiknya juga enak dan mudah diingat. Habis nonton, aku jadi bersenandung musik di film ini.

Sumber: http://anthemoftheheart.com/


Anime ini benar-benar aku rekomendasikan untuk ditonton! :D

P.S.:

O ia, awalnya aku kecewa sama pairing couple di ending. Sama seperti Jun, aku jatuh cinta sama Takumi. Tapi setelah nonton ulang, mulai mengerti kenapa penulis naskah memilih pairingnya seperti itu. Jadinya happy ending buat semua orang. Selain itu, kalau Jun bersama Takumi, hubungan mereka akan tidak sehat karena Jun merasa sangat butuh Takumi. Aku rasa tidak bersatunya Jun dan Takumi membuat Jun menyadari bahwa meski tidak ada pangeran yang menolong dan mencintainya, hidupnya baik-baik saja.

You can't tell

|

Aku sedang melihat foto teman-teman dan kemudian menyadari satu hal: teman-temanku yang berasal dari keluarga broken home terlihat normal. Dari luar, mereka tampak baik-baik saja. Jujur, aku tidak akan menganggap atau mengetahui mereka anak broken home, kecuali mereka mengakuinya.

Mengingatkanku pada diriku sendiri. Dulu aku takut menjadi anak dari keluarga broken home. Aku takut mengalami berbagai dampak buruk jika memiliki keluarga broken home seperti yang tertulis dalam buku teks ataupun artikel psikologi. Aku juga takut persepsi orang terhadapku.

Tapi kalian tahu apa? Tidak ada yang mengira aku memiliki latar belakang keluarga broken home. Jika aku bercerita orang tua kandungku telah bercerai, mereka sering membelalakan mata. Menatapku dengan terkejut.

Tidak kelihatan kan?


Apa kalian juga teman yang berasal dari keluarga broken home? Apakah kalian bisa mengetahui bahwa mereka berasal dari keluarga broken home hanya dengan sekali lihat?

Barbie dan Standar Kecantikan

|
Ketika membaca majalah TIME edisi 8 Februari 2016, aku senang sekali dengan cover storynya.
Body-pos Barbie covers TIME Magazine  
Photography Kenji Aoki
Cover storynya Barbie's Got New Body  menceritakan perubahan yang telah dilakukan Barbie! atau #BarbieEvolution
Sekarang Barbie tersedia dalam 3 jenis bentuk tubuh (Tall, petite, curvy) dan 7 varian warna kulit.

Aku senang dengan perubahan yang dilakukan Barbie ini soalnya waktu kecil aku pernah jadi "korban" barbie. Aku ngga mau makan karena ingin punya bentuk tubuh kayak barbie. Hahahha

Baca juga Barbie and me

Aku sempat berniat tidak akan membelikan anak perempuanku Barbie setelah membaca penelitian Dittmar, Halliwell, & Ive (2006), bahwa anak perempuan berusia 6-8 tahun cenderung tidak puas dengan body image yang mereka miliki setelah diperlihatkan boneka Barbie.

Baca juga Menjadi Lebih Cantik Setiap Harinya From Ugly Duck to Beautiful Swan

Mengetahui Barbie telah mengubah bentuk tubuhnya membuatku berubah pikiran, mungkin aku akan membelikan anak perempuanku Barbie dan akan kukatakan padanya "Apapun bentuk tubuhmu, terimalah karena itu pemberian dari Allah yang Maha Indah dan Mencintai Keindahan. Bersyukurlah dengan merawatnya baik-baik. Beauty comes in all shapes, sizes, colors".

:D

Eh, Apa aku beliin boneka mirai aja ya? 
ada versi hibabersnya
Biar belajar nutup aurat
Hmmm...



Hahaha udahlah ya mikirnya ntar aja kalau udah punya anak


Daftar Pustaka

Dittmar, H., Halliwell, E., & Ive, S. (2006). Does Barbie make girls want to be thin? The effect of experimental exposure to images of dolls on the body image of 5​-​ to 8​-​year​-​old girls.  Developmental Psychology, 42(2), 283-292. doi: 10.1037/0012-1649.42.2.283.
Jurnal penelitiannya bisa diunduh disini

Pelajaran Cinta dari Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie (2015)

|

*Spoiler Alert*
Jika kamu belum menonton Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie (2015) dan tidak suka spoiler, kusarankan sebaiknya tonton dulu filmnya kemudian melanjutkan membaca post di bawah ini. Hehehe


Dalam film The Peanuts Movie (2015), Charlie Brown jatuh cinta kepada murid baru sekaligus tetangga depan rumahnya, Little Red-Haired Girl.


Charlie Brown berpikir bagaimana mungkin gadis idamannya mau bersama dengannya jika dia adalah seorang yang insecure dan sering mengalami kegagalan?

Ada yang berpikiran sama dengan Charlie Brown?


She is everything and I am nothing.  
So I just can’t talk to her.
Charlie Brown



Image Source: www.peanutsmovie.com

Charlie kemudian berpikir dia harus membuat dirinya hebat terlebih dahulu agar Little Red-Haired Girl  menyukainya. Charlie Brown pun berjuang untuk menarik perhatian dan menaklukan hati Little Red-Haired Girl. Dia membaca buku 10 ways to be a winner, mengikuti talent show, belajar menari, dan mengerjakan sendiri laporan membaca buku untuk tugas berdua Charlie dan Little Red-Haired Girl.

Image Source: www.peanutsmovie.com

Sayangnya, alih-alih berhasil, usahanya justru berakhir dengan kegagalan. Pupus sudah harapan Charlie.

Namun ternyata di di akhir film, saat pemilihan partner untuk tugas kelompok selama musim panas. gadis idaman Charlie Brown, Little Red-Haired Girl, bersedia menjadi partner Charlie. 
Charlie tentu saja terkejut!
Dia kemudiaan bertanya mengapa gadis itu mau menjadi partnernya padahal dirinya adalah seorang yang insecure dan sering mengalami kegagalan.

Image downloaded from www.maximumpop.co.uk


Little Red-Haired Girl menjelaskan bahwa dia tidak melihat Charlie sebagai seorang yang gagal. Dia menyukai Charlie yang perhatian terhadap adiknya. Charlie membantu menyelamatkan talent show adiknya, Sally ketika talent shownya berubah kacau.

Little Red-Haired Girl juga menyukai Charlie yang jujur saat bermain bersama teman-temannya.  Dia merasa Charlie berani saat winter dance dan menganggap tariannya lucu. Dia juga tersentuh ketika Charlie mengerjakan sendiri tugas kelompok untuk mereka berdua ketika Little Red-Haired Girl izin pergi tidak masuk sekolah karena neneknya sakit.  Gadis tersebut menganggap perbuatan Charlie Brown manis.


Film ini mengajarkanku bahwa terkadang kita mengira hal-hal besar yang kita lakukan yang membuat seseorang yang menyukai kita, tanpa kita sadari justru hal-hal kecil yang kita lakukanlah yang membuat seseorang yang menyukai kita.
In this life we cannot always do great things. 
But we can do small things with great love.
 -Mother Teresa





Perjalanan Menemui BWB's Next Gen: Muhammad

|


Hari Minggu tanggal 4 Oktober kemarin, Hana beserta temen2 BWB 2010 yang lain yaitu Dii, Anggi dan Fauzi berkunjung ke rumah Fairuz (BWB 2010 juga) di Bogor. (^0^)/ Alhamdulillah, Fairuz  sudah menjadi seorang Ibu atas anak lelaki yang bernama Muhammad. Kami hendak menengok keponakan pertama BWB 2010 Muhammad. Namanya keren banget ya? Hana juga berkeinginan memberi nama anak lelaki Hana, Muhammad soalnya. :D Ternyata Fairuz sudah lebih dulu mewujudkan keinginan Hana tersebut.

O ia, buat yang belum tahu, BWB tuh singkatan dari Best Wanna Be. BWB adalah program Latihan Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh psdm BEM UI untuk mahasiswa baru menjadi kader BEM UI. Bisa cek infonya di Facebook Fanpagenya, twitter @Bestwannabe atau ask.fm Bestwannabe :)

Pas jaman maba, Hana alhamdulillah berkesempatan ikut BWB. Cuma sehabis lulus pelatihannya, bukan masuk BEM UI, malah ikutan SALAM UI. Hehe Alasannya pernah Hana ceritakan di post ini.
Cukup ya intronya, kita balik lagi ke tanggal 4 Oktober.

Kami janjian ketemu di depan Margonda residence (Mares) pukul 8 pagi dan berangkat ke bogor naik mobil Livina-nya Dii. Alhamdulillah Dii mau berbaik hati memberikan tumpangan. Jazakillah khair Dii!

Berhubung Anggi cuma bisa sampai jam 12 siang, kami berharap tiba pukul 9 kemudian mampir sebentar (gendong Muhammad, foto2) terus pulang dari rumah Fairuz sekitar jam 10.  
Tapi rencana tinggal rencana...

Pas mau berangkat, menyadari perut kami kelaparan karena belum sarapan, kami sempat berhenti di samping Gramedia Depok untuk beli nasi uduk. Selesai membeli nasi uduk, kami pun pergi berangkat. Saat di perjalanan, Anggi  bertanya “Han, kita ngga ngasih apa-apa nih ke keponakan pertama BWB?”
“Gue sih udah beli kado.”
“Loe sempet beli kado? Gue pulang kantor malem. Mana sempet pergi buat beli kado.”
 “Emang gue beli kadonya dimana?” Gue terkekeh. “Di alfamart deket kosan, Nggi! Pas jajan ke Alfamart, gue liat ternyata alfamart jual perlengkapan bayi, ya udah gue beli aja. Tadinya kan rencananya kita mau pergi sabtu pagi, gue mikir ngga sempet gue pergi-pergi buat beli. Ya udah beli di Alfamart aja daripada ngga ngasih kado.”
“Atau Patungan aja? Loe habis berapa buat beli kado?”
“XX ribu. XX ribu bagi 4 berarti X ribu. Kalian yakin? Gue sih ngga apa-apa.”
“Hm... Kalau dibagi 4 jadi X ribu ya? Ya juga sih masa ke keponakan pertama cuma ngasih segitu.” Jawab Anggi
“Pas sampai bogor kita mampir dulu aja ke toko perlengkapan bayi buat beli kado.” Saran gue
“Gue juga rencananya gitu kok.” Sahut Dii
Anggi kembali membuka mulut “Si Tomi rumahnya di Bogor kan? Suruh nyusul gih ke rumah Fairuz. Eh, Biar gue aja yang ngabarin”
Alhamdulillah, Tomi mengiyakan ajakan ke rumah Fairuz dan kami pun janjian untuk bertemu di rumah Fairuz.


Alhamdulillah lagi tolnya ngga macet, jam 9.13 kami sudah keluar tol. Kemudian kami berempat mampir dulu ke Toko Perlengkapan Bayi. Ternyata memilih kado di toko perlengkapan bayi membuat kami kebingungan karena terlalu banyak pilihan. Kami sempat lama memilih.
Tokonya baik lho biaya bungkus kadonya gratis dan dikasih kartu ucapan juga.
“Tulis apa di kartu ucapan?” tanya Anggi
“Barakallah aja” usul gue
“Loe aja gih Han yang nulis.” Pinta Anggi
Aku menulis sambil membunyikan kata-kata yang kutulis “Barakallah Fairuz atas kelahiran Muhammad. Semoga Muhammad jadi anak sholeh,... apa lagi nih?”
“Han, itu nulis Muhammadnya double n?” tanya Fauzi
Err.. sebenarnya gue ngga tahu tapi gue berasumsi begitu. Gue belum menjelaskan Anggi menjawab “Udah percaya aja, Hana yang lebih tahu.”
Gue cuma nyegir. “Jadi mau ditambah apa?”
“Rajin mengaji”
“Rajin menabung”
“Berbakti pada orang tua”
“Hapal Quran”
“Sebenarnya jadi anak sholeh udah lengkap, ngga perlu lagi tulis rajin mengaji, berbakti pada orang tua.” Saran Fauzi.
“Gpp. Biar kartu ucapannya penuh. O ia, tulis semoga Muhammad masuk BWB, jadi Ketua BEM” gue menambahkan
Anggi nyeletuk “Visioner banget doa loe, Han”

Eh itu doanya visioner?! O_O
Sebenarnya Hana Cuma ngikutin kebiasaan senior-senior di SALAM UI, kalau ada yang melahirkan, bayinya didoakan jadi pemimpin atau ketua SALAM. Berhubung konteksnya ini BWB, ya doanya masuk BWB dan jadi Ketua BEM.

Selesai berbelanja kado untuk Muhammad,
“Eh mampir dulu buat beli roti unyil ngga apa-apa?” tanya Dii
“Ngga apa-apa” jawab kami
Pas sampai ke tempat roti unyil ternyata antriannya mengular panjang,
Dii pun membatalkan keinginannya.
Saat berjalan ke parkiran mobil, Dii cerita kalau dia ngidam roti unyil ini sudah lama tapi ternyata antriannya panjang, takutnya jika dia beli roti, kami datang ke rumah Fairuz lebih siang dari rencana.
Hana menyarankan Dii untuk tetap membeli roti unyil meski antriannya panjang. Daripada nanti kepikiran. Mumpung lagi di tempatnya juga.
Dii pun akhirnya memilih untuk membeli roti unyil.
Jadi kami kembali lagi ke toko roti unyil dan ikut antrian. Setengah jam kemudian kami keluar toko dengan membawa dua kotak berisi roti unyil :D
Niatnya jam 10 pulang, ini jam 10 baru selesai belanja dan belum sampai ke rumah Fairuz.
Hehehe

Di group WA BWB 2010, Rara bertanya apakah kami sudah sampai rumah Fairuz dan minta update berita.
Hana membalas bahwa kami sudah sampai Bogor tapi belum sampai rumah Fairuz.

Ternyata perjalanan ke rumah Fairuz tidak semulus yang kami kira. Kami merasa tidak yakin karena petunjuknya cukup umum sehingga kami bertanya-tanya apakah kami salah tafsir.
Fairuz memberi petunjuk berupa patokan jalan, bukan share location google maps.
Dii memintaku menghubungi Fairuz untuk share location tapi aku kesulitan menghubungi Fairuz. Hpnya tidak aktif. Last seen di WAnya juga satu setengah jam yang lalu. Mungkin HPnya sedang dicharge atau kesulitan memegang handphone karena sedang mengurus bayi Muhammad.

Aku dan Anggi jadi ingat kejadian waktu BWB 2010 melayat ke rumah Fairuz ketika ayahnya meninggal. Kami sempat salah masuk rumah. Saat tiba di area perumahan Fairuz, kami melihat bendera kuning di rumah tersebut sehingga kami mengira itu rumah Fairuz. Mana kami tahu saat itu kalau tetangga Fairuz meninggal juga. Kami masuk dan mengucapkan belasungkawa. Kami bahkan sempat disuguhi minum dan tuan rumah mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami. Kemudian kami bertanya “Maaf Ibu, Fairuznya mana?”. Tuan rumah bingung dengan pertanyaan kami, kami pun mengulangi jawaban “Maaf Ibu, Fairuznya mana? Kami teman-teman Fairuz”. Alhamdulillahnya Bibi Fairuz kebetulan sedang ada disitu, dia sepertinya mendengar pembicaran kami dengan tuan rumah, dan kemudian menunjukkan arah dan membawa kami ke rumah Fairuz. Alhamdulillah!

Dii tertawa terbahak-bahak saat mendengar ceritaku dan Anggi mengenai peristiwa nyasar kami.

Setibanya di lokasi yang menurut kami itu adalah lokasi dekat rumah Fairuz, Dii memarkirkan mobilnya. Kami turun dan kemudian bertanya kepada seorang Bapak “Dimana rumah Fairuz?” , Bapak tersebut mengarahkan kami pada rumah seorang Bapak yang merupakan saudara Fairuz. Alhamdulillah! Saat itu aku berpikiran kami akan kembali ditolong saudaranya Fairuz. Bapak tersebut membawa kami ke depan rumah warna orange. Aku mengucapkan Assalamualaikum tapi tidak ada jawaban. Tetangganya bilang Fairuz sedang pergi, tidak ada di rumah.

Aku merasa aneh. Kami memberi tahu Fairuz bahwa kami akan datang, kurasa dia seharusnya tidak pergi.

Kami pun mendekati tetangga Fairuz untuk bertanya lebih lanjut. Bapak tersebut menjawab kalau yang bernama Fairuz itu banyak. Kami mencari Fairuz bin apa..
O_O
Gue ngga tahu nama Ayahnya Fairuz.
Anggi menjawab Fairuz binti Thalib.
Ternyata rumah Fairuz yang ditunjuk adalah seorang lelaki sementara teman kami yang bernama Fairuz adalah perempuan.

Aku mencoba menelpon Fairuz, meminta petunjuk dan berharap dia bisa menjemput kami. Fairuz bertanya kami ada dimana tapi kami tidak yakin dengan lokasi keberadaan kami sehingga Fairuz memberi tahu bahwa rumahnya dekat masjid putih dan meminta kami mencari masjid tsb.
Tetangga Fairuz memberi tahu bahwa di ujung gang ada masjid putih yang lain.
Kami hendak ke sana tapi kemudian kami teringat di jalan besar yang kami lewati juga tadi ada masjid putih. Atau justru masjid itu yang dimaksud?

Kami pun keluar gang dan mencari orang yang dapat ditanya mengenai keberadaan masjid tersebut.
Kami bertanya ke penjual makanan. Dia malah bertanya balik “Masjid yang kami maksud habibnya siapa? Daerahnya timur apa barat?”

Aku melongo. Bukannya mendapat pencerahan, kami malah tambah bingung.
Seorang Bapak datang hendak membantu kami. Dia menjelaskan bahwa dia sering mengadakan acara di masjid dan kemudian dia bertanya apakah masjid yang kami maksud masjid habib X? Dia kemudian mengajukan serentatan pertanyaan spesifik lainnya yang membuat kami makin bingung.
Informasi yang kami miliki umum tapi mendapat pertanyaan spesifik.
Itu pertama kalinya aku kesulitan mencari mesjid.

Anggi pun akhirnya memotong pertanyaan Bapak tersebut dan menjawab “Kami tidak tahu,Pak. Tapi sepertinya masjid yang kami cari bukan masjid yang ini. Kami akan mencoba ke mesjid yang diujung gang.”
Kami pun berpamitan pada Bapak tersebut dan Bapak tersebut mendoakan semoga kami menemukan masjid yang kami cari “Insya Allah ketemu” sahutnya.
Kami mengucapkan terima kasih dan mengaminkan doa Bapak tsb.

Ternyata rumah Fairuz dekat masjid yang diujung gang. Alhamdulillah akhirnya sampai juga.
Kami memberi tahu Tomi bahwa kami sudah tiba di rumah Fairuz. 
Sepuluh menit kemudian, Tomi ikut bergabung bersama kami. :)
Ternyata Fairuz baru pindah rumah sehingga dia juga tidak hapal jalan ke sini.

Fairuz dan Ibunya menyuguhi kami dengan banyak makanan. :9
Alhamdulillah :D

Muhammad lucu sekali ternyata..
Dia mau digendong siapa saja.
Bahkan ketika kami ngobrol dan tertawa terbahak-bahak, bukannya menangis, Muhammad malah tertidur.
:O
Baru nemu bayi model gini, seringnya nemu bayi yang kalau denger suara keras nangis.
Yang jelas hari ini hari yang menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman BWB yang lain dan bertukar kabar :D
I had fun!

Alhamdulillah

Sebelum pulang, kami sempat foto-foto terlebih dahulu.

Hana, Fairuz, Anggi gendong Muhammad, Dii, Fauzi dan Tomi

Post Signature

Post Signature