Top Social

Tampilkan postingan dengan label father. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label father. Tampilkan semua postingan

Pilihan Allah

|
Beberapa waktu lalu aku teringat percakapanku dengan seorang teman saat aku duduk di bangku SMP. Aku melihatnya sering menghabiskan waktu berdua dengan sahabatnya meski sahabatnya tidak lagi satu kelas dengannya. 
Aku bertanya apa yang dia sukai dari sahabatnya.
Dia menjawab “Dia dan aku suka mengkhayal. Kami sering mengkhayal bersama-sama. Misalnya kami pernah mengkhayal kalau kami sebenarnya bukanlah anak kandung orang tua kami. Aku adalah anak hilang dari pasangan kaya dan dia adalah putri yang hilang dari sebuah kerajaan.”

Mulutku menganga mendengarnya. 
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
I mean jika aku sedang merasa kesal atau marah pada orang tuaku, aku menekan perasaan tersebut.  Tidak pernah sedetikpun terlintas di benakku berandai-andai kalau orangtuaku bukan orang tua yag sekarang.
Aku merasa hal tersebut tidak pantas, membuaku merasa bersalah dan jika melakukannya akan jadi anak durhaka.
Tapi kemarahan tersebut jadi kemarahan terpendam, kadang tanpa kusadari aku jutek sama orang tuaku atau aku malas pulang ke rumah.

Tapi.. jawaban temanku tersebut menyadarkanku pada satu hal:
Allah Maha Kuasa, 
Dia bisa saja memberiku orang tua lain, 
keluarga lain, 
tapi tidak. 
Allah memberiku orang tua yang sekarang.

Ketika aku merasa kesal dengan perilaku orang tuaku, kenapa orang tuaku begini, kenapa begitu. 
Aku ingat kembali bahwa mereka adalah pilihan Allah untukku. 
Aku percaya Allah selalu memberi yang terbaik bagi hambaNya & lagipula Allah Maha Mengetahui, Allah lebih tahu yang cocok untukku.
Aku seharusnya bersabar, bukannya menahan marah ataupun kesal.

Astagfirullah. Maafkan hambaMu ini yang tidak pandai bersyukur.
Maaf karena pernah marah dengan ketetapanMu.


“Ya Tuhanku,
 berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”
(QS An Naml: 19)

Image Courtesy of towbar / 6 images at pixabay.com

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 yang berlangsung sejak 1 Juni hingga 30 Juni 2015

Hadiah

|
Seorang anak tidak bisa memilih lahir dari ibu seperti apa. Tapi jikapun Allah memberiku kesempatan untuk memilih, aku akan tetap memilih umiku (panggilanku untuk Ibu) sebagai ibuku. Bagiku beliau adalah hadiah terindah dari Allah. Ibuku adalah sosok yang menginspirasiku dan menjadi motivasiku untuk tidak menyerah pada keadaan.

Image courtesy of Master isolated images at FreeDigitalPhotos.net

Tahun 1995, bisnis usaha Abi (panggilanku untuk ayah) di Tegal bangkrut dan rumah kami disita. Kami sekeluarga pindah ke rumah Kakek di Karawang. Abi bilang kami akan pindah untuk sementara, tapi ternyata kami tidak tinggal untuk sementara. Aku tidak mengerti kenapa tapi Abi tidak juga mendapatkan pekerjaan atau memulai usaha.

Aku ingat saat itu saking tidak ada uangnya dan adik perempuanku memey jatuh sakit, Umi pun terpaksa menjual cincin nikahnya.  Cincin nikah Abi sudah lebih dulu dijual untuk kebutuhan yang lain.

Temanku bilang bukan tugas seorang anak untuk memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak, tapi aku tahu kondisi keluargaku dan saat kecil aku sering mengkhawatirkan apakah aku bisa makan atau tidak. Aku tahu Umi dan Abi bertengkar saat mengira kami sedang tidur. Aku sebenarnya tidak tidur dan mendengar pertengkaran tersebut, aku cuma bisa menangis. Ada saat dimana ketika mendengar pertengkaran mereka, aku mengira mungkin lebih baik aku tidak dilahirkan sehingga tidak menjadi beban kedua orang tuaku. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku harus sukses dan punya banyak uang mungkin pertengkaran orang tuaku akan berhenti.

Abiku bekerja serabutan menjual majalah, tidur dari masjid ke masjid di Bandung dan jarang pulang. “Setiap keluarga diberi ujian. Ada yang diuji dengan harta, anak yang bermasalah, pasangan, kesehatan dan lain-lain. Alhamdulillah Umi bersyukur dianugerahi anak yang sehat, pinter dan nurut. Dan sepertinya ujian umi adalah suami.” Ujar beliau.  Uang penghasilan abi tidaklah cukup mengingat kebutuhan aku dan adik-adiku makin banyak menginjak usia masuk sekolah, akhirnya Umilah yang pergi bekerja. Awalnya, Umi bekerja menjadi guru honorer di STM Tekmako.  Hal yang aku kagumi adalah meski bekerja, Umi tetap memasak,mengurus rumah, dan mengajari aku dan adik-adikku belajar.

Alhamdulillah saat 2004, Umi ikut tes CPNS dan lolos menjadi guru Bahasa Indonesia di MAN Subang. Semenjak itu, Umi pulang pergi Karawang-Subang. Aku tidak tahu umi dapat kekuatan dari mana. Umi memulai harinya pukul 4, memandikan kakekku, memasak, menyiapkan seragamku, baru berangkat ke Subang. Meski perjalan Karawang-Subang memakan waktu 4 jam, tapi saat pulang ke rumah, Umiku masih sanggup mengajariku dan mendengarkan cerita keseharianku di sekolah.

Umiku sering melihat sisi positif dari masalah. Umiku tidak menyesali bisnis Abi bangkrut. Umi bilang mungkin itu teguran dari Allah karena saat bisnis abi berjalan baik, umi dan Abi jadi lalai shalat. Selain itu, Allah mengingatkan bahwa kekayaan itu titipan sementara, yang bisa diambil sewaktu-waktu, apalagi jika tidak bisa menggunakan titipan tersebut dengan baik.

Kalau aku jadi Umi sepertinya aku tidak akan sanggup bertahan. Aku mungkin ambruk dan ingin bunuh diri dari awal.  Ngomong-ngomong soal ambruk, Umiku akhirnya ambruk juga setelah dua tahun menjalani pulang-pergi Karawang-Subang. Beliau jatuh pingsan di kamar mandi dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Saat itu, aku sangat ketakutan akan kehilangan Umi.  Aku berdoa agar Allah menyelematkan Umi dan aku bilang aku berjanji akan jadi anak yang baik. Alhamdulillah Allah mendengar doaku, Umi selamat dan beliau masih hidup sampai sekarang. Akibat ambruk beliau, Umi pun berusaha mengurus mutasi dari MAN Subang ke MAN Karawang. Alhamdulillah proses mutasi berjalan lancar. Saat ini Umiku mengajar di MAN Karawang.

Saat akhirnya Umi bercerai dari Abi pun,  Umi tidak menyesal pernah menikah dengan Abi. Umi bilang kalau tidak menikah dengan Abi, mungkin umi tidak akan memiliki kami bertiga, aku, adikku Huang dan Memey. Dan Kalian tahu apa? Umi menikah dengan Abi melalui ta’aruf, tapi beliau tidak kapok untuk ta’aruf lagi. Padahal aku sempat berpikir bahwa pernikahan mereka gagal karena menikah melalui ta’aruf, mungkin mereka kurang benar-benar mengenal dan tidak saling mencintai. Saat ini, umiku sudah menikah lagi dengan Ayah Tiriku dan mereka menikah melalui ta’aruf.Kulihat mereka bahagia dan pernikahan mereka mengajariku untuk tetap optimis memandang pernikahan dan ta’aruf.

Umiku juga merupakan sahabatku. Aku sering cerita tentang masalahku pada beliau. Beliau pendengar yang baik. Beliau sering bertanya agar bisa memahami duniaku, seperti ikut buat akun email, facebook, dan twitter.  Beliau tidak menggurui, alih-alih bilang jangan pacaran, beliau bertanya padaku apa keuntungan pacaran dan apa kekurangannya, dan silahkan tentukan sendiri.

Hal yang aneh dari Umi adalah beliau terlalu percaya padaku. Ada juga saat aku mulai kecanduan HP,HP sulit lepas dari genggamanku dan mengganggu konsentrasi belajarku . Teman-temanku yang mengalami hal yang sama, HPnya disita oleh orang tua mereka, sementara umi cuma bilang “Kalau mau pinter dan sukses, ya belajar, kalau ngga mau ya udah, kan yang nanggung resikonya jeje (aku dipanggil jeje di rumah) sendiri.”
Aku bengong tidak percaya dan bertanya “Jadi umi ngga bakal sita HP Jeje?”
 “Ngga. Taruh aja Hpnya di samping jeje, terus buka buku belajar. Jeje bisa kok.”

Pernah juga aku meminta izin untuk pergi malam untuk kursus GO dan kursus bahasa Inggris di CEL dengan teman lelakiku, beliau mengizinkan. Beliau bisa saja mencurigaiku berbohong, tapi tidak. Emang aku tidak bohong juga sih tapi teman-teman perempuanku yang lain ditentang oleh orang tua mereka untuk pergi malam-malam, apalagi perginya sama temen lelaki sehingga aku sering jadi perempuan satu-satunya di kelas kalau ada kursus mendadak atau tambahan yang jadwalnya malam.

Melihat Umi yang hebat, aku skeptis bisakah aku menjadi ibu yang baik seperti Umi. Aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding Umiku. Saat kuutarakan hal tersebut, Umi bilang “Tahu ngga? Umi bisa kayak sekarang karena belajar Umi ngga langsung jago, dulu Umi ngga bisa apa-apa, ngga bisa masak, ngga bisa gendong bayi, dan lain-lain. Umi belajar pelan-pelan saat menikah. Umi yakin jeje juga pasti bisa.”
Mendengar hal tersebut, aku jadi ingat saat masih aku masih kecil, masakan Umi sering kali keasinan. Kalau sekarang? Well, masih sering keasinan juga. Hahaha. Tapi itu tidak seberapa dibading kebaikan dan usaha Umi selama ini. 

Amin. Semoga aku bisa jadi ibu hebat seperti Umi.
Jazakillah khair, Umi.
Alhamdulillah terima kasih telah menghadiahiku Umi sebagai ibuku, ya Allah.

"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”


My First Day at Work and Three Investigators

|


Alhamdulillah :D

I started  working in SWA Magazine as Research Executive on 4th August

On my first day, I was very nervous and anxious.
I did not have a good night sleep, I woke up several times
Plus I got flu and it made feel uncomfortable
When I try to take picture of me on first day of work, I shocked that I found my self frowned
(Oh no! I delete it instantly)
I don't want to be remembered as rude at first day at work (since I believe first impression matter)
It also made me realize I am still have to learn to control my emotion
Some people asked me my last employment and It made me wander "Did I not look like fresh grad? Did I look old?" Hope not.


Fortunately, the HR, Mba Rifka is really nice, she often initiates talk, and smile  :) She was the one who accompany me during human resources tours, I met a lot people, but also forgot most of them when I got home ( I regret did not write them in notes as soon the tours end)

I also told by Mba Rifka that the research department and library are in the same place. I think it is great. I will be surrounded by books \(^o^)/
(actually when I did intern at Indian embassy, my work area is surrounded with books also). I am really lucky!

When I looked at it, the place is so quiet and gave old and unfriendly feeling
Maybe because only few people in. Only two staff (Mas Armi and Mas Rizki) came to work, the rest was still on Eid leave. They were welcoming me but the I feel awkward.
Then I realized I did not what to do at my first day at work so I google it, then found  19 Things You Should Do On Your First Day Of Work ,  10 Tips for Your First Day of Work , and How to have a good first day at work .
After reading that, I started the to pick up line by asking how they first day at work.
Mas Rizki said that he did not get assignment at first day at work
Mas Armi told me to take it slow and can use the computer and the internet

Later, after lunch break, I was told by Mas Rizki that I have an assignment to update list as introduction.
When I worked on it, my flu seemed get worse, I felt shortness of breath and eye irritation so I stopped for awhile.
Somehow it made stressed, but Alhamdulillah I got really good news.
ヾ(@°▽°@)ノ
It made my day  ヾ(@°▽°@)ノ 
I found out that Gramedia republished Three Investigator Series (((o(*゚▽゚*)o))
Three Investigator #1
Three Investigator #2
Three Investigator #3
Three Investigator #4 
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
I love Three Investigator!
Abi (my dad) gave me the 9th book "The Mystery of the Screaming Clock" four years ago and I fell in love instantly and want to buy the rest but I found it published on 1980s. 
I want to buy the republished edition but I remembered that I promised my mom that I will not buy any book for this month 
then I remembered that I have a wish that if I get married I want my future husband gave a complete series Three Investigator as "mahar"
I took this republish as a good sign :D
I mean if Gramedia did not republish Three Investigator Series, it will be hard request from me to my future husband (whoever you are) to find Three Investigator Series, and as far as I know, mahar have to easy to find.
Thankfully, Gramedia republished Three Investigator Series so my wish can come true
(or maybe next month I will try persuade my mom to allow me to buy books again)
Alhamdulillah! Thank you Allah! Thank you Gramedia! “ヽ(´▽`)ノ”

Baca versi Indonesianya disini

Mulligan, The Second Chance

|
Mulligan in a golf game, happens when a player gets a second chance to perform a certain move or action. The practice is also sometimes referred to as a "do-over."




I hated Abi (father) because to me he was not a good father

My father is not perfect , he did not work like other fathers , did not care, did not play with his children , rarely present ( as it does not matter ) , and many others

Until one day I discovered my father fell ill
that moment I realized , I hate him because I love him
I have a lot of hope and expectation to him , but a lot of them did not come true
leaving  my disappointment piled , I did not forgive him and then it turned into hatred

Then one day, I read  Tere Liye's facebook status
 "We can not choose our parents , can not choose born from a wealthy family , king , handsome - beautiful parents and etc. But it does not mean we can not choose to be grateful at this time. There is always a reason why we live this way. And if we do not understand , then it does not mean God is not fair .- Tere Liye , the novel " Rembulan Tenggelam Di Wajahmu " 
After I read the facebook status, I am aware of one thing : our parents are God's destiny and choice. 
God knows the best for us. God can not be wrong in choosing our parents.
The best and most suitable father for me by God is abi.

I thought I would give it a second chance and try to forgive Abi.
I try to look my father’s positive side so I can see him in positive light.
The things that I admire about my father are he is diligent in prayer (he pray 5 times a day), read quran diligently, often go to the mosque , choose a good mother to her children ( umiku ), he remained in Islam , he was not drunk, alcoholic, gambler , smoker neither do domestic violence

I guess if my dad is perfect, I might have loved him so much and maybe I 'll love him so much and it exceeds my love of God
"A father could be God for his children when all affairs met with ease. Without a struggle . " - Yusuf Mansur .. "

When I think I gave my dad a second chance, God remind me quite politely.
He reminds me of the command that the child should be devote (honour and obey) to both parents. The command is not saying "devote to your parents if your parents are kind to you."
No!
The command does not imply any order requirements / criteria that must be adhered to parents. 
The command is telling me as a child to serve/devote to parent, however the condition of the parents. 

Even in Islam , if our parents are non Muslim, the obligation to honour and obey their parents remain as the obligation of a child, as long as the parents do not make the child disobey Allah and do  things that are contrary to Islam.

I suddenly embarrassed. I was arrogant. Astagfirullah!
I thought when I gave my dad a second chance to be a good father ,my father should thank me.
It turns out I was wrong.  I am the one who should be thankful because God gave me a second chance to be a dutiful daughter to my parents.
thank you very much , O God
: ' D

Another important lesson is when I am trying forgive my father, I am also trying heal my wound and forgiving my self.

Bismillahirrahmanirrahim
"... But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

video with similar message:




baca versi bahasa indonesia, disini

Father

|



When I heard my mother will get married again, I'm skeptical.
I know second marriages are more vulnerable than the first marriage
because each person thinks they have learned from their mistakes,
 but in fact is not necessarily true,
 the same problem can or will reappear.

Besides, I'm afraid I can not adapt well.
Father figure is rarely present in my life, 
what will I feel when suddenly there is a strange man who would show up every day to be my father? 
From what I heard,  my prospective father has 4 children.
 How will I adapt to my new four siblings?
 What will I call them?
Will am I no longer the first child?
There are many questions running in my mind that scared me and made me anxious.
Unfortunately, between my brother and sister, I am the only one who opposed  this marriage.
I even cried in front of my mom, but my mom said "Je, everyone has already agreed. Only you are not. "
I did not believe it when I heard that. Did my siblings not worry like me?
I mean a man and four new sibling will be a big change in life, right?
I can not imagine adaptation process! It will be hard! I presume

My brother, Huang said "What’s the problem, Je? Don’t shut yourself! Be more open! Why not try it once?"
Nia, my bestie, said I am worried because I am the first child and I feel responsible as head of the family if the marriage fails.
Maybe.. It sounds logical to me.

Do you know what?
The marriage turns out okay, not scary.
My step dad is a realistic person.
My family did not move to Jakarta (my step father come from Jakarta) and his family did not move to Karawang.
The new family had not stayed under the same roof. We live apart.
He comes to Karawang every weekend, it made the adaptation process easier for me, because it is not sudden and big changes. 
I and my siblings do not have to call him father/abi, we can call him, Om yul.
His children also call my mom, aunt Ema. 
The best part is that I was not forced to meet with my step siblings.
The second marriage turns out fine, the change was not as drastic and as difficult as I feared
Alhamdulillah : D


And now, a year has passed. I think it's time that I started to change my stepdad nickname.
Yes, a few days ago, I started calling him Dad, not Om yul anymore.
My tongue is still numb and sometimes, I forget and call him Om Yul again.  

But I am going to change, to be better :D



baca versi Indonesianya, disini.

Post Signature

Post Signature