Top Social

Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Tak Terbayangkan

|
Tidak pernah terbayang sekalipun di benakku bahwa aku akan bekerja di majalah bisnis setelah lulus kuliah. Beberapa temanku pun bertanya hal yang sama, bagaimana aku yang lulusan psikologi ini masuk majalah bisnis. Aku pernah membayangkan diriku bekerja di media, tapi di salah satu koran besar ternama di Indonesia, di majalah remaja putri atau justru majalah wanita islami. Bahkan aku baru tahu keberadaan majalah ini karena lowongan kerja yang kulamar dan aku pertama kali membacanya saat duduk di lobi kantor majalah SWA menunggu panggilan wawancara. Hahahaa
Ajaibnya aku diterima di sini!
Alhamdulillah. \(^0^)/


Masuk dunia pasca kampus membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar rencana dan di luar kendaliku. I mean kalau di kampus, hal-hal lebih mudah diprediksi, seperti kalau ingin dapat nilai bagus ya belajar yang rajin dan benar. Biasanya melencengnya pun tidak terlalu jauh, aku masih dapat nilai yang cukup baik.
Tapi di dunia paska kampus, usaha, rencana dan prediksiku banyak yang melenceng. Awalnya aku terkaget-kaget dan mudah merasa sedih. Tapi kemudian aku tersadar bahwa aku sepertinya masih terlalu mengandalkandiriku sendiri. Aku harus belajar mengandalkan Allah, menyeimbangkan doa dan usaha.

Dan kalian tahu apa? Bekerja di SWA membuatku makin percaya bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur. Aku merasa ritme kerja majalah dwi mingguan ini cocok denganku. Aku juga dianugerahi rekan-rekan kerja yang baik. Aku bersyukur aku bisa bekerja di tempat yang memiliki nilai yang sama denganku. Aku kurang suka membaca berita atau tulisan yang setelah memaparkan masalah tapi tidak memberi solusi atau membuatku merasa pesimis.  Untungnya, Jurnalisme yang dianut SWA itu adalah jurnalisme positif, jurnalisme yang berusaha menggali hikmah dan menghembuskan optimisme.

Salah seorang temanku bilang kalau yang dilakukan majalah SWA adalah menjual mimpi. Kurasa dia ada benarnya. Biasanya yang kurasakan setelah membaca SWA adalah kagum, merasa “hei dia bisa lho, kenapa aku tidak? Aku juga pasti bisa”. Aku juga belajar ada berbagai cara dalam meraih mimpi, dan selama kau tahu apa yang kau inginkan, go for it! Terlepas orang bilang kau tidak cocok, kondisimu ngga mendukung dan segudang alasan yang bilang mimpimu ngga mungkin. Berusahalah yang terbaik.

Tapi kalau menurut Pak Kemal, pemimpun umum, bahwa yang Majalah SWA jual adalah knowledge karena sekarang SWA menyediakan hasil reportase dan riset dalam berbagai bentuk, mulai dari media, seminar, pelatihan.

By the way, tanggal 16 April lalu, majalah SWA berulang tahun ke-30 dan aku berkesempatan nonton Fast Furious 7 dan dapet snack gratis dari majalah SWA. Kalian tahu, awalnya aku berencana membujuk panitia ulang tahun majalah SWA agar memberiku  tempat duduk di baris D/E karena aku tidak tahu kalau panitia sudah menentukan tempat duduk. Kupikir aku bisa memilih dan ternyata meski tempat duduknya dipilih oleh panitia, alhamdulillah aku dapet posisi yang enak.


Aku dapet posisi di baris A.  Tidak pernah terbayang dibenakku kalau aku akan dapet posisi di baris A, habis selama ini kalau pergi ke bioskop pas beli tiket, posisi itu udah penuh mulu.
Aku terharu. Allah baik banget :')

Hidupku mungkin tidak berjalan sesuai yang kuharapkan atau yang kubayangkan, tapi sesuai yang Allah inginkan dan itu jauh lebih baik. \(^0^)/

Menikmati Pulang Pergi Kerja Naik Kereta

|
"Han, loe bolak balik ke tempat kerja naik kereta? Jadi pepes gitu? Gue sih ngga mau."
Gue cuma bisa ketawa ngedenger komentar temen gue soalnya pertama kali datang ke UI dan ngeliat kereta pas jam pulang kerja, gue juga berpikir hal yang sama.
Gue kira gue bakal ngga bisa pulang pergi kerja naik kereta. Ngebayangin rebutan masuk kereta di jam-jam sibuk dan berhimpit-himpitan di dalam gerbong.
Ngeliat aja udah stress apalagi ngalaminya.
Hihihi

Awal-awal pulang pergi naik kereta, badan gue remuk.
Apalagi kaki gue.
Tapi sekarang sih gue mulai terbiasa dan bisa bawa enjoy.
Dan ini berkat Allah yang telah membuat gue berprasangka baik padaNya.
La haula wala kuwata ila billah

Gue pernah baca kisah tentang seorang lelaki buta yang terjatuh ketika hendak menuju masjid
Keesokan harinya ada pria yang membantu memapahnya ke mesjid sehingga lelaki buta tsb tidak jatuh lagi.
Dan pria ini membantu lelaki buta ini setiap hari.
Sang lelaki buta ini pun bertanya pada lelaki yang membantu dirinya “Siapakah Anda? Saya ingin berterima kasih.”
Sang lelaki tersebut menjawab bahwa dirinya adalah setan dan betapa terkejutnya sang lelaki buta ketika mendengarnya
“Kalau kau setan, mengapa kau membantuku pergi ke masjid?”
“Dulu waktu kau hendak pergi ke mesjid, kau pernah terjatuh dan karena itu Allah mengampuni setengah dosamu. Aku takut jika kau kembali terjatuh, Allah akan mengampuni seluruh dosamu atau lebih baik dari itu”.
Cerita tersebut mengingatkan ku pada hadits:
Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.
 (HR. Ath-Thabrani)

Kalian tahu? Sekarang tiap kali aku masuk kereta ataupun turun kereta dan mendapati diriku kesakitan atau kecapaian, aku menganggap ini sebagai mekanisme pembersihan dosa (amin semoga saja).
Aku tidak tahu apakah Allah membersihkan dosaku atau tidak.
Tapi anggap saja aku memilih berprasangka baik padaNya.
Jikapun tidak, aku tahu aku tidak pernah kecewa dalam berharap padaNya.
Setidaknya aku sekarang selalu tersenyum saat naik dan turun kereta.
Alhamdulillah.
Allah memang baik. :)



Post ini harusnya gue post waktu 2014 lalu tapi lupa karena tertimbun dalam komputer, hahaha.
Soalnya sekarang gue udah kost di dekat tempat kerja, jadi alhamdulillah ngga perlu pulang-pergi naik kereta.
Semoga post ini bisa menghibur atau menyemangati yang masih pulang pergi kerja naik kereta.
Semangat :D Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. :D

Image Courtesy of @musliMagnet



Hard to say Good bye

|
Beside Mba Asri, one of my co worker has left Research SWA and did not say good bye.
I and my co workers wonder why she did not say good bye.
Did we do something wrong to her?
Then at the last day Mba Asri at SWA, my co workers Rizki said to her that he hated separation and say goodbye

Suddenly, It occurs to me that maybe my co worker who left without said good bye actually felt that it is hard to say good bye so she did not do it.

I also remember story about Umar and Ali. Ali once complained Umar's behavior to Rasulullah PBUH. He wonder why Umar never said "Assalamu'alalikum" to him whenever they met. Ali, think that Umar hated him.
Then Rasulullah PBUH called Umar and asked his explanation about Ali's complain. Umar said that He heard that the one who said Assalamu'alaikum first to his brother is the one who have more reward (good deed), so Umar did not said Assalamu'alaikum first because He wants Ali to have opportunity to become the first one who said Assalamu'alaikum.

This is wonderful story how beautiful the brotherhood of prophet's companions. We learn that sometimes things not the way they seems, things that look bad from our perspectives do not mean they bad. We have to find out more and have positive thinking.

And maybe my co workers just felt hard to say good bye. I better try to find out. Wish me luck! :D



There is always something to look forward to. In pain, look forward to healing. In hardship, look forward to ease. And in separation, look forward to reunion. Allah has promised the believers all these things.
Yasmin Mogahed


Mau baca dalam bahasa Indonesia? Klik disini.

My First Day at Work and Three Investigators

|


Alhamdulillah :D

I started  working in SWA Magazine as Research Executive on 4th August

On my first day, I was very nervous and anxious.
I did not have a good night sleep, I woke up several times
Plus I got flu and it made feel uncomfortable
When I try to take picture of me on first day of work, I shocked that I found my self frowned
(Oh no! I delete it instantly)
I don't want to be remembered as rude at first day at work (since I believe first impression matter)
It also made me realize I am still have to learn to control my emotion
Some people asked me my last employment and It made me wander "Did I not look like fresh grad? Did I look old?" Hope not.


Fortunately, the HR, Mba Rifka is really nice, she often initiates talk, and smile  :) She was the one who accompany me during human resources tours, I met a lot people, but also forgot most of them when I got home ( I regret did not write them in notes as soon the tours end)

I also told by Mba Rifka that the research department and library are in the same place. I think it is great. I will be surrounded by books \(^o^)/
(actually when I did intern at Indian embassy, my work area is surrounded with books also). I am really lucky!

When I looked at it, the place is so quiet and gave old and unfriendly feeling
Maybe because only few people in. Only two staff (Mas Armi and Mas Rizki) came to work, the rest was still on Eid leave. They were welcoming me but the I feel awkward.
Then I realized I did not what to do at my first day at work so I google it, then found  19 Things You Should Do On Your First Day Of Work 10 Tips for Your First Day of Work , and How to have a good first day at work .
After reading that, I started the to pick up line by asking how they first day at work.
Mas Rizki said that he did not get assignment at first day at work
Mas Armi told me to take it slow and can use the computer and the internet

Later, after lunch break, I was told by Mas Rizki that I have an assignment to update list as introduction.
When I worked on it, my flu seemed get worse, I felt shortness of breath and eye irritation so I stopped for awhile.
Somehow it made stressed, but Alhamdulillah I got really good news.
ヾ(@°▽°@)ノ
It made my day  ヾ(@°▽°@)ノ 
I found out that Gramedia republished Three Investigator Series (((o(*゚▽゚*)o))
Three Investigator #1
Three Investigator #2
Three Investigator #3
Three Investigator #4 
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
(((o(*゚▽゚*)o)))
I love Three Investigator!
Abi (my dad) gave me the 9th book "The Mystery of the Screaming Clock" four years ago and I fell in love instantly and want to buy the rest but I found it published on 1980s. 
I want to buy the republished edition but I remembered that I promised my mom that I will not buy any book for this month 
then I remembered that I have a wish that if I get married I want my future husband gave a complete series Three Investigator as "mahar"
I took this republish as a good sign :D
I mean if Gramedia did not republish Three Investigator Series, it will be hard request from me to my future husband (whoever you are) to find Three Investigator Series, and as far as I know, mahar have to easy to find.
Thankfully, Gramedia republished Three Investigator Series so my wish can come true
(or maybe next month I will try persuade my mom to allow me to buy books again)
Alhamdulillah! Thank you Allah! Thank you Gramedia! “ヽ(´▽`)ノ”

Baca versi Indonesianya disini

Restart

|
Three days ago, I read psychology today article entitled  Can a Rebound Relationship Be the Real Deal?”. The main point of the article is that we often think that after the break up, it is better to wait before starting a new relationship. But it is proved to be otherwise, it is better if we immediately start a new relationship after break up.

After read this article I suddenly remember a friend, she took a break after failed once in looking for a job . She feels she needs time to heal the disappointment. Unlike me, who still continue to look for when I fail. Somehow, i adapt better than her.

Read this article made me realize it turns out that relationship and looking for a job have similar mechanism
If you fail, just try again (restart) :)

To be honest, i took a break in my ta'aruf process, I assumed it is better for me to heal my wound then try again.
So when my murrabi, Kak Ran asked whether I want to start ta'aruf again
I answered “later”
hahahahah
aih... There are so many things that I have to learn
Wish me luck!

Fight! 
:D



baca versi bahasa Indonesia, disini.

Post Signature

Post Signature