Top Social

Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

Celebrating Failure

|

Happy Friday Good People ✨✨

I am really happy that weekend is near.  I can't wait another time for me to read ✨✨😊📖
Btw, I have read an inspiring article entitled "Billionaire CEO Sara Blakely Says These 7 Words Are the Best Career Advice She Ever Got" 

The article told us that during Sara Blakely's childhood, her father would sit her down at the dining room table and ask her the same question: "What did you fail at this week?" And when she told him, he high-fived her.

Every week growing up, her father made her reflect on something she'd failed at, then showed her that not only was she still loved after failing, but she was celebrated for it. Her dad taught her that failing simply just leads you to the next great thing.

I really love this article. I used to believe that I only will be loved if I am perfect/get all A on my report card. I was even thinking to kill myself for the bad score/grade that I got. Now, I knew that I did not need to be perfect/get all A on my report to be love. Failure is not the end of me or my world. It is part of the process. It is part of life. Something that I have to go through. I like this article's message because it is aligned with I have learned in life and I even got parenting technique how to tell my children (if I become parent someday), that I still love them despite the failure they make 😊
.
.
Have great day for all of you.
Hope all is well 💕💕

Belajar Sabar dari Keluarga Ibrahim AS

|


Assalamualaikum Good people, do you miss me?
Maaf ya Hana hiatus ngeblog tapi tanpa pemberitahuan. Hehehe
Terima kasih banyak telah bersabar menanti postingan terbaru Hana :’)
Kebetulan banget kali ini Hana mau membahas topik “Sabar”

Beberapa waktu lalu Hana sadar betapa sabarnya keluarga Ibrahim AS. Selama ini, Hana mengasosiasikan sifat sabar dengan sifat para Nabi tapi I swallow it without really thinking what it means to be sabr/patience.
Ketika mengingat lagi kisah mereka, membuatku sadar betapa sabarnya mereka.

Misal Siti Hajar.
Waktu Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Padang Pasir yang tandus, pertanyaan yang terlontar dari Siti Hajar adalah “Apakah ini perintah Allah?”
Kalau Hana ditinggalkan oleh suami di padang pasir bersama bayi, kemungkinan besar Hana bakal bertanya “How could you do this to me?  You did not love me anymore?”
Drama banget ya gue...
Membandingkan jawaban diri sendiri dan Siti Hajar membuat Hana jadi sadar betapa sabar dan positif thinkingnya Siti Hajar.

Anaknya Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail AS juga keren. Setelah lama tidak bertemu dengan sang Ayah, Nabi Ibrahim AS, dia bisa tetap hormat dan berbakti kepada ayahnya.
Nabi ibrahim menceritakan mengenai mimpinya bahwa dalam mimpi tsb dia menyembelih Ismail.

Kalau gue di posisi Nabi Ismail AS, mungkin gue akan bilang gini “Ayah kemana aja selama ini? Pas datang bilang ingin menyembelih. Kok Ayah tega? Ayah jahat! Ayah ngga sayang sama aku.”
Tapi Nabi Ismail tidak menjawab seperti itu, beliau malah mejawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Masya Allah :”)

Aku tidak yakin apakah aku bisa melontarkan jawaban seperti itu.
Sabar banget ya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. 
Dari mereka, Hana belajar bahwa salah satu kunci bersabar adalah berprasangka baik pada Allah. Percaya bahwa sesulit apapun kelihatannya, ketetapan Allah adalah yang terbaik.


Marriage, not Dating Review

|



Judul: 연애 말고 결혼 / Marriage, Not Dating/ Marriage Without Love / Marriage Without Dating
Genre: Romance, Comedy, Family
Jumlah Episode: 16
Broadcast network: tvN
Production Company: IOK Media
Sutradara: Song Hyun Wook, Lee Jong Jae (이종재)
Penulis Naskah: Joo Hwa Mi (주화미)


Pemain

Han Groo sebagai Joo Jang Mi (29)
Yun Woo Jin sebagai Gong Ki Tae (33)
Huh Jung Min sebagai Lee Hoon Dong (33)
Jung Jin Woon sebagai Han Yeo Reum (28)
Han Sun Hwa sebagai Kang Se Ah (33)
Yoon So Hee sebagai Na Hyun Hee (24)



Joo-Jang Mi mengajak pacarnya, Lee Hon Dong menikah. Namun Lee Hon Dong yang merasa belum siap menikah, menolak lamaran Jang Mi dengan cara menghindarinya. Jang Mi yang tidak mengerti bahwa Hon Dong menolak dan memutuskannya, terus-terusan mengejar Hon Dong meminta penjelasan.

Hon Dong akhirnya meminta bantuan sahabatnya Gong Gi Tae untuk membantunya memutuskan Jang Mi. Ketika Gong Gie Tae sedang menjelaskan pada Jang Mi bahwa Hon Dong sebenarnya telah memutuskan Jang Mi dan tidak mau menikah, Ibu Gie Tae melihat adegan tersebut. Akan tetapi, beliau salah paham mengira Jang Mi adalah gadis yang mengejar-ngejar Gi Tae dan memaksanya untuk menikah. Ibu Gie  Tae mengundang Jang Mi untuk datang ke rumahnya.

Gong Gi Tae yang ingin hidup melajang dan yakin bahwa Jang Mi bukanlah tipe menantu idaman ibunya, akhirnya meminta tolong pada Jang Mi agar berpura-pura menjadi pacarnya agar terhindar dari tekanan untuk menikah.

Review:

Yesss!! it is another prentend lovers story!!! (^0^)/
Hore!!
Entah kenapa aku suka dengan cerita tentang dua orang yang berpura-pura menjadi pasangan dan kemudian jatuh cinta satu sama lain.

Kebohongan selalu jadi bahasan yang menarik dan kali ini Drama Korea Marriage, not Dating membahas hal tersebut.

Selama menonton drama ini, aku jadi berpikir dan bertanya sebenarnya bagaimana cara menolak/mengatakan tidak pada seseorang?

Menolak atau mengatakan tidak seringkali membuat kita merasa tidak enak sehingga akhirnya kita malah memilih menghindar dengan berbohong, alih-alih berhadapan tatap muka untuk bicara yang sejujurnya, bicara dari hati ke hati untuk menyelesaikan masalah.

Kita berpikir berbohong lebih baik demi menjaga perasaan orang lain. Selain itu, kita juga terhindar dari perasaan tidak enak karena menolak, reaksi marah orang lain dan konsekuensi tindakan kita.

Dalam drama ini, Hon Dong berpikir menghindar dan berbohong pada Jang Mi merupakan tindakan lebih baik dibanding berterus terang padanya mengatakan bahwa dia tidak mau menikah. Begitu pula, Gie Tae, alih jujur mengatakan ingin hidup melajang pada keluarganya, dia berpikir berpura-pura berpacaran dengan Jang Mi adalah solusi yang lebih baik.

Tapi apakah benar berbohong adalah pilihan yang lebih baik?

Cari tahu jawabannya dengan menonton drama ini ;)


Yang jelas aku suka sekali dengan drama ini!!! *loncat-loncat senang*


Aktor aktrisnya cantik dan cakep terus aktingnya bagus!!


OST enak didengar

Yang aku suka:  Ben (BeBe Mignon) - Stop the Love Now


 dan MAMAMOO - Love Lane




ada banyak adegan mengundang tawa (lucu)

Sumber: relatably.com


ada cerita dan pesan moral mengenai kebohongan, cinta, keluarga, pernikahan dan keinginan tampil sempurna di hadapan orang lain. 

Sumber: tumblr


Recommended untuk ditonton (tapi untuk 18 tahun ke atas ya)!! :D


Anime Recommendation: The Anthem of the Heart (2015)

|
Image source: imdb

Sinopsis:


Ketika Jun berada di sekolah dasar, Jun adalah sosok yang bawel dan sangat suka dengan kastil yang ada di gunung, dekat kota tempat dia tinggal. 


Suatu hari, dia pun bermain kesana dan mendapati ayahnya dan seorang perempuan keluar dari kastil tersebut. Jun pun mengira jangan-jangan ayahnya seorang pangeran

Jun yang tidak tahu kalau kastil tersebut adalah love hotel, menceritakan kejadian yang dia lihat kepada ibunya. Ibunya kemudian meminta Jun untuk menutup mulutnya. Jun yang naif tidak memahami bahwa ayahnya berselingkuh. Tak lama kemudian, ayah dan Ibu Jun berpisah. Ketika ayahnya hendak pergi, Jun bertanya mengapa ayahnya pergi? Jika ayah dan ibunya bertengkar, Jun bisa membantu ayahnya untuk membujuk ibunya. Ayah Jun malah menjawab kalau ini semua salah Jun karena Jun bawel.

Jun pun menangis mendengar perkataan ayahnya dan berharap seorang pangeran datang menyelamatkannya. Tiba-tiba muncul pangeran dari telur yang memberi tahu Jun bahwa kata-kata Jun menyakitkan dan dia memberi resleting untuk menutup mulut Jun sehingga Jun tidak lagi menyakiti orang lain. 



Pangeran telur itu memperingatkan jika Jun membuka mulutnya maka Jun tidak akan pernah bertemu pangeran. Sejak saat itu, Jun tidak pernah lagi berbicara.

Semuanya berubah ketika tiba-tiba wali kelas Jun di SMA menunjuk Jun dan 3 teman lainnya (Takumi Sakagami, Natsuki Nitō dan Daiki Tasaki )  untuk menjadi komite event outreach community. 
Sumber: http://anthemoftheheart.com/


Apa yang terjadi dengan Jun? Mampukah dia menolak perintah wali kelasnya? Jika tidak, bagaimana caranya menjalan tugas menjadi komite sementara dia terikat kutukan untuk tidak membuka mulut?






Judul Anime : The Anthem of the Heart/ Beautiful Word Beautiful World / The Heart Wants to Shout/ Kokoro ga Sakebitagatterunda (心が叫びたがってるんだ。)
Sutradara : Tatsuyuki Nagai
Produser: Shunsuke Saito
Penulis naskah :  Mari Okada
Musik :      Mito dan Masaru Yokoyama 
Durasi : 120 menit
Pengisi Suara:
Inori Minase sebagai Jun Naruse
Kōki Uchiyama sebagai Takumi Sakagami 
Sora Amamiya sebagai Natsuki Nitō 
Yoshimasa Hosoya sebagai Daiki Tasaki 



Review:

*Spoiler alert*

Aku mengetahui keberadaan anime ini setelah membaca Anime Review:Kokoro ga Sakebitagatterunda oleh Amanda Nadhira.

Waktu awal nonton dan melihat ayahnya dengan tega bilang kalau itu salah Jun. Hati gue sakit dan rasanya pengen teriak marah ke ayahnya Jun terus bilang “Tidakkah kamu tahu kalau jika terjadi sesuatu (terutama perceraian) pada orang tuanya, anak kecil sering berpikir itu adalah salahnya?!  Yang kamu lakukan hanya memperparah keadaaan! Mengapa ayahnya bersikap kenak-kanakan dengan menyalahkan anak kecil? 

Tapi kemudian aku tertawa getir... bagaimana mungkin aku berharap hal seperti itu pada Ayah Jun?  I mean kalau ayahnya Jun benar-benar dewasa, mungkin dia tidak akan selingkuh.

Kemudian waktu pangeran telur muncul, aku menduga-duga bahwa itu hanya terjadi dalam khayalan Jun. Pangeran telur adalah cara Jun untuk coping atau mengatasi keadaan. Perpisahan orang tua itu berat, terlebih lagi bagi anak kecil seperti Jun. Soalnya waktu SMP, aku juga pernah menciptakan karakter teman khayalan untuk menemaniku yang kesepian karena dimusuhi satu sekolah. Tapi tentu saja aku sadar karakter tersebut tidak ada. Hanya saja it really hurts to did not have any friends, so I tried to cope by having imaginary friends.

Dugaanku diperkuat dengan setiap kali Jun berbicara, Jun sakit perut. Sakit perut tuh salah satu hal yang sering terjadi kalau stress.

Apakah tebakanku soal pangeran Telur-nya Jun benar? Well, nonton aja filmnya ya! ;)

Hal lain yang terlintas di benakku saat tahu bahwa Jun tidak akan membuka mulutnya adalah kasihan ibunya. Aku rasa masa-masa setelah perceraian juga berat bagi Ibunya. Perempuan suka berbicara dan sering komunikasi melalui percakapan. Aku kemudian membayangkan diriku berada dalam posisi Ibu Jun, jika setelah bercerai, anakmu tiba-tiba diam dan tidak mau berbicara, maka aku mungkin berpikir anakku membenciku dan hendak menghukumku.

Why do you do these? Do you hate me so much? Never saying a word!What are you trying to do? Are you doing this to spite me? Jun Mother

Pas liat adegan ini, hati gue kembali sedih. Jun berusaha menutup mulut agar orang-orang di sekitarnya tidak terluka. Namun justru diam juga membuat orang-orang di sekitarnya terluka.
Membuatku ingat pesan di manga Piece oleh Hinako Ashihara bahwa sebenarnya banyak orang yang buruk dalam mengkomunikan maksud dan pikirannya sehingga malah berakhir salah paham dan menyakiti orang lain.

Word can hurts people. You can’t ever take them back.
Even if you regret, you can never take them back. 

–Jun


Gue suka anime ini, tema yang diangkat realistis: tentang keluarga, persahabatan dan cinta. Gue suka melihat bagaimana karakternya berkembang menjadi lebih baik setelah menyadari kesalahan mereka. Alur dan gambarnya juga bagus bikin betah nonton. Musik-musiknya juga enak dan mudah diingat. Habis nonton, aku jadi bersenandung musik di film ini.

Sumber: http://anthemoftheheart.com/


Anime ini benar-benar aku rekomendasikan untuk ditonton! :D

P.S.:

O ia, awalnya aku kecewa sama pairing couple di ending. Sama seperti Jun, aku jatuh cinta sama Takumi. Tapi setelah nonton ulang, mulai mengerti kenapa penulis naskah memilih pairingnya seperti itu. Jadinya happy ending buat semua orang. Selain itu, kalau Jun bersama Takumi, hubungan mereka akan tidak sehat karena Jun merasa sangat butuh Takumi. Aku rasa tidak bersatunya Jun dan Takumi membuat Jun menyadari bahwa meski tidak ada pangeran yang menolong dan mencintainya, hidupnya baik-baik saja.

Flying Colors (2015)

|
Assalamualaikum
Happy Holiday Good People :D
Liburan long weekend kemana nih?

Btw, biar ngga bosen, aku mau kasih rekomendasi film!

Judulnya Flying Colors (2015) atau Birigyaru.
Film ini seru dan menginspirasi! Aku sampai rela menonton ulang :D

Image Courtesy of drama-max.com


Sutradara
Nobuhiro Doi

Produser
Jun Nasuda, Junichi Shindo

Durasi
117 menit

Aktor dan Aktris
Kasumi Arimura, Atsushi Ito,
Shuhei Nomura, Yuhei Ouchida,
Kokoro Okuda

Penonton
15 tahun ke atas (Bimbingan Orang Tua)

Genre
Drama

Sinopsis Singkat:
Flying Colors adalah adalah film Jepang yang mengisahkan Kudo Sayaka, seorang siswi kelas 2 SMA dengan kemampuan akademik setara kelas 4 SD, yang bertujuan masuk Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.

Sinopsis panjang:
Saat kecil, cita-cita Sayaka adalah memiliki teman. Dia sering dibully dan tidak memiliki teman sehingga dia sering pindah-pindah sekolah. Suatu hari, Sayaka melihat segerombolan siswi dan menurutnya seragam sekolah siswi tersebut cute. Ternyata seragam yang dikenakan adalah seragam sekolah swasta khusus untuk anak perempuan. Sekolah swasta tersebut memiliki lembaga pendidikan hingga tingkat Universitas sehingga yang bersekolah disana, otomatis bisa langsung melanjutkan hingga tingkat Universitas.  Ibunya pun memasukkan seorang Sayaka ke sekolah tersebut dan menyuruh Sayaka untuk bersenang-senang. Maka Sayaka pun menghabiskan waktu di sekolah untuk berteman dan bersenang-senang.

Namun Sayaka berlebihan dalam bersenang-senang. Saat SMA, Sayaka masuk kelas yang berisi kumpulan siswi dengan peringkat terbawah di sekolahnya. Selain itu, Sayaka kerap membuat masalah. Gurunya menemukan rokok di tasnya, membuat dia terkena hukuman skors dan terancam drop out 
Image Courtesy of japanesefilmfestival.net

Menyadari masa depan anaknya terancam suram, Ibu Sayaka pun akhirnya meminta Sayaka untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas. Dari hasil tes penempatan bimbingan belajar ternyata diketahui bahwa Sayaka memiliki kemampuan akademik setara kelas 4 SD.  Sayaka bahkan tidak tahu peta Jepang dan arah utara/selatan.  Meski begitu, Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka meminta Sayaka untuk berjuang masuk salah satu Universitas terbaik di Jepang. Sayaka pun memilih Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.

Perjuangan Sayaka untuk masuk Universitas Keio tidaklah mudah. Dia harus mengejar ketertinggalannya. Di sekolah, Sayaka berada di ranking terbawah dengan nilai standar deviasi 30 sementara yang masuk Keio biasanya memilki nilai standar deviasi 70. Selain masalah akademik, Sayaka juga memiliki masalah di rumah. Ayah dan adik lelakinya tidak percaya ketika mendengar Sayaka ingin masuk universitas Keio. Ayahnya mengira ibu Sayaka ditipu oleh lembaga bimbel dan beliau tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun untuk keperluan bimbel sayaka. Sayaka pun termotivasi untuk membuktikan diri kepada ayahnya bahwa dia bersungguh-sungguh dengan tujuannya.

Berhasilkah Sayaka masuk Universitas Keio?



Review:

Aku suka pesan-pesan yang ada dalam film ini.  Dari karakter  Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka dan Ibu Sayaka, kita belajar  untuk melihat sisi positif dari segalanya

Cukup mudah untuk percaya dan berpikir positif ketika semua berjalan lancar, murid yang penurut, berprestasi dan taat pada aturan tapi bagaimana jika kau memilliki murid yang justru sering membuat masalah? Masih bisakah kau tetap berpikir positif dan percaya padanya?
Ternyata bisa! Itu yang ditunjukkan oleh Yoshitaka Tsubota, Guru Bimbel Sayaka. Beliau bisa melihat sisi positif Sayaka. Menurutnya meski jawaban Sayaka di tes kemampuan akademik salah semua tapi Sayaka berusaha menjawab semua soal, tidak membiarkannya kosong. Saat membimbing Sayaka dalam belajar pun, dia mampu melihat kelebihan Sayaka dan membantu Sayaka untuk belajar dan berkembang.
Sometimes, you just need one person to believe in you.

Image Courtesy of sankei.com


Aku juga kagum dengan sikap positif yang ditunjukkan Ibu Sayaka. Berkali-kali Ibu Sayaka harus dipanggil ke Sekolah karena Sayaka membuat masalah tapi Ibu Sayaka tetap membela Sayaka dan tidak berhenti percaya bahwa sebenarnya Sayaka adalah anak yang baik.

Image Courtesy of japanesefilmfestival.net


Bagian yang paling berkesan bagiku adalah saat Sayaka bertanya pada Ibunya mengapa mau menikah dengan Ayahnya. Selama menonton film ini, jujur aku punya pertanyaan yang sama dengan Sayaka. Ayahnya Sayaka sering mengistimewakan adik lelakinya, Ryota dan marah ketika istrinya hendak ikut campur.

Ibunya menjawab kalau ayahnya Sayaka (suaminya) suka menolong orang dan tidak tahan jika melihat orang kesusahan.

Menonton film ini membuatku merenung akankah aku bisa berpikir positif dan mengingat kebaikan pasanganku jika pasanganku berubah menjadi tidak menyenangkan dan melakukan hal yang tidak kusukai?

Karakter lain yang aku suka dari film ini adalah adik perempuan Sayaka, Mayumi. Dia mau mengalah menonton acara TV yang disukainya agar Sayaka bisa menonton berita untuk belajar. Mayumi juga bersedia membantu melakukan perkerjaan rumah tangga dan ditinggal sendiri ketika ibunya bekerja sambilan untuk membayar uang bimbel Sayaka.

Dan tentu saja aku kagum dengan tokoh utama, Sayaka. Meski mengeluh dia tidak menyukai tes, toh dia tetap mengerjakan soal. Dia bahkan menyambi belajar di sela-sela waktu main dan karaoke bersama teman-temannya. Aku tersentuh dengan kesungguhan Sayaka belajar.

Pesan lain dari film ini adalah jangan menyerah. Akan ada saat kita merasakan bahwa setiap usaha yang kita lakukan tidak membawa perubahan apa pun! Kita pun merasa putus asa. Jika hal tersebut terjadi, jangan menyerah karena sebenarnya itu adalah bagian dari proses.  If there is a will, there is a way!


Selamat menonton dan terinspirasi!


Untuk Satu Jam Bersama Abi

|
“Lebaran kali ini mau pergi ke Abi ngga, Je?” tanya Umi dari ujung handphone pada h-5 lebaran.
Aku langsung membayangkan lama dan macetnya perjalanan dari Karawang ke Tegal jika pergi saat lebaran.
“Ngga.” Jawabku
“Kenapa?”
“Males ah. Ke tegal kan lama, belum macetnya.”
“Tapi sekarang kan ada tol cipali. Mungkin sekarang cuma 2 jam ke Tegal.”
Aku terhenyak. Aku lupa sama tol cipali yang baru dibuka dan bagaimana tol tersebut bisa membatu mempersingkat waktu perjalanan.
Anehnya, alih-alih menjawab ya, aku mendengar mulutku kembali mengucapkan “Ngga”
Kebiasan menolak tawaran membuat mulutku otomatis menjawab ngga.
“Ya udah, Umi juga tadi tanya Kakak (adik gue, Huang dipanggil Kakak di rumah), dia juga ngga mau.”
..
Malam harinya aku memikirkan kembali percakapan di telepon dengan umi. Aku jadi teringat selama ini beberapa kali Abi selalu menelpon atau sms memintaku untuk pergi mengunjunginya ke Tegal jika sedang libur. Aku menjawab ya atau terdiam tapi aku tidak pergi juga mengunjunginya. Muncul perasaan tidak enak dan bersalah dalam hatiku.  
Baiklah sebaiknya lebaran kali ini aku mengunjungi Abi.

Keesokan harinya saat aku hendak menelepon Umi untuk memberi tahu bahwa aku berubah pikiran, Umi meneleponku terlebih dahulu dan mengatakan bahwa Kakak berubah pikiran. Dia ingin ke Tegal mengunjungi Abi. Aku katakan pada umiku bahwa akupun berubah pikiran. Umiku kemudian mengusulkan agar ke Tegal pada hari kedua lebaran, aku pun menyetujuinya.
..
Pada H2 Lebaran, kami sekeluarga (aku, ayah tiriku, umi, huang dan memey) berangkat pergi ke Tegal sekitar jam 9 pagi. Sebelum berangkat, Om Agus menyarankan kami untuk masuk tol karawang timur dan mencoba melihat apakah tol cipali macet, jika iya, kami bisa keluar tol cikopo dan kemudian masuk jalur pantura. Tapi di mobil, umi menentang ide tersebut, menurut beliau lebih baik macet-macetan di tol dibanding jalur pantura karena di tol, mobil hanya bertemu mobil sementara di jalan pantura, ada kemungkinan bertemu motor dan kendaran lain.  

Beberapa bagian jalan tol di cipali hanya dibeton tapi tidak diaspal sehingga memunculkan bunyi gesekan ban yang lebih keras. Meski begitu, perjalanan berjalan cukup lancar. Macet hanya dialami saat hendak masuk pintu tol.

Saat jalur terbagi dua jalur dan ada tulisan belok kiri ke pejagan, sementara lurus ke arag Semarang/Tegal, aku pun meminta bapak untuk lurus. Umi meminta Bapak untuk belok karena menurut umi harusnya kita melalui tol pejagan, nanti keluar di brebes kemudian ke tegal. Bapak sudah terlanjur mengambil lurus dan tidak dapat berbelok lagi sehingga mobil mengikuti petunjuk untuk lurus. Betapa kagetnya kami karena tidak lama kami melihat jalan yang masih berupa tanah merah, ada pemberitahuan untuk menyalakan lampu hazard dan batas maksimum mengemudi 40 km/jam. Ternyata kami melewati tol yang masih dalam tahap pembangunan dan sepertinya dibuka untuk mengurai kemacetan. Jalan menjadi penuh kepulan debu.

Umiku mengomel dan berkata seharusnya tadi kami nurut untuk berbelok, aku mengatakan pada umiku bahwa berdasarkan google map jika memilih belok, kami akan terjebak macet. Di google map menunjukkan bahwa warna merah di belokan dan Huang bilang warna jalan merah berarti macet, sementara jalan kami belum ada di google map. Jika melihat mobil di google map, kami seolah berjalan di antara rumah-rumah penduduk.

Adikku memey memilih merekam perjalanan kami dan mengunggahnya di snapchat. Dia dengan nada bersemangat mengatakan yang kami alami mirip interstellar. Di adegan awal interstellar ada adegan para pemerannya naik mobil melewati badai pasir. Nah yang kami alami kira-kira mirip seperti itu. Bukan adegan yang pergi ke luar angkasanya kok. Hehe. Aku bersyukur memey bisa melihat sisi positif dari kejadian ini. Alhamdulillah.





Kami melihat banyak mobil yang berdebu akibat melalui jalan ini sehingga kami tertawa dan kemudian menyadari jangan-jangan mobil kami juga berdebu parah dan orang-orang lain tertawa ketika melihat mobil kami.

Beberapa kali kami berpikir untuk kembali pindah ke jalan biasa. Saat melihat di google map bahwa seharusnya ada jalan lain, ternyata jalan yang kami lalui sudah menjadi semacam jalan layang atau jembatan sehingga sama saja kami menjatuhkan diri jika memilih jalan yang lain.

Ketika berhasil keluar dari tol tersebut ternyata perjalanan belum usai, kami ditahan hampir satu jam karena jalannya sedang dibuka tutup oleh polisi.

Kami berhenti sejenak di sebuah mushala sebelum menuju Abi. Alhamdulillah akhirnya kami tiba pukul 2 siang di Pool Bus PO Dewi Sri dan mendapati bahwa Abi tidak ada, entah beliau sudah pulang atau pergi ke bosnya.

Aku dan Huang  mencoba menelepon, tapi  tidak diangkat, mengirim sms Abi tapi tidak dibalas.
Setengah jam kemudian akhirnya abi datang. Ternyata handphone Abi secara misterius berubah menjadi mode silent padahal beliau tidak mengubahnya seperti itu dan kemudian meminta tolong Huang untuk mengubah mode telepon kembali menjadi normal.

Memey bertanya kepada abi mengenai kesibukan Abi dan kemudian Abi bertanya tentang kuliah memey. Abi juga bertanya tentang perusahaan yang Huang lamar. Aku bertanya pada Abi mengenai kiriman majalah dan buku yang kukirim pada beliau dan kemudian beliau bertanya balik mengapa aku sekarang jarang mengirimi majalah. Aku cuma menjawab Hehe.

Aku menatap abi dan menyadari Abi melewatkan banyak hal dalam hidupku. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Ingin rasanya melakukan perbincangan berdua antara ayah dan anak.

Akhirnya kami foto-foto dan kemudian pamit pulang. Kami hanya menghabiskan satu jam bersama Abi.



Di perjalanan pulang, Bapak (ayah tiriku) berharap tahun depan adikku Huang atau memey sudah dapat mengemudikan mobil sehingga mungkin lebaran tahun depan hanya kami bertiga yang mengunjungi Abi.   
amin.

Alhamdulillah aku bersyukur masih memiliki keluarga dan masih diberi kesempatan bertemu Abi, memiliki ayah tiri yang mau mengantar anak-anak tirinya menemui ayah kandung mereka. Terima kasih banyak ya Allah. :D



Tradisi Memberi Uang Salam Tempel

|

Salah satu ciri khas yang tidak lepas dari lebaran adalah pembagian uang salam tempel. Tiap keluarga memiliki ketentuan masing-masing mengenai siapa yang berhak dan berapa besaran uang salam tempel yang diterima. Di keluarga besarku, ada dua syarat mendapatkan uang salam tempel:
1.       Duduk di bangku TK, SD, SMP, dan SMA.
2.       Berpuasa pada bulan Ramadhan.
Biasanya sebelum uang salam tempelnya diberikan, Kakek, Nenek, Uwa, Paman, Bibi, Bude, Pakde, Om, Tante akan bertanya apakah kami berpuasa, jika jawaban kami adalah iya, maka pertanyaan selanjutnya apakah puasanya setengah hari atau seharian (dari subuh sampai magrib), dan berapa hari kami berhasil berpuasanya (sebulan/bukan).

Pembagian nominal uangnya sendiri seperti kurva normal, jika kau adalah anggota keluargaku dan masih berada di TK/SD, kemungkinan kau diberi sedikit karena dianggap belum mengerti uang. Ada kemungkinan kau mendapat banyak lembaran uang tapi nominalnya kecil. Waktu jamanku masih SD dulu, aku bisa dapat banyak lembaran uang tapi nominalnya 100/500 rupiah. Waktu jaman belum bisa berhitung sih senang-senang saja mendapat uang berlembar-lembar karena mengira banyaknya jumlah lembaran uang berarti banyak uang, padahal nominalnya kan berpengaruh juga. Hahaha.

Kurva normal pendapatan uang salam tempel

Bagi yang mampu puasa sebulan penuh dari subuh sampai magrib biasanya mendapat bonus, tapi ini hanya berlaku saat masih SD karena kalau sudah SMP/SMA dianggap harusnya memang sudah mampu berpuasa seharian selama sebulan penuh. Pemberian uang salam tempel akan makin bertambah dan titik tertingginya adalah saat SMP, kemudian ketika SMA, uang yang kau dapatkan akan semakin sedikit. Saat kuliah, kemungkinan besar kau hanya mendapatkan uang salam tempel dari orang tuamu.

Beberapa alasan yang menyebabkanku menyukai tradisi pemberian uang salam tempel ini:
a.       Uangnya. Siapa sih yang tidak suka mendapat uang?
b.      Alasan mendapat uang. Aku mendapat uang karena melakukan hal yang kusukai, tidak makan dan minum (puasa). Bagiku yang waktu kecil dianggap anak susah makan ini bulan ramadhan adalah bulan yang membahagiakan karena tidak ada lagi yang bertanya apakah aku sudah makan atau belum. Di bulan ramadhan juga, aku bisa terhindar dari omelan marah belum makan. Aku menyadari ternyata kebiasaanku susah makan berguna di bulan ramadhan. Hohoho
c.       Arti mendapatkan uang salam tempel. Bagiku, mendapatkan uang salam tempel berarti memiliki kesempatan untuk membeli buku/mainan tanpa syarat. Di bulan-bulan biasa, jika aku menginginkan buku/mainan, aku harus melakukan sesuatu seperti mendapat peringkat pertama di kelas, peringkat pertama di tempat kursus/bimbel, membantu membersihkan rumah, atau karena ada peristiwa khusus seperti ulang tahun.
d.      Pembuktian silaturahmi memperbanyak rezeki karena biasanya semakin banyak sanak saudara dan tetangga yang kau kenal, semakin banyak rezeki dalam bentuk uang yang kau dapatkan. Hehehe

Lebaran tahun ini cukup spesial karena aku mengalami perubahan status. Selama ini aku selalu menjadi penerima uang salam tempel dan untuk pertama kalinya aku akan menjadi pemberi uang salam tempel. Alhamdulillah, sudah hampir setahun aku sudah bekerja dan mendapat THR pertamaku.

Awalnya, aku merasa agak berat hati ketika berpikir THRku berkurang untuk dibagi-bagikan untuk uang salam tempel. Ooops, ketahuan deh kalau aku tuh pelit. Hehehe. Kalian tahu? ketika membagikan uang salam tempel kepada adik kandungku sendiri, Huang dan Memey, mereka menunjukkan reaksi terkejut. Mereka tahu kakaknya ini pelit jadi mereka tidak menduga kalau aku akan memberi mereka uang. Aku bahkan tidak menyangka bisa melihat senyum lebar di wajah mereka, kupikir aku hanya akan mendapat ucapan terima kasih biasa. Membuatku merasa oh begini toh rasanya membahagiakan keluarga sendiri.

Amplop yang kugunakan untuk memberi uang salam tempel

Khusus Huang dan Memey, selain berisi uang,
aku juga menyertakan voucher sodexo yang aku dapat dari kantor.
Hehehe

Ternyata selain saudara kandungku sendiri, sepupu dan keponakanku juga kaget mendapat uang salam tempel dariku. Mereka lupa aku sudah bekerja. Hahaha. Berarti sebenarnya tidak memberi juga bisa ya. Eh? Hehe Bercanda. (^_^)v

Lebaran kali ini aku belajar bahwa tentang kebahagian memberi, terutama memberi kepada keluarga sendiri. Selama ini, aku berpikir menerima lebih membahagiakan, ternyata memberi jauh lebih membahagiakan. Sekarang, aku mengerti mengapa banyak orang berjuang keras mengumpulkan uang agar bisa mudik dan membagikan uang tempel kepada sanak keluarga mereka karena ketika melihat senyuman di wajah orang-orang yang kita cintai, seolah-olah jerih payah kita terbayar lunas. Bahkan, rasanya senyum dan ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah mereka tak ternilai harganya.
“Happiness doesn't result from what we get, but from what we give.” ― Ben Carson


Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.com, Mukena Katun Jepang Nanida, Benoa Kreati, Sanderm, Dhofaro, dan Minikinizz 

My Brother's First Driving on Toll Road

|
Image courtesy of David Marcu at unsplash.com



Kemarin adalah hari bersejarah dalam hidupku or keluargaku karena adik Huang untuk pertama kalinya mengendarai mobil di jalan tol. Jadi, kemarin selesainya arisan ke 16 Keluarga H. Abdul Azis di rumah Wa Ati di Citereup, Bogor, Bapak (ayah tiriku) merasa lelah dan memutuskan memberi kesempatan pada adikku Huang untuk mengendarai mobil dari Bogor ke Tanah Abang, untuk mengantarku. Umiku menentang hal ini karena dia belum yakin Adikku Huang sudah lancar membawa mobil. Adikku Huang baru mengikuti 5 sesi kursus mengemudi dari keseluruhan 10 sesi. 

Namun, Bapak bersikukuh. Sementara Umi membujuk Bapak untuk membatalkan recananya, aku memberi tahu Huang bahwa Bapak memintanya mengendarai mobil, mendengar hal itu dia tertawa tapi beberapa detik kemudian langsung duduk di bangku kemudi.

Selama di perjalanan, umi berkeringat dingin dan menampilkan wajah cemas, bahkan umi menyangka aku juga cemas seperti beliau karena aku tidak tidur seperti yang biasa aku lakukan. Jadi, salah satu kebiasaanku begitu naik mobil adalah langsung tidur dan bangun ketika sudah sampai tujuan. Jangan tanya arah jalan padaku ataupun pemandangan karena aku menghabiskan sebagian besar waktu di perjalanan dengan tidur. Hehehehe 

Kali ini aku tidak tidur karena aku ingin melihat bagaimana adikku menyetir pertama kali di jalan tol. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan ini!

Jujur saya, aku merasa adikku cukup smooth membawa mobil, dia lebih tenang dari yang aku bayangkan. Dia juga berhasil berbelok dengan baik dan berhenti tepat saat mengambil/membayar karcis tol. Hal yang aku kagumi adalah dia membawa banyak orang lho, membawa bapak, umi, aku dan adikku, memey. \(^0^)/

Alhamdullillah kemarin aku dan keluargaku selamat sampai kosanku di Taman Tanah Abang.

P.S. saking menikmati momen memperhatikan adikku Huang, aku lupa memfoto dia sedang mengemudi. Jadi gambarnya ilustrasi saja ya?^^v

Post Signature

Post Signature