Top Social

Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Memperbaharui Hati, Menggapai Kemuliaan

|
Image Courtesy of ejaugsburg at pixabay.com

Berikut adalah notulensi Kajian Memperbaharui Hati, Menggapai Kemuliaan di Mesjid UI pada 17 Oktober lalu dengan pembicara Mba Peggy Melati Sukma & Ust Hilman :

Hijrah adalah meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah.
Tahun baru hijriah adalah reminder bahwa umat muslim makkah dulu hijrah ke madinah, meninggalkan keluarga, harta benda, dan banyak hal lain untuk Allah dan agama ini.

Saat ini ketika Peggy menjawab pertanyaan, dia membiasakan diri menjawab karena Allah SWT/atas izin Allah SWT. Menurut Peggy, usaha hijrahnya berkat doa orang tua, sementara motivasinya untuk berhijrah aadalah kecintaan pada Rasulullah SAW.

Untuk dapat melakukan yang dicintai Allah, harus belajar Al-Quran dan menjadikan AL-Quran sebagai pedoman hidup. Untuk dapat meneruskan perjuangan pendahulu, terus mengulang membaca sirah.

Dunia ini senda gurau dan menipu. Don’t take dunya (worldly life) seriously!
Dunia seolah gemerlap padahal sebenarnya kegelapan. Jangan sampai kita menjadikan karunia Allah lebih tinggi dibanding Sang Maha Pemberi Karunia.

Di usia 34-35 tahun, Allah menolong Peggy dengan kehancuran. Di Quran dikatakan bahwa ujian itu berupa kesenangan dan kesedihan. Ketika Allah telah memberi kita kesenangan dan ternyata itu tidak dapat membuat kita mendekat padaNya, Allah memberi kita kesedihan. Di usia tersebut, saya menyadari betapa tidak berdaya sebagai manusia dan di satu titik, saya menyerah. Saya ingin hidup untuk Allah.

Dalam hijrah, mesti berhati-hati, kita bisa tersesat karena setan terus bekerja.
Perbaiki lingkungan dengan kumpul dengan ulama, rapikan shalat. Jangan tinggal puasa sunnah, shadaqah. Dakwah jangan dilepas. Yang lain nanti diurus sama Allah.

Saat ini saya tidak mau melakukan sesuatu jika bukan basis perjuangan Islam.
Sengajakan diri kita untuk berhijrah!
Susah senang itu hikmah dari Allah. Serahkan semua karena Allah karena semua daru Allah.
Allah itu tujuan, satu-satunya tujuan.
Hijrah jangan menunggu hancur.

Ada tahapan kita berIslam
a.       Hijrah dari tidak tahu menjadi tahu. Allah akan terus mengajar kita
b.      Hijrah dari niat. Setelah mendapat ilmu, hijrah niat. Tidak setiap niat menjadi amal
c.       Hijrah amal. Berusaha agar amal terbaik kita ada di akhir hidup kita. Menjaga kontinuitas amal (kebiasaan) karena sebaik-baiknya amal adalah yang kontinu.
d.      Hijrah dakwah.
Melanjutkan perjuangan Rasulullah, juru dakwah terkeren. Uswatun hasanah (segala sesuatu dalam Al-Quran melekat padanya)

Rasulullah tidak tahu bahwa dirinya rasul hingga bertemu paman Khadijah.

Kita bisa kehilangan apa saja, asal jangan Allah dan Rasulullah.

Hidup ini hijrah, tidak perlu cari awal. Kita hijrah dari alam ruh sampai akhirat.
Ruh à Rahim à Dunia à Barzah à Akhirat
Jika kita Cuma hidup untuk dunia saja, maka sebenarnya kita sudah mati.

Allah ngga ada pembandingnya.

Hidup ini isinya persoalan tapi jangan jadi soal.

Hidup intinya berjuang menempatkan Allah dan Rasulullah pada tempatnya.

Allah melihat ketakwaan, yang diperjuangkan adalah takwa.
Simpan Allah & Rasulullah pada tempatnya.
Allah itu Maha, jangan degradasi, kita yang upgrade pemahaman kita.
Fokus melakukan yang dicintai Allah & pantaskan diri.
Pertolongan dari manusia lain hanyalah perantara Allah.

Apa lagi yang mau dipertahankan mati-matian?
Semua milik Allah.
Kalau ada yang dzalim, doakan semoga dapat hidayah.

Kalau buat Allah, jangan mulai dengan anggap sulit.
Kalau niat buat Allah, ngga ada yang sulit.
Tugas kita jadi ciptaan, jangan play God.
Yang diantara langit dan bumi milik Allah, gali terus ilmu.

Iman itu naik turun (dinamis), minta tetap di jalan yang lurus, sesuai AL-Fatiha.

Kebahagiaan adalah diizinkan berbuat untuk agama Allah.
Visi misi  hidup adalah kembali kepada Allah, meneruskan perjuangan Rasulullah.

Semoga Allah jaga dari takabur.
Ketika saya hijrah, saya ingin mewakafkan diri untuk agama Allah : gerakan bebas buta aksara AL-Quran, menulis buku, dan membangun pesantren.
Matematika Allah tidak terkejar.

Ketika merasa sulit beribadah, jangan salahkan Allah. Maksiat menurunkan iman, ketaatan menaikkan iman.

The King Speech

|


Pas Mba Evrina mengumumkan giveaway What movie are you di group Blogger Muslimah sempat mengira lomba ini tentang film/karakter yang ceritanya mirip jalan hidup kita, atau tentang film favorit dan hubungannya dengan kepribadian kita :)
kemudian kebingungan memilih film..
Terus pas lagi milih-milih film baru sadar "eh, emang ketentuan nya apa?"
*menepuk jidat*
Pertama kali baca cuma skimming, jadinya lupa..
Hohoho
(^_^)v
Peace ah
Pas baca ulang kententuannya ternyata postingan blognya tentang film yang menginspirasi :D

Film apakah yang menginspirasi Hana Bilqisthi?
Well, banyak sih tapi yang baru-baru ini aku tonton dan belum ditulis di blog adalah The King Speech!

Film ini menginspirasi karena pesan utamanya tentang  harapan bahwa kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik dan dapat bangkit dari keterbatasan.
Poin plus lainnya film ini diangkat dari kisah nyata, jadi ngga bisa bilang "Ah, itu kan cuma fiksi, kehidupan nyata ngga segampang itu."
(^0^)/
Hal lain yang membuatku suka The king speech adalah dapat belajar cara pikoterapi.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang Pangeran Albert (Duke of York), bagaimana dia mengatasi keterbatasan yang dia miliki (gagap) dan akhirnya berhasil menjadi Raja George VI.



https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/a/a0/Kings_speech_ver3.jpg
Image Download from wikipedia





Film ini dibuka dengan adegan Pangeran Albert harus melakukan pidato pertamanya untuk upacara penutupan pameran kerajaan Inggris di Wembley Stadion pada tahun 1925 yang disiarkan oleh radio BBC ke koloni dan dominon Inggris.

Ketika Pangeran Albert membuka mulut, aku tidak mendengar suara apa-apa dan mulai berpikir apa aku salah dengar ya? Kemudian melihat orang yang sepertinya berperan menjadi operator radio memutar-mutar tombol yang kuduga  pengeras suara.

Ooh berarti emang dari filmya.

Kemudian saat terdengar suara, ternyata Pangeran Albert mengucapkan pidatonya dengan terbata, dan kita pun jadi tahu bahwa beliau gagap
:O

Karena itu disiarkan, fakta bahwa beliau gagap jadi diketahui di seluruh dunia.
Kalau jadi beliau, aku mungkin malu dan ingin kabur/menghilang saja.
Alhamdulillah, beliau bukan orang yang mudah menyerah.

Hal tersebut terlihat dari adegan selanjutnya yang diberi keterangan terjadi di tahun 1934 (9 tahun setelah pidato publiknya),  Pangeran Albert sedang menjalani terapi untuk menyembuhkan kegagapannya. Sayangnya beliau belum berhasil sembuh juga. Kegagalan tersebut membuat Pangeran Albert meminta kepada Istrinya, Elizabeth, untuk tidak mengajaknya lagi pergi ke terapi. Dia sudah lelah tidak sembuh juga.

Aku bisa mengerti. Kalau aku terus-terusan mengalami kegagalan saat mencoba sembuh, mungkin aku akan menyerah seperti dia. 

Untung, istrinya tidak menuruti perkataannya karena percaya bahwa dirinya bisa sembuh. Elizabeth kemudian menyamar sebagai Mrs. Johnson datang sendirian menemui Lionel, speech therapist yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang kontroversial.

Elizabeth menjelaskan kepada Lionel bahwa suaminya telah menemui semua orang dan belum ada yang berhasil. Dia khawatir suaminya sudah menyerah.

Dengan percaya diri, Lionel menjawab bahwa suaminya belum bertemu dengannya.
Elizabeth bilang Lionel sangat yakin pada dirinya sendiri.
Lionel membalas bahwa dia percaya pada siapapun yang ingin sembuh.

Adegan ini mengajarkanku untuk percaya diri dalam menangani klien dan juga percaya dan optimis terhadap klien :)

Elizabeth meminta Lionel untuk datang ke tempat mereka tapi Lionel menolak “Maaf, Bu Johnson. Permainanku, Areaku, Peraturanku.”
Jawaban Lionel membuat Elizabeth terpaksa mengungkapkan identitas suami yang sebenarnya.
Lionel kemudian meminta maaf dan menjelaskan bahwa agar metodenya bekerja, dia memerlukan kesetaraan dan kepercayaan penuh di ruang konsultasinya dan tidak ada pengecualian.

Mau tak mau Pangeran Albert pun mendatangi Lionel. Dia terkejut di pertemuan pertama dengan Lionel, dia tidak segera di-treatment. Lionel menjawab bahwa jika dia akan melakukannya jika pangeran Albert tertarik.

Suka adegan ini karena secara tidak langsung mengajarkan bahwa terapis bukanlah tukang sihir yang sim salabim bisa menyembuhkan klien, butuh usaha keras dan kerjasama dari kliennya juga.

Lionel kemudian memaksa Pangeran Albert memanggilnya Lionel tanpa Dr. dan memanggil pangeran Albert dengan panggilan Bertie agar terciptanya hubungan yang setara antara terapis dan klien.

Lionel melanjutkan percakapan dengan bertanya sejak kapan Pangeran Albert gagap dan beliau menjawab bahwa dia sudah dari dulu seperti itu. Lionel membantah dengan bilang tidak ada seorang bayipun mulai bicara dengan gagap.

Ini salah satu adegan jleb juga karena sering kali kita mengira keterbatasan kita itu adalah suatu yang permanen, yang dari lahir memang seperti itu sehingga tidak bisa diubah.

Akhirnya Pangeran Albert menjawab bahwa dirinya mulai gagap saat dia berusia 4/5 tahun.
Lionel kemudian meminta pangeran Albert membaca sambil mendengarkan musik dan hasil bacaannya direkam di piringan hitam untuk membuktikan pada Pangeran Albert bahwa dia dapat berbicara lancar.

Tentu saja trust antara terapis dan klien tidak mudah dibentuk di pertemuan pertama, pangeran Albert merasa dia telah melakukan hal yang konyol. Dia marah pada Lionel dan berhenti membaca. Lionel memberinya kepingan hitam hasil rekaman sebagai hadiah perpisahan.

Di Istana, ayahnya, Raja George V membentaknya agar tidak gagap. Beliau juga memprediksi bahwa Pangeran David, Kakaknya Pangeran Albert,  tidak kompeten menjadi raja dan tidak akan memegang tahta dalam waktu lama sehingga meminta pangeran Albert bersiap-siap melakukan banyak hal untuk mengantikan kakaknya. 

Pangeran Albert kemudian mencoba memutar piringan hitam dari Lionel dan terkejut mendapati dirinya bisa membaca dengan lancar. Dia pun akhirnya kembali ke Lionel dan meminta disembuhkan secara mekanik karena tidak ingin membicarakan masalah pribadi.

Dimulailah sesi terapi untuk merilekskan otot rahang dan memperkuat lidah bersama Lionel. Pertemuan yang intens membuat Lionel dan Pangeran Albert menjadi dekat.
Kedekatan tersebut terlihat ketika Raja George V meninggal, Pangeran Albert yang sedih pergi mendatangi Lionel. Beliau kesal ketika ayahnya tidak memberi tahu langsung kata-kata terakhirnya di hadapannya, "Bertie memiliki keberanian dibandingkan semua saudara digabungkan”.

Dalam film ini, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan seorang pangeran juga berat. Ternyata saat kecil Pangeran Albert“dibetulkan”. Dia sempat kidal dan memiliki kaki bengkok. Selain itu, dia pernah menjadi korban neglect dari pengasuh pertamanya. Pengasuhnya sering mencubitnya jika dia menangis dan tidak diberi makan dalam waktu lama sehingga dia mengalami masalah lambung. 

You don't need to be afraid of things you were afraid of when you were five.

Lionel

Ya, meski sudah mengetahu luka yang kemungkinan menjadi penyebab gagapnya Pangeran Albert, menjadi sembuh tetap membutuhkan perjuangan. Untuk tahu kelanjutannya baiknya tonton sendiri film inspiring ini :)

Yang jelas aku suka sama film ini karena mengajarkan meski memiliki masa lalu kelam dan keterbatasan, bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, keterbatasan bukan berarti masa depan kita akan kelam. Jika Pangeran Albert saja bisa, mengapa kita tidak?
Change may be not easy, but it will be worth to try :)

Di Depan Kematian

|
Di depan kematian, segala masalah yang kualami saat ini jadi tampak kecil dan sepele sekali.
Will it matter after I died?
Mendengar berita kematian membuatku sadar bahwa aku seharusnya bersyukur bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk beribadah kepadaNya.
Sepertinya aku harus lebih sering mengingat kematian, mengingat bahwa hidup ini cuma mampir.
Semoga aku dan orang-orang yang kucintai bisa meninggal dalam keadaan husnul khatimah.



Image Courtesy of Danist Soh at unsplash.com

Pelajaran dari Kertas Kado dan Beautiful Mind

|
Seperti yang kuceritakan di MSC Reunion (Minus Ikhsan), aku menganggap kertas kado untuk Hana Talita itu jelek. Sebenarnya kertas kadonya tidak jelek sih, Cuma aku ingat kalau memberi harus memberi yang terbaik dan berpikir apa yang dapat membahagiakan penerima.

Aku tahu Hana Talita suka warna biru tua, Nightmare before christmast, Totoro, Benedict Cumberbatch, dan Hello kitty jadi aku berpikir seharusnya aku menggunakan bungkus kado dengan motif/warna yang Hana Talita sukai. Sayangnya, kertas kado yang kugunakan untuk membungkus kado untuk Hana Talita bukan itu. Kertas kado yang kugunakan berwarna cokelat nyaris hitam, terus ada bentuk hati berwarna pink, dan tulisan I love you. Melihat kertas kado tersebut lebih mengingatkanku pada Vania atau Fida karena mereka berdua suka warna pink. Aku merasa kertas kadonya jelek karena merasa seharusnya aku membungkus kadonya dengan motif atau warna yang Hana Talita sukai tapi aku tidak melakukannya. Kertas kado yang dijual di dekat kosanku pilihannya terbatas dan aku tidak sempat pergi ke toko buku/gift shop untuk berbelanja kertas kado.

Image courtesy of Sicha Pongjivanich at freedigitalphotos.net


Aku menyadari satu hal: Aku kembali jadi perfeksionis!
Aku berpikir hitam putih. Jika kertas kadonya tidak dibungkus dengan motif/warna yang Hana Talita sukai berarti aku gagal memberikan yang terbaik, gagal membahagiakan Hana Talita dan gagal menjadi teman yang baik. Aku menerapkan standar tinggi pada diriku sendiri. It’s all or nothing.
Padahal tidak begitu. Hana Talita tetap bahagia meski kertas kadonya tidak dibungkus menggunakan warna/motif yang dia sukai. Bahkan, MSC memberi kado padaku tanpa kertas kado dan aku tetap senang-senang saja karena aku tahu niat mereka baik.


Di Tahun 2012, Aku pernah ikut konseling karena ingin mencegah kembalinya pikiran/keinginan
bunuh diri. Aku pernah beberapa kali berpikiran ingin bunuh diri dan menduga aku ini depresi, tapi ternyata hasil diagnosisnya adalah aku perfeksionis. Saat kutarakan rasa terkejutku pada Nia dan Hana Talita, mereka bilang “Ya, Hana. Loe emang perfeksionis”

Sebenarnya hal yang membuat aku kaget adalah menemukan fakta bahwa perfeksionis masuk diagnosis kesehatan mental. Aku tahu aku perfeksionis, hanya saja aku tidak menduga hasil diagnosis yang keluar setelah konseling adalah perfeksionis. Baru-baru ini aku membaca artikel 9 Signs Your Desire for Perfection Has Gone Too Far dan menemukan fakta bahwa ada hubungan yang kuat antara perfeksionis, depresi dan keinginan bunuh diri (bisa baca disini dan disini).  Pantas saja!

Aku berharap menjadi sempurna, dan berpikir akan bahagia saat aku berhasil menjadi sempurna. Aku mengejar tujuan yang tidak akan pernah kugapai.

Hanya Allah yang sempurna, dan manusia memang tidak diciptakan untuk sempurna.
Manusia memang tempatnya salah dan lupa.
Jika Allah menginginkan aku tidak pernah berbuat kesalahan, mungkin Allah akan menciptakanku sebagai malaikat, bukan manusia. Bahkan para Nabi dan Rasul pun pernah membuat kesalahan dan diberi teguran langsung oleh Allah. Mungkin karena itu Allah menciptakan mekanisme bertobat.
Mungkin jika kita tidak pernah membuat kesalahan, kita akan mengira bahwa diri kita adalah Tuhan.

Seperti yang dikatakan Yasmin Mogahed:
Why can't we admit that we *aren't* perfect? Why can't we admit that our lives aren't perfect? That our relationships aren't perfect? Why can't we admit that we struggle too? That we are human, living a human existence in a painfully imperfect world?

Maybe it's time to set aside our masks and just be real. This world isn't perfect. We aren't perfect. Our lives aren't perfect. And that's okay. If all of these things were perfect, how would we know our need for God? How would we see it?
Our utter, desperate need.

But you see, that's just it. It is only through that need, that we are given. It is only through breaking, that we can be made whole. Tears can be like medicine. Tears to God--the only cure. Salvation doesn't come through feigning perfection. It comes through breaking, through humility, through admitting defeat and utter need, to the only One who can save you. To God. And God alone.



Look at the stories of the Prophets and how they were each saved. Look at the duaa of Nuh (AS) and Yunus (AS) and Ayoub (AS). They didn't pretend. They didn't feign strength and ability and perfection. They humbled themselves completely and admit that they had no strength or ability, because they knew that truly, truly, all strength and ability comes from Allah.

Aku sempat sedih mengetahui aku masih perfeksionis, tapi kemudian aku teringat akan film Beautiful Mind. Film yang menceritakan tentang John Nash, seorang matematikawan yang berjuang melawan halusinasi dan berhasil meraih hadiah nobel. Film ini mengisyaratkan meski kau memiliki penyakit mental/skizofrenia, kau tetap bisa berkontribusi di masyarakat. Kau bisa berjuang untuk sembuh dan hidup normal.

“Are the hallucinations…gone?”
“No, but I’ve gotten used to ignoring them, and as a result, they’ve kind of given up on me. I think that’s sorta what it’s like with dreams and nightmares. We’ve gotta keep feeding them for them to stay alive”

[Hansen is concerned about John still having hallucinations]
Nash: They are my past. Everyone is haunted by their past.

Mungkin perfeksionisku ini tidak akan sepenuhnya menghilang, tapi aku akan memilih untuk berusaha agar aku bisa berfungsi normal, mengingatkan diriku sendiri bahwa meski aku dan segala sesuatu tidak berjalan sempurna, dunia baik-baik saja, tidak berakhir dan juga tidak menjadi kiamat.
Mungkin aku memiliki perfeksionis agar aku selalu ingat Allah karena setiap kali keinginan menjadi sempurnaku muncul, aku akan berusaha mengingatkan diriku sendiri bahwa hanya Allah yang sempurna.


Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surga-Mu.
Salim A. Fillah


There is no shame in mistakes, just an opportunity to learn and to grow.



Today, I Fell in Love with Fictional Character

|
Have you ever read a story and then you suddenly fall in love with the character?
 ⃛ヾ(๑❛ ▿ ◠๑ )




I have fallen in love with many fictional characters, especially in the comic book (manga). (´▽`ʃƪ)♡
I used to think I fall in love with them because they are perfect and ideal. (♥ω♥ ) ~♪

Now, I realize they are actually neither perfect nor ideal. ∑(゚ロ゚〃)
I know, How silly of me!
Alhamdulillah, now I realize it!
Better late than never :p

They have their own strength, weakness, achievement, failure, doubt, and mistake but they still do not give up their dream and things that important to them.
That's what makes their story feels relate-able to me.
They teach me about being real, strong, bold, and optimist.
They are imperfect and I still love them. (*’∀’人)♥

I want to tell you who perfectionist like me, who think people will love you when you are perfect.
You are wrong!
I want you to know that you will never be perfect and that's okay.
It means you are human.
Accept all of you, the good and the bad side.
Being grateful for who you are and share the true you.

ヾ(@⌒ー⌒@)ノ

It does not mean you don't have to be improve.
I want you strive being the best version of your self!
Remember, being the best is not same with being perfect.
 (☆^ー^☆)

“You’re imperfect and you’re wired for struggle 
but you are worthy of love and belonging.” 
~Brene Brown





Hikmah jangan tergesa-gesa

|
Hana merasa aneh waktu mendengar hadis jangan tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, bahkan termasuk berjalan hendak shalat ke mesjid untuk shalat.

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-’Ajalah hadis no. 1935 juga terdapat dalam al-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik).


” Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.” (HR Bukhari Muslim).



bukankah menyegerakan kebaikan adalah sesuatu yang baik?


Image Download from http://www.crunchyroll.com/library/Ai_Haibara

Sampai kemudian Hana membaca tentang penelitian eksperimen orang samaria yang baik (good samaritan). Jurnalnya bisa didownload disini.

John Darley dan C. Daniel Batson pada tahun 1973 meneliti mengenai pengaruh kepribadian dan situasi dalam perilaku menolong yang terinspirasi dari cerita orang samaria yang baik di Injil.
Orang samaria menolong orang yang kesakitan di jalan sementara pendeta dan orang Levite yang lebih dulu melewatinya malah tidak menolong. Cerita ini sering diartikan bahwa orang baiklah yang akan berhenti menolong sementara yang tidak baik, tidak akan berhenti menolong.

Namun John Darley dan C. Daniel Batson mempertanyakan apakah keputusan menolong tidaknya seseorang hanya dipengaruhi oleh kepribadiannya? Atau faktor situasi juga berpengaruh?

Penelitian ini melibatkan 40 siswa di Princeton Theological Seminary yang sudah mengisi kuesioner kepribadian dan religiusitas. Mereka diminta mengisi kuesioner kemudian setelah selesai mereka diminta pergi ke gedung lain untuk mengerjakan tugas ceramah (berbicara) mengenai pekerjaan atau cerita orang samaria yang baik.

Ada tiga perbedaan tingkat ketergesaan dalam memberi tahu peserta untuk pergi: diberi tahu bahwa mereka sudah terlambat dan asisten peneliti sudah menunggu dari tadi (high hurry),  diberi tahu bahwa ada asisten peneliti yang sudah siap menunggu (intermediate hurry), dan diberi tahu bahwa asisten peneliti sedang bersiap-siap, tapi lebih baik peserta pergi ke gedung lain dari sekarang (low hurry).

Dalam perjalanan ke gedung lain, terdapat confederate (aktor yang merupakan bagian dari studi) yang berpura-pura kesakitan dan membutuhkan bantuan. 

Pertanyaannya peserta seperti apakah yang akan menolong?

Ternyata hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang diberi tugas ceramah mengenai pekerjaan dan cerita orang samaria yang baik, tapi terdapat perbedaan signifikan jika dilihat dari tingkat ketergesaan.
Dalam kelompok high hurry, hanya 10% peserta yang berhenti menolong confederate, sementara ada 45% yang menolong confederate dari kelompok intermediate hurry, dan dalam kelompok low hurry, yang berhenti menolong mencapai 63%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku menolong ternyata cenderung dipengaruhi oleh faktor situasi, tidak hanya kepribadian.


Hal lain yang Hana pelajari adalah jangan terlalu cepat melabel orang lain "jahat" karena tidak menolong, mungkin mereka sedang terburu-buru.

Membaca penelitian ini membuat Hana inget cerita Ali yang berjalan pelan-pelan di belakang seorang Kakek Yahudi dalam perjalanannya menuju salat subuh di mesjid. Melihat kebaikan tersebut, malaikat pun menahan rukuk Rasulullah agar Ali bisa ikut shalat berjamaah.

Mungkin salah satu hikmah jangan tergesa-gesa dalam berjalan ke mesjid dan melakukan sesuatu adalah agar kita tidak melewatkan kesempatan menolong.


O ia hana juga belajar hal lain, pertanyaan hana salah, Saudara-saudara.
Hehe
Ada perbedaan antara bersegera dan tergesa-gesa, bisa baca disini dan disini. :D



Daftar Pustaka


Darley, J. M., & Batson, C. D. (1973). “From Jerusalem to Jericho”: A study of situational and dispositional variables in helping behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 27(1), 100–108. doi:10.1037/h0034449

Tulisan ini ikut serta dalam gerakan #NulisRandom2015 dari 1 Juni-30 Juni 2015

Tak Terbayangkan

|
Tidak pernah terbayang sekalipun di benakku bahwa aku akan bekerja di majalah bisnis setelah lulus kuliah. Beberapa temanku pun bertanya hal yang sama, bagaimana aku yang lulusan psikologi ini masuk majalah bisnis. Aku pernah membayangkan diriku bekerja di media, tapi di salah satu koran besar ternama di Indonesia, di majalah remaja putri atau justru majalah wanita islami. Bahkan aku baru tahu keberadaan majalah ini karena lowongan kerja yang kulamar dan aku pertama kali membacanya saat duduk di lobi kantor majalah SWA menunggu panggilan wawancara. Hahahaa
Ajaibnya aku diterima di sini!
Alhamdulillah. \(^0^)/


Masuk dunia pasca kampus membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar rencana dan di luar kendaliku. I mean kalau di kampus, hal-hal lebih mudah diprediksi, seperti kalau ingin dapat nilai bagus ya belajar yang rajin dan benar. Biasanya melencengnya pun tidak terlalu jauh, aku masih dapat nilai yang cukup baik.
Tapi di dunia paska kampus, usaha, rencana dan prediksiku banyak yang melenceng. Awalnya aku terkaget-kaget dan mudah merasa sedih. Tapi kemudian aku tersadar bahwa aku sepertinya masih terlalu mengandalkandiriku sendiri. Aku harus belajar mengandalkan Allah, menyeimbangkan doa dan usaha.

Dan kalian tahu apa? Bekerja di SWA membuatku makin percaya bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur. Aku merasa ritme kerja majalah dwi mingguan ini cocok denganku. Aku juga dianugerahi rekan-rekan kerja yang baik. Aku bersyukur aku bisa bekerja di tempat yang memiliki nilai yang sama denganku. Aku kurang suka membaca berita atau tulisan yang setelah memaparkan masalah tapi tidak memberi solusi atau membuatku merasa pesimis.  Untungnya, Jurnalisme yang dianut SWA itu adalah jurnalisme positif, jurnalisme yang berusaha menggali hikmah dan menghembuskan optimisme.

Salah seorang temanku bilang kalau yang dilakukan majalah SWA adalah menjual mimpi. Kurasa dia ada benarnya. Biasanya yang kurasakan setelah membaca SWA adalah kagum, merasa “hei dia bisa lho, kenapa aku tidak? Aku juga pasti bisa”. Aku juga belajar ada berbagai cara dalam meraih mimpi, dan selama kau tahu apa yang kau inginkan, go for it! Terlepas orang bilang kau tidak cocok, kondisimu ngga mendukung dan segudang alasan yang bilang mimpimu ngga mungkin. Berusahalah yang terbaik.

Tapi kalau menurut Pak Kemal, pemimpun umum, bahwa yang Majalah SWA jual adalah knowledge karena sekarang SWA menyediakan hasil reportase dan riset dalam berbagai bentuk, mulai dari media, seminar, pelatihan.

By the way, tanggal 16 April lalu, majalah SWA berulang tahun ke-30 dan aku berkesempatan nonton Fast Furious 7 dan dapet snack gratis dari majalah SWA. Kalian tahu, awalnya aku berencana membujuk panitia ulang tahun majalah SWA agar memberiku  tempat duduk di baris D/E karena aku tidak tahu kalau panitia sudah menentukan tempat duduk. Kupikir aku bisa memilih dan ternyata meski tempat duduknya dipilih oleh panitia, alhamdulillah aku dapet posisi yang enak.


Aku dapet posisi di baris A.  Tidak pernah terbayang dibenakku kalau aku akan dapet posisi di baris A, habis selama ini kalau pergi ke bioskop pas beli tiket, posisi itu udah penuh mulu.
Aku terharu. Allah baik banget :')

Hidupku mungkin tidak berjalan sesuai yang kuharapkan atau yang kubayangkan, tapi sesuai yang Allah inginkan dan itu jauh lebih baik. \(^0^)/

Being 23 on 23rd April: Unexpected

|
Pada 23 April kemarin, alhamdulillah usiaku genap 23 tahun. Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan hidup. Berbeda dengan ulang tahun sebelumnya yang dimana aku lupa kalau aku menyembunyikan ulang tahunku di facebook, bisa baca disini.



Tahun ini aku ingat kalau aku menyembunyikan ultahku dan tidak berniat mengubahnya. Belajar dari tahun kemarin, ada untungnya juga ultah “dilupakan”. Aku tidak perlu membalas banyak ucapan ulang tahun, yang biasanya cukup menghabiskan banyak waktu. Setelah dipikir-pikir yang buat aku bahagia sebenarnya dapat kado dan doanya sih. hehehe

Image courtesy of blickpixel from pixabay.com

 Kalian tahu apa? Karena tidak berharap, aku justru lebih bahagia menerima ucapan selamat dari teman-temanku yang ingat atau yang aku ingatkan. Tahun ini, teman dekatku Nova dan kame kembali mengucapkan paling awal. Nia mengirim pesan suara berisi lagu selamat ulang tahun jamrud yang dia nyanyikan sendiri. Aku terkejut, awalnya kupikir dia mengirim pesan suara seperti yang dilakukan Hana Talita dan Vania tahun lalu, ternyata Nia nyanyi satu lagu full. :’)
Pernah ngayal dinyanyiin lagu sama orang yang disayang dan ngga nyangka itu terwujud di ultah ini. Thanks to Nia!

Ada banyak kejutan lainnya.
Salah satunya Chibe bilang met ultah di group WA forum muslim Psikologi UI angkatan 2010.
Beberapa teman dekatku yang lupa mengucapkan pas hari H, akhirnya ingat sendiri mengucapkan juga beberapa hari setelahnya. :')
Terus pas lagi kepikiran pengen beli tas, temen dekatku Afa menghadiahiku tas.
Masya Allah, Allah baik banget menggerakkan hati Afa untuk memberi kado pahadal aku ngga kasih kado lho pas ultah dia Januari kemarin dan  tas ngga masuk note facebook April wish list yang kutag ke sahabat-sahabatku.


 Makasih ya buat semua temen-temen yang udah ucapin, ngasih doa dan kado \(^0^)/
Jazakumullah khairan katsiran.


Berusia 23 tahun membuatku sadar kalau kayaknya aku udah ngga layak disebut girl lagi. Hehe
Jadi kayaknya aku harus dan mau ganti nama blog ini.
Mulai saat ini, blog ini akan bernama...
*drumroll*
 *drumroll*
 *drumroll*
*gunting pita*

  The Luckiest

*ketok palu*

:D

Intinya meski ultah kali ini lebih sepi, somehow aku benar-benar bersyukur atas segala yang terjadi
:)
Alhamdulillah

Expect nothing and you will be happy with everything

Post Signature

Post Signature